
Crystall yang masih membeku di sisi tiang penyangga rumah kontrakan ini pun seketika terkesiap begitu mendengar namanya disebut. Jujur saja, Crystall terkejut melihat kadar keberanian El yang semakin menjadi-jadi. Apakah pria itu tidak tahu jika kemarahan Daffa bisa membinasakan keselamatannya?
Dan benar saja, Daffa yang sudah terlanjur murka akibat tindakan kotor El kian dibuat terbakar. Grafik emosinya meroket dan mulai kehilangan kendali hingga meluapkan api amarah yang tertahan.
Kedua kaki Daffa maju selangkah, "Saya memang tidak punya hak untuk ikut campur. Tapi jika orang tidak waras sepertimu sudah merendahkan Dokter Crystall, saya tidak bisa membiarkanmu hidup!"
Tanpa banyak kata, Daffa langsung melayangkan pukulan di perut El. Rahangnya mengeras seiring dengan teriakan El yang menggema karena rasa sakit yang Daffa berikan.
Namun, El tak selemah itu. Dia mungkin kalah dalam hal tinggi juga kekarnya badan, tapi bukan berati El akan menyerah begitu saja. Dia membalas pukulan Daffa dengan hantaman di rahang lawannya itu.
Bugh!
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau!"
Bugh!
Perkelahian pun tak terhindarkan. El dan Daffa sama-sama tidak ingin kalah dalam mempertahankan ego mereka. Pukulan demi pukulan terdengar begitu memilukan.
Alhasil, suara keributan itu memicu para dokter lainnya keluar dari kamar mereka. Raut terkejut terpancar begitu jelas di wajah mereka begitu melihat pertengkaran antara El dan Daffa.
"Cukup! Daffa stop! El berhenti!!" teriak Crystall yang panik sekaligus kebingungan untuk melerai keduanya.
Dia ingin maju dan memisahkan kedua pria dewasa yang berseteru di hadapannya. Akan tetapi, Crystall sadar jika itu hanya akan membuat situasi menjadi rumit. Lagi pula, tangan Crystall masih gemetaran. Bayang-bayang El yang tampil mengerikan tadi membuat Crystall mundur dan menutup wajahnya.
"Ya, ampun. Ada apa ini?" pekik Adelia dan kawan-kawan menatap bingung dua pria yang sedang berkelahi.
"Apa seperti ini sikap seorang dokter pada wanita yang tidak berdosa?!" bentak Daffa sambil melayangkan bogeman di dagu El.
Bukannya membalas pukulan Daffa, El justru memulas seringai miring di ujung bibirnya yang robek, " Sudah aku duga. Anda pasti akan datang untuk menyelamatkan Dokter Crystall. Jadi sekarang katakan, ada hubungan apa antara Anda dan Dokter Crystall?"
"Jangan alihkan pembicaraan, Dokter Elajar! Urusan kita belum selesai! Kau memaksa Dokter Crystall menerima cinta busukmu itu sampai kau berniat menodai kesuciannya!" murka Daffa yang kembali meninju rahang kiri El.
Elajar menahan rasa sakit yang merambat hingga ke kepalanya. Berusaha menegakkan posisi berdirinya, jari telunjuk El mengarah ke sosok Daffa. Dia sangat membenci lelaki yang ada di hadapannya saat ini.
"Siapa Anda sebenarnya? Anda tidak pernah peduli dengan wanita mana pun. Namun dengan Dokter Crystall, Anda mati-matian membelanya hingga menghajarku sekuat ini!"
Daffa mengeraskan rahangnya, "Sudah saya bilang, hentikan sandiwaramu! Kau sudah memaksa orang lain untuk menerima cintamu dengan cara yang kotor. Apa menurutmu saya akan diam saja?"
