Crystal Snow

Crystal Snow
Episode 35


__ADS_3

Ceklek,


Ana terdiam setelah melihat orang yang berada dihadapannya itu. Siapa lagi kalau bukan Jimin.


Ana mundur perlahan ketika Jimin menatapnya lekat. Ana hanya terdiam dan menatap Jimin yang menatapnya juga. Ana berjalan mundur seakan-akan Jimin berjalan maju.


Yoon-gi📱:"Kau sudah kerumahku?? Ana ada didalam tolong jaga dia sementara aku ada di Swiss.. Ana takut gelap aku takut jika sewaktu-waktu listrik padam"


Jimin📱:"aku sudah ada didepan rumahmu Hyung dan Ana ada dihadapanku sekarang" sambil melirik Ana dengan senyumannya.


Yoon-gi 📱:"bisa bicara dengan Ana sebentar saja"


Jimin📱:"tentu saja" memencet tombol speaker dan memberikannya pada Ana.


Ana📱:"Ha..Hallo.. op..oppa..??" Gugup.


Yoon-gi📱:"chagiya.. Jimin akan menemanimu selama aku diSwiss jaga dirimu baik-baik aku akan segera pulang"


Ana📱:"Oppa.. ku mohon cepatlah pulang a..aku takut.." ucap Ana lirih dengan sedikit melirik Jimin yang bersandar di pintu.


Yoon-gi📱:"chagi?? Jangan takut ada Jimin disana dia akan menjagamu sampai aku pulang dan aku akan mencari pelayan baru okeyy?? Tenang yaa aku tidak akan lama.. "


Ana📱:"cepatlah pulang.. aku menunggu.. aku takut.."


Yoon-gi 📱:"nee chagia nee.. baiklah berikan ponselnya pada Jimin"


Ana memberikan ponselnya pada Jimin, mereka berbicara beberapa patah kata dan Jimin mematikan ponselnya. Suasana menjadi hening seketika.


Yoon-gi memilih orang yang salah untuk menjaga Ana. Seketika Jimin berbalik dan menoleh kearah Ana menatap Ana tajam dan perlahan berjalan mendekati Ana.


Ana hanya memejamkan matanya dan meremas dress yang ia kenakan semakin Jimin mendekat jantungnya semakin tidak bisa terkontrol.


"Ja...jangan mendekat" ucap Ana berjalan mundur.


"Memangnya kenapa?? Kenapa kau bilang pada Yoon-gi bahwa kau takut? Takut apa?? Bukankah aku ada disini? Hm?" Tanya Jimin bertubi-tubi dan semakin mendekati Ana.


Perlahan tangannya meraih pintu dan menutupnya lalu menguncinya. Mencabut kunci pintu itu dan memasukkan dalam saku celananya.


Jimin semakin berjalan mendekati Ana. Ana terus mundur sampai dirinya terpentok ke dinding.


"Kau mau kemana? Hm?" Ucap Jimin meraih pinggang Ana dan mengunci pergerakannya.


"Ji..Jimin le..lepaskan aku" ucap Ana.


Jimin hanya menatap Ana dan tidak berbicara apapun Ana berusaha melepaskan tangannya tapi sayangnya tenaganya terlalu kecil dibandingkan dengan Jimin.


"Jimin ku mohon lepaskan aku.. kau menyakitiku..." Ucap Ana merintih saat tangannya terasa sakit akibat Jimin menekannya terlaku kuat.


"Jadi?" Ucap Jimin santai dan semakin menekan tangan Ana.


"Aahh!!"


Tidak ada cela diantara keduanya, Jimin bisa mendengar detak jantung Ana yang semakin kencang.


Ana terdiam dan mematung tatapannya kosong dan hanya menunduk sendu menahan air matanya. Jujur saja Ana adalah orang yang mudah menangis disaat dirinya merasa sakit.


Hatinya sangat sensitif dan mudah terluka, Ana tidak bisa menahan beban dihatinya seorang diri Ana selalu menceritakan apa yang dia alami pada ayahnya. Meksipun hanya ayah angkat tapi Ana sangat menyayangi nya.


Tapi masalah ini dia tidak bisa menceritakan kepada siapapun terutama ayah dan suaminya. Mereka akan terluka, satu panah yang dilontarkan Ana akan mengenai dua sasaran.


