
Keesokan harinya pukul 08:00 pagi matahari dengan cerahnya menembus tirai kamar dan menusuk mata Ana.
Ana kaget dan bangun secara tiba-tiba yang membuatnya sedikit pusing, Ana melihat Yoon-gi yang berdiri didepan kaca dan merapikan dasinya.
"Sudah bangun?" Ucap Yoon-gi dingin sambil memasang dasinya.
"N..nee"
"Mianhe, aku baru bangun" ucap Ana tertunduk sambil memegang kepalanya.
"Hm" ucap Yoon-gi singkat.
"Malam ini tidak usah menungguku, aku tidak pulang" sambung Yoon-gi.
"Oppa mau kemana" tanya Ana.
"Aku akan berlibur ke pulau Jeju bersama Irene" ucap Yoon-gi santai.
"Mungkin sekitar 2 atau 3 hari lagi aku akan pulang" sambung Yoon-gi.
Deg,
Seakan ada yang mengiris hati Ana, mendengar suaminya akan pergi bersama wanita lain untuk berlibur.
Tanpa disadari air matanya menetes mengenai telapak tangannya.
Hatinya terasa sangat sakit mendengar itu semua, meskipun belum ada rasa cinta namun istri mana yang tidak sakit hati akan hal seperti itu.
"Kenapa kau diam saja?" Tanya Yoon-gi menatap Ana yang tertunduk.
"Aniya" ucap ana menggenggam erat tangannya.
Yoon-gi tidak memperdulikan Ana dan langsung menyambar tas kerjanya dan keluar kamar.
"Aku pikir ucapan semalam itu benar, ternyata dia mencintai wanita lain" ucap ana menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa? Apa dia tidak menganggapku istrinya?" Ucap Ana menahan tangis.
20 menit berlalu Ana memustuskan untuk mandi dan bersiap. Setelah selesai mandi Ana menuruni tangga dan disambut beberapa pelayan rumah.
"Selamat pagi Nyonya" ucap pelayan.
"Iya" ucap apa dengan mata yang sembab dan kaki yang sulit sekali untuk dilangkahkan.
"Nyonya muda, Tadi Tuan muda memintaku menyiapkan bubur ini untuk anda" ucap salah satu pelayan.
"Letakkan saja, aku belum lapar" ucap Ana tanpa melihat bubur yang dipegang pelayan.
"Tapi Nyonya jika tidak segera anda makan buburnya akan dingin" ucap ahjuma.
"Baiklah" ucap Ana duduk dan memakan bubur itu.
Para pelayan yang melihat Ana dalam kondisi yang bisa dibilang kurang baik itu memberanikan diri untuk bertanya.
"Nyonya muda, apa anda baik-baik saja?" Tanya salah satu pelayan.
"Nee, aku baik-baik saja" ucap Ana masih melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Ana masih terdiam dan termenung dimeja makan, baru 2 hari menjalani pernikahan ini rasanya sudah tidak sanggup lagi. Ana mengingat kembali ucapan Yoon-gi yang akan berlibur bersama Irene ke pulau Jeju.
Pulau impian Ana sejak dulu, Ana selalu bermimpi bisa pergi bersama sang suami ke pulau itu. Memimpikan banyak dan banyak sekali kebahagiaan dalam hidupnya. Memimpikan hidupkan akan lebih indah setelah menikah.
Tapi, impian itu hancur hanya dengan beberapa kata yang diucapkan suaminya sendiri. Impian yang langsung dibanting kerasa ketanah oleh orang yang mulai Ana cintai secara perlahan.
Beberapa menit Ana termenung dan terdiam dimeja makan, Ana memutuskan untuk pergi ketaman kota tempat kesukaannya saat dia sedang sedih.
"Ahjuma?" Panggil Ana.
"Nee, Nyonya?"
"Aku akan keluar sebentar" ucap Ana.
"Nyonya? Apa butuh ditemani bodyguard?" Tanya ahjuma.
"Aniya, aku akan pergi sendiri" ucap Ana.
"Baik" ucap ahjuma.
Ana segera keluar dan menuju ketaman kota dengan berjalan kaki, beberapa sopir dan bodyguard yang ada dirumah menawarkan Ana untuk naik mobil dan diawasi tapi Ana menolak dan memilih pergi sendiri dan berjalan kaki.
Namun begitu Dae Hyun diminta Yoon-gi untuk menjaga Ana selama dia liburan bersama Irene. Dae Hyun dan 2 bodyguard lainnya diam-diam mengikuti Ana sampai taman kota dan terus mengawasi Ana.
Ana terduduk dibawa pohon besar yang rindang dimana tempat setiap saat Ana menenangkan dirinya saat sedang bersedih.
