Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
2.5 Silent Each Other


__ADS_3

Happy Reading!!!!


Jangan lupa like, vote, dan komentar. Follow juga akun penulis reader's tercinta!!!❤️🤩


----------------


Beralaskan dari anyaman rotan ini, ketujuh insan manusia di rumah kontrakan yang serba sederhana ini tampak menikmati makan malam yang telah diberikan oleh ibu-ibu beberapa menit yang lalu.


Meskipun tujuan rantang-rantang makanan ini beralamatkan Dokter Daffa, tapi pada akhirnya pun disantap bersama. Itu juga karena usul Daffa yang dengan senang hati membagikan makanan itu pada dokter atau perawat yang lain.


Tampak jelas bagaimana asyiknya keseruan makan malam bersama ini. Bryan fokus mengigit ayam bumbu kecapnya, El menyeduh sup ayam, Adelia, Ani, dan Dini sibuk melempar canda tawa sambil mengunyah makanan di piring mereka.


"Serius ini enak banget! Aku baru tahu loh kalau jantung pisang bisa diolah seenak ini!" seru Adelia yang benar-benar jatuh cinta pada cita rasa masakannya.


Ani pun menyahut setelah menelan makanannya," Kamu aja yang kurang update tutorial masak jantung pisang kali!"


"Tapi emang lezat banget masakan ibu-ibu di Desa Teratai loh. Takarannya bisa pas. Asinnya dapat, manisnya dapat, gurihnya beuh apalagi!" timpal Dini sambil mengigit bakwan jagungnya.


Bukan hanya para wanita yang memuji, tapi ternyata kaum adam pun turut mengacungkan jempol mereka. Mereka sangat antuasias menikmati makan malam kali ini.


"Setuju! Kelihatannya emang kurang aestetik, tapi ternyata setelah dicicipi, rasanya nggak kalah sama resto di pusat kota!" puji Bian dengan senyum sumringah.


El menyenggol lengan Bian, "Jadi nggak nyesel ya kan kita kebagian tugas di Desa Melati?"


"Fakta! Aku bakal nyesel sampai anak cucu kalau nolak tugas di sini deh," sambung Bian dengan raut yang dibuat nestapa.


Semuanya pun langsung tergelak melihat ekspresi Bian. Canda juga tawa pun mengisi rumah kontrakan sederhana itu. Suasana yang semula kaku kini perlahan hidup dengan berbagai celotehan juga lelucon yang seru.


Namun semua keakraban yang tercipta di sana, jelas berbanding terbalik dengan sepasang suami istri yang berusaha merahasiakan hubungan mereka. Siapa lagi kalau bukan Daffa dan Crystall?


Di tengah kekehan renyah dan senyum sumringah yang terlukis pada wajah setiap orang, Daffa maupun Crystall kompak mengunci mulut mereka. Daffa tetap menyantap makanannya meski dalam kondisi diam. Sedangkan Crystall, tampak mengaduk-aduk minumannya tanpa minat.


Dan ya, pemandangan itu tak luput dari mata El yang duduk di samping Crystall. Melihat Crystall hanya makan sedikit nasi juga sayuran dalam porsi mini, hati El ikut meringis sedih.


Jujur saja, El merasa takut kalau sampai Crystall sakit gara-gara tidak mau makan banyak. Terlebih, kondisinya belum bisa dikatakan pulih sempurna.


Oleh karena itu hati El tergerak untuk berinisiatif mengambilkan sup ayam di mangkuk yang baru. Lalu, diletakkannya tepat di hadapan Crystall.


"Makanlah, Crys. Sup ini bisa menghangatkan tubuhmu," tutur El dengan senyum manisnya.


Seketika, pandangan Crystall berpindah pada sosok pria yang ada di sampingnya. Lalu, manik mata Crystall tertuju pada mangkuk sup yang sebenarnya kelihatan lezat. Sayangnya, Crystall nampak tak selera.


Gadis cantik berpiama merah gelap itu menggeleng pelan, "Terima kasih, tapi maaf aku sudah kenyang, El. Aku tidak mau makan sup ini."


Penolakan langsung dari mulut Crystall tak berarti El menyerah begitu saja. Bukan masalah memaksa, namun El peduli pada kesehatan Crystall. Sekali lagi El tekankan, dia tidak mau Crystall kenapa-napa.


