
Setelah selesai mandi Ana memakan makanan yang sudah disiapkan. Setelah itu Ana kembali duduk dibalkon kamar menatap langit yang begitu luas. Udara dingin yang berhembus seakan-akan berbisik di telinganya.
****
Disisi lain
Yoon-gi hanya memikirkan Ana saat rapat Yoon-gi terus melamun tanpa memperhatikan apa yang dijelaskan.
Jimin yang menyadari itu merasa agak aneh dengan Yoon-gi yang biasanya. Presdir yang sangat kejam angkuh dan dingin dan tidak pernah melakukan sedikitpun kesalahan dalam rapat kali ini malah melamun dan tidak memperhatikannya.
"Stopp!! Rapat selesai" ucap Jimin.
Semua karyawan dan manager termasuk Taehyung dan Jungkook kaget dengan keputusan Jimin. Sedangkan Yoon-gi masih tenggelam dalam lamunannya.
"Semua bisa keluar, rapat akan dilaksanakan Minggu depan, manager Taehyung dan manager Jungkook tolong tetap tinggal disini" ucap Jimin.
Seluruh karyawan keluar kecuali Taehyung dan Jungkook, Yoon-gi langsung tersadarkan saat para karyawan keluar ruang rapat.
"Ada apa ini??" Ucap Yoon-gi.
"Kau yang ada apa??" Ucap Jimin bersandar dikursinya.
"Aku?? Aku kenapa??" Tanya Yoon-gi bingung.
"Sekarang hanya ada kita berempat bicaralah seperti teman biasa lagipula kita teman dari SMA" ucap Jimin.
"Ada apa denganmu Hyung?" Ucap Jungkook.
"Aku baik-baik saja" ucap Yoon-gi.
"Baik-baik saja?? Selama rapat kau melamun dan tidak ada pendapat apapun" ucap Taehyung.
"Aku hanya sedikit pusing" ucap Yoon-gi.
"Pusing karena apa?" Tanya Jungkook.
"Ist...." Ucap Yoon-gi terpotong dengan ponsel Jimin yang berdering.
Drrttt drrtt
Ponsel Jimin bergetar.
"Lanjutkan saja aku akan mengangkat telfon dulu" ucap Jimin berdiri dan agak menjauh dari Yoon-gi dan yang lain.
In call
Jimin📱:"ada apa??"
Pelayan📞:"Tuan?? Itu... Nyonya"
Jimin📱:"dia kenapa?"
Pelayan📞:"Nyonya terpeleset dari tangga kepalanya terbentur dan tidak sadarkan diri. Kami sudah menghubungi dokter tapi belum kunjung datang.
Jimin📱:"Apaa!!!! Aku hanya menyuruh kalian menjaganya tapi kalian tidak bisa!!!"
Pelayan📞:"Mian Tuan.."
Jimin📱:"Jika terjadi sesuatu padanya!!! maka.. kalian semua tidak akan aku ampuni!!" Ucap Jimin emosi dan mematikan telfonnya.
"Apa apa Hyung??" Tanya Jungkook.
"Kekasihku sakit, aku harus segera kesana.. kalian bicaralah jika butuh bantuanku katakan saja" ucap Jimin tergesa-gesa.
"apakah kekasihmu yang hilang itu" tanya Yoon-gi.
"aku sudah menemukannya Hyung" ucap jimin.
"Hmm baiklah, hati-hati dijalan" ucap Yoon-gi.
"Nee" ucap Jimin keluar ruangan dan menuju ke mansion.
Setelah Jimin pergi Hanya ada Taehyung, Jungkook dan Yoon-gi.
"Lanjutkan Hyung, ada apa?" Tanya Taehyung.
"Istriku diculik" ucap Yoon-gi.
"Apa??" Ucap Jungkook dan Taehyung kaget.
"Bagaimana itu terjadi??" Ucap Taehyung.
"Iya bagaimana itu terjadi?? Dan sebenarnya seperti apa istrimu itu Hyung" tanya Jungkook.
Yoon-gi menceritakan kejanggalan yang terjadi seminggu ini serta pembunuhan yang terjadi pada saat yang bersamaan.
Cerita itu membuat Jungkook dan Taehyung membulatkan matanya tidak percaya atas apa yang terjadi pada Yoon-gi.
"I..itu mengerikan sekali" ucap Jungkook.
"Hyung, kenapa kau tidak meminta bantuan kami" ucap Taehyung.
__ADS_1
"Apa yang harus aku katakan, aku bingung dan sangat khawatir dengan istriku" ucap Yoon-gi.
"Apa kau ada fotonya? Biar kami bisa membantumu" ucap Taehyung.
"Sebentar, sepertinya aku pernah memotretnya saat itu" ucap Yoon-gi merogoh sakunya untuk mengambil ponsel.
"Ini" ucap Yoon-gi menyodorkan ponselnya.
Taehyung dan Jungkook membulatkan matanya saat melihat foto Ana.
"Ana!!" Ucap Taehyung dan Jungkook bersamaan.