Sorepun tiba, Ana masih setia duduk dibangku taman dan memandangi langit yang mulai gelap. Lamunan Ana masih tertuju pada Yoon-gi memikirkan sedang apa dan bagaimana keadaan sang suami.
Dae Hyun yang masih mengawasi Ana akhirnya menghampiri Ana dan mengajaknya untuk kembali kerumah.
"Nyonya muda?" Panggil Dae Hyun memecahkan lamunan Ana.
"Nee?" Ucap Ana terkejut dan langsung mengusap air matanya.
"Apa anda baik-baik saja?" Tanya Dae Hyun.
"Nee" ucap Ana tersenyum pahit.
__ADS_1
"Nyonya, hari semakin malam dan udaranya semakin dingin. Mari kita pulang" ajak Dae Hyun.
"Baiklah" ucap Ana beranjak dan masuk kedalam mobil.
Sepanjang jalan Ana hanya terdiam dan menatap keluar jendela. Dae Hyun yang menatap Ana hanya terdiam sepanjang jalan dan banyak melamun saat ditaman bisa merasakan bahwa Ana tengah bersedih.
Dae Hyun tidak berbicara apapun tapi ia langsung melaporkannya pada Yoon-gi.
Lagi-lagi air mata Ana kembali menetes tanpa disadari Dae Hyun melihatnya.
"Nyonya?" Panggil Dae Hyun pelan.
"Nee?" Ucap Ana tanpa melihat kearah Dae Hyun.
"Anda..."
"Aku baik-baik saja" ucap Ana memotong pembicaraan Dae Hyun.
"Baik" ucap Dae Hyun.
Sesampainya dirumah Ana disambut 2 pelayan yang menunggunya sedari tadi dia pergi. Salah satu ahjuma yang sudah bekerja sangat lama begitu perhatian dan menyayangi Ana seperti putrinya sendiri.
"Nyonya, apa anda baik-baik saja? Kenapa anda seperti ini?" Tanya ajhuma yang sangat khawatir melihat Ana dengan matanya yang sembab.
"Nee" ucap ana senyum kecil.
"Hari sudah malam, nyonya saya sudah menyiapkan air hangat untuk nyonya" ucap ajhuma.
"Baik" ucap Ana menuju kamarnya ditemani ahjuma dan segera mandi.
30 menit berlalu, Ana sudah selesai mandi dan mengenakan piyama berwarna biru langit bermotif bunga.
Ahjuma sudah menyiapkan makanan dimeja makan dan meminta Ana untuk makan malam. Setelah selesai makan Ana duduk di ruang tamu dan menonton televisi. Pikirannya dipenuhi dengan keadaan Yoon-gi.
Ana berfikir belum bisa menjadi istri yang baik untuk sang suami. Matanya tertuju pada salah satu drama yang dimana sama persis dengan hidupnya sekarang ini.
"Apa apaan ini?? Kenapa drama ini sama seperti kehidupanku?? Kenapa pria itu meninggalkan istrinya demi berlibur dengan wanita lain?? Ckk Menyebalkan!!"celoteh Ana sambil mematikan TV.
Dae Hyun yang melihat itu bisa merasakan bahwa Ana merindukan Yoon-gi dan kesal dengan prilakunya. Dae Hyun hanya terdiam dan menatap Ana yang mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Kenapa ini terjadi padaku?? Semua orang tidak menyayangiku bahkan suamiku sendiri" ucap Ana kesal, frustasi campur aduk rasa sakit dihatinya membuatnya menangis dengan menangkup wajahnya.
"Aku mulai mencintainya, kenapa? Baru 2 hari saja aku sudah mulai memiliki perasaan untuknya?? Kenapa!!" Ucap Ana frustasi.
Ana tidak mengetahui bahwa Dae Hyun memperhatikannya sejak tadi. Dae Hyun sengaja hanya memperhatikan dan tidak menenangkan Ana.
Setelah lelah menangis Ana tertidur disofa dan Dae Hyun menyuruh salah satu bodyguard untuk membawa Ana kekamar.
Mungkin Ana terlalu lelah hingga tidak terasa bahwa tubuhnya diangkat kekamar.
Pukul 11:00 malam Yoon-gi menelfon Dae Hyun dan bertanya keadaan perusahaan dan keadaan Ana.
"Pabo! Aku menyuruhmu bukan sekertaris Tya" kesal Yoon-gi.
"Maaf Tuan muda, seharian ini saya mengawasi Nyonya muda" ucap Dae Hyun.
"Memangnya dia kenapa?" Ucap Yoon-gi kesal.
