Crystal Snow

Crystal Snow
Episode 22


__ADS_3

Satu bulan pun berlalu Yoon-gi masih tidak bisa menemukan Ana mencari disetiap lereng bukit dan mansion diseluruh kota Seoul tapi tidak kunjung ditemukan.


Yoon-gi merasa bingung dan depresi akibat menghilangnya Ana. Polisi dan dektekif yang dibayar untuk mencari Ana diberhentikan karena sebulan terakhir ini tidak ada perkembangan apapun.


Yoon-gi yang sudah muak dengan semua ini mencari keberadaan Irene diApartemennya.


Yoon-gi pergi bersama 2 pengawal untuk menemani Yoon-gi pergi ke apartemen Irene.


Brak brak brak!!!


Pengawal Yoon-gi menggebrak pintu apartemen Irene.


"Siapa ituu??" Ucap Irene kesal dan berjalan membuka pintu apart.


Ceklek,


"Ya siapa?" Ucap Irene yang membulatkan matanya saat melihat Yoon-gi bersama para pengawalnya.


"Aaaaa...."


"Katakan dimana Ana!!!" Ucap Yoon-gi dengan tatapan dinginnya mendorong Irene ketembok dan mencekiknya.


"A..apa kau gila?!! Di..dia istrimu.. kenapa be..bertanya padaku!!" Ucap Irene menahan tangan Yoon-gi.


"Jangan berpura-pura!! Cepat katakan dimana Ana atau kau akan menemui ajalmu hari ini!!" Ucap Yoon-gi.


"A..aku tidak tahu dia dimana!!" Ucap Irene hampir kehabisan nafas.


"Heiii hentikan!!!" Teriak seorang pria yang keluar dari Apart Irene.


Pria yang baru keluar dari dalam apartemen itu ditahan oleh dua pengawal Yoon-gi.


"To..tolong aku.." ucap Irene.


"Katakan dimana Ana!!" Bentak Yoon-gi.


"Le..lepaskan dulu.."


Yoon-gi melepaskan Irene dan mencengkram tangannya.


"Uhukk uhukk..."


"Katakan!!" Ucap Yoon-gi.


"Aku tidak tau... Dia istrimu.. kenapa kau bertanya padaku.." ucap Irene dengan nafas memburu.


"Kau menculiknya kan?!!!" Ucap Yoon-gi.


"Apa yang kau katakan!!" Ucap pria yang di pegang oleh pengawal Yoon-gi.


"Apa kau menyuruh pria itu yang menculik Ana?!!" Ucap Yoon-gi menatap Irene tajam.


"Kau jangan gila!! Dia kekasihku!!" Ucap Irene membuat Yoon-gi membulatkan matanya.


"Kekasih?? Jangan berbohong padaku!!!" Ucap Yoon-gi.


"Aku tidak bohong!!! Dia kekasihku kami baru menjalin hubungan selama 1 bulan terakhir" ucap Irene.


"Lalu?? Dimana Ana?? Kau mengancamku dan pasti kau yang menculik Ana" ucap Yoon-gi menatap Irene tajam.


"Kau boleh tidak percaya padaku, aku memang mengancammu tapi aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu dan apa keuntunganku dari menculiknya?!!" Ucap Irene.


"Jangan berbohong Irene!!!" Tekan Yoon-gi.


"Aku tidak berbohong!! Aku tidak di tau dimana istrimu!! Dan aku juga sudah tidak peduli dengan kalian!! Semakin aku mengejarmu itu tidak akan mungkin bagiku!! Aku menerima Wu Yi Fan karena dia mencintaiku dan aku berfikir untuk apa mengejarmu jika kau mencintai istrimu.. dan sekarang aku hanya mencintai Yi Fan" ucap Irene.


Yoon-gi memberi isyarat pada pengawalnya untuk melepaskan kekasih Irene.


"Aku sudah tidak akan merebut mu dari Ana justru aku akan mendukung kalian, aku tidak akan menganggu kalian lagi" ucap Irene mantap.


"Lalu?? Siapa yang menculik Ana" ucap Yoon-gi.


"Apa dia punya musuh selain aku?" Tanya Irene.


"Aku rasa tidak" ucap Yoon-gi.

__ADS_1


"Aku dan Yi Fan akan membantumu mencari Ana" ucap Irene.


"Iya, kami akan membantumu" ucap Yi Fan.


"Kau yakin?? Kau mau membantu??" Tanya Yoon-gi.


"kami akan membantumu" ucap Irene.


"Hmmm gomawo" ucap Yoon-gi.