"Hyung?? Apa kau gila?? Kau tau istrimu adalah karyawan disini dan kau tidak memberitahu kami??" Ucap Jungkook.
"Saat itu aku tidak mencintainya jadi aku menyuruhnya untuk berpura-pura tidak saling mengenal" ucap Yoon-gi.
"Astaga Hyung, kau keterlaluan sekali. Apa kau menyiksanya juga" tanya Jungkook.
"Jika aku kesal pasti dia akan mendapatkan setidaknya 2 tamparan dariku" ucap Yoon-gi.
"Mwo?? Kau yang benar saja Hyung. Gadis sebaik dan secantik Ana kau perlakukan seperti itu?? Ditambah lagi kau menyembunyikan hal besar seperti ancaman Irene. Pantas saja dia langsung kabur dan malah diculik" ucap Jungkook.
"Aku menyesal kook jika aku tau tidak akan lakukan" ucap Yoon-gi bersandar di kursinya dan menatap langit-langit ruangan.
"Seharusnya kau tidak melakukan itu Hyung, kau tau?? Aku hampir mencintai Ana" ucap Taehyung.
"Dan aku juga hampir mencintai nya Hyung" timpa Jungkook meletakkan ponsel Yoon-gi.
"Pernikahan kalian baru masuk bulan ke tiga tapi malah seperti ini" ucap Taehyung.
"Mian" ucap Yoon-gi memejamkan matanya.
****
Disisi lain Jimin masih dalam perjalanan menuju mansion miliknya yang berada cukup jauh, butuh waktu 1 jam untuk sampai ke mansion tersebut.
Setelah sampai di mansion kemarahan Jimin meluap dengan sangat cepat.
"Keterlaluan!!!" Ucap Jimin kesal saat melihat Ana dengan kepala di perban dan dokter sedang mengecek keadaanya.
Seluruh pelayan kaget dengan kedatangan Jimin yang begitu cepat. Seluruh pelayan spontan menunduk takut.
"Siapa pelayan yang melayaninya??" Ucap Jimin emosi.
"Ka.. kami" ucap 2 pelayan wanita dengan wajah menunduk.
"Dokter, tolong preriksa dia dengan baik sampai saya kembali" ucap Jimin.
"Fishal.??" Panggil Jimin.
"Nee Tuan muda?" Ucap Fishal.
"Ikut aku!!" Ucap Jimin tanpa menghiraukan 2 pelayan yang berlutut dihadapannya.
30 menit kemudian Jimin kembali bersama Fishal.
"Kalian berdua!!! Mulai detik ini jangan perlihatkan wajah kalian dihadapanku!!" Ucap Jimin dengan tatapan tajam.
"Tuan.. kami mohon ampuni kami... Kami butuh pekerjaan ini demi keluarga kami.. Tuan tolong" ucap 2 pelayan itu memohon.
"Keluarga?? Apakah mayat didepan itu yang kalian sebut keluarga??" Ucap Jimin dingin.
"Ma..mayat.." ucap 2 pelayan itu membulatkan mata saat melihat keluarga mereka mati mengenaskan di luar kamar Jimin.
2 pelayan itu langsung berlari keluar dan benar, keluarga mereka telah menjadi mayat dan dihabisi oleh pengawal Jimin didepan matanya.
Dorr dorr,
Jimin menembak 2 pelayan itu dari belakang dengan 2 kali tembakan dimasing-masing pelayan.
"Enyalah dari hadapan ku" ucap Jimin.
"Kubur mereka" perintah Jimin.
Seluruh pelayan yang menyaksikan itu sudah biasa bagi mereka, karena semenjak Ana tidak ada kabar dan menikah dengan Yoon-gi. Jimin berubah menjadi monster dan siapapun yang membuat kesalahan hanya ada satu hukuman yaitu, Mati!!.
Pelayan dirumah Jimin tidak bisa mengundurkan diri tanpa dipecat dan siapapun yang melanggarkan akan mendapatkan sesuatu yang buruk bagi hidupnya.
"Oppa.." ucap Ana lirih.
Spontan Jimin langsung menengok dan berjalan cepat kearah Ana.
"Chagiya?? Aku disini?? Kau baik-baik saja kan?? Dimana yang sakit??" Tanya Jimin mengelus rambut Ana.
"Kepalaku sakit" ucap Ana lirih sambil memegang kepalanya.
"Dokter apa yang terjadi pada kepalanya??" Tanya Jimin.
"Hanya luka kecil tapi, Nyonya harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran itu akan membuat kepalanya pusing dan akan semakin sakit" ucap dokter.
"Aku akan membuatkan resep obatnya dan langsung diminumkan setelah makan" sambung dokter memberikan secarik kertas resep obat.
__ADS_1
"Baiklah, gamsahabnida" ucap Jimin.
"Mari saya antar" ucap Jimin mempersilahkan dokter.
"Baik"
Sementara Jimin mengantar dokter kedepan, Ana hanya terdiam dan merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Tubuhnya terasa lemah.
