
Taehyung dan Jungkook,
Ruang kerja Taehyung
"Heii Hyung lepaskan tanganmu itu" ucap Jungkook.
"Hmm" ucap Taehyung melepaskan tangannya dan duduk di kuris putarnya.
"Kenapa kau membawaku keruanganmu Hyung?" Tanya Jungkook duduk di kursi depan meja Taehyung.
"Aku lelah.. temani aku disini" ucap Taehyung berputar membelakangi Jungkook dan bersandar dan memejamkan matanya.
"Apa kau memikirkan sesuatu?" Tanya Jungkook menyeruput kopi Taehyung yang ada diatas meja.
"Aku.. memikirkan Ana" ucap Taehyung santai.
"Prufffttt" Jungkook menyemburkan kopi yang diminumnya.
"Apa kau gila Hyung?? Kau bisa terkena masalah jika Yoon-gi Hyung mengetahui hal ini" ucap Jungkook menyeka bibirnya.
"Apa yang harus ku katakan kook.. seandainya aku mengetahui hal ini lebih awal.. aku tidak akan mencintai Ana" ucap Taehyung.
"Hyung.. sebaiknya kau hilangkan cintamu itu.. jangan sampai Yoon-gi Hyung tau tentang hal ini.. atau akan buruk akibatnya" ucap Jungkook.
Taehyung spontan dan berputar dan berhadapan dengan Jungkook.
"Aku tidak bisa kook tidak bisa" ucap Taehyung menatap Jungkook.
"Hyung mengertilah.. atau Yoon-gi Hyung akan membunuhmu nanti" ucap Jungkook.
"Aku tau itu kook.... Tapi apa yang bisa ku lakukan saat ini.. aku tidak tau" ucap Taehyung.
"Ku harap ini menjadi rahasia kita berdua kook.. jangan sampai Yoon-gi Hyung tau" sambung Taehyung.
"Jangan memaksakan sesuatu yang bukan untukmu Hyung... Ini akan jadi masalah besar.. ingatlah Ana adalah istri dari Presdir yang kejam.. kau tau itu kan... Perlahan lupakanlah Ana Hyung" ucap Jungkook berdiri menepuk pundak Taehyung dan berjalan keluar.
"Aku tidak yakin aku bisa melakukannya kook" ucap Taehyung bersandar di kursi putarnya dan memejamkan matanya.
Ceklek,
Jungkook keluar ruangan dan meninggalkan Taehyung sendiri.
****
Jam pulang kantor,
Ana sedang membereskan seluruh dokumennya dan bersiap untuk pulang. Luna datang untuk mengajak Ana keluar bersama, tanpa disadari saat Ana dan Luna sedang cerita dan bercanda semua orang mendadak hening.
Biasanya saat akan pulang mereka ribut dan sibuk membereskan barang-barang nya masing-masing.
"Eeh.. kenapa kalian semua dia..... Ahh Presdir" ucap Luna kaget saat melihat Yoon-gi berdiri tepat dibelakangnya.
"Apa?" Ucap Yoon-gi dingin.
"Itu.. mian Presdir" ucap Luna mundur.
Ana terdiam saat melihat Yoon-gi berjalan mendekatinya dan seluruh mata karyawan tertuju padanya. Ana agak risih jika terus ditatap sejak Yoon-gi mengumumkan bahwa dia istrinya.
Gadis bernama Kim So Yan merupakan manager kedua setelah Taehyung didevisi Nasional dan merupakan wanita dingin yang hanya bisa tersenyum pada Yoon-gi. So Yan selalu menatap Ana dengan tatapan sinis dan tajamnya semenjak Yoon-gi mengumumkan Ana adalah istrinya.
Ana mengetahui tatapan So Yan tapi... Ana selalu berpura-pura tidak tau dan hanya berfikir positif. Dalam hatinya Ana juga mengatakan siapa yang tidak tertarik pada Yoon-gi?? Meskipun terkenal dengan sikap dingin dan angkuh tapi banyak gadis yang menginginkan menjadi wanitanya.
