
^^^[In one breath, I'm yours and you're mine]^^^
^^^----------------^^^
"Crystall?"
Suara Kania memanggil calon menantu membuat Daffa sedikit menegang. Bukan apa-apa. Karena nyatanya pernikahan ini bukanlah pernikahan impiannya. Perasaannya jelas sama dengan apa yang Crystall rasakan. Ingin menentang tapi tidak bisa.
Daffa akhirnya menoleh untuk memastikan kehadiran calon istrinya.
Tapi, tunggu -
Benarkah wanita yang memakai kebaya putih adalah Crystall?
Wanita itu tidak memakai kacamata seperti biasa. Rambut ditata rapi berhias bunga sederhana. Daffa juga yakin, kalau make up yang dipoles tidak terlalu tebal.
Tapi kenapa penampilan Crystall sangat berbeda dari biasanya.
'Cantik. 'Satu kata yang tiba-tiba terucap di hati Daffa. Sejenak dia menikmati apa yang ada di depan matanya.
"Daffa, ayo duduk." Sentuhan tangan Kania membuat Daffa terkejut. Sialnya dia baru saja melamun.
Bukan hanya Daffa. Rosa dan Helen saja sampai tercengang dengan sosok Crystall yang berubah menjadi cantik.
"Make up nya kalau sudah dihapus juga jadi upik abu lagi," sindir Helen dengki.
Di depan sana Crystall dan Daffa sudah duduk berdampingan di depan penghulu. Hanya ada wali hakim karena Crystall sudah tidak memiliki Ayah. Paman atau saudara lainnya pun tidak ada.
"Sebentar tunggu Kakek," bisik Kania.
Daffa melirik ke arah Crystall. Dia bisa melihat mata wanita itu yang memerah hendak menangis. Senyum di wajah Crystall pun sama sekali tidak nampak.
Daffa memiringkan sedikit badannya supaya bisa condong pada Crystall.
"Tidak bisakah kamu sedikit tersenyum?" bisik Daffa tepat di telinga Crystall.
"Jangan buat aku seperti pria kejam yang menikahimu dengan paksa," imbuhnya.
Dahi Crystall seketika berkerut tajam. Rasa sedihnya berubah menjadi emosi. Ingin sekali mengumpat tepat di depan wajah calon suaminya itu.
'Apa dia bilang? Jangan buat seperti pria kejam yang memaksa? Astaga! Apa calon suamiku kepalanya baru terbentur ujung meja lalu amnesia? Apa pikun? Pernikahan ini tidak akan terjadi kalau dia tidak memaksa dengan dalih ancaman satu milyar dan nasib koas! Daffa Louise Effendi! Kau membuat mood ku jatuh ke dasar bumi!' Batin Crystall terus menggerutu. Sedangkan jemarinya meremas ujung kebaya mewah sampai kucel demi menyalurkan emosinya.
__ADS_1
Sedangkan Daffa hanya bisa menghela nafas beratnya. Diminta tersenyum tapi justru Crystall semakin memajukan bibirnya sebagai tanda kekesalan.
"Maaf, kakek ada urusan sebentar."
Suara pria yang sudah berumur itu berhasil menarik atensi Daffa dan Crystall.
Kakek Abiseka, dia masih bisa berdiri tegak. Hanya saja harus menggunakan tongkat kayu untuk menopang sebagian kekuatannya. Pria tua itu berjalan ke arah sepasang calon pengantin yang sudah siap dinikahkan.
"Jadi ini Alzira Crystalline Allando?" Abiseka tersenyum penuh kehangatan. Sikapnya sungguh jauh berbeda dibanding Daffa si batu es.
Crystall berdiri untuk menyalami punggung tangan Kakek Abiseka. Dia juga membalas senyuman pria tua itu dengan tulus.
"Iya, saya Crystall," jawab wanita itu.
"Ternyata kamu sangat cantik, Nak. Persis seperti Ibumu," ucap Kakek Abiseka.
"Ibu saya? Anda mengenal Ibu saya?" Crystall kini menunjukkan wajah bingungnya.
Tapi Kakek Abiseka hanya mengibaskan tangannya." Kita ngobrol nanti. Kita selesaikan dulu acara ijab qobul pagi ini."
"Mari, Pa. Duduk disini." Kania menggiring Ayahnya untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Baru setelah itu acara pun dimulai.
Pembacaan doa hingga ke acara sakral berjalan dengan lancar. Daffa begitu fasih mengucap kalimat ijab qobul. Membuat Crystall begitu yakin kalau pernikahan ini benar-benar sudah terencana.
SAH!
SAH!
