
^^^[ everything will be fine ]^^^
^^^----------------^^^
Daffa menoleh lalu dengan santainya meraih ponsel di atas ranjang tepat di sisi Crystall membuat wanita itu seketika memundurkan posisinya karena jarak wajah Daffa sangat dekat dengan dirinya.
"Kamu lupa?" ucap Daffa masih dengan posisinya, membungkuk dengan tangan meraih ponsel, sedangkan wajahnya berjarak lima senti dengan wajah Crystall.
"Semalam kamu bangun dalam kondisi mata terpejam lalu pindah sendiri ke atas ranjang," lanjutnya dengan nada rendah.
Crystall mengangguk kaku. Bukan karena jawaban Daffa yang terdengar ambigu di telinga Crystall. Tapi karena jarak.
Saking dekatnya, Crystall bisa menghidu aroma mint dari mulut Daffa bercampur wangi maskulit pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Dicengkeramnya selimut di dada Crystall, nafanya pun mendadak sesak. Ketika dia merasa jarak diantara mereka semakin menipis.
Crystall mencengkeram erat selimut yang masih menutupi dadanya ketika wajah tampan Daffa semakin mendekat.
"Ka-Kamu mau apa? Dalam perjanjian tidak boleh ada sentuhan fisik," hardik Crystall dalam kegugupannya.
Bibir Daffa tersenyum miring. "Kamu pikir aku tertarik menyentuhmu?" bisiknya.
Dalam satu kali gerakan, pria itu menarik diri untuk kembali berdiri tegak sekaligus berhasil meraih ponselnya.
Helaan nafas lega pun keluar dari mulut Crystall. Dia benar-benar kehabisan oksigen tadi.
"Cepat cuci wajahmu. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu wanita pemalas sepertimu," ucap Daffa dingin lalu berjalan keluar kamar. Meninggalkan Crystall yang masih berada di atas ranjang.
"Hari pertama menjadi istri rahasia dokter Daffa. Menyebalkan! Awas saja kalau dia curi kesempatan menyentuhku," gerutu Crystall sepanjang langkah menuju kamar mandi.
Pemalas? Crystall merutuki dirinya memang. Dia padahal biasa bangun paling pagi di rumah juga di kontrakan. Tapi pagi ini dia sangat ngantuk karena tidak bisa tidur semalaman.
Di lantai bawah. Para pelayan sedang disibukkan menata sarapan spesial di atas meja makan. Kakek Abiseka juga sudah nampak duduk di kursi paling ujung sembari membaca tablet menggunakan kacamata bacanya.
"Mereka belum turun, Pa?" tanya Kania yang baru ikut bergabung.
"Belum. Mungkin mereka kelelahan setelah melakukan malam pertama," jawab Abiseka masih fokus pada tabletnya.
"Bagaimana, Pa? Apa ada pemberitaan tentang pernikahan Daffa?"
Keluarga Effendi selama ini menjadi sorotan. Keturunan konglomerat itu tidak pernah luput dari pemberitaan yang baik. Cukup menunjang karir seluruh anggota Effendi. Khususnya Daffa. Seorang dokter bedah yang ahli dalam bidangnya. Sekaligus memiliki wajah tampan.
"Ada satu artikel memuat berita pernikahan Daffa. Tapi sudah aku atasi sebelum menyebar. Bagaimanapun sesuai permintaan Daffa, kita jangan dulu umumkan tentang pernikahan mereka," jawab Abiseka lalu meletakkan tablet di atas meja.
__ADS_1
Rupanya bersamaan dengan kedatangan Daffa.
"Kalian membicarakan diriku?" Suara bariton khas Daffa Louise Effendi.
"Siapa lagi kalau bukan kamu. Bagaimana semalam? Kalian sudah...." Kania memperagakan gerakan kedua tangan yang saling mematuk.
Daffa hanya mendengus enggan menjawab.
"Jangan katakan kalau semalam kamu menghukum Crystall tidur di lantai," tuduh Abiseka.
"Aku bukan pria kejam, Kek. Hanya saja tolong mengertilah. Kami baru saja dekat beberapa jam yang lalu. Mana bisa langsung melakukan hal-hal seperti itu." Daffa menunjukkan ekspresi datarnya seperti biasa.
Dinikahkan secara paksa saja sudah lelah. Kini harus membahas mengenai jenis hubungan yang harus dia jalani dengan Crystall.
"Ya, kamu akan mengerti. Tapi jangan sampai setelah ini kamu masih berhubungan dengan kekasihmu yang matre itu. Kakek harap kalian sudah putus. Jika belum, segera lakukan. Atau kakek akan menghibahkan seluruh warisan ke panti asuhan." Sebuah ancaman yang terus Abiseka katakan sejak dua bulan yang lalu.
