Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
1.8 Lost


__ADS_3

...Crystall Is Mine ...


...----------------...


El menoleh ke belakang setelah mendengar suara Daffa. Kedua alisnya menyatu melihat dokter itu mengambil ransel Crystall.


Crystall yang merasa tidak enak pada Elajar langsung memberi cengiran kuda. "Sorry, ngga jadi."


Elajar mengedikkan bahunya. Netranya kembali melihat Daffa membuang ransel milik Adelia yang sudah lebih dulu dimasukkan ke dalam box motor. Lalu diganti dengan ransel milik Crystall.


"Sejak kapan Dokter Daffa menjadikanmu asistennya? Aku baru tau," ujar El menatap Crystall penuh tanya.


Crystall hanya bisa menggeleng. Nyatanya dia juga baru mendengarnya.


"Mungkin saja asisten untuk acara bakti sosial ini," timpal Bian, rekan medis yang baru naik ke motornya di sebelah motor Elajar. "Kemarin aku sempat mendengar kalau Dokter Daffa butuh asisten untuk acara ini," lanjutnya.


El dan Crystall hanya bisa ber ah oh ria.


Setelahnya keempat motor dengan delapan personel tenaga medis pun berangkat. Jalanan memang sulit untuk dilewati. Mereka harus berhati-hati dalam berkendara. Tidak bisa mengebut. Terlebih kini sedang musim hujan. Jalanan sedikit becek.


Daffa membiarkan Bian memandu di depan. Karena


pria itu yang sudah pernah datang bersama tim lain untuk mengecek kondisi. Sedangkan dirinya di belakang. Menjaga supaya tidak ada motor lain yang ketinggalan apalagi sampai tersesat.


"Daffa, apa kamu tidak bisa membawa dengan lancar? Kenapa bentar-bentar mengerem?" protes Crystall yang tidak nyaman sama sekali membonceng Daffa.


"Apa kamu tidak bisa lihat sendiri? Jalan yang kita lalui tidak rata." Daffa membalas dengan nada dinginnya.


Crystall melihat ke depan. Disana juga sepertinya semua sangat hati-hati melewati jalan. Terlebih ada lubang kecil yang membuat motor bisa mendadak pelan lalu sedikit kencang ketika jalanan nampak mudah dilalui.


Crystall meremas jaket kulit bagian sisi yang Daffa gunakan. Dia takut jatuh. Mata Daffa pun sedikit melirik ke jemari Crystall yang nampak dari spion motor.


Saat fokusnya teralihkan. Daffa baru sadar ada batu di depannya. Seketika dia menarik rem dalam-dalam.


"Aaaakh!" pekik Crystall seiring tubuhnya menghempas mantap ke punggung Daffa.


"liih! Kalau tidak bisa membawa motor biar aku saja! Aku juga bisa dan lebih handal darimu." Crystall memukul punggung Daffa dengan kesal. Tidak lupa bibirnya yang manyun tidak jelas. Padahal ini belum ada separuh perjalanan.


Daffa belum melanjutkan perjalanan. Dia miring ke belakang untuk bisa berbicara dengan Crystall. Membuat Crystall menjauhkan punggungnya.


"Kamu mau di depan?" tanya Daffa.

__ADS_1


"Iya!" sahut Crystall jutek. Jika sedang tidak ada siapapun mereka bersikap non formal.


"Berarti aku yang membonceng?"


"Ya, iyalah! Kecuali kamu mau ditinggal disini!"


"Oke. Kalau aku membonceng biasanya berpegangan pada orang yang membawa motor. Soalnya aku takut jatuh dari motor jika tidak berpegangan erat." Daffa mulai bergerak hendak turun dari motong.


Tapi -


Otak Crystall bekerja dengan baik. Dia ingat bagaimana Daffa sudah berani menciumnya seperti tadi pagi. Tidak menu kemungkinan pria itu akan berbuat mesum di jalan. Memeluknya dari belakang dengan alih-alih takut jatuh dari motor.


"Tidak! Tidak! Tidak!" Crystall menggeleng-geleng heboh sendiri. Mulai berfantasi liar. Membuat gerakan Daffa terhenti.


"Tidak apa?" tanya sang suami.


"Ti-Tidak jadi! Kamu saja yang di depan. Aku tidak mau reputasimu sebagai dokter perkasa jadi tercoreng gara-gara membonceng gadis bertubuh kecil sepertiku."


