Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
2.1 Prince Charming


__ADS_3

...Crystall Is Mine...


...----------------...


"Daffa awas!" teriak Crystall melihat babi hutan itu berlari hendak menerkam Daffa.


Hingga suara senapan membuat lebih dari dua hewan liar itu menghentikan langkahnya. Namun tidak takut hanya dengan suara, babi hutan semakin menjadi. Dia semakin buas mengincar Crystall yang jaraknya tidak terlalu jauh.


"Crys!" Daffa menarik tangan Crystall lalu mengungkung tubuh wanita yang masih duduk disana.


Entah, Daffa pun tak mengerti. Dia tidak rela jika Crystall sampai terkena goresan kuku tajam atau gigi buas babi hutan. Dia lebih rela kalau dirinya yang terluka.


Mungkin itu hanyalah naluri seorang pria sejati. Tidak lebih, pikir Daffa.


Mereka berdua tidak bergerak. Hanya suara senapan yang saling menyapa indra pendengaran. Juga suara hewan yang menyapa kematian begitu memekakkan telinga.


Sampai derap kaki hewan mendekat. Disusul langkah kaki manusia.


"Dokter Daffa?" tanya seorang disana.


Daffa akhirnya mendongak. Mendapati beberapa manusia disana. Kemungkinan warga desa karena terlihat dari baju mereka.


"Ya," jawab Daffa. Dia pun melepas pelukannya. Crystall masih menutup wajahnya diantara kedua lutut dengan tubuh gemetaran


"Crystall, kita aman," lirih Daffa.


Crystall perlahan mengangkat wajahnya. Air matanya sudah sangat membasahi wajah.


"Maafkan kami, Dokter. Kami kurang cepat datang menyelamatkan," ucap seorang diantara mereka.


"Tidak apa-apa. Bantu rekanku untuk bisa cepat tiba di perkampungan. Dia butuh pertolongan segera." Daffa melihat Crystall semakin parah alerginya. Ditambah rasa takut yang menjadi akibat penyerangan babi hutan tadi.


"Kita hanya membawa kuda. Mari kami bantu untuk naik."


"Biar aku yang membawa satu kuda untuknya. Aku bisa menggunakannya," pinta Daffa.


Mereka menyanggupi.


Daffa tidak lupa memakai kemejanya. Lalu lebih dulu naik, setelahnya orang-orang itu membantu Crystall untuk naik di depan Daffa.


"Daffa aku takut," ucap Crystall gemetaran.

__ADS_1


"Kamu aman," sahut Daffa. Dia menarik tubuh Crystall untuk bersandar di dadanya. Satu tangannya, melingkar di pinggang wanita itu. Satunya lagi memegang kendali kuda.


"Hyakkk!!" Daffa mulai menghentakkan kakinya. Mengikuti dua kuda yang sudah memimpin di depan.


Sementara masih ada satu kuda penunggang lebih dulu membereskan barang-barang Daffa dan Crystall. Tapi mereka meninggalkan motor mogok itu untuk bisa diurus besok ketika matahari sudah terbit.


***


Sinar mentari yang menyembul dari balik gorden mengusik netra gadis cantik di atas kasur yang hanya beralaskan dipan kayu sederhana.


Alhasil, kelopak mata gadis cantik itu mengerjap pelan. Tubuh mungilnya menggeliat sembari menyetabilkan pandangan yang masih buram ini.


"Ini di mana?" gumamnya. Tapi dia langsung teringat, semalam, dia pingsan ketika dalam perjalanan ke perkampungan. Tubuhnya sudah tidak tahan den rasa sakit akibat alerginya.


"Kau sudah sadar?"


Refleks, pandangan Crystall berpindah pada sosok lelaki berwajah datar yang telah siap dengan setelan jas putih di badan tegapnya.


Untuk sesaat, Crystall mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu luar biasa. Rahang yang tegas juga garis wajah yang proporsional membuat Daffa mirip dengan jelmaan Dewa Krisna yang begitu tampan.


Akan tetapi, semua bayangan indah itu buyar seketika begitu mengingat nasib malangnya yang harus terikat dengan Daffa, pria sejuta pesona yang sialnya mematikan.


Helaan napas panjang menyeruak dari mulut Crystall sebagai tanda protes. "Ah aku baru ingat soal kejadian kemarin. Tapi tidak masalah. Ini pagi pertamaku di Desa Melati. Aku tidak mau buang-buang kesempatan emas untuk belajar lebih," imbuhnya sembari menyingkap selembar kain yang dijadikan selimut.


