Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
1.0 Not the First Night


__ADS_3

^^^[All goes, as fate would have it]^^^


^^^----------------^^^


Effendi Group. Bukan hanya memiliki Rumah Sakit yang kini dikelola Daffa. Tapi Kakek Abiseka juga membangun Effendi Group dengan menyediakan segala kebutuhan kesehatan. Farmasi, pabrik penyedia alat rumah sakit dan lain sebagainya.


Selama ini Pimpinan tertinggi dipegang oleh Abiseka. Anak lelaki satu-satunya yang tidak lain adalah Ayah dari Daffa sudah meninggal beberapa tahun lalu karena kecelakaan bersama sahabatnya.


Jadi memang sudah saatnya Abiseka memberi tugas kepemimpinan sepenuhnya pada Daffa. Itulah alasan dia ingin buru-buru menikahkah cucunya dengan wanita yang sepantasnya bersama Daffa. Yaitu Alzira Crystalline Allando.


"Crys," panggil Abiseka selepas keluar dari ruang baca. Dia melihat cucu mantunya baru keluar dari dapur.


"Iya, kek?" sahut Crystall dengan lembut menghentikan langkahnya.


Abiseka melihat ke jam dindin yang ada di tengah ruangan. "Ini sudah pukul 11 malam. Kenapa belum masuk ke kamar?"


Kedua bola mata Crystall bergerak ke kanan dan kiri. Mencari alasan yang pantas.


"Ngggg... haus, Kek. Jadi turun ke dapur," jawab Crystall sedikit gugup. Karena nyatanya dia keluar dari dapur bukan karena minum. Dia hanya bingung mau apa dan harus bagaimana di rumah ini.


Hanya ada satu kamar yang disediakan untuk sepasang pengantin baru itu. Yaitu kamar pribadi Daffa yang sudah disulap menjadi kamar pengantin bertabur bunga.


Lalu Crystall satu kamar dengan Daffa? Seorang pria yang biasa dia hormati dan takuti. Seorang pria yang baru kemarin memaksanya menikah. Kini tidur bersama?


Tidak, Crystall sedari tadi uring-uringan di depan pintu kamar. Ragu untuk masuk apalagi tidur satu ranjang. Sampai akhirnya dia tidak ada kerjaan dan masuk ke dapur hanya meneguk air minum.


"Di kamar sudah disediakan minuman. Juga di lantai tiga ada pula dispenser tempat air minum. Jadi bukan itu alasannya. Kamu masih malu pada Daffa?" tebak Kakek Abiseka.


Crystall hanya menjawab dengan senyuman kakunya. Jemarinya juga memilin ujung baju tidur sutranya.


"Ayo, Kakek temani masuk ke kamar." Abiseka langsung bergerak menuju lift. Kakinya tidak memiliki kekuatan untuk menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai tiga.


Dengan ragu, Crystall akhirnya mengikuti Abiseka masuk ke dalam lift. Dia bahkan baru tau ada lift di rumah megah bertingkat empat.


"Emh, oiya, Kek. Apa kakek mengenal Ibu saya? Lalu apa memang pernikahan ini sudah di rencanakan sejak lama?" tanya Crystall yang sudah penasaran sejak tadi.


Abiseka tersenyum. Dia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan Crystall.

__ADS_1


"Jadilah istri Daffa yang baik. Jika Daffa macam-macam. Kamu bisa lapor pada Kakek atau Ibu mertuamu, Kania. Kakek hanya berharap, rumah tangga kalian bisa harmonis meski awalnya kalian sama-sama tidak saling suka," ucap Abiseka di luar pertanyaan Crystall.


Membuat Crystall bingung harus melanjutkan pertanyaannya atau tidak.


Ting!


Cukup cepat. Lift sudah terbuka kembali. Tapi Crystall langsung dikejutkan oleh sosok tinggi tegap di depan lift.


"Kenapa melihatku seperti itu? Aku bukan hantu," ucap Daffa begitu dingin.


Abiseka dengan kesal menyodok perut Daffa dengan tongkatnya. "Kalau wajahmu sedingin itu, jelas tidak ada bedanya dengan hantu," sembur sang kakek.


Daffa hanya mengusap perutnya yang sedikit nyeri oleh ulah Abiseka.


"Kalian segera masuk ke kamar. Ini sudah sangat malam. Sudah seharusnya ini menjadi malam pertama kalian," titah Abiseka.