***
"Crys, selamat. Ibu tidak mengira kamu akan bahagia bersama Daffa. Ibu mendoakan segala kebaikan menyelimuti rumah tangga kalian. Ibu pasti akan merindukanmu, Crystall." Rosa memeluk Crystall ditambah dengan bumbu tangisan bombainya.
Crystall hanya bisa menjawab sekenanya saja. Dia sudah hafal bagaimana Ibu angkatnya itu memainkan drama.
Berbeda dengan Helen. Dia sangat enggan mengucapkan selamat. Wanita itu mendekat lalu memeluk Crystall.
"Aku tidak akan mengucapkan selamat menuju kebahagiaan. Tapi aku hanya bisa berkata selamat di kehidupan selanjutnya. Aku melihat Daffa sedari tadi sama sekali tidak memandangmu. Membuatku yakin kalau pernikahan kalian bukan berlandas cinta. Jadi - selamat datang di nerakamu," bisik Helen tepat di telinga Crystall supaya tidak ada yang mendengar.
Baru setelahnya dia melepas pelukan dan tersenyum miring. Tanpa berpamitan dengan siapapun, Helen lebih dulu pergi.
Daffa yang sedang menyambut keluarga besarnya, hanya bisa sesekali mencuri pandang pada sosok wanita yang nampak berbeda malam ini. Meski mata Crystall menunjukkan kesedihan, tapi kulit wajah wanita itu nampak segar tidak seperti biasanya.
__ADS_1
Bibir yang berwarna merah glosy pun membuat Daffa reflek menelan salivanya. Merasa haus.
"Hei, dipandang terus. Nanti malam juga akan dipuas-puasin memandang," ledek seorang sanak saudara mendapati Daffa yang sedang memandang Crystall.
Daffa hanya bisa tersenyum canggung. Lalu mengalihkan obrolan ke hal lainnya.
***
Hanya acara ijab qobul. Kakek Abiseka sudah menjelaskan pada keluarganya kalau akan diadakan resepsi mewah tapi bukan sekarang. Mengingat Crystall masih menjadi koas sekaligus bawahan Daffa.
Pria tua itu tidak mau kabar pernikahan ini akan membuat rekan koas Crystall berpikiran negatif dianggap mendekati atasan hanya untuk meloloskan dalam urusan pekerjaan.
"Kakek." Daffa masuk ke ruang baca di rumah ini. Bagian ruangan yang sering Abiseka tempati.
Ini sudah malam. Daffa sudah berganti pakaian dengan kaos santai. Begitupun sang Kakek.
"Ya, ada apa? Ini sudah malam. Bukankah seharusnya pengantin baru ada di kamar?" tanya Abiseka tanpa mengalihkan atensinya dari buku di depannya.
Daffa lebih dulu mengambil alih kursi di depan meja kerja Abiseka lalu menunjukkan raut seriusnya.
"Seperti janji Kakek. Kakek akan menjelaskan padaku alasan kenapa aku harus menikah saat ini juga?" tanya Daffa.
Abiseka menghela nafas panjangnya. Dia lalu meletakkan buku serta kacamata bacanya di atas meja.
"Supaya Kakek bisa memberimu kekuasaan penuh atas perusahaan dan rumah sakit milik Effendi Group," Jawab Kakek Abiseka.
"Iya, kalau itu aku tau, Kek. Tapi pertanyaan ku kenapa harus Crystall?" Daffa sampai menekan setiap kata yang dia tanyakan pada sang kakek supaya dia segera mendapat jawaban.
"Memang kenapa dengannya? Dia adalah wanita yang baik, cerdas juga cantik. Kakek yakin kalau dia bisa menjadi pendamping yang baik untukmu. Juga sanggup menjadi Ibu sempurna untuk anak-anak kalian kelak."
Jawaban Abiseka sama sekali tidak membuat Daffa puas.
"Kakek sepertinya sudah sangat mengenalnya," ujar Daffa mengerutkan keningnya.
Abiseka mengangguk tanpa ragu. Nyatanya ada hal penting yang mengharuskan pria tua itu menikahkan cucunya dengan Crystall.
"Kakek memang mengenalnya."
"Oke, oke. Aku tidak akan lagi bertanya. Lalu bagaimana mengenai pernikahan kontrak? Bukankah kakek menyetujui kalau aku hanya menikahi Crystall untuk sementara?"
Abiseka diam sejenak. Memandang Daffa cukup dalam. Seakan ada makna tersirat di tatapan itu.
__ADS_1
Kemudian Abiseka memberikan jawaban yang tegas dan pasti. "Berikan dulu keturunan untuk keluarga Effendi. Seorang anak lelaki yang bisa mewarisi kekayaanmu kelak. Setelahnya, terserah kalian berdua akan dibawa kemana status pernikahan itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...