Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
2.7 Cold


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju ke rumah-rumah warga, sepasang suami istri yang kompak mengenakan jas putih itu saling mengunci mulut. Mereka terdiam seolah sama-sama membangun sekat kokoh yang tak bisa diterjang.


Crystall yang biasanya tampak ceria kini mendatarkan ekspresi wajahnya. Dia benar-benar tidak selera untuk berpatroli kali ini. Moodnya terlanjur hancur lebur hanya karena sikap Daffa yang selalu saja seenaknya sendiri.


Tersadar akan keterdiaman Crystall, Daffa pun melirik ke sosok gadis cantik bercempol kecil di sampingnya dengan diam-diam. Jujur saja, ada rasa bersalah yang hinggap di benak Daffa. Meski tak mengatakannya secara gamblang, tapi Daffa mengerti jika dia-lah penyebab sikap Crystall berubah cuek.


Beruntung, rumah warga pertama yang akan dikunjungi Daffa dan Crystall telah ada di depan mata mereka. Keduanya pun melangkah masuk ke pelataran rumah warga yang terdapat dudukan papan yang cukup luas.


Di sana, Daffa dan Crystall telah disambut oleh seorang wanita paruh baya berbaju cokelat tua yang langsung mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Selamat pagi, Pak Dokter, Bu Dokter," sapa Ibu yang kini berdiri dari dudukan papan itu.


Kepala Daffa mengangguk dan Crystall tampak tersenyum. Netra gadis cantik itu menatap map yang sempat Daffa berikan tadi.


Lalu, Crystall berfokus pada Ibu tersebut, "Dengan Ibu Marshanda?"


"Iya, itu saya, Dok. Kebetulan yang sakit bukan saya, tapi anak saya yang ada di dalam. Kemarin sudah diperiksakan ke balai desa, tapi subuh badannya panas lagi, Dok," ungkap Bu Marshanda dengan raut khawatir.


Crystall pun menyentuh lengan Bu Marshanda, "Ibu tenang saja. Kami akan memeriksa putera Ibu."


Tanpa babibu lagi, wanita paruh baya tersebut langsung mengantarkan Daffa dan Crystall masuk ke dalam rumah khas Jawa yang masih terbuat dari batu bata kuno dan rotan.


Begitu sampai di kamar, Bu Marshanda justru menunjuk anak berusia sekitar sepuluh tahun yang terbaring dengan kompres di dahi, "Ini anak saya, Dok."


"Baik, Bu. Kami akan memeriksanya," sahut Daffa dengan suara tegas.


Tangan Daffa pun langsung membuka koper putih yang berisi alat-alat medis yang diperlukan. Dengan dibantu Crystall, Daffa segera mengecek kondisi anak laki-laki yang terlihat kambuh kembali.


"Panasnya masih tinggi, siapkan paracetamol dan antibiotik," titah Daffa pada Crystall.


Tanpa membantah, Crystall pun segera menyiapkan obat yang harus diberikan pada anak Bu Marshanda. Kedua dokter tersebut bekerja sama dengan sangat baik hingga membuat Bu Marshanda menghela napas lega.


"Kondisinya akan stabil setelah istirahat yang cukup, Bu. Jangan lupa untuk meminum obatnya sesuai jadwal yang sudah saya tuliskan di masing-masing resepnya," ucap Daffa pada Bu Marshanda.


Crystall pun menambahkan, "Dan pastikan selalu untuk makan teratur juga minum air mineral yang banyak supaya tidak kekurangan cairan dan imunnya stabil."

__ADS_1


Kepala Bu Marshanda mengangguk paham, "Baik, Pak Dokter, Bu Dokter. Terima kasih banyak kalian sudah membantu menyelamatkan anak saya."


"Sama-sama, Bu."


Bu Marshanda tersenyum pada Crystall dan Daffa, "Kalau dilihat-lihat, kalian berdua itu cocok ya untuk jadi suami istri. Pak Dokternya ganteng, Bu Dokternya juga cantik. Pasti nanti anaknya cakep-cakep semua."


Mendengar itu, Daffa pun tak bisa menyembunyikan senyum. Dia sendiri bisa membayangkan bagaimana wajah buah hatinya nanti bersama Crystall.


Namun tiba-tiba saja, suara lirih Crystall menghancurkan suasana hati Daffa, "Suami istri? Siapa juga yang mau menikah dengan kulkas dua pintu macam dia."


"Apa maksudmu mengataiku kulkas dua pintu tadi?"


Pertanyaan itu spontan saja keluar dari mulut seorang Daffa. Bukannya takut karena Daffa melayangkan tatapan tajam, Crystall justru mengedikkan bahunya acuh. Dia tampak tak peduli sedikit pun pada apa yang Daffa tanyakan.


Dengan santainya, Crystall melanjutkan langkah di jalan setapak ini. Tak menoleh lagi ke belakang seolah bersikap masa bodoh dengan Daffa yang pastinya akan berpikiran buruk tentang.