Perdebatan itu membuat mereka tidak menyadari kalau teman-teman yang lain sudah berjalan jauh dan tidak terlihat lagi.


"Bilang kek dari tadi. Pake drama tukeran depan belakang segala. Pemandu jalan jadi sudah tak terlihat," gerutu Daffa kembali memposisikan diri di atas motor lalu menyalakan mesin.


"Iya! Iya! Aku salah!" final Crystall akhirnya membungkam mulutnya kali ini.


Motor pun mulai berjalan menyusuri jalanan yang tidak rata sama sekali. Sedangkan Crystall masih setia mencengkeram kedua sisi jaket Daffa sebagai pegangan. Dia tidak mau merangkul pria itu seperti teman-teman lainnya.


Hingga mereka sampai di persimpangan jalan. Daffa menghentikan motornya karena tidak tau harus ke arah mana lagi.


"Daf, Dafa, Dafa! Jangan katakan kalau kamu tidak tau kita harus kemana?" Crystall melihat ke kanan dan kiri juga depan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan teman-temannya. Bahkan suara motor lainnya pun sudah tidak terdengar.


"Itu sebabnya aku di belakang. Karena aku tidak tau jalan," sahut Daffa.


Crystall mendesah resah. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas selempang yang dia pakai sedari tadi.


"Ini tengah hutan. Tidak ada signal," ucap Daffa melirik sekilas lalu kembali melihat ke kanan kiri.


Crystall melihat layar ponselnya. Benar kata Daffa, tidak ada signal sama sekali.


"Aduuuh bagaimana ini, dong? Kalau kita balik ke posko bagaimana?" Crystall nampak sekali merasa cemas.


Daffa mengangkat tangan kirinya. jika berdasarkan waktu, ini sudah hampir sampai.

__ADS_1


"Ini sudah lebih dari setengah perjalanan. Sebentar lagi sampai. Kita coba ke kanan saja."


Crystall pasrah. Karena dia juga tidak ada pilihan lain.


"Tapi tunggu sebentar." Crystall segera turun tanpa menunggu jawaban dari Daffa.


Pria itu pun hanya memperhatikan ketika Crystall mengambil biji-bijian berwarna merah dari pepohonan liar di sisi jalan.


Cukup banyak yang Crystall ambil. Sampai kedua kantongnya penuh.


"Aku akan menebar ini. Seandainya kita tersesat. Mereka akan mudah menemukan kita."


Motor pun mulai melaju sesuai arah yang Daffa ambil. Sedangkan Crystall mulai menyebar mulai dari persimpangan


Lima menit berlalu. Sepuluh menit.


Bahkan sampai enam puluh menit. Mereka masih belum menemukan adanya titik terang. Padahal seharusnya sekitar 10 menit mereka sudah sampai.


"Daffa, sepertinya kita benar-benar tersesat." Crystall mulai ketakuran. Jalan yang mereka tempuh sepertinya jarang dilewati. Karena banyak sekali rumput liar yang tumbuh di tengah jalan. Tidak seperti tadi.


"Kita sebaiknya putar arah." Daffa langsung memutar arah ke tempat tadi.


Tapi, tunggu!


"Kenapa ini, Daffa?" Crystall merasakan bagian belakang goyang-goyang.


Daffa pun berhenti. Pantas saja! Ban motor bocor!


"Ban kempes," ucap Daffa masih dengan raut datar. Dia membungkuk mengetuk permukaan ban.


"Kita sepertinya mau tidak mau menunggu bantuan datang."


Perkataan Daffa membuat tingkat kecemasan Crystall semakin tinggi. Dia turun dari motor.


"Ba-Bagaimana bisa?" Crystall melihat sekitar. Sungguh tempat ini sama sekali tidak bersahabat. Pohon-pohon rindang menjulang tinggi di sana. Sampai cahaya matahari pun tidak sepenuhnya sampai ke tanah.


Sreeek! Sreeeekkk!


Tiba-tiba terdengar gesekan daun kering dan ranting pohon. Bulu kuduk Crystall seketika meremang takut.


"Daffaaa ... suara apa itu?" Crystall langsung melingkarkan tangannya di lengan Daffa.

__ADS_1


Daffa terdiam. Telinganya menajam mendengarkan dimana arah suara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2