10 menit kemudian Jimin kembali membawa semangkuk bubur dan air serta obat untuk Ana.
Jimin meletakkan makanan itu dimeja dan membantu Ana untuk duduk.
"Bangunlah, makan dan minum obatmu agar kau cepat pulih" ucap Jimin.
Ana bangun dan duduk dibantu Jimin. Ana masih terdiam dan merasakan sakit dikepalanya yang masih sangat terasa.
"Oppa??" Panggil Ana.
"Hmm?" Jawab Jimin sambil mengaduk bubur.
"Aku..."
"Aku apa?" Tanya Jimin menatap Ana.
"Aku merindukan suamiku" ucap Ana lirih.
"Kau rindu pada pria yang tidak mencintai mu?" Ucap Jimin menatap Ana tajam.
"Tapi aku mencintai nya aku sangat merindukannya" ucap Ana lirih.
"Lupakan suamimu!! Kita akan menikah!" Ucap Jimin membuat Ana membulatkan matanya.
"Tidak!!" Ucap Ana spontan.
"Aku tidak mau menikah denganmu Oppa" ucap Ana.
"Wae?" Ucap Jimin santai.
"Aku sudah tidak mencintai mu aku mencintai suamiku Oppa ko mohon mengertilah" ucap Ana.
"Kau yang harusnya mengerti An, kau menghianatiku saat aku berkerja keras demi dirimu dan masa depan kita!! Kau menikah dan mencintai pria lain!! Aku baru meninggalkanmu ke Italia dan saya aku kembali kau tidak ada kabar dan malah menikah dengan pria lain!!" Ucap Jimin menekan ucapannya.
"Sudah kubilang berkali-kali padamu ini semua demi keluarga Kim, aku hanya anak angkat dan aku harus membalas Budi mereka selama ini" ucap Ana lirih.
"Kenapa tidak meminta bantuanku?? Kenapa harus orang lain?? Dan syarat nya adalah menikah?? Wae??" Tanya Jimin menatap Ana.
"Mian Oppa aku tidak bisa berbuat apapun, aku mohon" ucap Ana menangkup wajahnya menangis.
Jimin terdiam menatap Ana dan meletakkan Buburnya di nampan kembali.
Jimin adalah orang yang penyayang perhatian dan pria yang sangat baik. Tapi Jimin akan berubah saat dirinya tersakiti seperti sekarang. Orang yang sangat dia cintai malah menghianatinya.
Ada rasa kasihan pada Ana dan rasa marah tapi Jimin tidak seperti dulu yang mudah memaafkan Ana. Perbuatan Ana benar-benar membuat Jimin sangat kecewa dan sakit hati. Meskipun Jimin tau bahwa pernikahan mereka hanya untuk membantu keluarga.
Tapi itu tidak akan merubah kenyataan bahwa Ana telah mencintai orang yang sekarang menjadi suaminya. Itulah yang membuat Jimin semakin meluap dengan amarahnya.
"Dengar Ana, selama aku masih hidup tidak akan ku biarkan kau kembali pada suamimu!! Sampai kapanpun tidak akan pernah ada jalan untukmu bertemu dengan suamimu" ucap Jimin menekan suaranya.
Ana hanya terdiam dan menangis sendu sambil menundukkan wajahnya. Semakin terkurung di mansion ini terasa seperti di sebuah gua yang gelap tanpa adanya cahaya.
"Berhenti menangis!! Air matamu tidak akan merubah apapun!" Ucap Jimin berdiri.
"Pelayan!!!" Panggil Jimin.
"Nee Tuan" ucap dua pelayan.
"Urus wanita ini" perintah Jimin yang langsung keluar kamar.
"Baik" ucap pelayan.
Bamm,
Jimin keluar dengan membanting pintu keras.
"Nyonya?" Panggil pelayan.
"Kenapa hidupku jadi seperti ini?? Kenapa?? Aku merindukan suamiku" ucap Ana menangis dengan menangkup wajahnya.
"Nyonya tenanglah" ucap pelayan paruh baya itu dan memeluk Ana.
"Nyonya menangislah jika kau mau agar pikiranmu tenang" ucap pelayan itu.
Ana menangis dalam pelukan pelayan yang memeluknya itu, menangis sekuat yang Ana bisa untuk melepaskan semua keluh kesahnya selama ini.
Hampir 2 minggu Ana dikurung di mansion itu tanpa adanya kabar atau apapun. Ana sangat merindukan Yoon-gi dan keluarganya. Benar-benar rindu terutama dengan sang suami.
"Kenapa sampai sekarang kau tidak mencariku?!! Apa aku tidak berarti bagimu?!!" Ucap Ana masih dalam keadaan menangis sendu.
Bubur yang dibawakan Jimin sudah dingin tapi Ana tidak mau makan meskipun satu suapan dan belum meminum obatnya.
Ana hanya bisa menangis tanpa berkata apapun kaburpun rasanya percuma jika Yoon-gi saja tidak mencarinya. Ana tidak tahu keadaan Yoon-gi tanpa dirinya disisinya.
__ADS_1