
...Crystall Is Mine...
...----------------...
Daffa lanjut menggunakan push-up bar yang menggantung. Lebih dulu menaik turunkan nafasnya kemudian melompat untuk meraih salah satu alat gym itu.
Seketika otot-otot menyembul di permukaan lengan, saat Daffa mulai menarik dirinya ke atas dengan kedua tangannya. Tubuhnya dibuat melayang hanya dengan kekuatan tangannya. Memicu keringat yang kembali bermunculan dan menetes hingga ke lantai.
Daffa terus mengatur nafas di atas sana supaya detak jantungnya tetap seimbang meski dia sedang melakukan olah raga berat. Sesekali dia menarik tubuhnya lebih tinggi kemudian menurunkan kembali dengan kaki tetap mengambang. Begitu seterusnya dengan gerakan lambat.
Dirasa cukup, hanya butuh waktu 30 menit melakukan kegiatan menyehatkan itu. Daffa menarik handuk kecil lalu mengusap wajahnya yang basah karena keringat sembari membuka pintu.
Baru saja Daffa keluar satu langkah.
"Aaaaa!" jeritan Crystall membuat pria itu terkesiap.
"Kenapa kamu tidak memakai baju di depanku!" teriak Crystall menutup wajah dengan kelima jari.
Akh! Daffa lupa kalau di rumah ini sudah ada penghuni lain selain dirinya.
Daffa terjingkat mendengar teriakan wanita di depannya.
Dia sudah terbiasa melakukan ini jadi benar-benar lupa kalau dia sudah tinggal bersama orang lain tidak jadi sendiri.
"Ekhem, memang kenapa?"
Suara berat Daffa membuat Crystall terdiam. Pria itu sudah terlanjur malu tidak memakai atasan. Lalu bagaimana lagi?
"Bukankah aku suamimu?" Daffa maju mendekat perlahan.
Crystall yang mengintip dari sela jemari pun langsung terkesiap membuka tangannya. Dia mundur sebanyak langkah yang Daffa ambil.
"Jangankan tidak memakai baju. Tidak memakai apapun juga tidak masalah, bukan?" lanjut Daffa.
Ekspresi datar. Namun siapa sangka hatinya sedang menikmati ketakutan Crystall. Rasanya dia ingin tertawa saat ini juga.
"Da-Daffa? Kamu baru kesambet setan penunggu apartemen, ya?" Crystall terus mundur. Dia takut jika Daffa marah. Tapi baginya kondisi jauh lebih menakutkan dari biasanya.
"Daffa, ingat. Kita tidak bo - huwaaaa!" Kaki Crystall tidak bersiap dengan undakan kecil pembatas ruang makan dan dapur.
Tubuhnya limbung ke belakang.
Untung saja Daffa sigap menangkap pinggang ramping istrinya itu.
Jarak mereka begitu dekat. Bahkan dua hidung mancung itu nyaris bersentuhan.
Debaran jantung Crystall berjalan begitu cepat. Dia membeku dengan posisi ini. Ingin meronta tapi sungguh dia tidak memiliki kekuatan untuk itu.
Daffa Louise Effendi, baru pernah Crystall bisa melihat wajah dokter itu sedekat itu dan mengamatinya.
Tampan, sangat tampan. Rahang yang tegas, hidung mancung, juga bibirnya yang -
Akh! Tidak.
__ADS_1
Mata Crystall melebar ketika apa yang sedang dia pandang semakin dekat.
Nafas mint itu semakin Crystall hirup. Bahkan - first kiss!
Daffa menjatuhkan diri di bibir ranum Crystall. Salah satu bagian yang belum terjamah oleh pria manapun. Bahkan kekasih Crystall dulu.
Pria itu mendadak kesulitan mengendalikan ini. Entah apa ini. Daffa sampai memejamkan mata. Tangan kekar yang menahan pinggang Crystall semakin melingkar begitu intens.
Sedangkan Crystall, dia benar-benar membeku. Bahkan dia tidak tau bagaimana caranya berciuman.
Bodoh? Entah. Bukankah sudah terbiasa menonton drama dan melihat adegan kecil ini. Tapi nyatanya dia tidak bisa melakukan apapun. Bahkan nafasnya saja tersenggal karena begitu terkejut dengan posisi ini.
Sampai akhirnya wajah Daffa menjauh. Sejenak, kedua mata itu saling memandang. Pria itu, sungguh Crystall tidak bisa membaca arti tatapan Daffa
"Terimakasih sudah membuatku jauh lebih baik," ucap Daffa dengan suara sedikit parau.
Dia itu melepas tangannya lalu berbalik dan masuk ke kamar. Tidak peduli sosok wanita yang hampir saja sekarat karena aksi dadakan itu.
"Huh!Huh! Apa aku masih hidup?" Crystall membuang nafanya berulang kali.
"Astaga... Kenapa menjadi panas seperti itu." Wanita itu berusaha menyadarkan diri.