Tatapan El menyorot lekat ke wajah cantik yang tertunduk itu, "Kamu ingin segera pulih kan?"

__ADS_1


"Jadi, ayo makanlah. Lagi pula, supnya sangat lezat. Aku yakin kamu pasti menyukai rasanya," bujuk El dengan suara lemah lembutnya.


Crystall mengalihkan pandangannya ke arah El. Melihat El menganggukkan kepala, Crystall tak punya pilihan lain kecuali menerima mangkuk sup itu dan menyantapnya hingga habis.


Tangan kanan Crystall mengambil mangkuk sup itu. Kemudian, dia menatap El dengan seulas simetri sabit.


"Makasih ya," ucap Crystall tulus.


Sudut bibir El terangkat, "Sama-sama, Crys-ku."


Meski hanya lewat lirikan mata saja, tapi interaksi intens itu tak lantas membuat Daffa baik-baik saja. Karena tanpa disadari, kedekatan Crystall dan El membuat Daffa mengeratkan pegangan tangannya di sendok stainless steel ini.


'Dasar gadis genit! Bisanya hanya menggoda saja!' cibir Daffa dalam hatinya.


Uhukk!


"Crys!" pekik El yang refleks memberikan gelas minuman pada gadis cantik yang tiba-tiba saja tersedak.


Sambil memegangi tenggorokannya, Crystall menerima gelas yang El ulurkan padanya. Bahkan, El bersedia membantunya untuk minum.


"Pelan-pelan saja, Crys," ingat El dengan raut cemas yang begitu ketara.


Gadis cantik itu pun menyudahi minumnya. Dia langsung menghela napas panjang sebelum menoleh ke sisi kirinya, tempat di mana El setia berada.


"Sekali lagi terima kasih," ucap Crystall yang merasa berhutang banyak pada kebaikan Elajar.


Melihat tingkah Crystall centil dan kelakuan El yang lancang, entah kenapa selera makan Daffa langsung lenyap begitu saja. Yang semula sudah malas sekali menyantap apa pun, kini semakin tak nafsu lagi.


Karena malas menyaksikan adegan romatis yang klise itu, Daffa pun tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan kasar. Bahkan, sampai dentingnya pun berhasil mengejutkan keenam manusia yang sibuk dengan keseruan mereka.


"Astaga, Gusti!" pekik Adelia terkejut.


Ani dan Dini kompak melebarkan matanya. Begitu pula dengan yang lainnya, saling bertukar pandangan begitu melihat Daffa melenggang pergi begitu saja.


Tentu, tingkah Daffa yang mendadak menyingkir dari acara makan malam bersama di alas tikar ini membuat Crystall langsung terdiam. Dia sendiri tidak mengerti mengapa Daffa bersikap seperti sedang marah.


Tidak mungkin karena melihat dirinya dan El kan? Lagi pula, untuk apa Daffa marah sedangkan dia-lah yang terang-terangan menolak.


Crystall mendengus sebal. Tatapannya tertuju pada piring Daffa yang masih penuh dan juga minuman yang terlihat tak tersentuh.


'Dasar cowok aneh! Makanan belum habis, udah pergi nggak jelas!' rutuk Crystall dalam batinnya.


***


Keesokan harinya, tepat pukul enam pagi, Daffa sudah menunggu Crystall di depan rumah kontrakan ini. Bukan untuk membahas sesuatu yang privasi, melainkan sebab Crystall adalah asisten Daffa selama tugas di Desa Melati ini. Alhasil, Daffa akan berangkat jika Crystall sudah siap pula.


Sayangnya, sudah hampir dua puluh menit Daffa berdiri di teras, tak ada sedikitpun tanda-tanda jika Crystall akan keluar dari rumah. Oleh karena itulah, gerutuan kesal tak mampu dihindari terlontar dari mulut Daffa.

__ADS_1


"Di mana gadis itu?! Apa dia tidak sadar kalau sudah jam segini?!" dengus Daffa sambil melirik rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.


Bersamaan dengan itu, Adelia tiba-tiba saja keluar dari rumah kontrakan tersebut. Sambil mengenakan jas putih yang sama seperti milik Daffa, gadis berkuncir itu mengayunkan langkah ke arah Daffa.


