
Happy Reading Semua!!
Semoga sehat-sehat selalu dan dilancarkan segala urusannya ya!!
.
.
.
Tatapan penuh tanya juga raut curiga yang dilempar pada Crystall jelas membuat gadis cantik berbulu mata lentik itu membeku. Mulutnya bungkam seolah seluruh kata yang ada di kepala hilang entah ke mana.
Seperti seorang narapidana yang tengah dihakimi, maka Crystall pun juga merasakan hal yang serupa. Salah sedikit saja jawaban yang dilontarkan pasti akan berakibat sangat fatal.
Bian menyipitkan kedua matanya, "Kenapa hanya diam saja, Dokter Crystall? Apakah kamu tidak berniat menjawab pertanyaan kami semua?"
Adelia mengangguk membenarkan, "Iya, setuju. Kenapa kamu nggak kasih penjelasan apa-apa? Kita semua sampai pada bagi tugas berpencar cari kamu loh."
"Dari puskesmas sampai balai desa kita pada nyebar buat cari keberadaan kamu, tapi ternyata kamu malah ada di kamar Dokter Daffa? Ini nggak masuk akal!" timpal Dini tatapan tak percaya.
Mendengar argumentasi kelima anggota tim medis ini, Crystall hanya bisa menelan salivanya susah payah. Dia berusaha tidak terlihat gugup.
Namun tetap saja tatapan penuh selidik yang dilayangkan mereka membuat kepala Crystall menunduk. Dia tak pandai berbohong jika sudah kepalang basah seperti ini. Sungguh, Crystall hanya berpasrah pada keadaan saja.
"Dokter Crystall, ada apa? Kenapa malah diam saja. Katakan sesuatu agar apa yang ada di dalam pikiran kami semua tidak semakin menjadi-jadi," desak El.
Crystall tak berani bersuara. Antara merasa takut, cemas, dan khawatir. Demi apa pun, Crystall hanya bisa berharap pada rencana Tuhan selanjutnya. Dia tidak bisa mengelak jika posisinya kalah telak seperti ini.
"M-maaf sudah membuat kalian mencariku. Aku berada di sini karena tidak seng-"
"Dokter Crystall tidak sengaja melihat saya sakit setelah menangani pasien kemarin," sela Daffa yang kini muncul di belakang Crystall.
Seketika, perhatian kelima pasang mata tertuju pada lelaki tampan dengan wajah datarnya. Kepala Crystall pun terangkat dan menoleh dengan raut terkejut.
Demi Tuhan, Crystall tidak menyangka jika Dewa bersedia menyelamatkan posisinya yang sudah tak aman lagi.
__ADS_1
Tatapan mata elang Daffa mengabsen satu per satu anggota tim medis yang berdiri mengepung Crystall. Terlihat jelas raut wajah mereka yang berubah pias seperti baru saja melakukan kesalahan.
Daffa mengalihkan pandangannya ke arah Crystall, " Dokter Crystall membantu saya meredakan demam."
"Jadi saya harap, kalian tidak salah paham. Lagi pula, bukankah sudah biasa dokter menangani pasien sampai sembuh?" imbuh Daffa membuat kelima orang di sana bungkam.
Tentu saja mereka semua akan percaya pada penjelasan Daffa. Sangat bodoh bagi mereka jika ada yang meragukan kebenaran ucapan Daffa. Selain posisinya sebagai kepala rumah sakit yang sangat dihormati, mustahil bagi Daffa untuk berbuat yang tidak-tidak.
Bian mewakili seluruh temannya menunduk hormat, " Kami meminta maaf karena telah salah mengartikan sesuatu, Dok. Kami hanya khawatir jika terjadi hal yang buruk pada Dokter Crystall setelah mendadak hilang kemarin."
Daffa mengangguk singkat, "Lanjutkan pekerjaan kalian."
Kelima anggota tim medis di sana mengangguk patuh. Tak ada yang menyangkal perintah Daffa. Mereka kembali bersiap sebelum berangkat ke balai desa.
Meski sudah membubarkan diri, tapi El masih menaruh rasa tidak percaya. Sebelum beranjak pergi, El menyempatkan diri menatap sekilas Crystall dan Daffa bergantian.
'Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku mulai curiga ada sesuatu di antara kalian berdua,' batin El.
***
Datangnya tim medis dengan pendidikan tinggi juga pelatihan khusus seperti Dokter Daffa dan rekan-rekannya nyatanya sangat membantu. Pasien yang semula terjangkit demam berdarah berangsur membaik bahkan telah sembuh total.
Sebagai ucapan syukur atas bebasnya Desa Melati dari demam berdarah, Pak Jaka selaku kepala desa di sini sengaja membuat jamuan istimewa di pendhapa balai desa.
Berhubung posko kesehatan berupa tenda medis telah dilepas, Pak Jaka bisa menggelar makan malam bersama dengan konsep keakraban lesehan.
