
Setelah makan siang semua karyawan kembali pada pekerjaannya masing-masing. Begitupun Ana dan Luna.
Saat makan siang Luna menadapat panggilan dari Taehyung untuk keruangannya jadi Ana berjalan sendirian menuju devisi nasional.
Saat itu Yoon-gi dan Hoseok sedang sibuk mengurus persiapan untuk besok mereka ke luar negeri diruangan Yoon-gi. Karena berangkat bersama Hoseok jadi Jimin berkeliling sekitar kantor sambil menunggu Hoseok selesai dengan Yoon-gi.
Dan pas sekali Jimin dipertemukan dengan Ana yang pas juga jalan sendirian di koridor menuju devisi nasional.
Betapa terkejutnya Ana saat Jimin berjalan tepat dibelakangnya dan meraih pinggangnya dengan satu tangan dan mendorong tubuh ramping Ana ke tembok.
"Kau!!" Kata Ana kaget dan berusaha melepaskan tangan Jimin.
"Apa aku membuatmu kaget chagia??" Tanya Jimin mengunci semua pergerakan Ana.
"Lepaskan aku!" Ucap Ana menatap Jimin tajam.
"Jangan menatapku seperti itu.. aku tidak takut dengan tatapanmu itu" ucap Jimin tersenyum miring.
"Apa maumu Jim.. lepaskan aku!! Kita sudah tidak ada hubungan apapun!!" Ucap Ana masih berusaha melepaskan tangan Jimin tapi tidak bisa bergerak sama sekali.
"Suatu hubungan akan berakhir apabila keduanya setuju!! Dan aku tidak menyetujui hal itu" kata Jimin semakin kuat mencengkram nya.
"Aww!!" Rintih Ana karena lukanya tidak sengaja dipegang oleh Jimin.
"Jangan berpura-pura seperti itu.. aku tidak akan melepaskanmu!!" Ucap Jimin.
"Aww.. tanganku!!" Ucap Ana menekan katanya.
Darah yang menembus pada Kamis kasa Ana meresap pada kemeja putihnya berlengan panjang.
Jimin yang menyadari itu langsung melonggarkan cengkramannya dan melihat tangan Ana.
"Kenapa itu!!" Ucap Jimin mengulurkan tangannya untuk menyentuh luka Ana.
"Aniyo... Sakit,.." rintih Ana.
"Ana!!" Panggil seorang pria yang berdiri dri ujung koridor.
Jimin dan Ana membulatkan matanya saat melihat Yoon-gi dan Hoseok berdiri di ujung koridor dan berjalan mendekati mereka.
"Lepaskan aku Jim.." bisik Ana.
"Kenapa begitu?" Tanya Jimin berpura-pura.
"Presdir akan mengira aku adalah kekasihmu" ucap Ana.
"Biarkan saja memang faktanya adalah itu kan" ucap Jimin senyum.
"Mengertilah.. aku akan kehilangan pekerjaan ini jika Presdir salah paham dan mengira kita melakukan hal ini di kantor.. menjauhlah dari tubuhku!!" Ucap Ana berbisik geram pada Jimin.
"Baiklah" ucap Jimin smrik dan menjauhkan tubuhnya dari Ana.
Yoon-gi dan Hoseok berjalan semakin dekat kearah Jimin Dan Ana. Ana tersenyum kaku dan membungkuk memberi sapaan selamat siang.
"Selamat siang Presdir Yoon-gi, Presdir Hoseok" ucap ana membungkuk.
•Ya Tuhan.. bagaimana jika Yoon-gi oppa mengatakan kalau aku adalah istrinya.. Jimin akan mengetahui hal ini dan dia.. tidak tidak ini akan menjadi bencana besar• batin Ana.
"Pergilah ke UKS kantor dan obati lukamu.. aku akan kesana nanti" ucap Yoon-gi senyum.
"Ahh.. nee Presdir" ucap Ana langsung berjalan cepat menuju UKS.
"Wah wah wah... Ternyata Presdir Yoon-gi begitu perhatian pada seorang karyawan biasa" ledek Hoseok.
__ADS_1
"Bagaimana tidak" ucap Yoon-gi santai.
"Oh ya Jim.. kenapa kau bisa bersama Ana tadi?" Tanya Yoon-gi curiga.
"Ahh itu.. tadi dia terpeleset dan jatuh terbentur tembok dan aku melihat tangannya berdarah jadi aku mencoba membantunya saja" ucap Jimin.
"Ohh aku pikir dia kekasihmu" ucap Hoseok terkekeh.
"Apa yang kau katakan Hyung. Yang benar saja!!" Ucap Jimin senyum.
"Ahh sudahlah ayo bukankah kalian harus kembali ke perusahaan" ucap Yoon-gi.
"Jadi secara halus kau mengusir kami begitu?" Tanya Hoseok.
"Aniyoo.. aku juga ahrus bekerja.. jika kalian terus disini aku tidak akan fokus" ucap Yoon-gi.
"Baiklah.. kami akan kembali.. jangan lupa besok aku menunggumu dibandara jam 08:00 pagi.. oke?" Ucap Hoseok.
"Ya ya kau tenang saja" ucap Yoon-gi.
"Ohya Jim.. aku boleh minta tolong sesuatu padamu?" Sambung Yoon-gi menoleh kearah Jimin.
"Tolong apa Hyung?" Tanya Jimin.
"Besok aku dan Hoseok akan pergi pergi ke Swiss untuk beberapa hari.. aku mungkin akan merepotkan mu untuk menemani istriku sebentar saja.." ucap Yoon-gi.
