Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
1.9 Sharing Blankets


__ADS_3

...Crystall Is Mine...


...----------------...


"Daffaaaa ... suara apa itu?" Crystall langsung melingkarkan tangannya di lengan Daffa.


Daffa terdiam. Telinganya menajam mendengarkan dimana arah suara.


Sreeek! Sreeekk!


Kembali terdengar. Membuat Crystall semakin mengeratkan tangannya di lengan Daffa.


Pria itu pun bergerak waspada. Melihat bawah mencari sesuatu. Akhirnya dia menemukan ranting panjang di dekatnya.


"Daffa ... aku takut ..." lirih Crystall.


"Pindah saja ke belakangku jika kamu takut,” sahut Daffa dengan nada lirih yang sama.


"Sepertinya kita jangan mendekat. Aku takut itu harimau."


"Hush, sudah." Daffa melepaskan tangan Crystall dari lengannya. Lalu mengarahkan supaya Crystall bersembunyi di belakangnya. Dia juga mengeluarkan belati dari saku jaketnya yang sengaja dia bawa untuk berjaga-jaga.


"Kalau aku di belakangmu, nanti harimaunya cuma nyerang kamu," bisik Crystall lagi yang kini mencengkeram kedua sisi jaket Daffa. Dia sudah benar-benar bersembunyi di belakang pria itu.


"Bukankah kamu senang kalau nanti menjadi janda ting ting?"


"Lebih baik aku tetap memiliki istrimu dari pada menjadi janda!"


Daffa tidak lagi menanggapi rengekan Crystall. Dia mulai maju menggenggam ranting panjang yang tebal itu.


Penuh waspada menuju ke balik pohon yang ada di depan sana.


Semakin dekat suara gesekan itu terdengar. Semakin erat pula Crystall menggenggam jaket Daffa. Wanita itu tidak berani melihat ke depan.


Hingga sampai di pohon besar, Daffa sedikit mengintip. Benar saja disana ada dua ekor hewan hutan.


"Aku menemukannya," bisik Daffa.


Semakin takutlah itu Crystall. Dia sampai memejamkan matanya.


"Kamu diam disini." Daffa menarik tangan Crystall supaya terlepas lalu membiarkan gadis itu memejamkan mata di balik pohon.


"Hyyaaakk!"


Buugg!!


"Awas kamu! Aku tangkap!"


Buuugg!!


"Aaaargh!"


Teriakan Daffa di akhir pertempuran membuat Crystall semakin menegang. Entah hewan apa yang Daffa temui disana


"Daffa?" lirih Crystall memanggil.

__ADS_1


Tapi tidak ada jawaban.


"Daffa! Jangan begitu. Aku tidak mau menjadi janda ting ting. Daffa!" panggil Crystall semakin keras. Tidak peduli jika macan atau harimau atau jenis hewan buas lainnya mendengar. Dia benar-benar takut sekarang.


Karena masih tidak ada jawaban, Crystall memberanikan diri membuka matanya.


"Daffa!" sekali lagi Crystall memanggil suaminya itu. Namun masih saja tidak ada jawaban.


Akhirnya Crystall perlahan memutar tubuhnya. Dia mulai mengintip dari balik pohon.


Darah. Itu yang Crystall lihat berceceran di tanah. Mata Crystall pun membelalak sempurna. Pikirannya sudah tidak terkendali.


"Daffa ... jangan mati ... nanti aku harus bagaimana mengatakan ini pada Kakek dan Ibumu. Daff...." Crystall terduduk lemas seiring dengan air mata yang mengalir.


Sampai kembali terdengar suara ranting yang diinjak. Crystall tidak peduli. Jika dia jadi santapan binatang buas selanjutnya. Dia hanya bisa menyembunyikan wajahnya diantara dua lututnya.


Biarlah dia mati. Tapi dia tidak mau melihat binatang itu membunuhnya. Langsung mati saja biar tidak sakit.


"Daffa, aku akan menyusulmu." Crystall mengeratkan pelukannya di kedua kaki yang dia tekuk itu.


Sampai hawa panas terasa mendekat. Crystall yakin kalau harimau itu sudah ada di depannya.


Namun, bukannya mendengar auman binatang buas. Tapi -


"Kamu lapar tidak?"


Crystall terdiam mendengar suara itu. Tunggu! Bukan halusinasi, kan? Mana mungkin harimau bisa bicara.


"Kamu masih mau disitu?" suara Daffa sudah sedikit menjauh.


"Daffa?" Crystall bergegas berdiri lalu mengejar pria itu.


"Daffa, tadi - darah disana. Kamu baru melawan harimau dengan tubuh kekarmu ini?" Crystall menghentikan langkah Daffa. Dan memperhatikan sosok tinggi kekar di depannya.