Keluarga mertuanya dan keluarga angkatnya. Apalagi Nyonya besar Min yang begitu mencintai dan menyayangi Ana menganggapnya sebagai putri tercinta keluarga Min.


Ana hanya terdiam memikirkan masalah itu sejenak dan membayangkannya betapa hancurnya jika semua ini terbongkar. Tapi.. mau sampai kapan disembunyikan?


"Apa yang ingin kau lakukan" tanya Ana masih dengan tatapan kosongnya.


"Apa yang ingin aku lakukan?? Kau akan tau nanti" ucap Jimin berbisik.


"Kau menyakitiku Jim.. tanganku.. sakit" ucap Ana lirih meneteskan air matanya.


"Ana?? Kenapa kau masih belum berubah hm? Kau selalu menangis jika aku agak kasar padamu" ucap Jimin menekan katanya.


"Kau sudah mengenalku tapi kau masih melakukan ini padaku.. kau bukanlah Jimin yang kutemui 4 tahun lalu.. kau berubah lebih jahat dari itu.. dulu kau tidak pernah kasar padaku kecuali jika aku melakukan kesalahan yang membuatmu marah.. tapi sekarang kau berubah" ucap Ana tertunduk lirih.


"Aku berubah karena dirimu Kim Ana!!! Kalau kau tidak menikah dengan Hyungku sendiri ini tidak akan terjadi!!!" Jimin menekan kalimatnya.


"Kau tau alasanku menikahinya kenapa kau masih marah padaku?! Seharusnya kau bisa merelakan aku Jimin-ssi!! Aku masih ingin mengenalmu meskipun hanya sebatas teman" ucap Ana menatap Jimin sendu.


"Bukan berarti kau mencintainya Ana!! Kau bisa membuat kontrak pernikahan dan berpisah setelah kontrak itu selesai!! Berusahalah untuk tidak mencintai nya!!! Tapi apa yang kau lakukan?!! Aku berubah karena mu dan kau malah menyalahkan aku?!! Kau yang menghianatiku Ana kau!!! Bukan aku!!" Ucap Jimin menekan tangan Ana kasar.


"Aku tidak bisa melakukan hal seperti itu Jim.. aku tidak ingin menikah dua kali dalam hidupku.. aku hanya ingin menghabiskan umurku bersama satu pria dan itu Yoon-gi.. Tuhan memberikan aku untuk Yoon-gi bukan untukmu Jim.. mengertilah ku mohon" ucap Ana lemas dan bersandar pada tubuh Jimin dan perlahan memeluknya dengan satu tangan.


"Lepaskan tanganmu!!" Ucap Jimin dingin.


Ana hanya menggeleng dan menenggelamkan wajahnya didada bidang Jimin.


"Aku bilang lepaskan!!" Ucap Jimin menekan kalimatnya dan memperkuat cengkramannya pada tangan kanan Ana.


"Sakit...!!" Rintih Ana melepaskan tangannya dan menatap Jimin dengan air matanya yang sudah mengalir sejak tadi.


"Sakit.. lepaskan aku ku mohon..." Ucap Ana lirih.


Jimin tidak merespon ucapan Ana dan terus menekan tangan Ana kuat. Tangan kekar itu seakan-akan ingin mematahkan tangan mungil Ana.


Ana berusaha membuka genggaman Jimin tapi genggaman itu terlalu kuat dan semakin Ana memberontak Jimin semakin menekannya kuat.


"Sakit... Lepaskan Aku... " Ucap Ana merosot dan terduduk tapi Jimin menariknya agar tetap berdiri.


"Aku tidak mengijinkanmu duduk Nyonya Muda Min Ana!!!" Ucap Jimin menatap Ana dingin.


Ding dong...


Ding dong...

__ADS_1


Ding dong...


Bel rumah terus berbunyi sementara Jimin mendekap Ana agar tidak bersuara.


"Katakan siapa yang akan datang kerumah ini selain aku!!" Ucap Jimin mendekap Ana.


Ana hanya menggelengkan kepalanya, karena memang tidak ada yang datang kerumah itu selain Jimin.


