
'Kita ke rumah kakek pagi ini.'
Itu yang Daffa katakan setelah terbangun pagi hari dan mendapat pertanyaan mengenai foto pria yang bersama Ayah Daffa.
Disinilah Daffa dan Crystall berada, depan pintu rumah megah keluarga Effendi.
"Apa kita tidak terlalu pagi dan mengganggu Kakek juga Mama? Memangnya kamu tidak bisa menjelaskan sendiri padaku tentang dimana keberadaan Ayah ku?" tanya Crystall.
Daffa menggeleng. "Biar Kakek yang menjelaskan."
Crystall kembali terdiam. Membiarkan Dafa menekan bel rumah, sampai pintu dibuka oleh pelayan disana.
"Tuan - Nona. Silahkan." Pelayan itu melebarkan pintu, memberi ruang untuk sepasang majikannya masuk.
"Kakek dimana?" tanya Daffa.
"Tuan Besar sedang ada di ruang baca. Setelah selesai sarapan pagi," jawab sang pelayan.
Daffa berjalan lebih dulu lalu Crystall mengekor. Kedatangan keduanya disambut hangat oleh Abiseka, lelaki tua yang sudah memiliki banyak keriput.
"Wah, ada angin apa pagi-pagi begini datang?" Abiseka memberikan tangannya untuk di kecup oleh Crystall dan Daffa.
Ketika itu Kania dan Safa juga ikut masuk. Karena tumben Daffa dan Crystall datang sepagi ini juga tanpa memberi kabar.
Abiseka meminta semua untuk duduk di sofa. Karena nampaknya yang akan Daffa bicarakan sedikit serius.
"Ada apa?" tanya Abiseka membuka setelah semua duduk.
"Crystall mendapati foto sahabat Papa, Om Cakra. Dia juga menyamakan dengan foto Ayahnya." Daffa memberikan Crystall kode untuk mengeluarkan foto yang ada di dompet.
Crystall melakukannya. Dia memberikan foto yang selama ini dia simpan. Yaitu foto sang Ayah dan almarhum Ibunya.
"Apa kakek mengenalnya? Dan kenapa Ayah foto bersama papanya Daffa?" tanya Crystall dengan hati penuh harap.
Abiseka menghela nafas beratnya. melepas kacamata baca dan mengusap sedikit butiran air mata dari kelopak keriputnya.
Sedangkan yang mengambil foto itu adalah Kania. Dia sedikit terkejut melihat foto sahabat suaminya.
"Ini Ayahmu?" tanya Kania.
Crystall mengangguk.
Kania lalu memberi tatapan penuh menuntut pada Abiseka.
Perjodohan antara Daffa dan Crystall dia hanya mengikuti mau Abiseka saja. Dia menyayangi Crystall lantaran wanita itu baik.
"Papa bisa jelaskan pada kami? Pasti ada hubungan antara Cakra dan perjodohan ini, kan?” tanyanya.
"Oke, kali ini tidak bisa disembunyikan lagi," ucap Abiseka.
"Jadi benar pria itu adalah Ayahku? Itu artinya kakek tahu di mana Ayahku sekarang? Ajak aku menemuinya, Kek. Seumur hidup aku belum pernah bertemu dengan Ayahku sendiri." Crystall nampak memohon.
Baru kali ini Daffa melihat mata Crystall yang begitu sendu dan syarat akan kesedihan. Reflek dia menggenggam kedua tangan wanita itu yang saling sedang saling meremas untuk melampiaskan rasa di hati.
__ADS_1
Crystall menoleh, menuntut pula jawaban dari Daffa. Karena kemungkinan Dafa pun tahu di mana Ayahnya.
"Apa kamu tahu di mana Ayahku?"
Daffa tidak menjawab. Dia hanya menyalurkan kekuatan dari tangannya supaya Crystall bisa menerima jawaban dari Abiseka.
"Crys, Ayahmu menitipkanmu padaku." Abiseka kembali bersuara.
"Maksudnya?"
Abiseka nampak beranjak dari kursinya berjalan sedikit sulit karena memang umurnya yang sudah sangat tua. Dia membuka laci di meja kerjanya lalu mengambil sebuah amplop yang sudah nampak usang berwarna coklat.