"Harimau apa? Ini - hanya seekor ayam hutan." Daffa mengangkat ayam mati di tangannya.


Mulut Crystall terbuka. Tingkat kepanikan yang maksimal mendadak menyurut.


"Lalu darah?"


"Darah ayam. Aku tadi menyembelihnya dengan belati ini. Ayo bantu aku membuat api unggun. Sebelum kabut turun. Kita juga bisa memanggang ayamnya."


Daffa dengan santai melangkah lagi menuju lokasi yang tidak jauh dari parkir motor. Sedikit luas. Bisa untuk beristirahat.


"Astaga... dia sudah membuatku panik bukan main." Crystall bernafas lega.


Mereka berdua pun mulai mengumpulkan kayu-kayu kering. Dua botol air berukuran besar serta korek api, dirasa cukup.


Crystall mencoba mengolah ayam itu dengan bumbu seadanya yaitu garam yang dibawa diantara peralatan medis.


"Bagaimana kalau kita disini sampai malam?" tanya Crystall sembari membolak-balik ayam di atas perapian.


Daffa sudah malas menjawab. Crystall sedari tadi cerewet sekali. Padahal selama ini dia mengira wanita itu pendiam.


Demi mengisi perut yang mulai lapar. Mereka makan ayam bakar dengan rasa seadanya. Sementara kabut di pegunungan turun perlahan.

__ADS_1


"Hachim!" Crystall mulai terserang alergi hawa dingin. Dia mengusap-usap hidungnya yang terasa gatal.


Daffa masih cuek. Dia melihat sekitar sembari memakan sisa daging. Bagaimana pun perutnya harus diisi karena hawa dingin mulai menyerang.


Daffa beranjak. Dia membuka ranselnya yang masih ada di box motor. Lalu menarik selimut dari sana.


"Tas sebesar itu hanya untuk membawa selimut?" Daffa tidak menyangka kalau Crystall bisa nampak norak sampai membawa selimut. "Kita di perkampungan. Disana sudah ada selimut. Bukan sedang berkemah."


"Nyatanya sekarang kita sedang berkemah, bukan? Haachim!"


Crystall tidak peduli Daffa. Dia langsung membalut tubuh atasnya dengan selimut lalu kembali duduk di dekat Daffa.


"Aku tidak bisa menerima cuaca seperti ini," ucap Crystall yang sudah mulai kesakitan di hidungnya.


Dari situ Daffa mulai melihat bintik merah di wajah Crystall juga hidung wanita itu sangat merah seperti hidung badut.


"Kamu ada alergi?" tanya Daffa mulai sedikit khawatir.


Crystall mengangguk dan semakin mendekap tubuhnya sendiri.


"Obat alergi ada di motor Elajar," lirih Daffa memikirkan cara.


"Coba, duduk lebih dekat dengan api unggun." Daffa beranjak lebih dulu. Dia melepas jaket kulitnya lalu di gunakan untuk alas duduk Crystall di dekat api unggun.


"Duduk disini." Daffa menepuk jaketnya supaya Crystall mendekat.


"Aku pindah kesitu tapi ambil jaketmu. Ini dingin, Daffa. Kamu hanya memakai kaos tipis." Crystall masih bertahan duduk di tempatnya sebelum Daffa mengambil jaket itu.


Tanpa wanita itu sangka, Daffa mengangkat tubuhnya ala bridal style lalu di dudukkan di atas jaket sebagai alas duduk.


"Jangan sampai hawa dingin menyerang paru-parumu. Karena kabut semakin tebal."


"Tapi -"


"Aku sehat. Tidak sakit-sakitan sepertimu yang langsung terserang alergi di suhu seperti ini."


"Sakit-sakitan, terdengar buruk," gerutu Crystall lirih.


Benar apa yang Daffa katakan. Kabut semakin pekat seiring berjalannya waktu. Bahkan mungkin pengendara motor pun akan kesulitan melihat jalanan. Crystall sudah pasrah jika harus bermalam disini.


Wanita itu melihat ke arah Daffa. Pria yang sedang menambahkan kayu ke api unggun.


"Daffa," panggil Crystall lembut. Dan hanya dijawab deheman dari Daffa.


"Kamu benar tidak dingin? Bibirmu mulai pucat." Crystall tentu khawatir. Dia tidak mau menjadi alasan Daffa jika sampai pria itu sakit.


"Aku tidak lemah," jawab Daffa.


Crystall melihat selimut lebar yang dia ambil di kamar nya di apartemen Daffa pagi tadi. Dia nampak ragu menawarkan. Tapi tidak tega melihat Daffa hanya memakai kaos disana.


"Daffa, selimut ini lebar."


Ucapan Crystall kali ini baru bisa membuat Daffa menoleh.


"Aku rasa muat untuk berdua," lanjut Crystall.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2