"Buka pintunya dan lihat siapa dia!" Ucap Jimin melepaskan Ana dan memberikan kunci pintunya.


Perlahan Ana menghapus air matanya dan merapikan rambutnya berjalan menuju pintu dengan tangan gemetar Ana membuka kuncinya dan meraih gagang pintu.


Perlahan Ana memutar gagang pintunya dan membukanya. Dua orang pria berjas hitam pekat dan berpakaian rapi berdiri dihadapan Ana.


"Ma.. manager" ucap Ana membeku saat melihat dua manager tampan dihadapannya.


Ya, itu Taehyung dan Jungkook yang mampir setelah pulang dari kantor. Mereka datang karena Yoon-gi bilang Ana dirumah bersama Jimin.


"Kau kenapa Ana? Kau seperti habis menangis" Tanya Jungkook.


"Ahh.. ini aku tadi kelilipan dan habis memotong bawang untuk memasak kebetulan Aku sedang memasak" ucap Ana senyum tipis.


"Apa kami menganggu?? Yoon-gi Hyung bilang Jimin ada disini.. dimana dia?" Tanya Taehyung.


"Disini" ucap Jimin menyatu dari dalan dan bersandar di bawah tangga.


"Hyung.. kau sejak kapan disini?" Tanya Jungkook.


"Sejak tadi" ucap Jimin menatap Taehyung yang menatapnya tajam.


•Apakah Tae menyukai Ana? Kenapa dia menatapku begitu• batin Jimin mengerutkan dahinya.


"Ahh baiklah.. a..ayo masuk.." ucap Ana


Taehyung dan Jungkook berjalan masuk dan duduk diruang tamu. Diikuti Jimin dan Ana.


Suasana terlihat canggung hanya Ana dan Jungkook yang mengobrol. Sedang Taehyung dan Jimin bertemu dalam satu tatapan yang cukup dingin.


"Ana.. aku rasa sebaiknya AC rumah ini dimatikan" ucap Jungkook.


"Ke..kenapa?" Tanya Ana.


"Kehadiran dua pria ini sudah membuat suasana dingin jadi tidak perlu memasang AC lagi" ucap Jungkook.


Ana melirik pada Jimin dan Taehyung, Ana juga merasa sedikit aneh dengan tatapan mereka.


"Ahh ituu... Aku akan membuatkan minuman untuk kalian" ucap Ana beranjak dan menuju dapur.


"Ahh baiklah.. kau terlalu baik Noona" ucap Jungkook.


Selagi Ana membuat minuman Jungkook sibuk dengan ponselnya begitupun Jimin. Tiba-tiba Taehyung memecahkan keheningan diantara mereka.


"Apa yang kau lakukan pada Ana Jim?" ucap Taehyung.


"Jika aku tidak bertanya pada Jungkook itu artinya aku bertanya padamu.. apa kau pikir Ana sudah kembali dari dapur?" Ucap Taehyung dingin.


"Apa yang aku lakukan? Menurutmu apa?" Tanya Jimin.


"Kau tidak melakukan hal aneh saat Yoon-gi Hyung tidak ada kan" ucap Tae.


"Kenapa kau mencurigai ku seperti itu Tae??" Ucap Jimin menatap Tae.


"Kenapa?? Apa pertanyaan ini salah?" Ucap Taehyung.


"Tidak salah!! Tapi kau seakan menuduhku" ucap Jimin.


"Bagaimana jika itu benar?" Ucap Tae.


"Maksudmu!"


"Tidak ada maksud apapun tapi aku hanya menebak saja" ucap Taehyung.


Jimin hanya memutar bola matanya dan tidak menanggapi ucapan Taehyung. Disaat itu juga Taehyung mulai mencurigai Jimin dan Ana.


Saat Ana membuka pintu Taehyung melihat jelas bahwa Ana terlihat seperti orang menangis sedangkan Ana bilang dia sedang memasak tapi dia begitu santai.


Taehyung juga melihat raut wajah Jimin yang agak kesal dan menahan amarahnya. Taehyung dan Jimin sudah berteman cukup lama, baik buruknya Jimin Taehyung sudah mengerti.