Bagi Crystall, yang terpenting sekarang adalah harga dirinya sebagai seorang wanita. Jika Daffa tak mampu menghormatinya sebagai seorang istri, maka Crystall pun tak sudi mengemis hormat pada Daffa.


Jika Daffa yang menegaskan kalau hubungan mereka hanyalah ikatan di atas kertas, maka Crystall pun akan menyanggupinya dengan bersikap layaknya orang asing dengan Daffa. Toh, ini bukan hal yang sulit untuk seorang Alzira Crystalline Allando.


"Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja, Crystall," gumam Daffa.


Dan benar saja, hanya dalam beberapa kali pijakan, Daffa berhasil menyamai posisi Crystall. Meski gadis cantik berjas putih itu sempat tak menoleh sedikitpun, tapi Daffa yakin jika Crystall berusaha mempercepat jalannya.


Sebelum Crystall benar-benar pergi, Daffa pun dengan cepat mencekal tangan istrinya itu. Lalu, kedua tangan Daffa membalikkan posisi tubuh Crystall menghadapnya.


"Apa begini caramu berbicara pada suamimu?" Daffa menyorot lurus tepat di netra Crystall.


Crystall membuang pandangannya ke arah lain, "Sejak kapan kamu mengakui diri sebagai suamiku?"


"Jangan bersikap seperti anak kecil, Crys. Kita sudah sepakat untuk tidak bersikap acuh seperti ini satu sama lain! Apa kamu lupa?" tegur Daffa.


Mendengar itu, Crystall seketika tertawa sumbang, "Woo hebat sekali, Daffa. Kenapa sekarang kamu jadi mengatur bagaimana caraku bersikap? Bukankah selama ini kamu tidak pernah peduli?"


"Cry-"

__ADS_1


Jadi telunjuk Crystall terangkat, "Sekarang, biar aku yang ingatkan kembali padamu, Daffa. Seperti ucapanmu semalam, kita ini hanyalah pasangan kontrak. Tidak perlu bersikap peduli, tidak boleh ikut campur. Dan yang paling penting, jangan pernah berharap pada ikatan semu ini. Karena cepat atau lambat, kita akan berakhir."


Tanpa buang-buang waktu lagi, Crystall memutar langkahnya. Namun sebelum beranjak pergi, mulut Crystall bergumam pelan, "Untung saja kita hanya pasangan kontrak. Kalau tidak, aku bisa mati beku hidup dengan manusia sepertimu."


Meskipun pelan, tapi telinga Daffa masih dapat menangkap unek-unek Crystall secara langsung. Daffa mendengar dan memahami maksud ucapan Crystall. Daffa sadar, ini adalah buah dari kesalahannya.


Ketika Crystall melanjutkan langkah yang sempat terhenti, manik mata Daffa secara tak sengaja menangkap ikatan tali sepatu kets Crystall yang terlepas. Merasa sedikit khawatir jika Crystall tersandung, Daffa pun segera menyusul langkah Crystall.


Dengan sedikit kikuk, Daffa mengarahkan dagunya ke sepatu kets Crystall, "Tali sepatumu lepas."


"Biar aku yang membenarkannya," lanjut Daffa yang bersiap hendak berlutut.


Tapi dengan cepat, tubuh Crystall menghindar, "Tidak perlu. Aku bisa sendiri."


Penolakan itu membuat Daffa seketika tak mampu berkutik. Tatapan matanya tak terlepas dari sosok Crystall yang kini berlutut sambil mengikat tali sepatunya sendiri.


Begitu selesai, Crystall langsung bangkit berdiri. Dia kembali ke mode awal yang cuek dan terlihat biasa saja seolah tak terjadi sesuatu di antara dirinya dan Daffa.


Melihat Crystall yang berjalan mendahuluinya, Daffa menghela napas berat. Bola mata hitam legamnya yang selalu melayangkan tatapan tajam kini berkabut suram.


Tatapan Daffa tak mampu berpaling dari punggung Crystall yang perlahan menjauh. Di detik itu juga, Daffa meraup wajahnya frustasi.


"Aku tidak mengerti dengan kemauan wanita."


***


Tok Tok Tok!


"Dokter! Dokter, tolong! Dokter!" teriak seorang warga yang tengah menggedor-gedor pintu rumah kontrakan para team medis.


Mendengar kebisingan dari arah luar, satu per satu dokter juga perawat yang semula tengah terlelap kini keluar dari kamar mereka.


Dan di detik itulah, tujuh pasang mata langsung bersitatap seorang pria berkaos biru yang napasnya terdengar ngos-ngosan. Bahkan, keringat di dahi pria itu mengalir yang menegaskan bahwa dia baru saja berlari kencang.


"Ada apa ini, Mas?" tanya El mendekati lelaki berkaos biru itu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2