Melihat pergerakan Crystall dari kasur dipan kayu itu, Daffa melemparkan tatapan nyalang setajam silet, "Kau tetap di sana!"


"Saya tidak memberimu izin untuk pergi sebelum kondisimu benar-benar pulih!" tandasnya penuh penekanan.


Ultimatum tajam yang dilontarkan Daffa spontan membuat kelopak mata Crystall terbelalak lebar. Apa katanya tadi? Tidak mengizinkan pergi ke mana-mana?


Crystall menggeleng cepat, "Nggak! Nggak! Kamu nggak berhak melarangku!"


"Dan kamu bilang apa? Benar-benar pulih? Aku sudah sembuh kok! Toh, semalam sudah diobati sama perawat!" sangkalnya yang keukuh ingin pergi.


Bukannya luluh dengan pembelaan Crystall, Daffa justru semakin menjadi-jadi. Prinsip dan pendiriannya yang juga kuat membuat perintah Daffa tak mudah dipatahkan.


Apalagi jika orangnya seperti Crystall!


Langkah kaki Daffa menuju ke tempat tidur Crystall, "Kalau kau tidak menurut apa yang saya katakan, jangan salahkan saya jika akan memberimu hukuman."


"H-hukuman?"

__ADS_1


Daffa menunduk, menjajarkan matanya dengan netra Crystall, "Ini Desa Melati. Sangat mudah bagi saya untuk membuatmu menderita selagi tidak ada Ibu ataupun Kakek di sini!"


Smirk miring terukir di bibir Daffa begitu melihat raut wajah Crystall berubah pucat, "Daripada kau mengambil risiko, menurutlah pada kata-kata saya. Istirahatlah sampai kau sehat baru kau boleh ikut bersama saya dan team!"


Setelah berucap seperti itu, Daffa langsung kembali tegap dan melangkah pergi.


Bibir Crystall hanya menggerutu tidak jelas. Dan dengan kesal dia memilih menjatuhkan diri lagi di atas ranjang. Meraih selimut menutupi seluruh tubuhnya.


Sampai ada suara pintu kamar terbuka.


"Untuk apa kamu masuk lagi? Aku sudah menurut!" seru Crystall dari dalam selimut.


"Heh! Kamu mengigau?" Suara Adelia membuat Crystall membelalak. Dia membuka selimutnya dan mendapati sosok di sana bukanlah Daffa, tapi temannya.


"Kamu masih demam kah? Jadi mengigau?" Adelia mendekat sembari mengusap-usap rambut basahnya dengan handuk. Dia duduk di samping Crystall lalu menyentuh dahi rekannya itu.


"Sudah tidak demam," ujarnya merasa lega.


"Hehehe.... aku pasti merepotkan kalian semalam," ucap Crystall seraya mengangkat tubuhnya untuk bersandar di headboard. Dia merasa sepertinya Adelia tidak tahu kalau Daffa baru saja dari dalam kamarnya.


"No, kamu sama sekali tidak merepotkan kami." Adelia mendekatkan wajahnya lalu berbisik, "...tapi merepotkan Dokter tampan!"


"Do-Dokter Daffa?" beo Crystall sama lirihnya.


Adelia kembali duduk tegap lalu mengangguk dengan pasti.


"Kamu sampai sini dalam keadaan pingsan. Ya, tuhaaaan -" pandangan Adelia mulai menerawang.


"Dia seperti prince charming yang turun dari kuda setelah menyelamatkan putri kodok dari kejaran monster jahat. Lalu dia benar-benar merawatmu di kamar ini. Aku hanya membantumu mengganti baju"


"Enak saja putri kodok!" sentak Crystall membuat Adelia tertawa.


"Eh, tapi. Sekarang kamu sudah cantik. Tidak memakai kacamata lagi juga. Perawatan dimana? Bisa cepat begini kulitmu jadi cemerlang. Aku yakin kalau El makin semangat mengejarmu. Terlebih dia tau kalau kamu sudah putus hubungan dengan Bara."


Crystall membiarkan Adelia terus mengoceh. Dia bergerak beranjak dari ranjang. Meski Daffa sudah melarangnya pergi, tapi tetap saja Crystall harus mandi, kan? Siapa tau dia ada kesempatan keluar dari rumah tinggalnya untuk melihat-lihat Desa Melati yang terkenal asri dan indah.


"Kamar mandi ada dimana?" tanya Crystal seraya membuka tas ransel yang ada di dekat lemari kecil.


"Kita ada di lantai dua khusus para wanita. Sedangkan kamar mandi ada dua di ujung kanan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2