Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
0.7 Marriage Agreement


__ADS_3

^^^[ Agreements are sometimes broken by feelings ]^^^


^^^----------------^^^


"Tapi bagaimana kalau saya tetap tidak mau menikah dengan Anda, Dok?"


Pertanyaan Crystall ditanggapi santai oleh Daffa. Dokter dingin itu hanya menaikkan satu alisnya.


"Aku benar-benar tidak mau menikah dengan Anda meski nyatanya wajah Anda sangat tampan," lanjut Crystall dengan tegas.


Mata Daffa sedikit mengerjap. Bukankah dia biasa dipuji? Bahkan malaikat pun tau kalau dirinya memang dokter tampan sejagad. Tapi perkataan jujur tanpa ekspresi kekaguman dari wajah Crystall justru membuat pria itu sedikit salah tingkah.


Dia mendehem tipis dan membenarkan posisi duduknya.


"Kalau begitu kembalikan uang satu milyarku."


Perkataan Daffa membuat mata Crystall membelalak. Dia merubah posisi duduknya menghadap peduh ke arah pria itu.


"Eh, eh, eh! Dokter mau merampokku? Tidak bisa. Satu milyar itu bukan aku yang meminta. Semua yang ada di ruangan juga tau itu," protes Crystall tidak terima.


"Kalau begitu ambil lagi ceknya. Jelaskan pada semua kalau aku bukanlah mantan kekasih yang hendak melamar mu," tantang Daffa.


Crystall tidak percaya ini. Daffa yang dia pikir adalah penyelamatnya tadi, ternyata ada maunya.


"Apa yang membuatmu keluar dari rumah dalam keadaan menangis tadi?" tanya Daffa.


"Bukan urusan Anda!" sentak Crystall kesal. Dadanya kembang kempis karena menahan emosi. Ingin rasanya dia menjambak rambut tebal dokter itu. Lalu *******-***** wajah tampan yang terlalu dingin untuk dipandang.


"Sampai kapan kamu diinjak-injak terus oleh keluargamu. Menangis dan terus menangis?"


"Sekali lagi bukan urusan Anda!" Crystall memilih merubah posisinya untuk menghindar dari wajah Daffa.


'Dia sungguh keras kepala! Bisa-bisanya kakek menjodohkan ku dengan wanita sepertinya!' gerutu Daffa dalam hati.


"Lalu bagaimana dengan nasib ujian koas-mu kelak? Aku bahkan memiliki daftar kesalahanmu selama bekerja di Rumah Sakit Galaxy. Ditambah -" Daffa sengaja menjeda ucapannya supaya Crystall benar-benar mendengar apa yang dia katakan.


"Ditambah, kamu sangat berani pada dokter penanggung jawab. Bahkan kamu tidak menuruti perkataan ku, membentak ku, dan.."


Mata Crystall lagi-lagi melotot ke arah Daffa. Setiap kata yang dokter itu katakan selalu saja membuat dia terkejut.

__ADS_1


"Dan berani melebarkan mata ke arahku," lanjut Daffa.


"Dokter curang. Apa yang kita obrolkan saat ini di luar tugas saya sebagai koas," protes Crystall.


Daffa hanya mengedikkan bahunya. Dengan santai dia kembali menghadap depan. Merebahkan punggungnya di sandaran jok dan memejam.


Benar-benar mengabaikan ekspresi Crystall yang nampak ingin sekali menerkamnya.


"Jika kamu sudah menjadi istriku. Maka kamu bisa memandangiku kapan saja," ucap Daffa yang bisa merasakan kalau netra wanita di depannya masih saja terarah padanya.


Sungguh Crystall kehabisan kata-kata.


Jika menyangkut nasibnya di keluarga Rosa. Crystall masih bisa tahan. Dia sudah terbiasa diperlakukan buruk. Menangis hanyalah intermezo dari segala luka yang di dapat.


Tapi jika Daffa sudah membawa statusnya sebagai koas. Crystall bisa apa? Kuliah ilmu kedokteran tidaklah mudah. Dari segi biaya, waktu juga otak tentunya. Sangat sulit dan melelahkan.


Kini dia tinggal menuju gelar abadinya. Menikmati jerih payahnya. Dia akan menunjukkan pada keluarganya, meski hanya anak pungut. Tapi dia akan bisa membanggakan mereka. Memberi kehidupan yang layak pada sepasang orang tua yang berperilaku buruk padanya.


Tidak, Crystall tidak mungkin menghancurkan semua mimpinya hanya karena penolakan terhadap dokter dingin bin menyebalkan itu.


