
^^^[ I promise with heart ]^^^
^^^----------------^^^
"Artikel pernikahan Dokter Daffa," jawab El mulai menyalakan ponsel.
Perkataan El membuat Crystall seketika menegang. Dia hanya diam sembari memilin jemarinya di bawah meja. Bersiap mendapat serangan bertubi dari teman-temannya setelah melihat pemberitaan itu.
"Coba lihat." Adelia langsung merebut ponsel milik pria itu
"Daffa Louise Effendi telah melangsungkan pernikahan secara diam-diam," beonya membaca judul headline dengan lantang.
Seketika semua terkejut. Mereka semakin merapatkan diri melihat ke layar ponsel milik El yang sedang di pegang oleh Adelia.
Sedangkan Crystall hanya diam menahan ketakutan dalam diri.
"Kamu kenapa? Baik-baik saja?" tanya El melihat wajah Crystall memucat dan muncul keringat dingin. Sampai pria itu menempelkan punggung tangannya ke dahi Crystall untuk mengecek suhu.
"Ah, iya. Tidak apa-apa. Hanya - emh, suhu ruangan terlalu panas." Crystall mengibas-ngibaskan kerah kemejanya menunjukkan kalau dia kegerahan.
Tapi yang ada justru El tersenyum kecil. Membuat Crystall heran.
"Kenapa justru tersenyum?"
"Kita seperti baru mengenal saja. Aku tentu sudah hafal. Kondisimu yang seperti ini biasanya karena gugup atau takut," sahut El.
"Kamu terkejut kalau Dokter Daffa sudah menikah? Sampai berkeringat seperti itu," tambah pria muda dan tampan bernama El, Elajar Adikusuma.
Belum sempat Crystall menjawabnya kehebohan kembali terdengar.
"Yaaaah! Kita tidak bisa melihat jelas apa benar itu Dokter tampan. Terlebih mempelai wanitanya," protes salah satu teman.
"Kamu hanya punya screenshot doang? Tidak ada link asli?" tanya Adelia pada El seraya memberikan ponselnya pada sang pemilik.
Crystall pun sempat melihat isi layar ponsel itu. Memang benar foto pernikahan diambil dari belakang. Hanya menampilkan sedikit wajah Daffa itu pun tidak jelas. Sedangkan mempelai wanita hanya nampak punggungnya saja.
Seketika Crystall bisa bernafas lega.
"Tidak ada. Ini artikel satu-satunya tapi dengan cepat langsung hilang dari internet," jawab El.
"Ah, tidak akurat!"
"Hooh, pasti hoax."
__ADS_1
"Syukurlah kalau dokter tampan belum menikah. Masih ada kesempatan."
Sahutan demi sahutan kembali terdengar. Sampai ada tenaga medis yang masuk.
"Hei! Hei! Hei! Apa kalian pikir hanya bekerja magang lalu santai seperti ini? IGD sedang banyak pasien masuk! Cepat tangani!"
Crystall dan kawan-kawan pun langsung beranjak. Meraih jas dokter di loker masing-masing dan langsung berlari menuju IGD. Sebagian berlari ke departemen rawat inap.
Crystall langsung menerima satu pasien yang baru masuk. Rupanya telah terjadi kecelakaan kerja di sebuah pabrik yang tidak jauh dari rumah sakit. Gudang terbakar membuat mereka mengalami luka bakar.
"Jangan buat aku menyesal telah melepas masa hukuman mu," lirih Daffa ketika membantu Crystall mengangkat pasien dari kursi roda ke atas brankar.
Dengan cekatan Crystall memeriksa pasiennya. Mengoreksi luka bakar yang ada.
***
"Gudang pabrik dari perusahaan sepatu terkenal?" beo Crystall ketika para dokter selesai menjalani tugas dan sore ini, sebagian sedang berjalan menuju ruang meeting.
"Iya, bukankah kekasihmu bekerja disana?" jawab El berjalan santai di samping Crystall sembari memasukkan kedua tangan di saku celananya.
"Kami sudah putus," sahut Crystall dengan raut datar.
"Sungguh?" El seketika menghentikan langkahnya karena terkejut. Dia memang sempat mendengar kalau Crystall gagal menikah. Dia pikir Crystall hanya menunda karena kepentingan status koasnya.
"Dokter Daffa sudah datang, ayo cepat masuk!" bisik Adelia melihat Daffa baru keluar dari lift lantai lima.