"Masuklah dan ceritakan pada kami" ucap Irene.


"Nee" ucap Yoon-gi.


Irene dan Yoon-gi telah berbaikan dan Irene telah menemukan tambatan baru untuk kehidupannya. Wu Yi Fan, pria tampan bermarga Wu seorang CEO dari perusahaan Wu yang ada dikota Seoul dan masuk dalam daftar 20 besar perusahaan terkaya.


****


Disisi lain Ana masih terjebak dalam mansion mengerikan Ini. Setiap harinya ada saja kesalahan yang dibuat pelayan hingga Ana harus melihat satu persatu dari mereka mati ditangan Jimin.


Ana benar-benar merasakan perubahan dari diri Jimin, pria yang dulunya adalah pria yang sangat hangat, perhatian, penyayang, humoris, baik hati, lemah lembut kini berubah menjadi monster psikopat yang mengerikan.


Pria yang dulu selalu lembut dan peduli pada semua orang bahkan pelayan sekalipun berubah menjadi seorang criminal yang kejam dan sadis.


Tatapan yang dulunya hangat dan membuat hati tenang kini berubah menjadi tatapan yang membawa hawa kematian dan mengerikan.


Sikapnya berubah menjadi sangat keras dan kejam, dulu Jimin adalah pribadi yang keras dan berusaha melindungi semua orang yang dia sayangi tapi sekarang sifat keras itu bukanlah untuk melindungi orang yang di sayang melainkan untuk melampiaskan amarahnya.


Ana selalu takut dan khawatir akan kehidupannya kedepan. Ana bersama pria yang tidak ia cintai dan sangat menakutkan untuk tinggal bersamanya.


Jimin memang tidak pernah kasar pada Ana, tapi sikapnya pada orang lain membuat Ana takut dan hampir depresi.


Ana wanita yang kuat, ia sanggup menjalani kehidupan bagai neraka ini bersama Jimin. Mansion yang dulu penuh dengan kehangatan dan kemewahan serta kebahagiaan kini seketika berubah seperti kastil kuno yang mengerikan.


Sesekali Ana mencoba kabur, tapi tidak ada gunanya. Ana selalu tertangkap oleh pengawal dimansion itu dan selalu kembali lagi ke dalam kegelapan dalam mansion itu.


Tok


Tok


Tok


Ana duduk di sebuah sofa dikamar yang begitu luasnya dan memandangi pemandangan diluar.


Ceklek,


Pelayan membuka pintu dan melihat Ana disamping jendela.


"Nyonya??" Panggil pelayan.


"Pergi!!" Ucap Ana masih melamun memandang luar jendela.


"Nyonya... Ini..." Ucap pelayan.


Ana menengok dan menatap tajam pelayan itu. Ana berdiri dan menghampiri pelayan itu.


"Nyo...nyonya??" Ucap pelayan itu menunduk.


"Aku bilang pergi!!" Ucap Ana.


"Ba..baik" ucap pelayan itu menarik nampan berisi makanan diatas meja dan langsung keluar kamar.


Ana terdiam membisu tubuhnya kaku untuk berjalan. Ana hanya ingin bertemu Yoon-gi. Hatinya benar-benar merindukan suaminya sangat merindukannya.


Ana hanya menangis jika merindukan Yoon-gi. Jika ada satu kesempatan saja untuk kabur mansion ini dan bisa kembali pada Yoon-gi. Ana berjanji tidak akan pernah meninggalkan Yoon-gi lagi.


Hampir 2 bulan lamanya Jimin mengurung Ana dimansion ini, bagaikan kastil tua berisi kelelawar dan vampir mengerikan!! Sangat mengerikan!!.


Brakk!!


Ana terkejut saat Jimin membanting pintu keras, Ana mengetahui bahwa Jimin dalam keadaan mabuk


"Chagiya?? Kau sedang apa duduk dilantai?? Hmm??" Ucap Jimin mendekati Ana.


"Ja..jangan mendekatiku tolong!!" Ucap Ana mundur perlahan.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak menyentuhmu sejak aku membawamu kemari!! Bagaimana jika kita bermain sebentar saja" ucap Jimin menjilat ibu jari tangannya.


"Tidak!! Ku mohon jangan mendekatiku Jimin" ucap Ana takut.


"Ssstttt!! Jangan berisik" ucap Jimin smrik.


"Tidak Jim, ku mohon!" Ucap Ana meneteskan air matanya.


