Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
1.4 Face Change


__ADS_3

^^^[Diamond covered by a glazed dust]^^^


^^^----------------^^^


Crystall membuka pintu setelah Daffa menjawab dari dalam.


"Crys! Oooh, menantu mama!" Kania begitu heboh menyambut kedatangan menantunya.


Daffa pun segera menutup pintu sebelum kehebohan itu terdengar oleh orang luar.


"Bisa dikecilkan suaranya, Ma?" ucap Daffa sedikit kesal.


"Ish, sirik! Mantu mama sendiri bukan mantu curian kenapa harus bisik-bisik," sahut Kania yang sepertinya sudah kontra dengan Daffa.


Crystall yang memilih golongan putih pun hanya bisa diam dan memberikan cengiran kuda hingga menampilkan deretan gigi putih nan rapinya.


"Ini yang mama takutkan kalau kamu tinggal hanya berdua dengan Daffa. Bisa-bisa mati muda menghadapi sikapnya yang dinginnya gak ketolongan. Sangat tidak peka pria seperti itu." Kania benar-benar mengabaikan Daffa. Dia menarik Crystall untuk duduk bersamanya.


"Sudah jam pulang. Kalian bicara saja di apartemen." Daffa memilih aman. Dari pada mereka berdua mengobrol di tempat ini.


"Kamu saja yang pulang sana. Mama mau pergi bersenang-senang bersama menantu mama yang cantik ini." Kania mencubit dagu runcing Crystall.


"Ck! Cantik darimana?" gumam Daffa lirih sembari berjalan ke meja kerjanya. Tapi rupanya Kania masih bisa mendengar ucapan Daffa.


"Awas, ya! Kalau kamu nanti jatuh cinta oleh kecantikan natural istrimu ini. Hish. Bahkan saat Crystall memakai baju pengantin saja kamu sampai mematung saking terpesonanya dengan Crystall. Ya, kan?" Kania masih tidak mau kalah dengan Daffa.


Daffa hanya menghela nafas panjang. Rasanya percuma berdebat dengan seorang wanita.


"Sudah, Ma. Jangan begitu. Aku jelek begini masa dibilang cantik. Fitnah itu namanya," ucap Crystall merasa tidak enak sendiri.


"Sudahlah. Kamu ikut mama saja. Sudah jam pulang, kan? Ayuk!" Kania langsung saja menarik tangan Crystall.


"Emh, anu aku -" Crystall berniat ijin dulu dengan Daffa.


"Pergilah," jawab Daffa dengan malas. Lalu membiarkan dua wanita itu pergi.


***


"Aesthetic Clinic?" ucap Crystall membaca papan yang ada di depannya.


Ya, Kania membawa Crystall ke pusat kecantikan kulit terbaik di ibu kota. Langganannya bersama anak perempuannya.


"Yuk," ajak Kania. Dia turun lebih dulu mengabaikan ekspresi bingung Crystall.

__ADS_1


Wanita berkacamata tebal itu pun membenarkan kacamatanya lalu ikut turun bersama Kania. Mengikuti wanita separuh baya yang berpenampilan modis itu masuk ke dalam.


Crystall bahkan menjadi pusat perhatian para pengunjung. Pasalnya penampilan Crystall dan Kania nampak kontras.


Dengan memakai kartu VVIP, Kania dan Crystall langsung digiring masuk ke ruangan khusus dengan dokter estetika khusus juga.


"Nyonya Effendi, selamat datang kembali. Saya senang memiliki pelanggan VVIP seperti Anda," sapa sang dokter wanita begitu ramah.


"Saya juga senang menjadi salah satu pelanggan disini ," sahut Kania duduk di sofa yang tersedia bersama Crystall di sampingnya.


"Tapi, bukannya minggu lalu Anda sudah melakukan perawatan? Atau ada bagian yang perlu di teliti lagi? Semisal jerawat?" dokter itu memperhatikan wajah mulus Kania.


Kania menggeleng. Dia menoleh ke arah Crystall.


"Bukan aku. Tapi anakku ini," tunjuk Kania mengusap bahu Crystall.


Wanita itu sedari tadi mengira Kania mengajaknya hanya untuk menemani. Tapi barusan mertuanya bilang apa? Untuknya?


"Aku? Maksudnya?" tanya Crystall.


"Iya, kamu harus memaksimalkan penampilanmu mulai sekarang. Mama tidak butuh cantik. Mama hanya ingin melihat wajah aslimu, sayang," ucap Kania begitu pengertian.


Crystall seketika menyentuh wajahnya sendiri.