"Pernikahan seperti apa yang Anda inginkan."


Ucapan Crystall di tengah heningnya suasana mobil mewah, membuat Daffa akhirnya membuka mata dan tersenyum samar penuh kemenangan.


Sebuah restoran bintang lima. Daffa dan Crystall baru saja menyantap makan malam. Meski tidak lapar, tapi Crystall menurut saja apa mau Daffa.


"Pernikahan kontrak?" beo Crystall membaca judul yang baru Daffa tulis di atas kertas HVS.


Daffa mengangguk. Lalu dia memberi kode dengan dagunya supaya Crystall membaca semua yang dia tulis dengan tinta hitam.


"Satu, jangan ikut campur urusan pribadi masing-masing." Crystall mulai membaca lirih apa yang terpampang di kertas dalam genggamannya.


"Dua, bersikap tidak seperti sepasang suami istri saat di luar."


"Tiga, jangan libatkan perasaan dalam pernikahan ini. Dilarang jatuh cinta!"


Crystall terus membaca poin-poin perjanjian lainnya yang dia rasa memang tidak memberatkannya sama sekali.


"Lalu, mana batas perjanjian kontrak itu? Kapan kita bercerai?" Crystall sudah membaca sampai akhir tapi tidak menemukan adanya keterangan kapan mereka bercerai.

__ADS_1


"Kamu ingin kita bercerai nantinya?" tanya Daffa.


Kedua mata Crystall bergerak ke kanan dan kiri. Dia sebenarnya tidak memiliki cita-cita menjadi janda. Dia tidak pernah terfikir untuk mempermainkan pernikahan seperti ini. Baginya pernikahan adalah hal yang sakral dan harus dihormati.


"Bu-Bukannya Anda sendiri yang menulis pernikahan kontrak. Jadi wajar kalau aku tanya kapan kontrak berakhir ." Crystall berusaha membenarkan perkataannya.


Daffa hanya diam. Dia juga tidak tau bagaimana mengakhiri hubungan itu kelak. Dia memiliki kekasih yang ingin dia nikahi.


"Kontrak berakhir sampai kamu melahirkan anak laki-laki untukku," jawab Daffa asal. Ini benar-benar di luar skenario.


Crystall meremas kecil sisi kertas yang dia genggam. Apa yang Daffa katakan barusan membuat hatinya sedikit teriris. Bukankah lebih baik berpisah tanpa meninggalkan jejak? Jika berpisah setelah memiliki anak, semua akan sulit. Tidak mungkin Crystall rela menyerahkan anaknya kelak.


'Soal itu aku pikirkan nanti saja. Yang pasti disini tidak ada catatan, dilarang membawa anak sendiri ketika bercerai,' bisik Crystall dalam hatinya.


"Oke," jawab Crystall setuju.


"Kalau begitu tanda tangani kertas itu." Daffa menggeser pena ke arah Crystall.


Wanita itu hanya bisa berdoa semoga keputusannya menikahi Daffa bukanlah sebuah kesalahan.


Dia pun mulai membubuhi tanda tangan. Berganti Daffa melakukan hal yang sama di sebelah kanan milik Crystall.


"Oke, sekarang kita pulang. Ini sudah malam." Daffa menarik dompetnya dari dalam saku. Lalu dia keluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu untuk diletakkan di atas meja.


"Saya akan memesan taksi. Jarak pulang sudah sangat jauh. Sedangkan tempat tinggal dokter dekat dari sini." Crystall tau lokasi tempat tinggal Daffa karena pernah diperintahkan membawakan berkas yang tertinggal di rumah sakit.


"Kata siapa kamu pulang ke rumahmu?"


"Kata siapa? Jelas kata saya, lah."


"Memangnya matamu rabun? Tidak melihat poin 8 di kertas itu?"


Crystall membaca ulang poin yang Daffa katakan barusan.


"Delapan, harus tinggal satu atap - iya. Ini pasti akan tinggal satu atap. Tapi kan nanti. Menikah saja belum," ujar Crystall.


"Kamu sudah menandatangani surat itu. Sangat sah. Tanpa paksaan. Jadi, semua aturan yang tertulis harus mulai dikerjakan sekarang." Daffa beranjak dari duduknya.


Dia tidak peduli Crystall yang sedang berpikir. Daffa langsung melangkah pergi dari sana.

__ADS_1


"Do-Dok! Tunggu! Tidak begini, laaah...." Crystall mengejar Daffa. Tapi langkah pria itu sangat lebar membuat Crystall sedikit tergopoh-gopoh.


......................


__ADS_2