
^^^[ sometimes coercion makes our days miserable ]^^^
^^^----------------^^^
Mata Crystall melebar melihat sosok yang tidak dia duga ada di rumahnya.
"D-Dokter Daffa?"
Sungguh Crystall tidak menyangka ada dokter dingin dan angkuh itu disini.
Lalu apa tadi? Calon istri? Pekik Crystall dalam hatinya.
"Siapa kamu?" Samuel menepis tangan Daffa dengan kasar.
"Saya adalah calon suami Crystall," jawab Daffa masih pada pendiriannya.
Jangankan Crystall. Seluruh yang ada disana pun terkejut.
Bara yang sedari diam seperti kerbau dicucuk hidungnya, melihat ada pria mengaku menjadi calon suami Crystall, dia pun berdiri. Tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.
Dia tidak rela jika Crystall memiliki penggantinya secepat ini. Bahkan dia berharap hari ini Crystall memohon-mohon padanya untuk tidak menggagalkan pernikahan. Atau mengemis rasa kasihan supaya meringankan pengembalian uang pernikahan.
Lalu ini apa? Pria siapa yang ada di depan Bara kali ini.
"Bohong!" sanggah Bara di luar kendali.
Menarik!
Daffa menoleh ke arah pria yang sepertinya mantan calon suami Crystall. Dia tidak tau perkara jelasnya. Hanya mendengar dari apa yang Crystall katakan tadi di rumah sakit.
"Bohong?" Daffa tersenyum miring.
"Ya, mungkin bohong kalau kamu masih berstatus calon mempelai pria untuk Crystall dalam pernikahan tiga hari lagi. Tapi bukankah kamu sudah melepasnya?" lanjutnya dengan nada tenang.
"Do-Dokter?" bisik Crystall menarik-narik tipis ujung lengan kemeja Daffa.
Dokter dingin yang sedang memakai mode hangat pun menoleh ke arah Crystall.
"Ada apa?" tanya Daffa, "Kamu menolakku karena kamu lebih memilih pria itu. Sekarang aku akan maju untuk kembali mengajakmu menikah."
Kedua alis Crystall menukik tajam. Dia sungguh tidak mengerti dengan semua ini.
__ADS_1
"Tunggu! Tunggu! Drama apa ini?" seru Ibunda Bara merasa kondisi ini seperti lelucon.
"Jadi ini selingkuhan kamu, Crystall?" tuduhnya.
Crystall menggeleng, tapi Daffa buru-buru menggenggam tangan wanita itu.
"Anda Ibu dari pria ini?" Daffa menunjuk ke arah Bara.
"Halah! Tidak perlu aku jawab karena kamu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah kami!"
Ibunda Bara beralih menatap Crystall "Segera kembalikan uang Bara. Aku tunggu sampai besok! Aku sudah muak berada di tempat ini!"
Ibunda Bara lalu memberi kode pada Bara untuk segera pergi. Tapi anaknya itu justru masih terpaku memandang Crystall penuh kesakitan. Bahkan kini dia merasa sudah dikhianati oleh mantannya itu.
"Kamu mau lihat apa disini? Membiarkan Crystall menginjak-injak harga dirimu dengan menunjukkan dia sudah memiliki calon suami?" tutur Ibunda Bara dengan ketus.
"Ma ...." mohon Bara dengan raut sendu.
"Oiya, karena Crystall adalah calon istriku. Jadi semua hutangnya sudah menjadi tanggungjawabku. Memangnya berapa uang yang sudah Anda beri untuk biaya pernikahan ?" tanya Daffa ke arah Ibunda Bara.
"Seratus lima pulih juta. Kamu bisa membayarnya sekarang? Kalau perlu bayar semua uang yang sudah Bara berikan pada Crystall setiap bulan. Jangan-jangan uang dari Bara digunakan untuk berpacaran denganmu."
Crystall kembali menarik ujung lengan kemeja Daffa." Dokter ku mohon jangan campuri urusanku," bisiknya.
"Hei, pemuda. Kalau kamu memang calon suami Crystall. Lunasi hutangnya. Lalu apa yang bisa kamu beri untuk kami?" Samuel tentu tidak keberatan kalau ada yang mau menampung anak yang bukan berasal dari kandungan istrinya sendiri.
Samuel sudah muak merawat Crystall, anak dari adik iparnya. Setidaknya pernikahan Crystall yang entah dengan siapa bisa membuatnya untung.
