Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
3.5 Father


__ADS_3

Dua jam perjalanan. Daffa sudah tidak peduli lagi dengan tanggapan orang lain. Dia tetap membawa Crystall masuk ke dalam mobilnya sejak semua tim medis diantar oleh Pak Jaka sampai ujung hutan.


"Daffa, bagaimana –"


"Kamu masih peduli dengan yang lain? Bahkan jika kamu mau, aku akan katakan pada mereka kalau kita sudah menikah," jawab Daffa dengan raut datar, memandang ke jendela mobil tanpa menoleh pada Crystall yang duduk di sampingnya.


Crystall tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia sebenarnya berharap pernikahan ini tetap disembunyikan sampai saatnya perceraian tiba. Setidaknya jika dia menjadi janda, tidak terlalu terekspos nantinya.


Ponsel Crystall berbunyi, membuyarkan lamunan yang sedari tadi hinggap di kepalanya.


Sebuah panggilan dari Ibunya, Rosa.


Dengan sedikit resah, karena Crystall tahu apa yang Rosa minta. Dia akhirnya tetap mengangkat.


"Halo, Bu," sapa Crystall dengan nada lembut seperti biasa.


'Kamu sedang menguji kesabaran ku, hah?' sembur Rosa.


"Maaf, Bu. Tapi aku baru saja kembali dari tugas sosial. Di sana sinyal susah. Terus, uang sebegitu banyak untuk apa? Bukannya Daffa sudah memberikan Ibu uang 500 juta ?" tanya Crystall dengan hati-hati.


Mendengar nada gugup yang Crystall utarakan. Juga namanya yang turut disebut Daffa pun menoleh penasaran.


'Astaga! Masih bertanya? Biaya untuk menghidupi mu sangat banyak, Crys! Uang pernikahanmu 500 juta sudah habis. Dan sekarang 80 juta saja aku memintanya.'


"I-lya, Bu. Nanti kalau sudah sampai rumah, aku kirim," final Crystall. Dia malas berdebat. Karena Rosa akan memiliki banyak makian jika Crystall berterus terang.


Crystall meremas ponselnya yang sudah mati dengan perasaan bingung.


'80 juta? Bagaimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?' pikir Crystall dalam hatinya.


***


Menjelang malam, Crystall yang sudah sempat tidur siang di apartemen, kini saatnya menyiapkan makan malam untuk Daffa. Dia mengabaikan dering telefon dari Rosa.


Pekerjaan memasak bukanlah masalah untuk Crystall. Dia bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat. Daffa juga selama ini tidak pernah protes dengan apa yang Crystall masak.


Semua selesai, Crystall masuk ke kamar untuk mandi. Tapi dia lebih dulu mengambil ponselnya.


14 panggilan tak terjawab dari kontak yang sama yaitu Rosa.


Lalu belasan pesan tentu.


Namun ada pesan yang menarik atensi Crystall. Sebuah notif dari mobile banking yang memberi tahu ada dana 800 juta masuk ke rekeningnya.


"Apa-apaan ini? Penipuan?" Crystall masih tidak percaya.


Dia langsung mengecek saldo rekening melalui aplikasi mobile banding.


Mata wanita itu melotot sempurna. Benar, ada dana masuk. Dan pengirim atas nama Daffa Louise Effendi.


"Daffa? Untuk apa mengirim ku banyak uang?"


Crystall mengurungkan niat mandi. Dia langsung beranjak dan menuju ke kamar Daffa.


"Daffa!" panggil Crystall mengetuk pintu kamar Daffa.


"Daffa, aku perlu bicara."


Karena tak kunjung mendapat jawaban, Crystall memberanikan diri membuka pintu kamar.

__ADS_1


Hampir sana Crystall memanggil, tapi dia tahan karena melihat Daffa sedang tertidur pulas.


"Eh, dia masih tidur? Apa terlalu lelah?" gumamnya.


Crystall jadi memilih keluar dari kamar Daffa. Urusan kenapa Daffa mentransfer nanti saja. Dia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Rosa yaitu mengirim sejumlah uang yang ibunya itu inginkan.


"Akhirnya, selesai juga urusanku dengan Ibu."


Satu jam berlalu, Daffa belum juga keluar dari kamar. Diketuk lagi pintu itu, tidak ada jawaban. Jadi Crystall terpaksa masuk.


"Daffa, ini jam makan malam. Bahkan sudah lewat. Kamu tidak lapar?" tanya Crystall dari ambang pintu.


Tidak ada respon. Crystall pun mendekat. Dari jarak dekat, Crystall baru melihat wajah Daffa yang pucat. Lalu di tempel punggung tangan Crystall di dahi Daffa.


"Ya, ampun dia demam. Perasaan tadi dia sehat-sehat saja."


"Daffa, kalau kamu masih bisa bangun, minum obat dulu, ya." Crystall menepuk ringan pipi Daffa.


"Ya ...." sahut Daffa membuka matanya dengan berat.


"Syukurlah, aku ambilkan obat dulu."


Crystall beranjak. Dia keluar kamar menuju kotak obat di dekat ruang makan. Ternyata persediaan obat sudah habis.


Dia kembali ke kamar Daffa hanya untuk meminta ijin.


"Daffa, aku pergi sebentar ke apotik dekat apartemen. Obat demamnya habis."


Daffa hanya mengedip lambat sebagai tanda anggukan.