"Kau sendiri yang bilang apapun yang aku mau akan kau turuti. Dan aku mau kau" ucap Jimin terus berjalan mendekati Ana.


"Tidaakk.. ku kumohon Jimin jangan lakukan itu padaku.. ku mohon.." ucap Ana terus memohon sampai dimana tangannya terbentur meja dibelakangnya.


"Aaahhh.." rintih Ana memegangi sikunya.


"Ssssss... Jangan berteriak seperti itu Ana... Kau semakin memancingku.." ucap Jimin.


"Ku mohon Jimin jangan...!!" Ucap Ana menangis.


"Ssttt jangan memohon seperti itu chagiya aku tidak bisa melihatmu memohon padaku" ucap Jimin jongkok dan mengangkat dagu Ana.


"Aku mohon jangan" ucap Ana lirih.


Jimin tidak menghiraukan Ana dan langsung mencium bibir Ana dalam.


•Tidakkk!!• batin Ana menetes kan memejamkan matanya dan air matanya menetes.


"Jangan takut!! Aku tidak akan kasar!" Ucap Jimin melepaskan ciumannya.


"Tidakk, aku tidak mau Jim.. ku mohon" ucap ana terus memohon.


"Kau membuatku kehilangan seleraku... Aku tidak suka saat aku ingin!!! Kau malah menangis!! Setiap kali ingin ku lakukan kau selalu memohon dan menangis!! Kau tau kan aku... Tidak... Suka!!!" Ucap Jimin menekan setiap katanya dan membentak Ana.


Ini adalah pertama kalinya Jimin berbicara keras dan membentak Ana karena menolaknya.


Setiap kali Jimin ingin melakukannya, Ana selalu memohon dan menangis sehingga membuat Jimin mengalah. Dan ini ke 10 kalinya Ana menolak dengan cara yang sama.


"Kenapa kau melakukan itu?? Kau sudah bilang di awal waktu itu kan?? Kenapa kau ingkar dengan perkataanmu Park Ana??" Ucap Jimin mengangkat dagu Ana kasar.


"Namaku bukan Park Ana!! Namaku Min Ana!!!" Ucap Ana lantang.


"Min Ana??? oohh jadi suamimu bermarga Min?? Begitu??" Ucap Jimin smrik.


Tanpa disadari Ana mengucapkan marga yang salah dengan mengucapkan Min dan bukan Kim.


"Sekian lama aku mencari siapa suamimu. Ternyata dia bermarga Min?? Terimakasih chagiya!! Itu... Akan memudahkan aku... Untuk.. mencari siapa suamimu!!" Ucap Jimin menekan setiap katanya melepaskan dagu Ana kasar.


"Tidakkk!!" Ucap Ana memegangi tangan Jimin.


"Aku tidak akan menyentuhmu kali ini!! Aku akan mencari suamimu" ucap Jimin menatap Ana.


"Tidak!! Aku akan melakukan itu untukmu!! Jangan cari suamiku jangan Jimin jangan!!" Ucap Ana memegangi tangan Jimin.


"Ohh demi suamimu kau mau melakukan itu untukku begitu??" Ucap Jimin.


"Iyaa... Akan aku lakukan!! Tolong jangan mencari suamiku ku mohon padamu" ucap Ana memohon.


"Ohh chagiya jangan menangis.. " ucap Jimin membantu Ana berdiri.


"Duduk disini!!" Ucap Jimin mengambil segelas air dimeja samping tempat tidur.


"Minum ini" ucap Jimin memberikan gelas itu pada Ana.


"Aniya!! Aku akan melakukan untukmu Jim tapi tolong. Jangan cari suamiku!! Ku mohon.. berapapun yang kau mau akan aku lakukan!" Ucap Ana lirih.


"Kau sanggup?? Hmm??" Tanya Jimin.


"Sanggup atau tidak tetap akan aku lakukan" ucap Ana.


"Ouuhhh, Chagiya!! Kau baik sekali.. tapi sayang.. aku.. sudah.. tidak.. menginginkannya" bisik Jimin menekan setiap katanya.


Ana membulatkan mata saat Jimin memukul tengkuk lehernya hingga Ana pingsan.


"Heh!! Tidurlah sayang!! Aku akan mencari suamimu dan membunuhnya.. kalian akan bertemu di pemakaman suamimu" ucap Jimin smrik.


"Kau begitu mencintai suamimu!! Akan ku buat cintamu itu mati dalam 1 detik!! Dan kau.. Tidurlah sampai aku kembali!!" Ucap Jimin menatap Ana dan keluar kamar.

__ADS_1


__ADS_2