Yoon-gi selalu dikelilingi wanita cantik wajar saja jika banyak mata sinis yang menatapnya ketika tau bahwa Ana adalah istri Yoon-gi.
"Sudah selesai?! Jika sudah ayo pulang" ucap Yoon-gi.
"Nee sedikit lagi.. Kau tunggu aku di mobil saja" ucap Ana senyum.
"Dae Hyun?"
"Nee Presdir?" Ucap Dae Hyun.
"Bereskan semua barang-barang nya" perintah Yoon-gi.
"Baik" ucap Dae Hyun.
Yoon-gi langsung menarik tangan Aan dan mengajaknya keluar. Tiba-tiba Yoon-gi menghentikan langkahnya dan membuat Ana menabrak punggungnya. Ana hampir jatuh dan dengan sigap Yoon-gi menangkap Ana.
"Hati-hati" ucap Yoon-gi.
"Mian Oppa" ucap Ana.
"Kalian lihat apa? Mau lembur?!!" Ucap Yoon-gi dingin.
__ADS_1
Seluruh karyawan langsung membereskan barang-barang nya, Yoon-gi dan Ana langsung menuju keluar kantor. Tatapan So Yan pada Ana tajam ketika Yoon-gi menangkapnya saat akan jatuh.
****
Rumah,
Sesampainya dirumah Yoon-gi dan Ana melihat mobil Nyonya Min terparkir di halaman rumah yang menandakan bahwa mertua terbaiknya ada dirumahnya.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya" ucap dua pelayan yang ada di depan pintu.
"Apakah eomma ada didalam?" Tanya Ana.
"Nee Nyonya, Nyonya besar dan Tuan besar ada didalam" ucap Pelayan.
"Ahh.. eomma datang.." ucap Ana langsung lari masuk ke dalam dan tidak menghiraukan Yoon-gi.
"Keterlaluan!! Beraninya dia meninggalkan suaminya didepan pintu!" Ucap Yoon-gi kesal dan menyusul Ana ke dalam.
"Eommaaa" ucap Ana langsung menghampiri Nyonya Min.
"Ahh sayang.. eemm kamu sudah datang?? Bagaimana dikantor? Seru?" Tanya Nyonya Min.
"Aihh eomma aku sangat lelah" ucap Ana manja.
"Eoh?? Apa Yoon-gi memberimu pekerjaan yang banyak? Hm?" Tanya nyonya Min.
"Ani eomma dia berbohong.. dia hanya mau manja pada eomma saja" ucap Yoon-gi yang memotong pembicaraan Ana dan eomma dan langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan eomma.
Ana hanya memanyunkan bibirnya dan memeluk Nyonya Min. Tuan besar Min hanya terkekeh melihat menantunya dan istrinya yang suka menggoda putra nya.
Keluarga yang sangat lengkap dan harmonis. Semenjak Ana kembali dengan selamat Nyonya Min sangat perhatian dan mewanti-wanti agar kejadian itu tidak terulang kembali.
"Apakah eomma boleh bertanya sesuatu pada kalian berdua?" Ucap Nyonya Min yang membuka suaranya.
"Tentu saja eomma mau bertanya apa" tanya Yoon-gi sambil menyeruput tehnya.
"Kemarin eomma melihat tetangga menggendong cucunya yang baru lahir... Eomma iri padanya.. kapan romma akan memiliki cucu juga?" Tanya Nyonya Min membuat Yoon-gi tersedak.
"Uhukk uhukk..." Yoon-gi meletakkan gelasnya di meja.
"Memangnya eomma mau punya berapa cucu?" Tanya Yoon-gi semangat.
"Eomma sih terserah kalian.. kalian mau berencana memiliki berapa Anak?" Tanya nyonya Min kembali.
Nyonya Min dan Tuan besar Min membulatkan matanya termasuk Ana yang wajahnya langsung memerah.