Crystall pun pergi turun ke lantai dasar menuju apotik di pinggir jalan. Tanpa menggunakan kendaraan apapun, dia berjalan masuk ke dalam apotik memesan obat demam dan vitamin.


Begitu dia keluar, dia dikejutkan oleh El yang seakan sedang menunggunya di depan pintu.


"Crys, aku datang hanya untuk meminta maaf padamu. Aku tidak bisa tidur nyenyak kalau belum mendapat maaf darimu." Ucap El nampak merasa bersalah.


"Darimana kamu tau aku ada disini? apa kamu menguntit ku?" tanya Crystall.


"Aku sudah merasa kalau kamu dan Dokter Daffa ada hubungan. Jadi aku mencoba menunggu di depan apartemen. Rupanya memang benar. Kamu keluar dari apartemen Dokter Daffa. Bahkan menggunakan pakaian rumahan. Pertanda kalian tinggal serumah," ujar El dengan raut sedih.


"El - ini -"


"Tidak. Tenang saja. Aku hanya ingin memastikan saja. kalau sudah begini, aku rela untuk berhenti mengejar mu."


Crystall benar-benar merasa bersalah. "Maafkan, aku tidak tau perasaanmu selama ini. Aku sudah menganggap ku sahabat terbaikku, El."


"Sahabat tapi tidak menceritakan apa yang terjadi?"


"Ini terlalu rumit.”


El mengangguk. Dia sudah tidak bisa berlama-lama lagi. Hatinya sudah hancur. Tapi bagaimana lagi. Memaksakan cinta Crystall juga tidak bisa.


"Aku pergi dulu, Crys. Sampai bertemu di rumah sakit besok. Aku harap semua menjadi biasa saja. sekali lagi maafkan aku atas sikapku kemarin. Aku sedang di luar kendali."


Tanpa menunggu jawaban dari Crystall. El pergi berbalik menghampiri mobil yang terparkir tidak jauh.


"Maafkan aku, El." Lirih Crystall.


Dia lalu pergi juga setelah mobil El melaju.

__ADS_1


Bergegas Crystall kembali ke apartemen. Betapa terkejutnya, dia melihat Daffa berdiri tidak jauh dari lokasi dia dan El tadi.


"Lho, Daffa. Kamu sedang sakit. Ayo masuk." Crystall menarik ringan tangan Dafa. Dia tidak mau Daffa melontarkan pertanyaan di pinggir jalan seperti ini.


Sampai masuk ke dalam apartemen, baru Daffa melepas tangan Crystall.


"Masih bertemu dengan El diam-diam?" tanya Daffa mengintimidasi.


"Tidak sengaja bertemu," jawab Crystall berjalan ke dapur mengambil minum. Tapi Daffa tetap mengejar.


"Elajar akan aku pindahkan ke rumah sakit cabang."


Perkataan Daffa membuat Crystall menoleh dengan terkejut.


"Untuk apa?"


"Supaya dia tidak lagi mendekatimu."


"Kamu cemburu?" Crystall melipat kedua tangan di dadanya.


Daffa sejenak terdiam. Menatap mata bening di depannya itu.


"Ya," jawab Daffa.


Seketika keterkejutan Crystall berkali lipat. Dia pikir Daffa akan menampiknya seperti biasa.


"Ekhem! Kamu sedang demam. Sebaiknya minum obat lebih dulu." Crystall mengalihkan topik pembicaraan.


Alih-alih menerima obat dari Crystall. Daffa hanya terdiam memandangi wanita itu. Tentu membuat Crystall semakin gugup.


"Ayolah, aku sudah lapar. Aku akan makan setelah kamu meminum obat ini," desak Crystall.


"Perutku belum terisi," ujar Daffa.


Ah, Crystall melupakan itu. Daffa harus makan lebih dulu baru minum obat.


"Bawa makanan ke kamar." Daffa berbalik dan masuk ke kamarnya.


Oke, Crystall menurut. Dia menyiapkan makan untuk Daffa. Bahkan sampai pria itu meminta disuapi.


Semua dilakukan, Daffa pun tertidur ketika efek obat mulai bereaksi.


Selama Daffa tidur, Crystall mencoba membereskan pakaian Daffa yang masih ada di dalam tas ransel.


Ketika dia sedang meletakkan charger di di nakas. Crystall mendapati figura kecil dengan foto dua pria di dalamnya.


"Apa ini foto Ayahnya Daffa?" pikir Crystall seraya meraih figura itu.


Dia lalu mencocokkan dengan figura yang terpajang di dinding. Ya, salah satu foto itu memang foto Ayahnya Daffa.


Lalu dia beralih pada pria yang sedang di rangkul pundaknya dengan sang mertua.


"Siapa dia? Kenapa aku seperti pernah melihatnya?" pikir Crystall.


Cukup lama dia berfikir. Sampai matanya membulat, menerka siapa pria di sebelah Ayahnya Daffa.


Bergegas Crystall menuju kamar. Dia meraih dompetnya. Sebuah foto terlipat, dia membukanya.


"Ayah? Kenapa Ayah sedang bersama Ayahnya Daffa? Apa mereka saling mengenal?" Mata Crystall memerah, dia rindu bertemu Ayahnya. Sosok yang belum pernah dia jumpai sama sekali.

__ADS_1


"Aku akan bertanya pada Daffa. Dia pasti tau dimana Ayah ku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2