
...Crystall Is Mine...
...----------------...
Kania tersenyum lebar melihat anak gadisnya yang rupanya sudah datang lebih dulu.
"Halo, sayang ...." Kania memeluk sungkan lalu mengecup rindu Safa. "Sudah lama menunggu?" tanyanya.
"Ya, sudah lima belas menit," jawab Safa. Lalu netranya bergeser pada wanita yang ada di sebelah mamanya.
Tatapan itu membuat Kania mengerti.
"Ini, lho. Kakak iparmu, Crystall." Kania mencoba mengenalkan, dia beralih menatap Crystall.
"Crystall, ini adiknya Daffa. Kamu pasti belum tau kalau Daffa punya adik, ya? Namanya Safa."
Safa pun memberikan senyum hangatnya kemudian mengulurkan tangan.
"Hai, aku Crystall," sapa Crystall dengan ramah.
Tapi sepertinya Safa tidak begitu. Dia nampak enggan menerima jabatan tangan iparnya. Sorotnya pun nampak meremehkan melihat penampilan sederhana Crystall.
"Oh, jadi ini istri rahasia Kak Daffa?" Safa nampak meneliti penampilan Crystall dari atas sampai bawah.
"Sudah aku duga. Pasti kamu berniat memanfaatkan kakak aku, kan?" tuduhnya.
Pupil mata Kania pun sedikit melebar mendengar apa yang baru anaknya ucapkan.
"Safa, kamu ini bicara apa?" Kania masih bisa berbicara lembut.
Safa hanya mengibaskan tangannya. Malas berdebat disaat seperti ini.
"Ayo, Ma. Kita berbelanja." Safa merangkul tangan Kania lalu membawanya.
"Crys, ayo." Kania masih sempat mengajak Crystall.
Crystall yang sempat terkejut dengan sikap Safa pun akhirnya mengikuti langkah mereka berdua.
Selama mencari-cari pakaian, Safa benar-benar mengabaikan keberadaan Crystall. Untung saja Kania masih berusaha menjadi penengah jadi dia bisa menjaga hati Crystall.
***
Daffa masih mengambil jadwal lembur karena ada pasien gawat darurat yang baru datang ketika dirinya hendak pulang.
"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya salah satu keluarga korban kecelakaan saat Daffa baru membuka pintu ruang operasi.
__ADS_1
"Operasi berjalan lancar. Hanya saja kondisinya masih kritis. Kita lihat dalam 1x24 jam. Jika pasien belum memberi tanda-tanda siuman, kami akan memberi tindakan. Tapi untuk saat ini detak jantung tidak terlalu buruk. Terus berdoa supaya suami Anda lekas siuman," ujar Daffa.
"Terimakasih, Dok. Tetap berikan yang terbaik untuk suami saya." Wanita separuh baya itu nampak lemah dan terus berlinang air mata.
"Kami akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk keselamatan pasien. Kalau begitu saya permisi."
Daffa pergi dari sana menyelesaikan sisa-sisa operasinya lalu kembali ke ruangan.
Kedua tangannya sedikit bergetar. Keringat dingin juga menjalar di dahinya.
Kondisi tadi mengingatkannya pada kejadian dua tahun lalu. Saat dimana pasien yang sedang dilarikan ke ruang IGD adalah Ayahnya sendiri.
"Dokter Daffa. Ada pasien gawat darurat!" Seorang dokter magang terengah-engah karena baru saja berlari menghampiri Daffa yang sudah berada di basement untuk pulang karena kala itu waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam.
"Bukannya di dalam sudah ada Dokter Zayn?" Bukan menolak, hanya saja Daffa tidak mau lancang dengan menyerobot jadwal dokter lain.
"Ada dua pasien kritis, Dok. Dan salah satunya -" -
"Satunya?"
Salah satu pasien itu adalah Ayah Dokter Daffa."
Ucapan dokter magang itu membuat dada Daffa seperti tersambar petir. Tanpa banyak bertanya, pria itu langsung berlari sekencang mungkin menuju ruang IGD. Disana dia sudah melihat Kania juga Abiseka di koridor.
"Daffa! Papamu! Selamatkan dia!" Kania menangis sangat kencang saat melihat Daffa datang.
Zayn baru saja memberi pertolongan pertama.
"Bagaimana, Dok?" tanya Daffa begitu panik.
"Kepalanya mengalami benturan hebat. Tulang rusuknya juga sudah melukai organ dalam. Pasien harus segera menjalani operasi," jawab rekan sesama dokter.
