
...Crystall Is Mine~...
...----------------...
Di sisi lain, seorang pria tampan dengan kaos polos hitam tengah menyendiri di halaman belakang. Tanpa diberitahu pun, semua sudah mengerti kalau dia-lah Dokter Daffa yang kini sedang hangat-hangatnya digandrungi kaum hawa di Desa Melati.
Ada dua alasan yang membuat Daffa memilih menepi di bangku rotan halaman belakang yang rimbun akan pepohonan pisang ini. Pertama, tentu saja karena kedatangan para Ibu yang suara kebisingan mereka terdengar hingga ke telinga Daffa.
Bagaimanapun dia merasa lelah. Terlebih baginya kegiatan sosial di desa ini kerjanya 2x lipat dari tugas di rumah sakit pada umumnya. Jadi apa salahnya mencari ketenangan, tidak menemui ibu-ibu di depan sana.
Sedangkan faktor yang kedua, tidak lain dan tidak bukan karena Daffa ingin menyegarkan pikirannya dengan menelepon sang kekasih, Clara.
"Apa kabarnya?" gumamnya memandang foto dia dan Gaby dari layar ponsel.
Sejak menikah dengan Crystall, Daffa sama sekali belum pernah menghubungi Gaby. Bahkan dia lebih sering mematikan panggilan sang kekasih. Dia harus berhati-hati. Bahaya jika sampai ketahuan Kakek dan Ibunya. Karena yang mereka tahu, dia sudah putus dengan Gaby.
Rasa bersalah itu kini hinggap. Dia ingin meminta maaf pada sang kekasih.
'Halo,' sapa Daffa ketika panggilan sudah tersambung.
'Kamu masih mengingatku?' terdengar nada kesal dari ujung sana.
'Maaf, aku sangat sibuk akhir-akhir ini. Ini saja aku sedang berada di desa teratai untuk melakukan kegiatan sosial.'
'Emh, owh. Okey.'
'Ini sudah larut, apa kamu udah makan?' tanya Daffa dengan nada lembut yang sangat jarang didengar orang lain.
Dari sebrang sana, suara seorang wanita terdengar mengalun indah di telinga Daffa, 'Belum, aku baru saja pulang soalnya. Jadi, baru sempat pesan di online food.'
'Kamu sendiri gimana? Udah makan? Enak nggak mengabdi ke Desa Mel-ah apa ya namanya?' lanjutnya.
Daffa tersenyum manis, 'Melati, Gaby. Kamu mau lihat bagaimana tempatnya? Sebentar, akan aku tunjukkan,' ucapnya sembari mengubah panggilan suara menjadi video.
__ADS_1
Seperdetik kemudian, wajah seorang wanita berambut blonde itu menyapa pandangan Daffa. Lengkungan sabit di bibir Daffa kian terlukis manis.
'Lihatlah sendiri bagaimana nuansa pedesaan yang kental di Desa Melati. Andai kamu meneleponku pagi hari, maka akan aku perlihatkan suasana segar yang sangat indah,' terang Daffa yang panjang lebar.
Anggukan Gaby tertangkap dalam panggilan video tersebut, 'lya sepertinya bakal cantik kalau di pagi hari.'
'Wajahmu kenapa? Tidak suka kalau aku menelfon?' Daffa bisa melihat raut wajah Gaby yang nampak sendu.
'Kamu ini bicara apa. Aku justru butuh kamu, senyuman kamu yang bisa bikin beban aku berkurang. Ayahku kambuh lagi. Kepalanya pusing bahkan sampai mimisan, 'terang Gaby yang semakin memasang raut sedih.
Canda tawa pun terjadi di panggilan video itu tergantikan dengan suasana pilu. Daffa yang semula tersenyum kini ikut sedih memikirkan kondisi Ayah Gaby.
Meski begitu, Daffa berusaha menenangkan kekhawatiran kekasihnya.
'Kamu tenang dulu, By. Ayahmu pasti akan baik-baik saja. Katakan, berapa yang kamu butuhkan untuk biaya berobat Ayahmu.'
Kepala Gaby menggeleng pelan, 'Aku nggak mau merepotkanmu.'
Daffa berdecak mendengarnya, 'Jangan berkata seperti itu, By. Kamu adalah kekasihku. Sudah kewajibanku untuk memenuhi segala kebutuhanmu.'
'Ah jangan! Aku tidak ingin berhutang budi dengan keluargamu. Kalau disuruh memilih, aku lebih baik meminta bantuan dalam bentuk uang agar bisa membawa Ayah berobat.'