"Nyonya muda sedari pagi hingga malam berada ditaman kota, nyonya muda juga terlihat pucat dan kurang baik. Saat tadi menonton drama ditelevisi tiba-tiba saja nyonya menangis dan berkata bahwa drama itu sama seperti kehidupannya. Suaminya pergi berlibur bersama wanita lain dan meninggalkan istrinya dan setelah lelah menangis hingga matanya sembab nyonya tertidur di sofa didepan TV dan saya menyuruh salah satu bodyguard utuk membantu nyonya kekamar" jelas Dae Hyun.
Yoon-gi yang mendengar itu semua terdiam sejenak dan tampak berfikir.
"Besok aku akan kembali ke Seoul" ucap Yoon-gi dan langsung mematikan telfonnya.
****
Yoon-gi pov,
"Sayang siapa yang menelfonmu" ucap perempuan yang terbaring diranjang yang hanya dengan berbalut selimut tebal.
"Dae Hyun" ucap Yoon-gi singkat yang menggenggam erat ponselnya.
"Kemarilah, aku kedinginan" ucap Irene.
"Besok kita akan kembali ke Seoul" ucap Yoon-gi memakai piyamanya.
"Hah?? Bukankah kau bilang kita 3 hari disini? Ini belum ada 2 hari ke apa mau kembali?" Tanya Irene sontak.
"Istriku sakit" ucap Yoon-gi menyalakan rokoknya dan duduk didinding kaca yang menampakkan lautan yang begitu indah dan pantulan cahaya rembulan yang terpantul di lautan.
"Apa? Dia sakit? Bukankah banyak pelayan kenapa harus kau yang pulang" ucap Irene kesal.
"Irene, mengertilah aku bukan lagi Yoon-gi milikmu seorang tapi Ana adalah istri sah ku dan Ana juga memilik hak atas diriku" ucap Yoon-gi menatap tajam Irene.
"Terserah padamu" ucap Irene mendengkur kesal dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Yoon-gi tidak menghiraukan Irene yang menangis dibalik selimut dan hanya menatap pemandangan malam yang disinari oleh cahaya rembulan yang begitu indahnya.
•Wanita itu, membuatku sangat repot• gumam Yoon-gi mematikan rokoknya.
Yoon-gi pov end,
****
Kediaman Min,
__ADS_1
Keesokan harinya Ana masih tertidur pulas di kamarnya, jam menunjukan pukul 10:00 pagi. Berkali-kali para pelayan bergantian untuk membangunkan Ana dan sarapan pagi, tapi tetap saja tidak Ada jawaban.
Dae Hyun yang mencoba memanggil Ana, tidak ada jawaban sama sekali dan tidak ada tanda apapun dari Ana untuk membuka pintu kamar.
Nyonya besar Min ibu mertua Ana pagi itu datang kerumah karena ingin melepas kerinduannya pada sang menantu. Dan melihat keributan didepan kamar Ana.
"Ada apa ini?" Ucap Nyonya Min yang membuat seluruh pelayan sontak kaget.
"Nyonya besar" ucap para pelayan yang menundukkan wajahnya.
"Dae Hyun, ada apa ini?" Tanya Nyonya Min.
"Nyonya besar, maaf menganggu ketenangan anda yang baru sampai. Tapi dari pagi hingga menjelang siang ini Nyonya muda belum keluar kamar dan tidak ada jawaban apapun dari nyonya muda" jelas Dae Hyun.
"Apa? Lalu Dimana Yoon-gi? Apa dia ada didalam bersama Ana?" Tanya Nyonya Kim khawatir.
"Tuan muda kemarin pergi Nyonya" ucap Dae Hyun yang membuat Nyonya Min membulatkan matanya.
"Apa? Pergi kemana dia?" Tanya nyonya Min terlihat kesal.
"Itu... Tuan muda pergi bersama Nona Irene kepulau Jeju dan....(menceritakan kejadian semalam yang dialami oleh Ana)" jelas Dae Hyun.
"Keterlaluan sekali dia" ucap nyonya Min.
"Minggir kalian semua, biar aku yang membujuk menantuku" ucap nyonya Min yang berusaha mengetuk pintu kamar namun tetap tidak ada jawaban.
Sementara itu didalam kamar Ana sedang demam tinggi dan berkeringat dibalik selimut, Ana mendengar semua keributan diluar tapi kaki dan tubuhnya sangat lemah untuk berjalan dan membukakan pintu. Bukan hanya itu berbicara saja bibirny gemetar saat Ana mencoba untuk memberitahu bahwa dirinya demam.
"Kenapa tidak ada jawaban sama sekali" ucap Nyonya Min mulai meneteskan air matanya.