Hanya saja saat Jimin bilang dia kehilangan kekasihnya mulai saat itulah Taehyung sudah tidak bisa mengenali sifat Jimin yang berubah hampir keseluruhannya.


Ana kembali membawa 4 gelas jus apel yang dibuatnya. Jungkook melihat sekitar dan tidak menemukan pelayan dirumah yang begitu besar.


"Emm.. Noona apakah kau sanggup membersihkan rumah besar ini? Dimana pelayannya?" Tanya Jungkook.


"Ahh itu.. mereka ada yang resign dan ada beberapa yang dipecat oleh Yoon-gi dan 3 pelayan lainnya mereka pulang ke Busan" ucap Ana.


"Jadi tadi kalian hanya berdua saja dirumah ini?" Tanya Jungkook lagi.


"N..nee" ucap Ana gugup.


"Ahh Noona tidak perlu takut.. Jimin Hyung sangat baik dan penyayang dia akan menjaga Noona sampai Yoon-gi Hyung kembali" ucap Jungkook mengambil segelas jusnya dan meminumnya.


Ana hanya tersenyum dan lirikannya bertemu dengan lirikan Jimin. Meskipun Jimin hanya melirik tapi dengan begitu Ana tidak akan mengatakan apapun.


Kedatangan Taehyung dan Jungkook membuat Ana sedikit lega karena kehadiran mereka Ana tidak terlalu membeku dengan adanya Jimin.


Jungkook yang paling banyak bicara dengan Ana dan membuat Ana tertawa. Rasanya sudah lama Ana tidak tertawa lepas seperti ini.


Pukul 09:00 malam Jungkook dan Tae berpamitan untuk pulang sedangkan Jimin masih terdiam dan dengan santainya menonton TV.


Taehyung menatap Jimin tajam tapi hanya diabaikan oleh Jimin.


"Hyung?? Apa kau tidak ikut pulang bersama kami?" Tanya Jungkook.

__ADS_1


"Pergilah.. kalian menggangguku" ucap Jimin santai.


•Keterlaluan!! Dia tau bahwa Ana adalah istri orang lain dan dia malah tidak pulang dan tetap disini• batin Taehyung kesal.


"Jangan tanya kenapa karena Yoon-gi Hyung sendiri lah yang menyuruhku menemani Ana" ucap Jimin.


"Ahh baiklah-baiklah.. ayo Hyung kita pulang" ucap Jungkook menarik tangan Tae.


Taehyung hanya tersenyum dan menatap Jimin tajam. Ana tersenyum tipis saat melihat mobil Jungkook dan Taehyung menghilang dan keluar dari halaman rumah mewah itu.


Ana menutup pintu pelan dan menguncinya. Ana terdiam dan masih berdiri di depan pintu menatap Jimin yang tengah bersandar di sofa depan televisi.


Perlahan senyuman Ana mengembang dan berbalik menuju kamarnya tapi tiba-tiba Jimin menahan tangannya dan mendorong Ana kepintu.


"Mau kemana?" Tanya Jimin.


"A..aku mau kekamar" ucap Ana lirih.


"Ikut denganku" ucap Jimin kembali membuka pintu dan menarik Ana untuk masuk ke mobilnya.


Setelah Jimin dan Ana masuk semua pintu mobil dikunci oleh Jimin. Ana bingung dan berusaha membuka pintunya.


"Jangan macam-macam" ucap Jimin menjalankan mobilnya.


"Kau mau membawaku kemana?" Ucap Ana.


"Mansionku" ucap Jimin dingin.


"Ma..mansion yang saat itu?" Tanya Ana menelan Saliva kasar.


"Laku yang mana lagi? Memangnya aku memiliki berapa mansion di Seoul?" Tanya Jimin.


"Diam dan ikut jangan terlalu banyak bicara" sambung Jimin sukses membuat Ana membeku dan tidak berkata apapun.


Sesampainya di mansion Jimin. Sebelum mobil mewah Jimin memasuki halaman mansion itu. Dari kejauhan Ana menatap mansion itu dalam.


Ada bayang-bayang kebahagiaan yang sempat mereka ukir disana. 4 tahun lalu mansion itu masih sangat hangat dan penuh dengan kebahagiaan.