El dan Crystall pun kembali berjalan cepat masuk ke ruang meeting.
Daffa dengan jas dokternya berjalan penuh wibawa ke ruangan. Kemudian berdiri di depan layar proyektor.
"Selamat sore," sapa Daffa dengan ekspresi datarnya seperti biasa. Pria tampan yang minim ekspresi.
"Sore, Dok!" sahut semua dokter koas dan umum yang sudah duduk rapi di kursi yang tersedia.
"Kita langsung saja." Daffa menekan tombol remote hingga layar di depan pun menyala. Menampilkan sebuah data.
"Besok sebagian dokter koas akan melakukan sosialisasi ke sebuah desa terpencil. Disana sedang mengalami kasus demam berdarah terbesar. Hampir semua warga terkena virus itu."
"Oleh karenanya saya akan membawa empat dokter dan perawat termasuk saya sendiri untuk tinggal selama tiga hari disana sampai kondisi stabil."
Daffa beralih menampilkan daftar nama yang ikut bersamanya.
"Elajar, Crystall, Adelia, dan Alena juga tiga perawat lainnya. Saya harap besok pagi jam enam kalian sudah berada di rumah sakit membawa keperluan pribadi. Mengingat disana desa terpencil, kita mungkin akan kesulitan membeli barang-barang pribadi ataupun medis," ujar Daffa.
__ADS_1
"Ada pertanyaan?" tanyanya sebelum menutup meeting.
El mengangkat tangannya. Daffa pun mempersilahkan.
"Saya sedikit tau desa yang dimaksud. Lokasi melewati hutan sepanjang 10km. Sedangkan mobil tidak bisa masuk. Apa kita akan menggunakan kendaraan beroda dua dari sini?" tanya El yang sedikit paham tempat desa itu.
"Iya, tim sudah mengecek situasi. Itu sebabnya saya membawa total delapan orang. Empat laki-laki dan empat perempuan. Supaya laki-laki bisa memimpin membawa motor. Tim sudah menyiapkan kendaraan roda dua sebelum kita melewati hutan. Karena tidak mungkin kita mengendarai motor dari rumah sakit ini sedangkan jaraknya cukup jauh," jawab Daffa.
"Kita jangan memakai baju mini. Ingat, naik motor," bisik Alena pada Adelia.
“"Uh, bagaimana kalau aku membonceng Dokter Daffa dan memakai rok mini? Apa dia akan tertarik padaku?" sahut Adelia dengan lirih membayangkan tangan kekar Daffa mengusap pahanya yang mulus.
Seketika Alena menonyor kepala Adelia. "Gila!"
"Jika tidak ada pertanyaan saya akhiri meeting sore ini. Kalian yang ditugaskan pergi, sekarang bisa pulang. Jika ada yang memiliki jadwal jaga malam hari ini, bisa konfirmasi ke bagian staff jadwal untuk mengatur. Sekian rapat saya tutup."
Tanpa basa basi Daffa langsung berjalan keluar dari ruang meeting.
El langsung mencolek lengan Crystall.
"Hei, besok kamu bonceng aku, ya?" tawar El.
"Aku bisa ikut siapapun," jawab Crystall dengan senyuman tipis di bibirnya. Dia hanya tidak mau memihak siapapun.
El hanya menjawab oke lalu mereka beranjak dari sana.
Baru saja Crystall keluar dari ruang meeting, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari kontak bernama 'Dokter Daffa'
[Ke ruangan ku sekarang!]
"Kenapa pakai tanda seru?" Crystall mengerucutkan bibirnya membayangkan nada yang Daffa keluarkan ketika mengatakan perintah tadi.
"Hai, Crystall. Mau kemana?" tanya Adelia melihat Crystall berbelok.
"Ada tugas dari Dokter Daffa," jawab Crystall menggoyangkan ponsel di tangannya.
"Oh, oke," sahut Adelia.
Crystall pun segera melangkah menuju ruangan Daffa yang berada di lantai berbeda.
Begitu sampai. Ruangan lebih dulu Crystall ketuk. Dia masuk setelah suara Daffa menyahutnya dari dalam.
"Semoga hari ini aku tidak melakukan kesalahan," doa Crystall sebelum dia masuk. Karena biasanya Daffa memanggil bawahannya khusus karena hal genting yang terjadi.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...