Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
3.0 Sleep Together


__ADS_3

Happy Reading Reader's!!!


.


.


Seperdetik kemudian, bibir merah muda nan manis itu dikecup pelan oleh Daffa. Bukankah ini bukan pertama kali? Tapi tetap saja begitu asing bagi Crystall.


Meski awalnya terkejut, namun perlahan Crystall mulai menerima sentuhan hangat itu.


Kelopak mata keduanya terpejam seakan menikmati sensasi asing yang memabukkan itu. Hingga tak terasa, ******* kian menuntut.


Beruntungnya, Crystall cepat tersadar akan ancaman tersebut. Tanpa aba-aba, Crystall menarik wajahnya dan segera menghentikan sentuhan intim yang membahayakan itu.


Bukan membahayakan nyawa. Tapi membahayakan hatinya.


"Maaf, aku tidak bisa melanjutkannya," ucap Crystall yang kini membuang pandangan ke arah lain.


Daffa pun melakukan hal yang sama. Lelaki tampan tersebut mengalihkan pandang ke arah yang lain. Akibatnya, suasana berubah sangat canggung.


Meski ada perasaan malu juga sungkan yang tiba-tiba saja menyapa perasaannya, Crystall tak mungkin berlama-lama di sini. Dia segera menormalkan raut wajah juga melupakan secuil kejadian memalukan itu.


Sudut bibir Crystall terangkat, "Sekarang, kamu harus istirahat. Ayo biar aku antar kamu."


Di detik selanjutnya, Crystall membantu Daffa berdiri. Daffa tak menolak ketika tangan Crystall melingkar di pinggangnya. Dengan telaten, Crystall membawa Daffa ke ranjang milik pria tampan itu.


Crystall mendudukkan Daffa di bibir ranjang, "Tunggu sebentar. Aku akan ambilkan minum untukmu."


Ketika Crystall hendak beranjak, tiba-tiba Daffa menarik tangannya. Sontak saja, tubuh Crystall tersentak dan langsung terjatuh di pangkuan Daffa.


"Astaga, Daffa! Apa yang kamu lakukan?" pekik Crystall yang terkejut bukan main.


Dia menatap Daffa dengan bola mata melotot tajam," Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"


Kepala Daffa menggeleng pelan, "Mereka tidak punya keberanian untuk mengintip kamarku."


"Tapi aku mau ambilkan minum buat kamu, Daffa. Jadi biarkan aku pergi," bantah Crystall yang enggan berada di pangkuan Daffa.


Namun, Daffa tetap keukuh pada pendiriannya. Kedua tangan Daffa melingkar di pinggang gadis cantik itu dengan kuat. Tentu tujuannya agar Crystall tak bisa melarikan diri.


Entah dorongan dari mana, mulut Daffa spontan melayangkan sebuah perintah, "Temani aku tidur."

__ADS_1


"Kamu gila ya?" Crystall langsung membulatkan matanya.


Daffa tak menjawab. Dia justru membalikkan badan dan menjatuhkan Crystall ke ranjangnya. Dan dengan santainya, Daffa merangkul tubuh mungil Crystall. Bahkan, kaki kanannya mengunci tubuh Crystall agar tidak kabur.


"Aku nggak bisa tidur di sini, Dewa. Bagaimana kalau mereka mencariku?" Crystall berontak dari posisinya.


Daffa bergumam pelan sambil memejamkan mata, " Biarkan seperti ini. Setidaknya sampai aku tidur."


Melihat Daffa yang sudah menutup kelopak matanya, Crystall tak punya pilihan lain. Dia akan tetap di sini sampai Daffa tidur. Setelah itu, Crystall bisa kembali ke kamarnya.


"Sebenarnya kamu kenapa, Daffa?" tanya Crystall.


"Aku baru membunuh seorang pasien," ucap Daffa lemah tanpa membuka mata.


Sontak Crystall melebarkan pupil matanya. Bukankah sepak terjang seorang Daffa Louise Effendi sudah melanglang buana kemanapun perihal tugas sebagai dokter. Termasuk kegagalan di ruang operasi.


Tapi kenapa kematian pasien membuat Daffa begitu frustasi seperti tadi? Pikir Crystall tidak mengerti.


"Peluk aku sebentar. Aku butuh obat penenang. Tapi nyatanya kamu mampu menenangkanmu." Setengah sadar. Ya, Daffa melakukan semua ini dengan kesadaran yang tidak penuh.


Dia hanya ingin membuang sepercik rasa traumanya. Dia ingin menormalkan kembali sistem saraf di otaknya lalu tertidur dengan tenang seperti biasa.


