
"Sudah aku katakan, aku tidak punya hubungan lebih daripada kepala dokter dan bawahan," elak Crystall dengan nada rendah.
Tangan kanan El menarik dagu Crystall agar tatapan mereka bertemu, "Apa kamu pikir aku buta? Kamu kira aku pria bodoh yang tidak bisa menangkap interaksi spesial antara kamu dan Dokter Daffa?"
"El-"
"Cukup, Crystall! Sudahi kebohonganmu itu. Aku tahu kamu pasti memiliki ikatan khusus dengan Dokter Daffa. Tapi aku tidak peduli. Persetan dengan semua itu. Aku hanya ingin kamu melihatku untuk sekali saja. Aku cinta kamu! Aku ingin kamu menjadi milikku, Crystall! Sampai kapanpun, kamu hanya milikku seorang!"
"Elajar?" Mata Crystall membelalak atas pengakuan El.
Selama ini dia menganggap El teman akrab. Sepertinya halnya Crystall bersikap pada Adelia.
"Kamu bercanda, kan?" Crystall berharap ini hanya prank.
Tapi justru tanpa aba-aba, El mencengkram dagu Crystall. Menarik paksa wajah Crystall mendekat. Berusaha menyentuh bibir merah muda yang menggiurkan itu.
Crystall pun refleks berontak, tapi tenaga lelaki memang tak bisa dibohongi. El benar-benar menakutkan.
"L-lepaskan aku, El! T-tolong!" teriak Crystall yang menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
El sedang pada dititik akhir kesabarannya untuk menggapai cinta Crystall. Ditambah kecemburuannya atas asumsi hubungan Crystall dengan Daffa. Semakin menjadi emosinya. Pelampiasannya adalah sekarang, dia ingin memiliki Crystall.
"El, please jangan seperti ini -"Crystall menjauhkan wajahnya sedang kedua tanganna menahan dada El untuk tidak mendekat. Dia tidak mau El mengambil sentuhan di bibirnya. Tidak. Crystall tidak bisa membiarkan hal rendahan itu terjadi padanya.
Satu tangan El akhirnya mencekal tangan Crystall. Sedang satunya menjepit pipi wanita itu untuk diam di depannya, "Katakan kamu mau menjadi kekasihku. Katakan maka aku akan melepasmu, Crystall!"
Bughh!
Bogeman keras nan dahsyat menghantam rahang El hingga membuat kepalanya terpelanting ke kiri. Seakan belum puas, dua bogeman sekaligus kembali dilayangkan sebuah tangan kekar itu dengan amarah yang menggebu-gebu.
__ADS_1
Bughh!
Bughh!
"Argh!" teriak El yang seketika itu juga limbung dan tersungkur tak berdaya di atas tanah teras rumah kontrakan ini.
Melihat pemandangan mengejutkan itu, sontak saja Crystall melebarkan kelopak matanya. Kedua tangan Crystall spontan membekap mulut yang menganga tak percaya.
Demi Tuhan, Crystall terkejut bukan main begitu melihat El yang beberapa detik lalu tampak kehilangan kendalinya kini langsung ambruk tak berdaya karena tiga pukulan ganas. Dan yang lebih mencengangkan lagi, Crystall menangkap hadirnya Daffa di hadapannya saat ini juga. Itu artinya, Daffa-lah yang menolongnya dari cengkraman nafsu sesaat El.
"B-bagaimana kamu bisa ada di sini?" gumam Crystall dengan raut wajah yang masih shock.
Meskipun pertanyaan itu masih dapat terdengar di telinga Daffa, tapi pria tampan berkaos polos itu tak menggubris apa yang Crystall kejutkan. Persetan dengan keheranan juga tanda tanya yang ada di kepala Crystall. Daffa tak peduli. Untuk saat ini, fokus Daffa sepenuhnya tertuju pada lelaki payah yang tersungkur di atas tanah karena hantaman tangannya. Dia harus memberikan pelajaran tak terlupakan untuk lelaki tidak tahu diri itu.
Raut wajah Daffa berubah sedingin Antartika. Langkah kakinya mendekat ke arah Elajar dengan rahang mengeras. Oh jangan lupakan, sorot menghunus yang tak pudar sedikit pun dari bola mata hitam legam milik Daffa.
"Apa seperti ini caramu bekerja, Dokter Elajar?" geram Daffa yang tampak mengepalkan telapak tangannya.