Dokter estetika itu pun tersenyum kecil.


"Maksud Nyonya Kania, dia ingin melihat nona tampak lebih bersih dan terawat. Kalau begitu kita bisa memulai dari sekarang."


"Yap, aku juga menginginkan secepatnya. Karena aku merasa anakku ini hanya perlu sedikit cahaya."


Kania begitu bersemangat mengajak Crystall ke klinik ini. Dia ingin membuat Daffa melupakan kekasihnya. Karena Kania bisa melihat, Crystall nampaknya lebih pantas. Wanita itu tidak neko-neko dan memiliki sifat keibuan. Sangat cocok menikah dengan seorang pewaris seperti Daffa.


Kania sebisa mungkin ingin membuat Daffa jatuh cinta pada Crystall dan meninggalkan kekasih matrenya. Kania tahu dari anak buahnya kalau Daffa masih berhubungan kekasihnya yang sedang menjalani karir sebagai model di luar negeri. Daffa masih mengirimi sejumlah uang setiap kali kekasihnya meminta.


Hal itu sangat membuat Kania semakin kesal. Daffa sama sekali tidak tahu kelakuan wanita yang dia cintai di luaran sana.


Pernah Kania menunjukkan bukti perselingkuhan kekasih Daffa. Tapi Daffa tetap saja percaya pada kekasihnya.


"Tenang saja. Dia sudah cukup memiliki wajah yang cantik serta kulit yang masih natural."


Jawaban dokter itu begitu meyakinkan membuat Kania bisa tersenyum lebar.


Saat sedang menunggu Crystall. Sebuah pesan masuk ke ponsel Kanti. Rupanya pesan dari anak keduanya, adik Daffa.

__ADS_1


[Ma, ada dimana? Aku pulang kenapa rumah kosong? Biasanya jam segini mama di rumah.]


Namanya Safa. Wanita itu selama ini tinggal di asrama kampus. Kanti sengaja mengurung anaknya itu di asrama saat masa-masa skripsi. Gunanya supaya gadis yang hobi jalan-jalan itu bisa fokus menyelesaikan kuliahnya.


[Mama ada di Aesthetic Clinic mau datang? Tapi satu jam lagi Mama akan ke mall.]


Kania mengirim balasan untuk Safa.


Safa tentu lebih memilih bertemu di mall. Sudah satu bulan dia tidak jalan-jalan dan berbelanja menghamburkan kekayaan keluarganya.


Kania dengan setia menunggu Crystall. Dia juga sembari chatting di grup sosialita. Hingga tanpa terasa waktu sudah lebih dari satu jam dia duduk santai di ruangan VVIP.


"Sudah selesai, Nyonya."


Suara dokter estetika itu menarik atensi Kania.


Wanita separuh baya itu berbinar menatap wanita yang berdiri malu di belakang sang dokter.


"Crys-" Kania beranjak dan mendekati wanita yang baru melakukan perawatan.


"Saya melepas kacamata dan mengganti memakai softlens. Untuk wajah, sementara jangan dirias dulu karena baru melakukan perawatan. Tapi baru satu kali saja sudah nampak hasilnya. Wajah Nona Crystall lebih segar. kulit putihnya tidak lagi redup seperti tadi," ungkap dokter.


"Sayaang, mama yakin kalau Daffa akan jatuh cinta padamu." Kania merasa gemas melihat wajah kenyal Crystall.


Tanpa makeup saja wajah itu sudah nampak begitu cantik. Kulit putih segar, hidung mancung. Bulu mata lentik Crystall juga natural membingkai mata indah itu. Biasanya tidak terlihat karena tertutup kacamata tebal.


"Sekarang, kita urus fashion mu."


Kania menyelesaikan pembayaran. Setelahnya di saat langit senja, sang mertua membawa Crystall ke mall.


"Sekarang, Mama ingin tidak mengijinkanmu memakai baju-baju lama. dengar-dengar itu bekas kakakmu yang jahat itu?" ujar Kania setelah mereka berdua menginjak lantai mall.


"Mama tau dari mana?" Crystall merasa selama ini tidak pernah cerita pada siapapun tentang hal itu.


"Ah, Mama tau semua tentangmu." Kania mengibaskan tangannya.


Saat seperti itu ada seorang wanita muda yang datang menghampiri.


"Oh, jadi ini istri rahasia Kak Daffa?" Safa nampak meneliti penampilan Aish dari atas sampai bawah.


"Sudah aku duga. Pasti kamu berniat memanfaatkan kakak aku, kan?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2