Di kamar Daffa. Dia langsung meneguk satu gelas air minum. Ah bukan, bahkan sampai tiga gelas.
Baru setelahnya dia menyadari tas ransel di atas ranjang. Crystall sudah membereskan barang-barangnya Daffa semalam untuk keperluan keberangkatan pagi ini.
***
Sarapan pagi hingga perjalanan menuju kantor yang ada hanyalah keheningan. Crystall sama sekali tidak berani memandang Daffa. Dia bahkan sesekali menggigit bibirnya karena merasa gugup.
"Semalam kamu diam-diam memijit tangan dan kakiku, kan?"
Daffa kini mulai bersuara.
"Eh, semalam? Oh, aku cuma merasa tubuhmu kelelahan."
"Bukankah dalam perjanjian kita dilarang bersentuhan. Dan kamu melanggarnya."
Mata Crystall melebar. Dia memposisikan diri duduk menghadap Daffa.
"Lho, itu kan kamu sendiri yang meminta aku memijit," protes Crystall.
"Hanya kepala." Daffa menunjuk pada kepalanya sendiri. "Tapi kamu justru memegang lainnya."
"Hoh! Astaga, pria ini!" Crystall membuang nafasnya kesal dan tersenyum kecut.
"Jadi jangan salahkan aku jika tadi membalas menyentuhmu."
Gengsi Daffa sangat besar. Kini dia justru menyalahkan Crystall atas tindakannya yang melawan perjanjian.
Wajah Crystall nampak geram. Percuma, sungguh percuma berdebat dengan seorang Daffa Louise Effendi!
"Bahkan dia sudah mencuri first kiss-ku. Tapi tetap saja menyebalkan!" gerutu Crystall lirih. Sudah enggan menatap Daffa.
__ADS_1
Satu alis Daffa terangkat mendengar gumaman Crystall.
"First kiss? Pantas saja hambar," sahut Daffa meremehkan.
Emosi Crystall sudah meletup-letup. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam.
Sesampainya di rumah sakit, Crystall langsung bergabung dengan teman-temannya yang sudah bersiap di dekat mobil MPV.
"Hei, kamu berangkat bersama Dokter Daffa?" tanya Adelia yang melihat Crystall keluar dari basement lalu tidak lama Daffa pun keluar dari sana.
"Tidak. Aku pakai taksi dan berhenti di dalam," jawab Crystall santai sembari melepaskan ransel besar dari gendongannya.
"Ups, berat sekali." El langsung menangkap tas ransel Crystall dari belakang.
"Hehe, iya. Aku bawa selimut juga. Soalnya disana udara sangat dingin," jawab Crystall membiarkan El membawakan ranselnya ke bagasi mobil.
"Kamu alergi dingin. Sudah bawa obatnya?" sahut El yang lebih banyak mengenal Crystall.
Wanita itu mengangguk.
"Sudah semua?" suara bariton Daffa menarik atensi semuanya.
"Sudah, Dok. Peralatan medis dan obat-obatan juga sudah masuk," sahut Adelia yang selalu antusias jika sedang berbicara dengan Daffa.
"Bagus. Kita berangkat sekarang." Daffa langsung membuka handle pintu mobil depan.
Adelia pun langsung membulatkan matanya. "Pak Dokter satu mobil dengan kami?"
Daffa melirik singkat menatap Crystall dan berpindah pada Elajar.
"Ya, aku harus menjaga kalian," jawab Daffa datar lalu dia masuk ke mobil lebih dulu.
Adelia begitu bersemangat. Padahal biasanya Daffa jarang sekali mau satu mobil dengan bawahannya jika ada keperluan mendesak di luar.
Semua pun mulai masuk. Tubuh wanita rata-rata ramping jadi mobil tidak terlalu sesak. Para wanita di tengah sedangkan pria di belakang.
Setelah memastikan semua aman. Supir membawa mobil membelah jalanan pagi menuju luar kota.
Dua jam lamanya. Mobil sampai di lokasi yang dituju. Yaitu pos utama dimana ada empat motor sport lengkap dengan box belakang. Tempat menyimpan barang bawaan termasuk alat medis dan obat-obatan.
"El, aku denganmu." Crystall langsung memasukkan. Ranselnya ke box motor Elajar.
"Pak Dokter. Apa aku boleh membonceng? Karena kurasa semua sudah pas dengan pasangan perjalanan masing-masing." Adelia sudah bersiap dengan anggukan Dewa.
Pria itu menoleh menoleh ke arah Crystall. Membuat Crystall seketika membuang wajahnya.
Biarlah Daffa menganggapnya istri durhaka karena membonceng lelaki lain. Dia sedang marah dengan dokter itu.
Tapi sepertinya semua tidak berjalan dengan mulus. Sebuah tangan kekar menarik ransel yang baru Crystall letakkan.
"Kamu asistenku. Ada yang perlu kita bicarakan di jalan."
Asisten? Sejak kapan Daffa menjadikannya asisten?
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...