"S-shhh ... A-apa yang Anda lakukan di sini?" ringis El sambil memegangi rahangnya.
Tangan kiri El memeluk perutnya yang tadi menjadi sasaran amuk Daffa. Meski masih merasa kesakitan, El berusaha menepis nyilu di rahangnya. El segera bangkit perlahan dan melampiaskan rasa tidak terimanya akibat ulah Daffa.
"Atas dasar apa Anda memukuliku seperti ini hah?!" sembur El dengan dagu mendongak seolah menantang Daffa.
Jari telunjuk El bahkan mengarah pada wajah Daffa dengan amarah yang memuncak, "Memangnya Anda siapa sampai-sampai ikut campur masalahku dan Dokter Crystall?! Asal Anda tahu, Anda hanya orang asing di sini! Anda tidak berhak mencampuri urusanku dengan Dokter Crystall!"
Crystall yang masih membeku di sisi tiang penyangga rumah kontrakan ini pun seketika terkesiap begitu mendengar namanya disebut. Jujur saja, Crystall terkejut melihat kadar keberanian El yang semakin menjadi-jadi. Apakah pria itu tidak tahu jika kemarahan Daffa bisa membinasakan keselamatannya?
Dan benar saja, Daffa yang sudah terlanjur murka akibat tindakan kotor El kian dibuat terbakar. Grafik emosinya meroket dan mulai kehilangan kendali hingga meluapkan api amarah yang tertahan.
__ADS_1
Kedua kaki Daffa maju selangkah, "Saya memang tidak punya hak untuk ikut campur. Tapi jika orang tidak waras sepertimu sudah merendahkan Dokter Crystall, saya tidak bisa membiarkanmu hidup!"
Tanpa banyak kata, Daffa langsung melayangkan pukulan di perut El. Rahangnya mengeras seiring dengan teriakan El yang menggema karena rasa sakit yang Daffa berikan.
Namun, El tak selemah itu. Dia mungkin kalah dalam hal tinggi juga kekarnya badan, tapi bukan berati El akan menyerah begitu saja. Dia membalas pukulan Daffa dengan hantaman di rahang lawannya itu.
Bugh!
"Kurang ajar! Berani-beraninya kau!"
Bugh!
Perkelahian pun tak terhindarkan. El dan Daffa sama-sama tidak ingin kalah dalam mempertahankan ego mereka. Pukulan demi pukulan terdengar begitu memilukan.
Alhasil, suara keributan itu memicu para dokter lainnya keluar dari kamar mereka. Raut terkejut terpancar begitu jelas di wajah mereka begitu melihat pertengkaran antara El dan Daffa.
"Cukup! Daffa stop! El berhenti!!" teriak Crystall yang panik sekaligus kebingungan untuk melerai keduanya.
Dia ingin maju dan memisahkan kedua pria dewasa yang berseteru di hadapannya. Akan tetapi, Crystall sadar jika itu hanya akan membuat situasi menjadi rumit. Lagi pula, tangan Crystall masih gemetaran. Bayang-bayang El yang tampil mengerikan tadi membuat Crystall mundur dan menutup wajahnya.
"Ya, ampun. Ada apa ini?" pekik Adelia dan kawan-kawan menatap bingung dua pria yang sedang berkelahi.
"Apa seperti ini sikap seorang dokter pada wanita yang tidak berdosa?!" bentak Daffa sambil melayangkan bogeman di dagu El.
Bukannya membalas pukulan Daffa, El justru memulas seringai miring di ujung bibirnya yang robek, " Sudah aku duga. Anda pasti akan datang untuk menyelamatkan Dokter Crystall. Jadi sekarang katakan, ada hubungan apa antara Anda dan Dokter Crystall?"
"Jangan alihkan pembicaraan, Dokter Elajar! Urusan kita belum selesai! Kau memaksa Dokter Crystall menerima cinta busukmu itu sampai kau berniat menodai kesuciannya!" murka Daffa yang kembali meninju rahang kiri El.
Elajar menahan rasa sakit yang merambat hingga ke kepalanya. Berusaha menegakkan posisi berdirinya, jari telunjuk El mengarah ke sosok Daffa. Dia sangat membenci lelaki yang ada di hadapannya saat ini.
__ADS_1
"Siapa Anda sebenarnya? Anda tidak pernah peduli dengan wanita mana pun. Namun dengan Dokter Crystall, Anda mati-matian membelanya hingga menghajarku sekuat ini!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...