"Mwo?? Kau mau memiliki anak atau mau membuat tim sepak bola??" Tanya nyonya Min terkekeh melihat ekspresi Ana.
"Lebih banyak lebih bagus agar rumah besar ini rame dengan anak kecil" ucap Yoon-gi mengangkat satu alisnya pada Ana.
Ana hanya melotot pada Yoon-gi dan memanyunkan bibirnya.
"Ahh Appa mendukung Yoon-gi Appa setuju dengan 12 cucu 13 pun appa tidak keberatan" ucap Tuan Min membuka suara dengan tertawa.
"Aisss bagaimana ini tuhan" ucap Ana bersandar pasrah.
Semuanya hanya terkekeh melihat ekspresi Ana dengan wajah merahnya terlihat merah merona dan membuat Ana sangat cantik.
Hari semakin malam setelah selesai membersihkan diri Ana dan Yoon-gi kembali keruang tamu berkumpul bersama eomma dan appa. Setelah makan malam mereka melanjutkan cerita dan bercanda gembira.
Ana yang dulu merasakan kehilangan kasih sayang kini semuanya kembali menyelimuti diri Ana yang dilanda kebahagiaan yang tiada duanya.
Laki-laki yang dulu kasar dan keras padanya kini bisa berubah menjadi sangat lembut dan mencintai nya seperti impiannya. Yang dulunya takut untuk menatap kini menciumnya saja tidak butuh ijin.
Senyuman Ana mengembang sempurna saat melihat Yoon-gi tertawa lepas dengan kebahagiaan. Laki-laki yang dingin, jangankan tertawa tersenyum saja itu tidak.
•Terimakasih Tuhan.. kau mengabulkan seluruh doaku dan impianku... jadikan dia pria terakhir bagiku.. sampai maut memisahkan kami• batin Ana tersenyum haru dengan menatap wajah Yoon-gi dengan senyum gula di bibirnya.
Yoon-gi menyadari bahwa Ana menatapnya sedari tadi.. Yoon-gi berbalik menatap Ana dengan mengedipkan matanya dan menggigit bibir bawahnya menggoda Ana.
Ana hanya terkekeh melihat suaminya sangat bahagia dan ceria.. pemandangan yang sangat dinantikan Ana kini terwujud.
Hari semakin malam, jam menunjukkan pukul 10:45 malam, nyonya Min dan Tuan Min berpamitan pada kedua anaknya dan langsung bergegas pulang kerumah mereka.
Malam itu bulan yang tertutup awan hitam terasa menyeramkan bintang yang selalu bertaburan kini berubah menjadi awan hitam yang memenuhi langit biru dimalam hari.
Sunyi dan sepi itulah yang Ana rasakan saat ini setelah eomma dan appa mertuanya pulang. Ana amsih diteras rumah dan memandangi bulan yang semakin tertutup awan hitam.
•kenapa... perasaanku berubah seketika... aku merasa akan ada badai besar setelah kebahagiaan ini• batin Ana masih memandangi bulan dengan awan hitam.
Langit yang gelap dan tidak ada cahaya bulan taupun bintang. Terasa sangat mengerikan dan menakutkan.
Tangan kekar yang tiba-tiba melingkar diperut Ana membuat Ana terkejut.
__ADS_1
"Mau diteras sampai kapan?" Ucap Yoon-gi mencium pipi Ana.
"Aku sudah mau masuk kedalam.. kajja" ucap Ana senyum dan menggandeng tangan Yoon-gi.
"Kau sakit chagia?" Tanya Yoon-gi.
"Aniya.. aku hanya sedikit lelah.. dan cuacanya sangat dingin" ucap Ana.
"Baiklah chagiya... Ayo kita ke kamar" ucap Yoon-gi langsung menggendong tubuh ramping Ana.
Ana terdiam dengan senyumannya dan bersandar didada Yoon-gi.
Malam yang cukup gelap dan dingin seperti akan ada badai besar yang akan datang. Musim gugur akan berlalu dan digantikan oleh musim dingin(salju) musim uang dinantikan Ana, bisa berdua dengan sang suami dengan kehangatannya pelukan dan manjaan dari Yoon-gi.