Daffa menatap gemetar pria separuh baya yang selalu dia banggakan itu.
"Masih ada satu pasien lagi. Dia korban kedua dari kecelakaan. Kondisinya tidak jauh beda. Mereka harus menjalani operasi saat ini. Anda akan menangani operasi pasien yang mana?" tanya Dokter Zayn mengerti kondisi hari Daffa.
"Aku -" Daffa bahkan merasa tidak sanggup melakukan apapun saat ini. Tapi tidak ada dokter lain.
"Jika merasa tidak sanggup menangani Tuan Effendi, sebaiknya Anda menangani pasien satunya." Dokter Zayn masih mencari jalan keluar.
Daffa sesaat terdiam. Sampai akhirnya dia mengambil keputusan untuk menangani Ayahnya sendiri.
Kejadian itu sama sekali tidak bisa Daffa lupakan. Dia merasa bersalah seumur hidupnya karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Ayahnya sendiri.
Tangisan Kania dan Safa ketika Daffa keluar dari ruang operasi juga masih terngiang di indra pendengarannya.
__ADS_1
Daffa berjalan lemah ke meja kerjanya. Dia meraih figura berisi foto keluarga utuh. Jemarinya menyentuh foto sang Ayah.
"Maafkan aku, Pa. Dua tahun lalu seharusnya aku bisa melakukannya dengan maksimal." Daffa menarik nafas dalam-dalam. Dadanya terasa begitu sesak jika ingat kala itu.
Tidak ingin terus larut dalam kesedihannya. Daffa kembali meletakkan figura lalu membuka laci meja kerja. Diraihnya botol bening berisi obat penenang.
Tanpa sepengetahuan siapapun, Daffa selalu meminum satu butir obat penenang ketika dia baru saja melakukan operasi pada pasien pria korban kecelakaan. Bagaimanapun pengalaman buruknya begitu membekas di hatinya.
Setelah tangannya berhenti bergetar. Kondisinya pun membaik, Daffa bergegas pulang. Jika sudah begini dia harus istirahat.
***
Sesampainya di apartemen, Daffa langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa. Kepalanya berdenyut tidak karuan.
Saat seperti itu kekasihnya justru menelfon.
"Astaga," keluhnya melihat nama kontak yg tertera di layar ponselnya.
Karena tidak mood untuk mengangkat. Daffa pun mengabaikannya. Dia mematikan daya ponselnya lalu memilih tidur sejenak.
Namun sepertinya waktu belum berpihak padanya untuk beristirahat.
Bunyi bel apartemen membuat Daffa dengan malas beranjak dari sofa sembari memijit pelipisnya yang terus berdenyut.
"Kakak!" teriak Safa saat Daffa baru saja membuka pintu.
Gadis itu langsung menyambar tubuh tinggi kekar itu untuk dia peluk.
"Tak bisakah kamu bersuara merdu?" Respon Daffa selalu datar dan dingin. Berbanding terbalik dengan sifat dan kelakuan adiknya itu.
"Aku sangat merindukanmu." Safa tidak peduli protes Daffa. Suaranya tetap saja melengking.
"Sendiri?" tanya Daffa karena belum nampak siapapun di belakang Safa.
"No dengan Mama dan istri rahasiamu " Safa memilih masuk lebih dulu menuju dapur untuk mengambil minum. Dia sudah biasa merusuh di apartemen kakaknya.
Baru setelahnya Kania muncul membawa sebagian barang belanjaan. Wanita separuh baya itu sampai belanja kebutuhan dapur dan lain-lain untuk apartemen Daffa.
"Tidak usah bantu Mama. Itu Crystall membawa lebih berat. Buah-buahan dan seisi kulkas. Safa sama sekali tidak mau membantu," tolak Kania saat Daffa hendak mengambil barang bawaannya.
Daffa pun keluar dari pintu. Dilihatnya Crystall membawa beberapa kantong dan nampak kesulitan.
Tapi, bukannya menghampiri untuk membantu, Daffa justru mendadak terdiam memandang sosok yang sedang berjalan ke arahnya.
"Daffa, tolong bawakan yang kanan ini. Berat sekali," pinta Crystall yang hanya menyisakan beberapa langkah.
__ADS_1
Namun sang suami sepertinya tidak mendengar. Netranya fokus memandang wajah yang kali ini nampak berbeda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...