Semua terdiam memperhatikan gerak-gerik Abiseka yang kembali duduk di posisi semula. Ekspresinya nampak berat dan juga sarat akan kesedihan di sana.
"Ini adalah pesan dari Ayahmu yang bernama Cakra." Abiseka mengulurkan benda itu pada Crystall.
Crystall menerimanya, sedikit bergetar, lalu dia membuka.
Seolah mengizinkan Daffa ikut membacanya, Crystall sedikit mencondongkan kertas itu ke arah Daffa.
[Alzira Crystalline Allando. Aku adalah Cakrawinata Allando. Maafkan Ayah jika selama ini bersembunyi. Ayah sedang berusaha mengumpulkan banyak uang untuk di kata pantas mengambil mu dari tangan Rosa.
Sesungguhnya Ayah malu meninggalkanmu ketika Ibumu baru saja meninggal. Hanya saja rasa cinta Ayah kepada Ibumu sangatlah besar. Setiap melihatmu sama saja melihat Ibumu, membuat kesedihan Ayah semakin berlipat.
Saat itu Ayah sangat drop, menghadapi kenyataan itu. Penyakit Ayah beberapa kali kambuh setiap kali bersedih tentang kematian wanita yang sangat Ayah cintai. Sampai akhirnya Ayah bertemu dengan sahabat lama dari keluarga Effendi.
Semenjak itu Ayah mulai membangun bisnis bersamanya. Sampai pada akhirnya kita bisa mendirikan Effendi group begitu tinggi. Ayah bersiap untuk menjemputmu. Menerima segala kebencianmu karena selama ini kamu tinggal bersama keluarga lain.
Ayah juga sudah memberikan tanggung jawab mu kepada keluarga Effendi. Mungkin ini sebuah perjodohan, tapi Ayah melakukan ini karena sangat mengenal bahwa keluarga Effendi adalah keluarga terbaik yang Ayah miliki. Dalam artian kamu bisa menikah dengan Daffa Louise Effendi. Seorang pria yang sudah Ayah kenal sejak kecil.
Bukan apa, jika memang Tuhan memanggil Ayah lebih cepat. Setidaknya di atas sana Ayah bisa lega karena kamu hidup dengan pria baik-baik. Mendapat kasih sayang dari keluarga terhormat itu.
Ayah sangat mencintaimu sebesar Ayah mencintai ibumu. Maafkan Ayah jika keputusan Ayah waktu itu sangat salah.
Semoga setelah kamu membaca ini rasa bencimu pada Ayah sedikit berkurang
Sampai bertemu, sayang. Ayah selalu mendoakan kebahagiaan untukmu.]
Tidak ada yang bisa Crystall ucapkan saat ini. Dadanya terasa sesak matanya pun memerah. Air matanya berlinang begitu saja sembari menekan dadanya yang sangat sakit.
Sejenak Crystall merasakan kasih sayang sang Ayah dari kata-kata yang ada di kertas itu lalu dia kembali menoleh pada Abiseka mengusap pipinya dari air mata yang tak kunjung surut.
"Lalu di mana Ayah?" tanyanya di tengah isak tangis.
Semua orang kini tertuju pada Crystall. Bahkan Safa yang tadinya membenci pun kini ikut merasa iba. Karena dia dan seluruh keluarga itu tahu di mana Cakra sekarang.
"Maafkan kami, saat itu kedua sahabat sedang melakukan perjalanan dinas lalu pulang larut. Dalam heningnya malam, kami mendapat kabar kalau terjadi kecelakaan hebat yang menimpa Ayahmu dan papanya Daffa. Kamu pernah mendengar jika Papa Daffa meninggal karena kecelakaan?" tanya Abiseka.
Crystall mengangguk dengan hati takut, takut akan jawaban yang lebih menyedihkan daripada ini.
Abiseka menyeka air mata yang menetes di pipinya. Sorotnya menerawang ke kejadian duka beberapa tahun yang lalu.
"Mereka rupanya sahabat sehidup semati. Mereka berdua meninggal dengan waktu yang bersamaan di rumah sakit yang sama. Tim medis sudah berusaha sebaik mungkin. Bahkan, Daffa sendiri yang menangani Ayahnya pun tidak sanggup menyelamatkan." Abiseka menjeda, menatap Crystall begitu dalam.