Ana membayangkan betapa bahagianya Ana jika Yoon-gi selalu ada disisinya selama musim dingin tiba. Memeluknya dan bersamanya sepanjang hari sampai musim dingin tergantikan dengan musim semi.
Perlahan Yoon-gi menidurkan Ana di tempat tidur dan mencium bibirnya sekilas.
"Oppa...." Panggil Ana dengan nada manja saat Yoon-gi mengambil air minum.
"Nee chagia? Kau butuh sesuatu?" Tanya Yoon-gi dengan meneguk segelas air.
"Aku... Dingin.." ucap Ana.
"Baiklah akan ku matikan AC nya" ucap Yoon-gi mengambil power off AC dan langsung berjalan ke arah Ana dan berbaring disampingnya.
"Oppa..." Panggil Ana lagi.
"Nee... Chagia?" Ucap Yoon-gi menatap Ana lembut.
"Aku..."
"Wae.. kau butuh sesuatu? Hmm?" Tanya Yoon-gi mengusap wajah Ana.
"Aku... Aku mau kau.." ucap Ana lirih.
Yoon-gi membulatkan matanya karena ini pertama kalinya Ana yang memintanya sendiri. Dan terlintas dalam pikiran Yoon-gi untuk berpura-pura tidak tau maksud Ana.
"Aku kan ada disini.. aku tidak akan kemana-mana.. sini peluk aku" ucap Yoon-gi merentangkan tangannya.
"Oppaaaa...." Ucap Ana manja memanyunkan bibirnya.
"Kenapa oppa tidak mengerti maksudku" sambung Ana manyun.
"Ehh?? Kau mau apa Chagia?" Tanya Yoon-gi pura-pura bingung.
"Haiss ya Sudahlah aku mau tidur" ucap Ana membelakangi Yoon-gi.
"Eehh kenapa kau marah chagia? Hm? Kau kenapa? Ayolah katakan padaku" ucap Yoon-gi memeluk Ana.
"Tidak tau" ucap Ana kesal.
"Ehh.. kenapa seperti ini?? Katakan kau mau apa? Kalau tidak mengatakannya.. akan aku hukum malam ini sampai besok pagi" ucap Yoon-gi.
"Hukum saja siapa peduli" ucap Ana kesal.
"Eoh?? Benarkah? Mau dihukum? Hm??" Ucap Yoon-gi membalikan tubuh Ana dan menindihnya.
Sangat terlihat wajah kesal Ana dan memanyunkan bibirnya.
"Mau bermain?" Tanya Yoon-gi dengan wajah genitnya.
"Oppaaa..." Ucap Ana manja.
"Sudah ku duga" ucap Yoon-gi terkekeh.
"Mengertilah!!!" Ucap Ana kesal memukul pelan dada bidang Yoon-gi
"Ahhh....." Yoon-gi terkekeh melihat wajah Ana dengan wajah cemberutnya.
"Kalau tidak mau ayo menyingkir dari atas tubuhku.. oppa tau?? Oppa itu sangat berat" ucap Ana melotot.
"Aihh tatapan mata yang sangat seksi" ucap Yoon-gi.
"Ini namanya melotot sudah ku bilang melotot" ucap Ana membesarkan matanya.
"Pfftt.. kau sendiri yang sengaja menggodaku chagia... jadi..." Ucap Yoon-gi tangannya menyusuri dada Ana dan membuka kancing piyamanya.
"Tu...tunggu... I..itu..." Ucap Ana menahan tangan Yoon-gi.
"Ssttt jika mau minta ampun sudah terlambat" ucap Yoon-gi langsung mencium bibir Ana.
"Emmppt"...
__ADS_1
Malam gelap dengan angin yang berhembus. Dedaunan dan ranting pohon yang berguguran dibawa oleh angin menuju tanah. Bulan yang bersembunyi dibalik awan hitam menambah kegelapan dimalam itu.