"Jangan sok polos, Dokter Daffa. Aku tidak sebodoh itu untuk melihat semuanya! Aku tahu, Anda pasti bisa semarah ini karena ada sesuatu di antara kalian. Benar begitu kan? Lagi pula aku hanya akan menciumnya. Bukan merenggut mahkotanya. Anda terlalu berlebihan!" El tersenyum miring meski perutnya berdenyut nyeri.
Bibir Daffa mendesis kasar, "Kurang ajar! Ini untuk sopan santunmu yang telah lenyap!"
__ADS_1
Bugh!
"Ini untuk sikap bodohmu yang berhasil merusak nama baik dokter!"
Bugh!
"Dan ini untuk tanganmu yang telah lancang menyentuh Dokter Crystall!"
Bugh!
Sedetik kemudian, tubuh El ambruk tak berdaya.
Bertubi-tubi amarah yang dilayangkan Daffa berhasil membayarkan tingkah El yang kurang ajar. Lelaki itu kini kalah telak. Selain karena bogeman tangan kekar Daffa, El sadar akan posisinya. Daffa terlalu sulit untuk dikalahkan. Akibatnya, El tersungkur di atas tanah dengan luka lebam yang begitu parah di wajahnya.
Segera saja, Adelia berinisiatif menolong El yang terkapar tanpa tenaga. Begitu pula dengan Crystall, gadis cantik itu langsung menghampiri Daffa yang terlihat menggerakkan rahangnya yang memar.
"Kita ke kamar sekarang. Biar aku yang akan obati," ucap Crystall sambil menggandeng lengan kekar Daffa dengan hati-hati. Padahal dirinya sendiri sedang gemetaran karena takut.
Daffa memilih menurut. Keduanya pun melangkah beriringan menuju ke kamar Daffa. Dengan telaten, Crystall mendudukkan Daffa di tepi ranjang. Barulah, Crystall memeriksa keadaan Daffa yang sempat terkena bogeman El juga.
Crystall menyentuh pipi Daffa, "Ada memar di wajahmu. Akan aku ambilkan wadah air dulu untuk mengompresnya."
Daffa membiarkan gadis cantik itu melangkah ke kamar mandi. Sesuai apa yang dikatakan Crystall, dia kembali dengan satu baskom air dan sebuah kain berwarna merah muda.
Mulut Daffa tak berkomentar apa pun. Dia benar-benar berubah menurut seperti kucing yang diurus majikannya.
Dan Crystall, gadis cantik itu berusaha mengobati memar di pipi Daffa.
Begitu kain merah muda itu menyentuh permukaan wajah Daffa, lelaki itu tampak meringis kecil. Walaupun sangat pelan dan ekspresi wajahnya tetap datar, tapi Crystall spontan menarik tangannya kembali.
Raut wajah Crystall berubah cemas, "Aduh maaf, pasti sakit ya?"
"Tidak. Lanjutkan saja," titah Daffa lugas.
Pelan tapi pasti, Crystall menempelkan kompresan kain ini ke pipi kiri Daffa. Dalam jarak sedekat ini, Daffa bisa menangkap ada kekhawatiran dan ketakutan yang terpancar dari bola mata Crystall.
Tangan Crystall masih tampak gemetaran, "Jujur, baru kali ini aku melihat orang berkelahi hebat."
"A-aku takut melihat El yang berubah menjadi sangat menyeramkan. Padahal selama ini, dia begitu baik padaku. Tapi malam ini, dia begitu kasar," ungkap Crystall nada bergetar.
Dugaan Daffa memang tidak pernah salah. Dia tahu jika pertengkaran ini pasti menjadi guncangan yang dahsyat bagi mental Crystall yang lemah. Dan lihatlah sekarang, bukan hanya tangan yang masih tremor, raut wajah Crystall berubah pias. Rasa trauma itu sepertinya menyerang diri Crystall dengan begitu dalam.
__ADS_1
Daffa berdehem singkat, "Tenang, aku akan selalu melindungi mu."
