
"Semenjak mengenalnya, hidupku rasanya semakin suram!" gerutu Daffa.
Daffa benar-benar tak habis pikir dengan apa yang Crystall lakukan padanya. Sudah jelas-jelas berjanji akan melaksanakan tugas kunjungan ke rumah warga bersama karena mereka terikat tanggung jawab sebagai dokter dan asistennya, tapi Crystall justru mengkhianati kewajibannya.
Karena itulah, suasana hati Daffa yang semula baik-baik saja setelah semalam meredam sesuatu yang mematik amarahnya, kini berubah suram. Crystall mengulangi kesalahan yang sama. Dia pergi dengan Elajar. Padahal jika dipikir-pikir, El bisa mengajak dokter atau perawat lain untuk membantunya mengobati pasien dadakan itu.
Tak ada gunanya Daffa patroli sendirian tanpa asistennya. Oleh sebab itu, Daffa memutar tujuannya. Kedua kaki Daffa melangkah ke pendhapa di mana tiga posko kesehatan juga tim medis bertugas. Selain bisa mengontrol kinerja rekan satu team-nya, Daffa ingin mengalihkan kekesalannya pada pekerjaan yang jauh lebih penting.
Begitu menginjakkan kaki di area Balai Desa Melati, kedua mata Daffa langsung disuguhkan dengan antrian beberapa warga yang butuh pengobatan. Pandangan Daffa mengedar sempurna. Entah kenapa, atensi Daffa tiba-tiba salah fokus pada tenda ketiga yang terletak di sebelah kiri.
Sudut mata Daffa menyipit, memastikan bahwa apa yang ditatapnya bukan hanya halusinasi, "Itu kan Crys. Bukankah dia sedang ada tugas dengan Dokter El? Lalu, kenapa Crystall justru bersama gerombolan bujangan itu? Di mana Dokter Elajar?"
Ya, ucapan Daffa benar sekali. Di posko ketiga, sosok gadis cantik bercempol kecil dengan setelan jas putih itu tampak bercengkrama dengan pasien bujang muda. Meski tetap sambil meracik takaran cairan kristaloid dan koloid, tetap saja Crystall terlihat akrab dengan para pemuda yang memenuhi tenda tersebut.
"Neng Dokter itu idaman banget ya. Udah pintar, cerdas, baik, ramah, ditambah geulis pisan atuh. Cocok sih ya sama Abang," goda lelaki berjambul itu dengan senyum jahil.
Aish menggeleng pelan sembari menuangkan cairan bening ke suntikan khusus, "Saya tidak sesempurna itu. Oh ya, tolong posisinya yang benar ya. Mau saya suntik dulu, tapi tahan ya karena sedikit sakit."
"Jangankan disuntik, apa pun rela Abang lakukan demi Neng Dokter Geulis," rayu lelaki berjambul tadi sambil mengedipkan sebelah matanya.
Melihat pemandangan tak mengenakkan itu, Daffa mengepalkan telapak tangannya. Rahangnya yang tegas semakin mengeras begitu melihat salah satu bujang berkaos oblong biru itu terang-terangan menggoda Crystall.
"Benar-benar Gadis Centil! Dia pasti sengaja berada di sana supaya para lelaki haus wanita itu bisa menggodanya! Benar-benar murahan!" geram Daffa dengan desisan kasar.
Belum juga satu menit berlalu, manik mata Daffa kembali disuguhkan dengan sikap manja para bujang itu yang secara bergantian meminta Crystall untuk memberikan infus dengan wajah memelas.
"Aduh, Dok. Tolong, aku lemas sekali. Sepertinya, nyamuk demam berdarah sudah membuat tubuhku jadi seperti jelly. Sungguh lemas sekali, Dokter Cantik," keluh remaja muda yang menyodorkan tangan pada Crystall.
Dokter cantik itu pun membantu remaja berkaos hijau muda ini untuk berbaring di brankar, "Sebentar ya. Saya ambilkan infus baru lebih dahulu."
Dasarnya sikap Crystall yang memang mengedepankan professionalisme dalam bekerja, dia pun terlihat tak masalah dengan itu. Crystall tetap telaten merawat pasien. Mulai dari membaringkan pasien di atas brankar sampai memasangkan selang infus dilakukan Crystal dengan sangat baik.
"Apa Crystall sudah tidak waras?! Kenapa dia masih juga sudi merawat pasien tidak tahu diri seperti mereka! Saya harus berbuat sesuatu!"
Tanpa berpikir panjang lagi, Daffa langsung melangkahkan kaki menghampiri keberadaan Crystall. Dan melihat kedatangan kepala rumah sakit ke tenda nomor tiga ini, pandangan Crystall pun seketika berpindah pada Daffa.
Kelopak mata Crystall spontan terbelalak kaget, "D-dokter Daffa?!"
__ADS_1
"Cepat selesaikan pekerjaanmu! Kamu masih ada tugas berpatroli dengan saya ke rumah warga!" tekan Daffa yang kini menatap satu per satu pasien Crystall dengan tatapan tajam.
Namun sayang, tak ada dari para bujang ini yang takut melihat keberadaan Daffa. Justru sebaliknya, aksi mereka semakin lancar karena mengira kedatangan Daffa hanyalah mengontrol keadaan saja seperti dokter yang lain.
"Aih, Dokter Cantik, rasanya panas dingin badan ini. Coba deh sentuh keningku, Dok. Kayaknya sama demam tinggi, Dok. Butuh asupan cinta, eh asupan obat maksudnya," celetuk remaja berkulit sawo matang itu.
Tatapan Crystall sekilas tertuju pada Daffa. Terlihat jelas ada amarah yang tersirat di balik wajah memerah Daffa. Akan tetapi, Crystall tak ingin ambil pusing. Dia tetap bekerja seperti tadi seolah menganggap Daffa hanyalah sebuah patung di sana.