"Ya, kau harus tidur," lirih Crystall.


Selagi menunggu Daffa terlelap nyenyak, Crystall mengamati wajah suaminya yang entah kenapa berubah menjadi sangat tampan. Antara dia yang tidak peka atau memang selama ini Crystall berusaha menyangkal pesona Daffa.


Lengkungan sabit di bibir Crystall terbit, "Pasti seru kalau hubungan kita seperti suami istri normal di luar sana. Bisa saling bercerita, tertawa, dan bertukar pikiran."


"Sayangnya, hubungan kita terlalu semu. Aku bahkan tidak yakin kalau kita akan baik-baik saja ke depannya," lanjutnya dengan mata yang perlahan mulai memberat.


***


"Eunggh."


Tubuh pria tampan itu menggeliat pelan. Uapan kantuk menyeruak seiring dengan sinar mentari yang sangat terang menyapa pandangannya.


Daffa refleks menyipitkan mata. Dia memalingkan wajah ke arah lain. Dan sialnya, Daffa justru mendapati sebuah guling hidup yang seketika membuatnya terbelalak kaget.


"Crystall?!"


Secepat kilat, Daffa menyingkirkan tangan juga kakinya yang mengunci tubuh mungil Crystall. Tatapan lelaki tampan itu masih menyiratkan keterkejutan yang tiada tara.

__ADS_1


"Bagaimana dia bisa tidur di kamarku?" gumam Daffa yang kini menjaga jarak dengan posisi Crystall.


Merasa ada pergerakan, tidur Crystall pun terganggu. Gadis cantik itu mengerjapkan kelopak mata dengan pelan.


Tiba-tiba saja, deheman yang cukup keras menyapa pendengarannya, "Tuan puteri sudah bangun?"


'Suaranya mirip sekali dengan Daffa. Eh? Daffa? Hah, apa?! Daffa?!'


Crystall langsung tersadar dan bergegas mengucek kedua matanya. Kemudian, Crystall menatap wajah tampan di hadapannya yang menatapnya dengan raut dingin.


"Siapa yang menyuruhmu tidur di kamarku?"


Ingatan Crystall berputar cepat. Dia lupa kalau semalam ada sebuah insiden yang membuatnya tanpa sengaja tertidur di ranjang Daffa.


Pandangan Crystall terangkat, "Bukannya kamu yang menyuruhku tidur di sini semalam?"


Daffa terdiam sesaat, mengingat kejadian semalam. Tapi gengsi pria itu sungguh tinggi. Membuatnya tidak mau kalah di depan Crystall.


"Apa kata-kataku semalam kurang jelas? Temani sampai aku tertidur."


Daffa bahkan tak segan-segan untuk memojokkan Crystall, "Ka-Kamu pasti sengaja memanfaat kesempatan supaya bisa tidur denganku kan?"


Mendengar tuduhan tak berdasar itu, kepala Crystall terbakar emosi. Dia tidak pernah sedikit pun memiliki niat seburuk itu.


"Apa aku serendah itu di matamu, Daffa? Inikah balasannya untukku? Baiklah, terima kasih banyak atas tuduhannya. Aku permisi."


Karena terlanjur kesal, Crystall pun memilih keluar dari kamar Daffa. Dia sedang malas berdebat untuk sesuatu yang tidak penting. Masa bodoh dengan tanggapan Daffa tentang sikapnya ini.


"Dasar nggak tahu terima kasih! Udah dikasih jantung, tapi nggak sadar diri!" dumel Crystall dengan wajah tertekuk.


Begitu keluar dari kamar lelaki sedingin Antartika itu, Crystall yang berniat masuk ke kamar justru tak sengaja bertemu dengan teman-temannya.


Sontak saja, raut terkejut membingkai wajah Adelia. Jari telunjuk wanita itu mengarah tepat pada Crystall.


"Dokter Crystall?! Ya Ampun, ke mana aja kamu semalam? Kita semua sudah kelimpungan cari kamu ke mana-mana, tapi ternyata kamu dari kamarnya Dokter Daffa?!"


Suara itu berhasil menarik atensi lainnya termasuk El. Ada rasa sakit ketika melihat Crystall berada di sana.


"Crys? Kamu ada hubungan apa dengan Dokter Daffa?"


Sungguh pun Aish kini mati kutu. Dia mematung dengan wajah memucat.

__ADS_1


'Bagaimana ini? Tidak mungkin aku mengakui kalau aku dan Daffa adalah pasangan suami istri? Tapi kalau tidak mengaku, mereka akan menyebutku wanita murahan,' resah Crystall dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2