"Selamat pagi, Dokter Daffa," sapa Adelia dengan senyum secerah mentari pagi.


Melihat kedatangan Adelia, spontan saja Daffa menghembuskan napas jengah. Dia menunggu Crystall, tapi kenapa malah bocah ingusan ini yang datang kepadanya?


"Apa kau tahu di mana Crystall? Saya harus segera mengecek pasien, tapi dia tidak muncul juga!" keluh Daffa yang terlihat frustasi.


Adelia mengangguk paham. Dia tahu kalau Crystall dan Dokter Daffa memang mendapatkan satu line tugas yang sama. Pantas saja jika Dokter Daffa-nya ini menunggu keberadaan sang sahabat.


Bibir Adelia memekuk dengan raut seperti berpikir keras, "Sepertinya Dokter Daffa yang akan terlambat datang deh. Soalnya, Dokter Crystall sudah berangkat sejak subuh tadi."


Sontak saja, bola mata Daffa mendelik tajam. Telinganya masih normal dan tentu saja dia tidak mungkin salah dengar.


"Apa kamu bilang?! Dari subuh tadi?! Tapi dengan siapa?!" tanya Daffa mendesak Adelia untuk menjawabnya.


Gadis berjas putih itu menggaruk kepalanya, "Wah kalau itu saya nggak tahu pastinya, Dok."


"Cuma tadi Dokter El sempat minta bantuan Dokter Crystall. Sepertinya, ada urusan pasien yang mendadak. Jadi, Dokter Crystall ikut pergi bareng Dokter El," ungkap Adelia terus terang.


Mendengar perkataan Adelia, spontan, Daffa melebarkan kelopak matanya. Sudah hampir lumutan menunggu Crystall datang, tapi ternyata gadis centil itu sudah bersama lelaki lancang itu?!


Ini tidak bisa dibiarkan!


Raut wajah Daffa yang berubah memerah padam membuat Adelia sedikit ketakutan. Dia tahu kalau pasti Daffa akan sangat murka karena sahabat dekatnya itu telah lalai pada tugas sebagai asisten kepala dokter.


Karena itulah, demi menebus kesalahan Crystall juga sebagai upaya pendekatan, Adelia memanfaatkan keadaan. Selagi ada kesempatan, kenapa harus ditolak coba?


"Emm, kalau Dokter Daffa butuh bantuan, saya bisa kok gantikan Dokter Crystall. Apalagi Dokter harus ke rumah warga dengan dokter pendamping. Saya temani ya, Dok?" bujuk Adelia.


Bukannya luluh, Daffa justru melayangkan tatapan tajam. Dia tidak suka jika ada wanita yang berusaha mendekatinya meski dengan dalih pekerjaan. Terlebih yang melakukannya adalah sahabat gadis centil itu!


"Apa kau pikir tugas seorang dokter pendamping itu main-main?!" sentak Daffa dengan sorot menghunusnya.


Seketika, Adelia menelan salivanya susah payah. Berhadapan dengan pria bermulut pedas dan super acuh membuat nyali Adelia langsung ciut hanya dalam hitungan beberapa detik saja.


"T-tapi saya hanya mau bantu Dokter saja kok. Nggak ada maksud lain," cicit Adelia dengan suara pelan yang nyaris tak terdengar.


Dengan raut dingin, Daffa mengacungkan jari telunjuknya, "Saya tidak butuh bantuan siapapun! Entah itu kau ataupun Dokter Crystall!"


Tanpa babibu lagi, tubuh tegap nan proporsional itu berbalik arah. Langkahnya yang besar membawa Daffa pergi entah ke mana.


Begitu punggung berbalut jas putih milik Dokter Daffa telah hilang dari pandangannya, Adelia menghembuskan napas lega. Dia benar-benar terkejut mendapati amukan dokter tampan itu hanya karena kesalahan sang sahabat.


Adelia mencebikkan bibirnya, "Crys nyebelin banget sih! Bisa-bisanya dia numbalin aku buat kena semprotan Pak Dokter Cakep! Mentang-mentang El butuh bantuan, main seenaknya aja ninggalin Dokter Daffa yang jelas-jelas jadi partner kerjanya dia! Awas aja nanti kalau ketemu, aku bakal cubit tuh Crys yang super nyebelin itu!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2