"Paling juga dia cuma kasih sepuluh juta buat sewa penghulu dan ruangan. Lalu mas kawin hanya seperangkat alat sholat," ejek Rosa mencibir.
"Lihat saja, dia tidak membawakan buah tangan sama sekali. Paling juga dia berpakaian rapi seperti ini karena baru pulang kerja jadi sales mesin cuci," lanjutnya yang tidak sempat mendengar bagaimana Crystall memanggil Daffa tadi.
Seketika Ibunda Bara tertawa penuh ejekan.
"Ya, ampun! Crystall... pantas saja kamu memilih Bara karena jauh lebih unggul dari sales mesin cuci ini. Hahaha! Memang jodoh tidak kemana. Wanita sepertimu sudah sepantasnya berjodoh dengan kekasih cadanganmu itu."
Alih-alih marah karena diejek, Daffa justru tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang tidak pernah Crystall lihat selama mengenal Daffa Louise Effendi.
"Ya, Anda benar sekali, Nyonya. Wanita seperti Crystall memang tidak pantas menikah dengan pria macam Bara. Dia sangat pantas bersanding dengan pria sepertiku." Daffa beralih menatap Crystall di sampingnya.
"Bukankah begitu, calon istriku?" tanyanya.
__ADS_1
Crystall benar-benar seperti orang bodoh disini. Satu sisi jika dia menuruti perkataan Daffa, dia bisa berlindung supaya Bara tidak meremehkannya.
Disisi lain, Crystall takut salah menjawab. Dia tidak tau maksud kedatangan Daffa, dokter yang beberapa jam lalu sudah memarahinya habis-habisan.
"Ah, Crystall selalu malu mengakui hubungan kami." Daffa melewati jawaban Crystall. Dia lalu menarik dua lembar kertas dari dalam sakunya.
"Sudahlah, kamu tadi mau membayar hutang Crystall. Berikan sekarang. Atau kalau tidak bisa, berikan saja surat keterangan miskin dari kantor desa di rumahmu." Ibunda Bara menengadah. Benar-benar menagih saat ini juga.
"Ma, sudahlah. Ayo kita pulang. Lagi pula aku ikhlas memberikan uang jajan untuk Crystall." Bara menurunkan tangan ibunya yang sedang menengadah seperti pengemis.
Firasat Bara kini justru merasa ada hal buruk yang akan terjadi. Dia seperti pernah melihat pria yang mengaku sebagai calon suami Crystall, tapi dimana? Dan dia yakin kalau pria itu bukan orang biasa.
Satu detik kemudian, firasat Bara benar adanya.
Daffa menyodorkan satu lembar cek untuk Ibunda Bara.
"Ini untuk Anda. Sebagai pembayaran seluruh uang yang pernah Bara berikan pada Aish. Sekaligus uang pernikahan yang tidak ada seberapa itu," tutur Daffa dengan senyum puas di bibirnya.
Ibunda Bara justru menepis tangan Daffa sampai kertas itu terjatuh di kaki Bara.
"Heh! Kalau tidak bisa membayar jangan mengajak bermain uang-uangan kertas!" sentak Ibunda Bara.
Sedangkan Bara menunduk untuk meraih kertas yang ada di atas kakinya.
Matanya membulat saat mengetahui kertas itu adalah sebuah cek berisi rangkaian angka yang sangat banyak.
"Untuk apa kamu ambil? Buang saja!" Ibunda Bara masih saja mengejek.
"Siapa kamu?" tanya Bara pada Daffa. Dia tentu tau tidak sembarang orang memiliki alat tukar uang seperti itu, terlebih nominal di dalamnya tidak sedikit.
"Siapa aku? Apa kamu tidak bisa membaca nama yang tertera di bagian tanda tangan kertas itu?" jawab Daffa menaikkan satu alisnya.
Bara kembali melihat kertas yang ada di tangannya. Tapi Ibunya sudah lebih dulu menariknya.
"Daffa Louise Effendi," eja wanita separuh baya itu. Kemudian dia menaikkan netranya membaca judul dan jumlah uang yang ada disana.
"Cek Bank BCM. Jumlah nilai rupiah -" Mulut Ibunda Bara menganga. Menatap Bara dan Daffa bergantian.
"Apa itu, Bu?" tanya Rosa penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1