Perlahan mobil mewah Jimin memasuki halaman mansion dan Ana menoleh kearah taman utama. Ana tersenyum saat melihat air mancur yang menjadi saksi bisu cinta mereka.


Air mancur yang masih sama dan banyak kenangan tersimpan ditaman kecil itu. Tidak ada yang berubah dari taman itu.


Seluruh pelayan yang langsung keluar menyambut Jimin saat melihat mobil Jimin masuk ke halaman mansion. Terutama Jerry yang menunggu Jimin sejak sore hari sepulang rapat.


Dengan wajah kesal Jimin membuka pintu mobil dan menarik Ana kasar membawa kedalam mansion dan mengabaikan seluruh pelayan yang menyambutnya.


Seluruh pelayan bahkan membulatkan mata saat melihat Jimin membawa Ana. wanita yang sebelumnya dikurung dimansion ini.


"Tuan mud..." (terpotong saat Jimin mengangkat tangannya)"


"Baik" ucap Jerry tidak melanjutkan kalimatnya.


Ana hanya terdiam membisu mengikuti langkah Jimin yang menariknya menuju kamar atas.


Brukk...


Jimin melempar Ana ke atas kasur dan mengunci pintu kamar tersebut.


"Bangun!!" Ucap Jimin menarik tangan Ana.


"Kau menyakitiku Jimin-ssi!" Ucap Ana lirih.


"Apa aku terlihat peduli? Hm?" Ucap Jimin mencengkram pipi Ana.


"Apa yang akan kau lakukan?" Ucap Ana lirih meringis sakit.


"Mengambil yang seharusnya ku ambil dari dulu" ucap Jimin menarik baju Ana dan merobeknya.


Ana terdiam dan membulatkan matanya saat bajunya dirobek Jimin. Ana berusaha menahan pakaiannya agar tidak seluruhnya terobek.


"Jangan!! Ku mohon jangan lakukan itu padaku Jimin lepaskan aku!!" Ucap Ana berkali-kali menepis tangan Jimin.


Plakk...


Satu tamparan mendarat dipipinya dan berhasil membuatnya membatu. Terdiam dan menangis tanpa suara air matanya tidak bisa berhenti mengalir dan menahan sakit dihatinya.


"Baiklah.. lakukan sesuai dengan kemauanmu lakukan apapun tapi jangan coba-coba untuk menghalangi rencanaku" ucap Jimin keluar dari kamar dan membanting pintu keras.


Ana tidak bisa berbuat apapun hanya terdiam dan membalut tubuhnya dengan selimut.


Lagi-lagi kamar itu menjadi saksi bisu kemarahan Jimin pada Ana. Ntah kenapa Jimin berubah setelah kedatangan Jungkook dan Taehyung. Membawa dan mengurung Ana dimansion yang sama.


****


Pagi harinya,


Ana terbangun karena sinar matahari menembus kematanya. Ana terduduk dipinggir kasur dan menatap keluar jendela.


Ana tidak melihat Jimin dikamar itu. Perlahan ia berjalan kekamar mandi dan membersihkan dirinya. Selagi Ana mandi 2 pelayan yang disuruh Jimin menjaga dan melayani Ana masuk kedalam kamar membawa sarapan pagi dan baju untuk Ana.


Dua pelayan itu belum kunjung pergi sampai Ana selesai mandi. Ana hanya terdiam dan mengikuti saran pelayan. Mengganti pakaian dan sarapan pagi yang telah disiapkan.


"Dimana Jimin?" Tanya Ana.


"Mian Nyonya.. Tuan tidak memberitahu kemana Tuan akan pergi.. sejak tadi malam Tuan langsung pergi begitu saja" ucap pelayan 1.


"Baiklah.. aku akan mencoba menelfonnya nanti" ucap Ana.


Kepalanya sedikit pusing dan matanya sembab, Ana meminta pelayan untuk mengambilkan beberapa es batu dan kain untuk mengompres matanya.


Pukul 09:00 pagi Ana masih menunggu Jimin di balkon kamarnya. Jimin masih belum kembali ke mansion itu hingga menjelang siang.


Ana mencoba menelfon Jimin dan menunggunya seharian itu.. tapi hingga malam tiba Jimin tidak kunjung datang.

__ADS_1


____________________


__ADS_2