__ADS_1
"Cakra sudah meninggal, Crys," lanjutnya.
Seketika tangisan Crystall pecah. Dia menggeleng tidak percaya. Tapi seperti itulah kenyataan. Dan tak ada yang bisa Daffa lakukan selain memeluk istrinya itu, membiarkan Crystall menumpahkan segala kesedihan di dadanya.
Crystall tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis.
Bagaimana bisa, dia selama ini mencari keberadaan Ayahnya tapi rupanya sang Ayah sudah berada di surga. Hanya meninggalkan secarik kertas dan juga - Daffa.
Apakah itu artinya hanya Daffa yang dia miliki saat ini?
***
Sudah satu jam Daffa menemani Crystall di depan makam Cakra. Wanita itu berbicara banyak disana. Seolah Ayahnya ada di depannya.
"Sudah hampir gelap, Crys." Daffa berucap lunak seraya mengusap bahu Crystall.
"Apa kamu bisa menemaniku kemari kapanpun?" cicit Crystall dengan suaranya yang hampir habis karena tak hentinya menangis.
Daffa mengangguk diselingi senyuman tipis.
"Aku akan menemanimu. Jangankan ke tempat ini. Aku akan menemanimu, seperti Ibuku yang menemani Ayahku sampai akhir hayat. Juga seperti Ayahmu yang menemani Ibumu sampai maut memisahkan."
Crystall terdiam. Tangisannya perlahan sirna karena fokusnya kini ada pada apa yang Daffa katakan.
"Kamu tidak perlu menghiburku. Kau tau? Hal menyakitkan dalam hidup adalah ketika mendapati seseorang yang sudah menjanjikan kebahagiaan, namun nyatanya dia yang mengingkari," ucap Crystall.
Daffa lebih dulu berdiri. Dia memberikan tangannya untuk Crystall. Sampai wanita itu ikut berdiri.
Dia menatap dalam sang istri. Wanita yang tidak pernah dia sangka menjadi istrinya.
"Mungkin cintaku belum besar. Mungkin kebahagiaan itu tidak bisa aku janjikan secara utuh. Tapi, aku akan berusaha menjadi suamimu. Suami yang sah. Bukan suami diatas kertas. Aku sobek perjanjian pernikahan kontrak kita," ujar Daffa.
"Daffa "
"Aku tau, aku tau kita belum saling mencintai. Mungkin kita seperti hidup dalam dunia Siti Nurbaya. Tapi kita bisa mulai merangkai kebahagiaan kita berdua mulai sekarang. Kebahagiaan bersama."
Crystall masih terdiam. Dia mencari sesuatu di kedua mata Daffa. Mungkin dia menemukan ada kebohongan di sana. Tapi Crystall justru melihat sorot itu nampak sungguh-sungguh.
"Alzira Crystalline Allando. Apakah kamu mau memulai hidup dengan aku, Daffa Louise Effendi?" Daffa menggenggam kedua tangan Crystall cukup erat.
"Lalu, bagaimana dengan kehidupan pribadimu?"
"Jika kamu berkata bersedia. Itu artinya kehidupan pribadiku, juga urusanmu. Aku tidak akan menyembunyikan apapun. Aku juga akan menyelesaikan semuanya. Semuanya, Crys. Termasuk wanita itu. Karena setelah ini, hanya kamu wanita di hidupku."
Bibir Crystall perlahan tersenyum. Lalu mengangguk.
"Saya, Alzira Crystalline Allando. Menerimamu, Daffa Louise Effendi. Sebagai suamiku yang sah dan utuh. Kita akan mencari kebahagiaan bersama."
Daffa seketika menarik tangan Crystall ke dalam pelukannya.
Cinta? Mungkin belum ada. Meskipun ada, masih seujung kuku. Tapi bukankah sebuah pernikahan tidak cukup hanya berlandaskan cinta? Tapi pernikahan, dan segala jenis hubungan membutuhkan komitmen bersama, serta rasa saling menghargai dan bertanggung jawab atas peran masing-masing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1