
Happy Reading Love!!!
.
.
Tok Tok Tok!
"Dokter! Dokter, tolong! Dokter!" teriak seorang warga yang tengah menggedor-gedor pintu rumah kontrakan para team medis.
Mendengar kebisingan dari arah luar, satu per satu dokter juga perawat yang semula tengah terlelap kini keluar dari kamar mereka.
Dan di detik itulah, tujuh pasang mata langsung bersitatap seorang pria berkaos biru yang napasnya terdengar ngos-ngosan. Bahkan, keringat di dahi pria itu mengalir yang menegaskan bahwa dia baru saja berlari kencang.
"Ada apa ini, Mas?" tanya El mendekati lelaki berkaos biru itu.
"Anu, itu, ada kecelakaan parah, Dok. Di sana!" Telunjuk lelaki yang napasnya masih terengah-engah itu mengarah ke jalan utama Desa Melati.
Tanpa membuang waktu, Daffa pun segera mengambil langkah pertama untuk mencari keberadaan korban kecelakaan tersebut. Disusul dengan keenam dokter lainnya yang mengekor di belakang.
Begitu sampai di lokasi, ketujuh pasang mata para team medis seketika disuguhkan dengan pemandangan mengenaskan. Di mana seorang pria paruh baya berkumis tebal terkapar lemah dengan darah yang mengalir dari kepalanya.
Sontak saja, kelopak mata mereka terbelalak sempurna. Meski kejadian seperti ini sudah sering ditemui sebagai team medis, tapi tetap saja shock karena kecelakaan ini cukup parah. Terbukti dari adanya motor ringsek yang menabrak pepohonan besar dan terjerumus dalam kubangan sungai irigasi.
"Cepat bawa korban ke puskesmas!" titah Daffa yang melempar kode pada team medis lelaki untuk membantu mengevakuasi bapak-bapak ini.
Dengan kompak, para kaum adam itu mengangkat pria paruh baya ini sampai ke puskesmas yang khusus menangani pasien gawat darurat. Beruntung, letaknya tak jauh dari lokasi kejadian.
Begitu sampai di puskesmas yang tak cukup luas ini, keempat pria di sana segera membaringkan korban kecelakaan tersebut ke brankar yang tersedia di sana.
Pandangan Bian pun beralih pada Daffa yang tengah mencari sarung tangan di laci dengan terburu-buru, "Dok, apa kita harus melakukan operasi sekarang?"
"Pasien itu butuh penanganan secepatnya. Kita tidak punya waktu lagi," tandas Daffa yang kini telah mempersiapkan alat-alat.
Bian menghela napas gusar, "Tapi di sini sangat sedikit alat berteknologi, Dok. Bagaimana mung-"
Ucapan Bian seketika terhenti begitu Daffa melayangkan tatapan tajam. Dalam dunia medis, dokter ataupun perawat tak boleh menyerah sebelum melakukan tindakan.
Sekalipun keadaannya sudah sangat parah, jangan sampai mematahkan kepercayaan yang telah keluarga pasien berikan pada tim medis.
Daffa mengarahkan pandangannya pada Ani, "Kabari pihak keluarga korban secepatnya."
"Baik, Dok." Ani segera melangkah keluar dan menutup pintu ruangan ini.
Alhasil, tinggal tersisa Daffa, Bian, dan Crystall sebagai asisten di sini untuk membantu kelancaran jalannya operasi mendadak ini.
Sejujurnya, Daffa tahu kalau operasi ini punya risiko yang separuh imbang. Hidup atau mati memang bukan ditentukan dari tangan Daffa, tapi dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasiennya malam ini.
Pandangan Daffa beralih pada Bian yang ada di hadapannya. Lalu, dia menatap Crystall yang ada di sampingnya sekilas, "Kita mulai operasinya sekarang."
__ADS_1
"Baik, Dok."
Surgical light pun menyala. Daffa melakukan bius pada pasien terlebih dahulu dengan anestesi. Bian membantu memastikan keadaan pasien stabil. Sedangkan Crystall, dia mempersiapkan diri jika Daffa butuh alat medis.
Dan benar saja, Daffa langsung melayangkan perintah pertama, "Berikan pinset dan kasa."
Crystall dengan sigap memberikan benda yang Daffa inginkan. Kemudian, tangan Daffa menerimanya. Segera saja, Daffa lakukan pembersihan pada area kepala yang mengeluarkan banyak darah.
Ketika Daffa tengah fokus mengerjakan tugasnya, tiba-tiba saja, Bian menyuarakan keterkejutannya," Jantung pasien melemah, Dok!"
Refleks, netra Daffa mengarah pada mesin pendeteksi detak jantung yang masih kuno itu. Daffa pun segera mengambil langkah serius untuk mengatasi hal tersebut.
"Siapkan alat pemacu jantung!"
Baik Crystall maupun Bian bekerja sama untuk memasangkan alat tersebut pada pasien. Setelah siap, barulah Daffa yang mengambil posisi untuk memacu detak jantung pasien yang garis frafiknya mulai menurun.
"Satu dua tiga!"
Dug!
"Satu dua tiga!"
Dug!
"Satu duga tiga!"
Dug!
Bian menghela napas pasrah, "Denyut nadi pasien telah berhenti."