Para warga dan tim medis duduk melingkar. Di tengah lingkaran manusia tersebut, berbagai makanan tradisional dan menu nusantara yang kaya akan rempah tersaji.
"Selamat malam, seluruh warga Desa Melati dan jajaran tim medis. Selamat datang di acara istimewa yang sudah ditunggu-tunggu ini," ucap Pak Jaka yang langsung membuka topik pembicaraan.
Tepuk tangan meriah pun terdengar. Antusiasme warga yang hadir membuat Crystall dan rekan lainnya merasa bahagia. Senyum di wajah mereka terbit. Sedangkan Daffa, pria tampan itu setia dengan ekspresi datar bak patung hidup.
Pak Jaka melanjutkan perkataannya, "Acara ini bukan hanya sebagai rasa syukur atas kesembuhan bapak, ibu, atau adik-adik sekalian, melainkan juga bentuk ucapan terima kasih kita kepada tim medis yang telah berjuang sekuat tenaga untuk membantu proses pengobatan demam berdarah."
"Oleh karena itu, saya sebagai kepala Desa Melati mengucapkan terima kasih kepada Dokter Daffa beserta rekan-rekan tim medis lainnya. Berkat kebaikan hati kalian, kami bisa terbebas dari demam berdarah dan mampu melanjutkan aktivitas seperi biasanya," lanjut Pak Jaka sambil mengatupkan kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
Daffa mengangguk singkat dengan senyum tipis bahkan nyaris tak terlihat, "Sudah menjadi tanggung jawab bagi kami untuk membantu para warga."
"Sebelum Dokter Daffa bersama rekan tim medis pulang kembali ke Jakarta besok, saya harap, kalian bisa menikmati jamuan dari Desa Melati. Meski tidak seberapa, tapi anggap ini adalah ucapan terima kasih kami pada dokter dan perawat sekalian," tutur Pak Jaka dengan senyum ramah.
"Aduh, ini udah lebih daripada istimewa, Pak Jaka. Kami justru yang harus bersyukur karena sudah diundang hadir ke balai desa," sahut Bian dengan lengkungan sabit di bibirnya.
Tiba-tiba, Adelia berceletuk asal, "Iya, bener. Mana makanannya enak-enak semua lagi. Duh, perutku jadi keroncongan."
Akibatnya, tawa seluruh warga pun pecah. Suasana yang semula tegang seketika mencair hanya karena ucapan jujur Adelia.
Bahkan, Crystall yang ada di samping Adelia pun hanya bisa menutup wajahnya. Dia merasa jika Adelia sudah kehilangan urat malunya sekarang.
"Baiklah kalau begitu, sekarang saatnya kita makan bersama," ujar Pak Jaka yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
Para warga mulai menikmati sajian makanan yang dihidangkan. Dokter dan perawat yang semua berkumpul di satu tikar yang sama pun menyantap nasi juga lauk lezat sambil bercengkrama ria.
Keakraban yang tercipta membuat sekat di antara mereka terhapus. Tak ada yang sungkan untuk melempar canda atau tawa sebelum esok harus berpisah jauh.
Bahkan, tak sedikit para warga yang memberikan buah tangan untuk tim medis. Kaum ibu-ibu jelas memilih Dokter Daffa sebagai sasaran oleh-oleh yang dibawa mereka.
"Dok, ini ada buah-buahan dari hasil panen di kebun biar Dokter Dewa makin sehat dan bugar. Semoga Dokter suka ya," ucap seorang wanita paruh baya sambil menaruh dua tandon pisang di hadapan Daffa.
Belum sempat Daffa bertindak apa-apa, salah seorang ibu yang lain pun melakukan hal yang sama. Mereka berebut antrian untuk menaruh bingkisan atau buah yang ingin disajikan pada Daffa.
Bukan hanya Daffa yang tampak kewalahan meladeni ibu-ibu ini, ternyata Crystall juga menjadi sasaran para bujang. Mereka menghampiri Crystall dengan berbagai kado dengan kertas warna-warni.
Kalian tidak lupa kan dengan pria berjambul yang rela datang ke tenda Crystall kemarin?
Nah, dia datang di urutan pertama!
"Neng Dokter Geulis, ini hadiah spesial dari Abang. Jangan lupakan Abang ya, Neng Dokter. Kalau udah siap, Abang pasti akan main ke rumah Neng Dokter Geulis di Jakarta," godanya sambil mengulurkan kado berukuran jumbo pada Crystall.
Pemandangan menyebalkan itu tak luput dari mata elang Daffa. Rahangnya seketika mengeras melihat para lelaki bujangan yang giliran menarik atensi Crystall. Dia tidak bisa tinggal diam.
Daffa pun melangkah keluar dari gerombolan ibu-ibu yang masih berebut perhatiannya. Masa bodoh dengan tanggapan mereka. Daffa hanya ingin membawa Crystall keluar dari lelaki haus belaian di sana.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...