"Iya, sebentar. Saya ambil termometer dulu untuk mengecek suhu tubuh kamu ya," ucap Crystall sambil beranjak berdiri menuju ke almari putih, tempat barang-barang medis tersimpan.
Melihat acuhnya Crystall pada perintahnya, Daffa semakin dibuat meradang. Dia sungguh tidak mengerti jalan pikiran Crystall saat ini. Sudah jelas-jelas diperintahkan untuk bergegas menyelesaikan pekerjaan, tapi dia justru sibuk menangani pasien baru.
Dan lihatlah sekarang, Crystall kembali dicegah oleh pasien bujang yang memakai kaos kotak-kotak. Modus yang sama seperti pasien pria lainnya, dia mengeluh kesakitan agar Crystall luluh dan mengobatinya.
"Badan saya merinding, Dok. Pusing sekali rasanya. Kalau kena angin, suka mengigil sendiri padahal tadinya nggak papa," cetus pria itu dengan tangan memeluk tubuhnya seolah tengah kedinginan.
Bola mata Daffa berputar jengah. Kalau seperti ini terus, kapan Crystall akan selesai?
Karena terlanjur kesal pada lelaki tak tahu diri yang berlagak sakit di depan Crystall, Daffa pun memutar otak untuk mencari solusi agar Crystall bisa ia bawa pergi dari tenda ketiga yang laknat ini.
Hingga, manik mata Daffa menangkap keberadaan Adelia yang baru saja tiba dari pagar depan. Dan saat itulah, Daffa langsung bergegas menghampiri Crystall. Tanpa babibu, Daffa menarik tangan Crystall yang tengah meracik obat untuk pasien.
"Ikut denganku sekarang," titah Daffa mutlak.
Seketika itu juga, tubuh Crystall tersentak kaget. "Dok, mau kemana? Banyak pasien yang harus saya tangani disini."
"Jangan banyak bicara." Daffa hanya menjawab dingin.
Langkah kaki Daffa akhirnya sampai di depan balai desa. Tepat di hadapan Adelia, Daffa pun menghentikan jalannya. Tak lupa, cengkraman tangannya pada Crystall pun dilepas kasar.
"Dokter Adelia, cepat gantikan tugas Dokter Crystall di tenda nomor tiga. Saya dan Dokter Crystall harus segera patroli ke rumah warga, " titah Daffa pada gadis berkuncir yang tampak shock melihat Daffa menghampirinya.
Jari Adelia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah cengo, "Beneran saya nih, Dok?"
Kepala Daffa mengangguk samar,"Hem! Gantikan sekarang."
"Tapi itu pasien saya, Dok. Mana bisa Dokter tiba-tiba melimpahkan tugas begitu saja?" sanggah Crystall yang tak mengerti.
__ADS_1
Daffa tidak suka dibantah. Dia memindai netranya dengan sorot semakin dingin. Membuat mulut Crystall seketika terkatup rapat, menyadari kalau perbuatannya sudah salah di mata Daffa.
"Kau ingat disini bertugas sebagai apa?" tanya Daffa dengan raut datarnya.
"Asisten Anda, Dok," jawab Crystall melunak dengan kepala menunduk.
"Mau tetap di posko atau ikut saya?"
Crystall menatap Adelia sekilas. Wanita itu memberi kode supaya Crystall menurut saia.
"Ikut dokter," sahut Crystall pada akhirnya.
***
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah-rumah warga, sepasang suami istri yang kompak mengenakan jas putih itu saling mengunci mulut. Mereka terdiam seolah sama-sama membangun sekat kokoh yang tak bisa diterjang.
Crystall yang biasanya tampak ceria kini mendatarkan ekspresi wajahnya. Dia benar-benar tidak selera untuk berpatroli kali ini. Moodnya terlanjur hancur lebur hanya karena sikap Daffa yang selalu saja seenaknya sendiri.
Tersadar akan keterdiaman Crystall, Daffa pun melirik ke sosok gadis cantik bercempol kecil di sampingnya dengan diam-diam. Jujur saja, ada rasa bersalah yang hinggap di benak Daffa. Meski tak mengatakannya secara gamblang, tapi Daffa mengerti jika dia-lah penyebab sikap Crystall berubah cuek.
Beruntung, rumah warga pertama yang akan dikunjungi Daffa dan Crystall telah ada di depan mata mereka. Keduanya pun melangkah masuk ke pelataran rumah warga yang terdapat dudukan papan yang cukup luas.
Di sana, Daffa dan Crystall telah disambut oleh seorang wanita paruh baya berbaju cokelat tua yang langsung mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Selamat pagi, Pak Dokter, Bu Dokter," sapa Ibu yang kini berdiri dari dudukan papan itu.
Kepala Daffa mengangguk dan Crystall tampak tersenyum. Netra gadis cantik itu menatap map yang sempat Daffa berikan tadi.
Lalu, Crystall berfokus pada Ibu tersebut, "Dengan Ibu Marshanda?"
"Iya, itu saya, Dok. Kebetulan yang sakit bukan saya, tapi anak saya yang ada di dalam. Kemarin sudah diperiksakan ke balai desa, tapi subuh badannya panas lagi, Dok," ungkap Bu Marshanda dengan raut khawatir.
Crystall pun menyentuh lengan Bu Marshanda, "Ibu tenang saja. Kami akan memeriksa putera Ibu."
Tanpa babibu lagi, wanita paruh baya tersebut langsung mengantarkan Daffa dan Crystall masuk ke dalam rumah khas Jawa yang masih terbuat dari batu bata kuno dan rotan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1