"Pasien dinyatakan meninggal dunia," ucap Bian yang sedari tadi memperhatikan mesin tersebut.
Seketika, tubuh Daffa melemas. Dia menatap pasien lelaki yang terbaring mengenaskan di brankar rumah sakit ini.
"Catat waktu kematiannya," titah Daffa pada Crystall.
Gadis cantik itu sebenarnya juga tak kalah lemasnya dari Daffa. Namun, sebagai dokter dia harus professional jika masih berada di dalam ruang operasi dan menghadapi tugas penting seperti ini.
Bolpoin yang terselip di jemari Crystall segera menuliskan jam juga menit kematian pasien ini. Lalu, dia langsung meninggalkan ruangan untuk memberitahukan kabar duka itu pada pihak keluarga yang telah menunggu di luar.
Ceklek.
Pandangan seorang wanita paruh baya juga anak lelaki berusia tujuh tahun spontan tertuju pada Crystall. Dengan wajah berbalut rasa cemas, mereka langsung menghampiri Crystall.
"Dok, bagaimana keadaan suaminya? Suami saya baik-baik saja kan, Dok?" desak Ibu berdaster merah bata itu dengan tatapan penuh harap.
Crystall menatap bocah kecil di samping Ibu itu yang juga menatapnya penuh harap. Lalu, helaan napas berat menguar dari sosok Crystall.
Tangan Crystall mengelus lengan wanita paruh baya itu, " Ibu yang sabar ya. Pasien telah dinyatakan meninggal dunia karena pendarahan hebat di kepala."
__ADS_1
Deg.
Seketika, wanita paruh baya itu ambruk tak berdaya. Tatapan nanar juga sebulir air mata yang mengalir membuat Crystall tak sampai hati. Dia pun duduk dan mengelus punggung wanita paruh baya itu.
Di detik itu juga, tangis histeris sang Ibu pecah. Dia memeluk putera kecilnya yang juga menangis mendengar kabar pilu ini.
"Tidak, Dok! Ini tidak mungkin! Suami saya pasti hanya pingsan. Dia tidak mungkin sanggup meninggalkan saya dan anaknya."
Wajah bocah lelaki itu pun berlinang air mata, "Kenapa Ayah pergi, Bu? Apa Ayah nggak sayang kita lagi?"
Bersamaan dengan pertanyaan polos yang dilontarkan anak kecil itu, Daffa muncul dari balik pintu. Melihat air mata yang bercucuran, tatapan Daffa berubah sendu.
Seorang pria, lagi-lagi, Daffa tidak bisa menyelamatkan seorang pria separuh baya yang meninggal akibat kecelakaan hebat.
Tangisan keluarga di sana membuat jantung Daffa mulai berdetak tidak normal. Tangannya juga sedikit gemetar.
Trauma itu, entah sampai kapan dia mengidapnya. Dia hanya butuh obat penenang sekarang. Sayangnya obat itu ada di rumah dan Daffa harus segera kembali pulang sebelum ada yang melihatnya lemah seperti ini.
***
Begitu urusan di puskesmas telah selesai, para tim medis kembali ke rumah kontrakan mereka dengan langkah gontai.
Walaupun tidak mengenal siapa korban kecelakaan tadi, tapi jelas saja kesedihan masih menyelimuti para tim medis. Mereka merasa menyesal sekaligus berdosa karena tak mampu menyelamatkan pasien pendarahan tersebut.
"Sebaiknya kita semua istirahat agar besok kondisinya tetap fit," kata Bian pada rekan-rekannya.
Ani, Dini, dan Adelia kompak mengangguk. Mereka pun melangkah lebih dahulu ke kamar wanita. Tersisa Bian, El yang memilih di ruang tamu meski wajah mereka terlihat sayu.
Crystall yang baru saja tiba setelah mengantarkan Ibu dan anak tadi ke rumah langsung menyusul ketiga teman wanitanya. Ketika hendak kembali ke kamarnya, tiba-tiba saja manik matanya menangkap tubuh Daffa yang membelakanginya.
Namun, bukan itu yang jadi sorotan Crystall. Melainkan, cara Daffa berdiri yang seperti goyah dan tak seimbang. Mirip orang yang habis menegak alkohol.
"Dia kenapa? Kok kayak oleng gitu? Nggak mungkin mabuk kan?" gumam Crystall heran.
Crystall bersikap masa bodoh meski dia melihat tangan Daffa memegangi kepalanya. Tapi tiba-tiba saja, tubuh Daffa ambruk. Melihat itu, sontak saja Crystall membulatkan matanya.
"Daffa!"
Tanpa babibu, Crystall menghampiri Daffa yang tampak pucat dengan keringat di dahinya. Dia segera menyangga tubuh Daffa yang lemas dengan bibir bergemetar.
"Ayo kita ke kamar," ucap Crystall sambil memapah Daffa dengan telaten.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
KOMENT YUK!!!!!
JANGAN LUPA FOLLOW AKUN PENULIS YUK!!!
MAKASIH YA BUAT LIKE YA!!!
__ADS_1
YUK RAMAIKAN KARYA AUTHOR!!! DUKUNGAN DARI KALIAN IS THE BEST. MAKASIH YAAA!!!
MAU LANJUT GA? HAHAHA