Deg,,
Spontan Jimin membulatkan matanya saat mendengar permintaan Yoon-gi untuk menemani istrinya. Hati Jimin mendapat kemenangan saat ini. Rasanya lucu jika Jimin langsung menerima permintaan ini begitu saja.
"Aku tidak bisa Hyung.. bagaiman jika istri mu tergoda olehku" ucap Jimin pura-pura menolak.
"Itu jika kau menggodanya.. tapi aku percaya padamu.. kau tidak akan melakukan itu pada istriku.. lagipula istri ku juga tidak mungkin menghianatiku" ucap Yoon-gi.
"Ahh baiklah terimakasih.. mian telah merepotkan mu beberapa hari kedepan" ucap Yoon-gi menepuk pundak Jimin.
"Tidak masalah" ucap Jimin.
Niat jahatnya pun muncul seketika. Bagaiman bisa seorang Jimin melewatkan kesempatan besar seperti ini. Awalnya Jimin berencana akan meneror Ana saat Yoon-gi keluar negeri, tapi rencana yang akan dibuat kali ini akan lebih sempurna daripada meneror Ana.
Setelah Jimin dan Hoseok kembali ke perusahaan mereka. Yoon-gi bergegas menuju UKS kantor untuk melihat Ana.
Ceklek,
Yoon-gi membuka pintu dan masuk Yoon-gi melihat Ana sedang dibantu seorang perawat kantor memasang perban yang baru dan membersihkan lukanya.
Lukanya memang tidak terlalu besar tapi bisa dibilang lumayan.
"Chagia?" Panggil Yoon-gi saat masuk kedalam UKS.
"Nee??" Kata Ana yang melihat Yoon-gi masuk.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya.
"Nee lukanya hanya sedikit terbuka lagi" ucap Ana.
"Kenapa kau tidak berhati-hati?" Ucap Yoon-gi khawatir.
"Tidak apa-apa oppa hanya sedikit sja" ucap Ana senyum.
"Jimin bilang kau terpeleset dan terbentur tembok" ucap Yoon-gi.
"Ahh.. i..itu.. be..benar oppa" ucap Ana gugup.
__ADS_1
Yoon-gi hanya tersenyum dan duduk disamping Ana sambil melihat tangan Ana. Saat itu Dae Hyun masuk kedalam UKS.
"Presdir?" Panggil Dae Hyun.
"Ada apa?" Ucap Yoon-gi datar.
"Ada hal yang ingin kusampaikan.. bisakah anda berbicara sebentar?" Tanya Dae Hyun.
"Baiklah.. chagi.. kau tunggu disini ya" ucap Yoon-gi berdiri menghampiri Dae Hyun.
Yoon-gi dan Dae Hyun berjalan keluar ruangan dan menutup pintu UKS.
"Katakan"
"Presdir.. ada kabar baru untuk kabar tentang penculikan nyonya saat itu.. detektif bayaran berkata diatas bukit itu ada masion mewah dan megah yang dimiliki oleh salah satu Presdir group park... Dan dimasion itu terdapat sekitar 20 pelayan dan 15 pengawal yang menjaga masion itu" ucap Dae Hyun.
"Bagaimana kau yakin bahwa masion itiu milik keluarga bermarga park?" Tanya Yoon-gi.
"Coba anda lihat ini?" Ucap Dae Hyun menyodorkan selebar foto.
"Ini... Mobil ini.. bukankah mobil ini.. mobil yang pernah aku temui dikedai kopi kemarin" ucap Yoon-gi membulatkan mata saat melihat foto tersebut.
"Di Plat nomor mobil itu tertulis marga Park.. sebenarnya kami tidak mau langsung menuduh tapi.." ucap Dae Hyun tepotong.
"Terus awasi siapa pemilik mobil ini" ucap Yoon-gi datar.
"Baik" ucap Dae Hyun.
Saat itu bersamaan dengan Ana keluar dari UKS.
"Chagi.." ucap Yoon-gi menghampiri Ana.
"Aku akan kembali bekerja"ucap Ana ingin melangkah.
"Dae Hyun... berbalik" perintah Yoon-gi yang langsung menarik Ana dan meraih pinggang ramping Ana.
Dengan sigap Yoon-gi menarik pinggang ramping Ana hingga membentur tubuh kekar Yoon-gi. Dae Hyun hanya bisa berbalik sesuai perintah Yoon-gi.
"Aaaa..." Ucap Ana kaget.
"Mau kemana?? Hm??" Tanya Yoon-gi mendekatkan wajahnya ke wajah Ana.
"Oppa le..lepaskan aku.. ini dikantor.. ayo cepat lepaskan aku" ucap Ana memberontak.
"Kenapa?? Kau malu atau??" Tanya Yoon-gi semakin erat.
"Lepaskan aku atau tidak akan ada jatah sebulan?" Ancam ana melotot.
"Mwooo??!!" Ucap Yoon-gi membulatkan matanya.
"Tidak bisa seperti itu.. tidak tidak tidakk!!" Ucap Yoon-gi.
"Pokoknya kalau tidak mau lepaskan tidak ada jatah sebulan" ucap Ana santai dengan wajah sombongnya.
"Haiss baiklah.. baiklah.." ucap Yoon-gi pasrah dan melepaskan Ana.
"Nah gitu dong.. aku akan kembali bekerja nee.. sampai jumpa Presdir Yoon-gi" ucap Ana membungkuk setengah badan dan berlalu pergi sambil terkekeh.
"Kau akan mendapat hukuman mu malam ini!!" Ucap Yoon-gi kesal.
Ana berbalik dan Hanya terkekeh,
Dae Hyun baru kali pertamanya melihat Tuan muda dingin ini tersenyum. Yoon-gi tersenyum dan berjalan kembali keruangannya.
__ADS_1