Meski terkejut mendengar perkataan Daffa, namun Crystall tak secepat itu terbawa suasana. Dia masih ingat betul bagaimana perlakuan Daffa yang tak pernah sedikit pun baik padanya. Lagi pula, bayang-bayang ucapan Daffa malam itu membuat Crystall sadar diri. Dia tidak bisa berharap banyak pada ikatan semu ini.
"Tidak perlu, Daffa. Aku masih bisa menjaga diriku sendiri. Meskipun aku kenapa-napa juga, aku tidak akan adukan ke Mama dan Kakek. Jadi, kamu akan selalu aman. Mereka akan mengira kalau kamu mengurusku dengan sangat baik," tukas Crystall sambil membuka kotak obat-obatan.
Mendengar nada lirih yang tersirat dari ucapan Crystall, kekesalan pun hinggap di benak Daffa. Hari sudah berlalu, tapi nyatanya Crystall masih ingat kata-kata itu. Daffa pun memilih diam daripada harus berdebat dengan Crystall.
"Sebaiknya kamu pergi saja. Aku bisa obati luka ini sendiri," ucap Daffa yang langsung menarik tangannya dari jangkauan Crystall.
Gadis cantik itu pun tersentak kaget. Kontan saja, Crystall menatap Daffa dengan raut tertekuk sebal.
"Aku belum selesai. Jadi, jangan ganggu aku mengobati lukanya," sahut Crystall yang keukuh mengoleskan salep di luka lebam Daffa.
Walaupun dengan tangan yang masih bergemetar, Crystall terus saja memaksakan diri untuk membantu Daffa mengobati lukanya.
"Kamu menolongku dari bahaya, maka aku harus membalas mu juga. Aku akan obati lukamu Daffa," tandas Crystall teguh prinsip.
Daffa berdecak keras, "Kondisimu sedang tidak baik-baik saja, Crys. Istirahatlah. Aku bisa atasi masalahku sendiri."
"Aku baik-baik saja, Daffa. Buktinya, aku masih bisa duduk di hadapanmu kan?" Crystall memulas senyum tipis agar Daffa merasa yakin.
Namun, apa yang Daffa lihat justru sebaliknya. Dia menangkap aura Crystall yang tampak berbeda dari senyumannya. Dari cara Crystall menatapnya, Daffa yakin jika istri kecilnya itu berbohong. Daffa tidak sebodoh pemikiran Crystall.
"Jangan munafik, Crys. Kamu juga butuh istirahat. Pergilah ke kamarmu," titah Daffa dengan sorot tajamnya.
Crystall menghela napas panjang, "Kenapa kamu tidak percaya padaku? Baiklah, aku akan istirahat. Tapi, setelah aku selesai mengobati lukamu."
Daffa yang menyaksikan langsung betapa keras kepalanya Crystall pun berdecak sebal. Amarahnya tersentil karena ucapan Crystall yang terkesan benar-benar tak mau patuh.
Crystall memang sangat sulit sekali diberi arahan padahal jelas-jelas gadis cantik itu nampak masih trauma. Semua terbukti jelas dari ringisan kecil di bibirnya juga jemari yang bergetar.
Coba katakan, bagaimana Daffa bisa diam saja melihat sisi Crystall yang lemah seperti itu?
"Lukanya sudah membaik. Kembalilah ke kamarmu, Crystall. Ini perintah. Aku tidak ingin dibantah." Daffa menekan ucapannya.
Sayang, Crystall tampak menggelengkan kepala meski raut wajahnya masih saja menyiratkan kecemasan tiada tara, "Tidak, Daffa. Memar di pipi kananmu masih belum aku oleskan obat."
Karena tak tahan dengan sikap Crystall yang terkesan memaksakan diri, Daffa pun spontan menarik tubuh mungil Crystall ke dalam pelukannya. Sontak saja, Crystall tersentak kaget. Dia seketika membeku dalam pelukan hangat Daffa.
"Maaf, jangan pernah masukkan hati jika ada kata-kataku yang menyakitkan," lirih Daffa yang saat itu juga membuat lidah Crystall terasa kelu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...