Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
0.8 Sudden Wedding


__ADS_3

^^^[ Accuracy and immutability in a universal plan ]^^^


^^^----------------^^^


Setelah aksi saling debat perihal tinggal satu atap. Akhirnya Crystall hanya bisa pasrah. Dokter itu sungguh tidak bisa diajak bekerja sama. Apa yang Daffa ucapkan adalah sesuatu yang mutlak. Ancaman selalu menjari senjata andalan pria dingin itu.


"Lalu saya pakai baju apa?" Crystall melihat baju sederhana berbalut cardigan yang dia pakai.


Sedangkan Daffa hanya melirik sekilas lalu kembali mengamati sisi jalan dari jendela mobil yang sedang melaju membelah dinginnya malam.


"Ngomong sama batu!" gerutu Crystall lirih karena sedari tadi Daffa tidak menanggapi ocehannya sama sekali.


***


Tiga puluh menit perjalanan, sampailah Crystall di apartemen milik Daffa.


"Itu kamarmu. Dan meski kita sudah menikah nanti, kamarmu tetap di sana," ucap Daffa lalu lebih dulu melangkah masuk ke kamar miliknya sendiri.


"Syukurlah tidak satu kamar dengan batu es. Bisa-bisa aku mati membeku." Crystall menghela nafas panjangnya melihat ke sekeliling.


"Welcome to the hell, Crystall!" ucapnya pada diri sendiri.


Rapi dan elegan, itu yang Crystall lihat dari desain ruang apartemen Daffa. Dia pun masuk ke kamar yang ditunjuk Daffa.


Layak, sangat layak. Satu ranjang berukuran king. Ruang walk in closet mini. Kamar mandi eksklusif. Tapi bagi Crystall semua terasa sesak. Bahkan lebih menyesakkan dibanding tinggal di rumah kedua orang tua angkatnya.


"Bu, doakan Crystall supaya bisa menjalani hidup setelah ini." Tanpa terasa air mata mulai tumpah. Tapi Crystall buru-buru menghapusnya. Dia tidak suka kalau diri sendiri hanya bisa menangis.


Harus bahagia. Begitulah seharusnya.


Crystall mencoba mengecek walk in closet. Dia cukup terkejut melihat semua sudah lengkap. Mulai rak tas, sepatu, hingga pakaian.


Dia mengecek salah satu pakaian yang menggantung. Ternyata memang baru. Bukan bekas.


"Semua ini ukuran ku. Dan - modelnya sederhana sesuai karakterku." Dahi Crystall berkerut tajam. Dia justru merasa bingung dibuatnya.


Permintaan pernikahan paksa dari Daffa bukanlah sebuah kebetulan. Karena nyatanya semua nampak sudah terencana.


"Ada apa sebenarnya?" pikir Crystall semakin bingung.


Tidak ingin terlalu dipikirkan. Crystall memilih mengambil salah satu pakaian tidur lalu dia membersihkan diri.


***


Hari sudah pagi. Daffa sudah berpakaian rapi dengan kemeja ketat berwarna hitam.


Crystall benar-benar seperti boneka yang harus menuruti perkataan Daffa. Uang satu milyar yang diberikan pada Ibunda Bara selalu saja dijadikan ancaman.

__ADS_1


"Kita kemana, Dok?" tanya Crystall saat mengikuti Daffa menuju basement.


"Ke rumah keluargaku. Mereka sudah menunggu," jawab Daffa masih melangkah tegas tanpa menoleh pada lawan bicara.


"Menunggu?" beo Crystall. Tapi lagi-lagi Daffa tidak menjawabnya.


Jalanan pagi pukul 7 lumayan padat. Membuat perjalanan yang seharusnya bisa dicapai hanya 30 menit. Kali ini hampir dua jam mobil mewah milik Daffa yang dikendarai supir, baru memasuki gerbang rumah megah bergaya eropa.


Mobil harus melewati pepohonan rindang kanan dan kiri serta taman bunga disana. Barulah berhenti tepat di depan pintu masuk. Terlihat pula deretan mobil di sana turut meramaikan suasana.


"Crys." Daffa menahan tangan Crystall yang hendak turun dari mobil.


Wanita itu pun melihat tangannya yang sedang di genggam Daffa. Membuat sang Daffa melepas dan sedikit canggung.


"Ada apa, Dok?" tanya Crystall.


"Jika di luar rumah sakit. Jangan panggil aku dokter. Cukup panggil nama."


Crystall hanya mengangguk patuh. Dia sedang tidak ingin berdebat apapun. Dia sudah lapar. Karena tadi belum sempat sarapan, Daffa sudah menariknya pergi dari apartemen.


'Tumben langsung patuh,' gumam Daffa dalam hati.


Mereka berdua turun lalu menuju pintu bersama.


Sambutan penuh hormat diberikan oleh dua pelayan yang membukakan pintu untuk majikannya itu.