"Nyonya, apa perlu kita dobrak pintunya?" Tanya Dae Hyun.
"Nee..nee kau benar Dae panggilkan dua bodyguard untuk mendobrak pintu ini" perintah nyonya Min.
"Baik" ucap Dae Hyun berlalu untuk memanggil dua bodyguard.
Sementara itu Nyonya Min yang menunggu tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak menangis didepan seluruh pelayan rumah. Nyonya Min tau betul bagaimana rasanya saat pengantin baru dan ditinggal oleh suami untuk pergi berlibur bersama wanita lain.
Setelah Dae Hyun kembali membawa 2 bodyguard, mereka langsung mendobrak pintu kamar Ana dan berhasil.
Nyonya Min yang langsung mendahului masuk langsung melihat seisi kamar yang mewah dan luas dan matanya tertuju pada Ana yang terbaring lemas di ranjang.
"Ana!" Ucap nyonya Min sontak yang melihat Ana dalam kondisi yang gemetaran.
"Ana.. kau kenapa sayang? Kenapa kau seperti ini? Dan tubuhmu sangat panas! Kau demam!" Ucap nyonya Min yang sangat terkaya khawatir.
"Eomma.." ucap Ana lemah.
"Cepat bawa Ana kerumah sakit cepat!" Perintah nyonya Min sontak kedua bodyguard itu langsung mengangkat Ana dan membawanya kerumah sakit.
"Nyonya aku akan menghubungi Tuan muda" ucap Dae Hyun.
Nyonya Min langsung menghentikan langkahnya.
"Tidak perlu beritahu Anak keras kepala itu" ucap nyonya Min dengan nada bicara yang marah dan gemetar karena menahan tangisnya.
Dae Hyun mengurunkan niatnya dan mengikuti langkah nyonya Min masuk kedalam mobil.
Sesampainya dirumah sakit Ana dilarikan ke IGD dan mendapat penangan VVIP. Semua orang panik dan menunggu diluar ruangan dengan kekhwatiran yang memuncak terutama Nyonya Min.
20 menit lebih dokter belum kunjung keluar yang semakin menambah kekhwatiran pada diri ibu mertuanya itu.
Greeepp
Pintu IGD terbuka dan dokter keluar ruangan, sontak melihat itu Nyonya Min langsung berdiri dan bertanya keadaan menantunya.
"Dok, menantu saya baik-baik saja kan dok?" Ucap nyonya mIn khawatir.
"Nyonya muda Min baik-baik saja, dia terkena gejala demam berdarah untuk segera dilarikan kemari jika tidak mungkin tidak bisa tertolong" ucap dokter.
"Demam berdarah?" Ucap Nyonya Min kaget.
"Benar Nyonya, apa nyonya muda Min sering berada ditempat dingin dan lembab?" Tanya dokter.
Nyonya Min hanya terdiam karena selama Yoon-gi dan Ana menikah mereka sudah tinggal dirumah baru mereka.
"Tidak dok, kemarin nyonya muda seharian ada ditaman dari pagi hingga menjelang malam, dan malamnya nyonya tertidur disofa ruang tamu. Saya rasa karena itu nyonya muda terkena demam berdarah" jelas Dae Hyun.
"Baik, saya akan memberikan resep obatnya dan tolong jaga dia baik-baik karena ini baru gejala jangan sampai terkena dan terlambat penanganan ini akan lebih sulit untuk kedepannya" jelas dokter.
"Dok apa boleh saya masuk?" Tanya nyonya Min.
"Boleh tapi Nyonya muda masih dalam obat bius dan tertidur tolong jangan diganggu dulu" ucap dokter.
"Baik dok, gamsahabnida dok" ucap nyonya min.
"Nee, saya permisi dulu" ucap dokter.
Greeepp,
Nyonya min membuka pintu dan melihat Ana terbaring dengan selang oksigen dihidungnya. Air matanya tidak bisa dibendung lagi. Pagi itu rasa rindu yang ingin disampaikan pada Ana malah menjadi hal buruk bagi Nyonya Min yang melihat keadaan menantu tersayangnya.
Nyonya min berjalan mendekati Ana dan menarik kursi dan duduk disamping ranjang rumah sakit dan menggenggam tangan Ana.
"Mianhe sayang, eomma tidak bisa menjagamu dengan baik, eomma menyesal menyuruh kalian tinggal sendiri dirumah besar itu jika kau tinggal bersama eomma kau tidak akan seperti ini sayang" ucap nyonya min sesekali mengecup tangan Ana yang tertidur dalam obat bius.
__ADS_1
"Eomma gagal menjagamu sayang, mianhe" ucap nyonya Min menangis sendu menatap Ana.
****