Kakek itu terus menyempitkan ruang gerak Daffa supaya bisa lekas menikahi Crystall. Wanita yang tidak Dewa kenal sama sekali.
Pria itu baru mengenal Crystall belum lebih dari satu bulan. Sejak Crystall masuk ke rumah sakit sebagai dokter koas.
Saat obrolan terdengar menegangkan, Crystall datang. Sayangnya dia tidak sempat mendengar apa yang Abiseka katakan.
"Selamat pagi, Kakek, Mama," sapa Crystall masih berdiri malu di sana. Dia sudah berpakaian rapi berharap Daffa mau membawanya ke rumah sakit dan membatalkan hukuman skors satu minggu itu.
Ternyata setelah pertama bertemu kemarin, Crystall memang nampak lemah lembut dan memiliki attitude baik ketimbang kekasih Daffa.
"Ayo, Crys. Duduklah di samping suamimu."
Crystall mengangguk dengan senyum tipisnya. Dia lalu mengambil alih kursi tepat di sebelah Daffa.
"Ayo, kita makan." Kania mempersilahkan semua yang disana untuk mulai menyantap hidangan.
Crystall tanpa diminta, dia langsung berdiri.
"Kek, boleh aku bantu mengisi?" tanya Crystall dengan hati-hati. Dia belum mengenal karakter orang-orang disana.
Dia juga bersiap menjadi seorang menantu yang dimusuhi mertua.
Tapi sepertinya pikiran buruknya tidak menjadi kenyataan. Abiseka membiarkan Crystall mengurus sarapan. Begitupun Kania.
Hanya Daffa disini yang tidak bersahabat. Pria itu tidak menjawab, tidak pula menolak.
"Daffa tidak suka cumi-cumi, Crys. Dia alergi makanan laut," ujar Kania saat melihat Crystall hendak meletakkan cumi goreng ke piring Daffa.
__ADS_1
"Ah, maaf," jawab Crystall.
Mereka pun mulai menyantap sarapan. Tidak ada yang berbicara ketika mulut mereka sedang menikmati hidangan. Karena Abiseka tidak menyukai itu.
Menit demi menit berlalu. Apa yang Crystall harapnya akhirnya terwujud.
"Ambil tas kerjaku di kamar. Aku tunggu di depan," titah Daffa setelah mereka selesai makan.
"Apa aku bisa berangkat juga?" tanya Crystall dengan hati-hati memperhatikan raut wajah tampan dokter itu.
"Hem," jawab Daffa.
Tentu Crystall memekik girang. Dia begitu semangat beranjak dari kursi lalu pergi ke kamar.
Sedangkan Daffa beralih menatap Abiseka sebelum beranjak dari meja makan.
"Kek, Ma. Sepulang dari rumah sakit, aku dan Crystall akan pulang ke apartemen," ucap Daffa.
"Secepat itu?" Kania nampak tidak rela ditinggal anak satu-satunya.
"Biarkan saja. Supaya mereka cepat melahirkan anak yang banyak," sahut Abiseka membuat tenggorokan Daffa seketika tercekat.
Dia hanya bisa meraih gelas lalu meminum air putih hingga tandas. Tanpa merespon ucapan Abiseka.
***
Crystall memasuki mobil Daffa dengan senang. Bukan karena bisa berangkat bersama sang suami. Tapi karena dia akhirnya tidak jadi mendapat hukuman.
"Nanti aku akan menurunkanmu di perempatan jalan dekat rumah sakit. Aku tidak mau ada kecurigaan apapun dari semua staff rumah sakit," ucap Daffa tanpa memandang Crystall. Dia fokus membuka data di layar tabletnya.
"Iya, Dok. Aku mengerti. Aku juga tidak mau ada yang tahu status kita," jawab Crystall dengan raut sama datar.
Tapi sebuah mobil sedan putih tiba-tiba berhenti di samping jalan sekaligus menyalakan klakson. Membuat Crystall seketika menghentikan langkahnya.
Bara, itu adalah mobil pria itu.
Benar saja. Bara dengan senyum tanpa dosa keluar dari mobil dan langsung menghampiri Crystall.
"Hai, sendiri?" Bara melihat sekitar, tidak ada Daffa disana.
"Bukan urusanmu," jawab Crystall ketus lalu kembali berjalan.
Tapi Bara mana mungkin membiarkan. Dia segera memotong jalan dan berhenti di depan Crystall.
__ADS_1
"Apa kamu hanya seorang Cinderella yang dicampakkan oleh suamimu? Lalu sekarang sudah kembali menjadi upik abu?" Bara tersenyum penuh ejekan.