"Semua sudah hadir?" tanya Daffa ketika melewati pelayannya.


Drama dimulai.


Daffa langsung menggenggam tangan Crystall lalu membawanya masuk.


"Harus gandengan, ya, Dok?" tanya Crystall.


"Dok?" Daffa menoleh dengan sorot tajamnya.


"Eh, iya, Daffa."


"Hem, harus gandengan. Supaya kamu tidak tersesat di rumah megah ini."


Crystall hanya mencibir mendengar apa yang baru Daffa ucapkan.


Sesampainya di ruangan tengah, Crystall terkejut bukan main. Di sana nampak ramai. Bahkan Rosa, Helen dan Samuel ada di sana.


Tapi sebelum orang-orang di sana menyadari kehadiran Daffa dan Crystall. Seorang wanita separuh baya lebih dulu menggiring mereka berdua untuk naik ke lantai dua.


"Kalian lama sekali. Penghulu sudah datang dari tadi," ucap Kania yang tidak lain adalah Ibunda Daffa.

__ADS_1


"Pe-Penghulu?" Crystall yang sedari tadi diam dibawa naik ke lantai atas akhirnya bersuara.


Kania pun menoleh. Dia sendiri sampai lupa berkenalan.


"Ya, ampun. Crystall. Maaf, Mama sampai lupa belum berkenalan." Kania menghentikan langkahnya di depan kamar.


"Mama adalah mamanya Daffa. Kania. Yang tidak lain mamanya kamu juga, ya. Lalu, penghulu, memangnya Daffa belum kasih tau kamu?" Kania menoleh pada Daffa.


Pria itu hanya mengedikkan bahunya.


"Ya, ampun. Sampai acara sepenting ini kamu malas mengeluarkan suara." Kania merasa gemas pada anaknya yang minim ekspresi dan minim suara.


Karena tidak banyak waktu lagi, Kania membawa masuk Crystall ke sebuah kamar. Meninggalkan Daffa yang masuk ke kamar sendiri.


"Bu, ini pengantinnya?" tanya seorang MUA yang sudah bersiap memoles wajah Crystall.


"lya." Kania menggiring Crystall untuk duduk di depan kaca.


"Crys, semalam Daffa memberi kabar kalau kamu sudah menerima lamaran darinya. Jadi hari ini semua dipersiapkan untuk pernikahan kalian berdua," ucap Kania membiarkan MUA mulai melakukan tugasnya.


Tidak ada senyuman sedikitpun di wajah Crystall. Berkata tidak pun sangat percuma. Dia akhirnya hanya mengangguk dan memandang kosong kaca di depannya.


Bahkan ketika Kania berpamitan keluar dari kamar pun, Crystall sama sekali tidak merespon. Dirinya terlalu terkejut dengan semua ini.


Di ruang tengah yang lebar, Rosa benar-benar tidak habis pikir bisa menginjakkan kaki di rumah megah ini. Bahkan acara ijab qobul saja jamuannya sudah luar biasa. Penataan ruang jauh dari ekspektasi saat akan menikahkan Crystall dengan Bara.


"Kok, bisa, ya. Crys dapat suami sekaya ini?" bisik Rosa pada Samuel.


"Kalau kaya untuk dirinya sendiri untuk apa?" timpal Samuel.


"Tenang saja. Crystall akan aku jadikan ATM berjalan. Bukankah dia harus membayar semua yang telah kita beri untuk merawatnya sejak bayi?" Rosa dengan sejuta rencana matang dalam hati bersorak gembira.


Sedangkan Helen sedari tadi hanya bisa menahan panas di dada. Lagi-lagi Crystall lebih unggul darinya. Dia kira mengambil Bara akan membuat Crystall jatuh sejatuh-jatuhnya. Tapi kenapa jadi begini? Teriak Helen dalam hatinya.


"Eh, pengantin pria sudah datang," seru Kania melihat anak laki-lakinya memasuki ruangan.


Daffa memakai jas pengantin berwarna putih. Tubuhnya yang kekar dan tinggi tegap benar-benar menyempurnakan penampilannya. Belum lagi wajahnya yang rupawan. Helen saja sampai tidak bisa berkedip memandangi sosok calon suami orang yang begitu memikat.


"Lelakinya tampan. Nanti wanitanya buruk rupa," ujar Rosa terkikik sendiri membayangkan Crystall akan di olok-olok oleh keluarga besar Effendi.


Pernikahan sederhana ini memang tidak mengundang siapapun. Hanya ada keluarga inti Effendi juga orang tua Crystall.


Kini giliran pengantin wanita datang.


"Crystall?" tanya Kania memastikan kalau wanita yang tadi dia bawa masuk ke kamar, adalah wanita yang kini ada di depannya.


Crystall mengangguk lemah.

__ADS_1


Sedangkan Daffa yang berdiri memunggungi pun menoleh ke arah calon istrinya.


......................


__ADS_2