Daffa mengangguk enteng, "Baiklah. Akan aku transfer lima luh juta setelah kita selesai telepon."
'S-serius?! Tapi bagaimana aku menggantinya?'
"Tentu saja, Gaby. Berapa pun yang kamu butuhkan, katakan saja ya? Dan, jangan berfikir ini adalah hutang. Aku tidak akan menerima uang darimu"
Seketika, raut wajah Gaby berubah cerah. Dia bahkan tersenyum sangat lebar, 'Aaaa terima kasih banyak, Sayang!'
'Aku sangat mencintaimu!' seru Gaby sambil melempar kecupan jarak jauh. Bukan hanya kali ini.
Daffa kerap kali mengirim puluhan juta untuk Gaby. Wanita itu memang tidak pernah meminta. Tapi dari apa yang diceritakan Gaby, mampu memancing Daffa untuk menenangkan sang kekasih dengan uang.
__ADS_1
Bahkan apartemen yang sedang Gaby tempati di luar negeri, selama bekerja menjadi model. Itu adalah pemberian Daffa.
Daffa memulas simetri sabit, 'I love you more than you know, Gaby.'
Tanpa Daffa sadari, perlakuan istimewa itu tampak nyata di manik mata Crystall yang berdiri di belakangnya. Tatapan sayu terpancar jelas dari sosok Crystall.
'Aku kira kamu perhatian karena udah menganggapku sebagai istrimu, Daffa. Tapi, apa yang aku lihat sekarang membuatku sadar di mana posisiku, 'batin Crystall meringis pilu.
Saking sibuknya melamun, Crystall sampai tak melihat jika Daffa telah berdiri kokoh di hadapannya. Sorot mata elangnya menghunus tajam ke arah Crystall.
"Sejak kapan kamu menguping?" Suara bariton itu cukup menyentak Crystall dari lamunannya.
Wanita itu gelagapan. Dia pikir Daffa masih duduk membelakanginya.
"Ak-Aku tadi - Cuma ...."
"Kamu sudah dengar semuanya kan? Gaby adalah segalanya untukku. Dia bukan hanya kekasihku, tapi juga rumahku. Lantas, aku dan kamu. Ikatan kita memang nyata, tapi hanya sebatas kontrak dan jangan pernah harapkan cinta dariku, Crystall!" Daffa berucap lirih namun penuh penekanan. Bahkan sorot itu menghunus tajam pada wanita kecil di depannya.
Gadis cantik itu menunduk dalam. Mulutnya terkatup rapat seolah kelu tuk mengungkap perasaan di dada yang begitu sesak.
Tidak, Crystall tidak mencintai Daffa. Dia hanya sempat berfikir kalau pria itu sudah melunak. Tapi ternyata tetap saja. Daffa sekarang sama dengan Daffa yang dulu.
Jari telunjuk Daffa mengacung di wajah Crystall, "Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai Mama dan Kakek mengetahui hal ini!"
Perkataan itu membuat Crystall kembali mendongak, menatap wajah tampan namun mematikan yang menjulang tinggi di hadapannya.
"Dan aku tekankan sekali lagi, jangan saling menganggu urusan pribadi! Karena perhatian yang pernah aku berikan padamu, hanyalah bentuk tanggung jawab! Aku hanya tidak mau Mama dan Kakek marah padaku karena dianggap tidak bisa mengurus mu."
Crystall menatap lekat tepat di bola mata lelaki tampan di depannya, "Aku paham posisiku, Daffa. Seperti cerita fiksi di dalam novel, selepas pernikahan kontrak usai, kamu akan menikahi Gaby. Jadi kamu tidak usah khawatirkan itu. Lalu soal mengadu pada Mama dan Kakek, itu sama sekali bukan tugas aku. Aku tidak peduli sama sekali dengan kisah pribadimu.”
Tanpa repot menjawab perkataan Crystall, Daffa melangkah pergi begitu saja. Tak peduli bagaimana tanggapan Crystall, tapi Daffa benar-benar muak dengan pernikahan kontrak ini.
Netra Crystall menatap punggung tegap Daffa yang mulai menjauh, "Aku ingin kontrak kita cepat berakhir, Daffa. Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan belum melahirkan anak untukmu."
__ADS_1
Crystall memejamkan kelopak matanya. Merasakan sakit yang menyesakkan di dada. Dia sungguh ingin bebas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...