Bukannya langsung menuruti, Daddy dan Crystall justru terdiam. Membuat Abiseka semakin kesal.


"Kalian masih tetap disini?" Suara Abiseka meninggi.


"l-lya, Kek." Daffa langsung meraih tangan Crystall lalu membawanya melewati lorong menuju kamar.


"Tidur saja menyusahkan! Dari mana saja? Jika tidak ada Kakek atau Mama, kamu mau tidur di luar juga aku tidak peduli," ucap Daffa dengan dingin.


"Aku - aku...."


"Sudahlah, besok ada jadwal pagi operasi pasien. Aku mau tidur! Terserah kamu mau tidur di mana. Asal jangan keluar dari kamar ini!"


Daffa langsung merangkak naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Dia benar-benar sudah mengantuk.


Sedangkan Crystall, dia memandang kamar yang sangat luas. Bisa jadi lebarnya sampai tiga perempat rumah orang tua angkatnya. Kelopak bunga yang ada di atas ranjang sudah mulai berserakan di lantai. Begitupun lilin yang ada di lantai, tidak nyala sama sekali.


'Pernikahan impian? Sayangnya aku menikah dengan pria yang tidak aku impikan sama sekali. Miris,' pikir Crystall dalam hatinya. Tersenyum kecut untuk diri sendiri.


Wanita itu menghela nafas panjangnya lalu memilih menjatuhkan diri di atas sofa. Aaaah! Bahkan sofa ini lebih empuk dibanding ranjang di rumahnya.


Hingga dia tidak mempermasalahkan sama sekali. Dalam hitungan menit, mata itu sudah tertutup rapat. Meringkuk di atas sofa kamar.

__ADS_1


***


Aroma maskulin yang tidak biasanya tercium di kamar Crystall, membuat wanita itu mulai menggerakkan kelopak matanya.


Nyaman dan hangat. Itu yang dia rasakan.


Membuatnya masih enggan terbangun. Tapi wangi pria memaksa dirinya untuk membuka mata.


"Aduh dimana aku?" ucapnya lirih melihat dirinya tidak bangun di tempat biasa. Kamarnya.


Digeser netra yang masih menyipit karena rasa kantuk masih saja mendominasi. Nampak seorang pria memunggingi dirinya. Berdiri tegak dan rapi di seberang ranjang.


Satu detik, tiga detik, lima detik, dan -


Mata Crystall membelalak. Dia baru ingat kalau dirinya sudah bukan single lagi. Dia baru ingat kalau dia sudah tidak tidur di kamarnya lagi. Melainkan di kamar Daffa.


"Sudah bangun?" Suara bariton itu membuat Crystall semakin sadar posisinya.


Daffa tanpa menoleh bisa merasakan kalau wanita di belakangnya sudah terbangun. Sedangkan dia sedang memakai jam tangannya dan bersiap berangkat ke rumah sakit.


"Ma-Maaf. Aku kesiangan," ucap Crystall gelagapan bangun dari tidurnya.


Tapi, tunggu!


Crystall mengulang memorinya. Dilihatnya posisi dirinya lalu berpindah memandang sofa di dekat ranjang.


"Lho, bukannya semalam aku tidur di atas sofa? Kenapa tiba-tiba di ranjang?" Crystall bahkan bisa melihat selimut tebal menutupi sebagian tubuhnya.


Daffa menoleh lalu dengan santainya meraih ponsel di atas ranjang tepat di sisi Crystall membuat wanita itu seketika memundurkan posisinya karena jarak wajah Daffa sangat dekat dengan dirinya.


"Kamu lupa?" ucap Daffa masih dengan posisinya, membungkuk dengan tangan meraih ponsel, sedangkan wajahnya berjarak lima senti dengan wajah Crystall.


"Semalam kamu bangun dalam kondisi mata terpejam lalu pindah sendiri ke atas ranjang," lanjutnya dengan nada rendah.


Crystall mengangguk kaku. Bukan karena jawaban Daffa yang terdengar ambigu di telinga Crystall. Tapi karena jarak.


Saking dekatnya, Crystall bisa menghidu aroma mint dari mulut Daffa bercampur wangi maskulit pria yang sudah menjadi suaminya itu.

__ADS_1


Dicengkeramnya selimut di dada Crystall, nafanya pun mendadak sesak. Ketika dia merasa jarak diantara mereka semakin menipis.


......................


__ADS_2