
...Alzira Crystalline Allando...
...----------------...
Ketika crystall hendak menerima pemberian yang diulurkan lelaki berjambul itu, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menarik kado itu lebih dahulu.
"hadiah ini untuk semua tenaga medis. tidak hanya dokter crystall, tapi juga dokter dan perawat lainnya," final daffa tegas.
sontak saja, tubuh crystall berjangkit kaget, "dokter dewa?"
tak banyak bicara, daffa langsung menarik tangan crystall dan membawanya pergi dari kerumunan lelaki yang hendak memberikan bingkisan itu.
tanpa keduanya sadari, bola mata el menangkap adegan aneh yang beberapa detik lalu daffa lakukan. ada rasa penasaran yang hinggap di benaknya.
"sebenarnya ada apa dengan mereka berdua? kenapa dokter daffa yang terkenal acuh mendadak peduli pada crystall?" gumam el berpikir keras.
el perlahan menghubungkan beberapa kejadian janggal yang telah dirangkumnya belakangan ini. mulai dari daffa yang tiba-tiba menyerobot crystall ikut diboncengannya sewaktu perjalanan menuju desa, daffa yang bersedia mengurus crystall saat pingsan terserang alergi dingin dengan telaten, hingga kemarin crystall kepergok keluar dari kamar daffa.
seringai miring terbit di bibir el, "firasatku tidak mungkin salah. aku yakin ada sesuatu di antara mereka."
***
pasca acara jamuan di balai desa selesai, tim medis bergegas kembali ke rumah kontrakan. esok adalah waktu mereka harus kembali ke jakarta. itu artinya, istirahat dan berkemas adalah pilihan yang tepat.
namun, el justru sebaliknya. dia akan berberes nanti setelah menyelesaikan urusan yang harus dibereskan malam ini juga.
semakin larut, suasana semakin sudah sepi. el memutuskan keluar rumah untuk mencari seseorang yang sejak tadi memenuhi pikirannya yang cukup kalut ini.
dan benar saja, di teras rumah kontrakan ini, crystall berdiri di depan tiang penyangga sambil mengangkat ponselnya. sesekali, crystall menempelkan benda persegi panjang itu di telinga.
"aduh, sinyalnya kenapa hilang-hilang sih? aku bahkan belum sempat ngomong sama ibu langsung terputus aja," keluh crystall.
beberapa saat lalu ibu angkatnya, si rosa. menelpon. belum jelas menelpon apa. signal sudah keluar masuk tidak jelas.
__ADS_1
"akhirnya ibu mengirimkan pesan," gumam crystall melihat ada notifikasi masuk ke ponselnya.
[crys, mentang-mentang sudah jadi istri orangkaya. sampai ibu telefon tidak diangkat. jangan durhaka kamu, crystall. bagaimanapun ibu adalah orang yang mengasuhmu meski bukan kandung. ibu tadi menelfon karena sedang butuh uang. ada renternir datang dan menagih hutang. hutang itu juga dulu untuk menghidupi mu. jadi karena kamu sudah punya banyak uang, ibu minta 80 juta besok. sekali lagi jangan jadi anak durhaka!]
crystall hanya menghela nafas membaca pesan rosa, sang ibu angkat yang masih saja sama seperti dulu.
"80 juta? aku dapat dari mana uang sebanyak itu," keluh crystall lirih menatap ponselnya tanpa niatan untuk membalas. karena dia tau, yang ratih butuhkan adalah uang, bukan balasan pesan.
el di sana segera menghampiri gadis cantik yang mengenakan sweater lilac itu. sebelah tangannya menyentuh pundak crystall.
refleks, tubuh crystall berjangkit kaget, "astaga! dokter el? huft. untung aja aku nggak punya riwayat penyakit jantung."
bukannya menimpali ucapan crystall, el justru mendatarkan wajahnya. raut wajahnya terlihat serius seperti bukan el yang selalu menatapnya dengan senyuman.
el melempar sebuah pertanyaan inti, "katakan padaku, sebenarnya ada hubungan apa kamu sama dokter daffa?"
"eh? kok tiba-tiba jadi bahas dokter daffa?" heran crystall yang kini berhadap-hadapan dengan el.
el menyorot lurus tepat di manik mata crystall, "jawab saja pertanyaanku tanpa banyak drama dan berlagak sok tidak tahu."
jelas saja, el tak bisa asal percaya begitu saja. tugasnya kali ini adalah mencari kebenaran. terserah bagaimana caranya, tapi el pastikan akan mendapatkan jawabannya langsung dari mulut crystall.
kedua kaki el maju selangkah membuat crystall refleks mundur selangkah juga, "a-apa yang kamu lakukan ?"
el menyeringai miring, "you're bad liar, crys. jadi, katakan selagi kamu punya kesempatan."
"a-aku tidak berbohong, el. sungguh, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dokter daffa," sangkal crystall berusaha membela diri.
semakin mulut crystall mengelak, semakin besar langkah yang el ambil. dia terus memojokkan posisi crystall hingga tak terasa gadis cantik itu sudah mencapai titik akhir. punggung crystall menabrak dinding pagar yang tinggi.
"awh," ringis crystall pelan.
el tersenyum sinis, "kamu yang mempersulit keadaan, crystall. apa susahnya mengatakan semuanya padaku? bukankah kamu gadis yang selalu mengedepankan kejujuran? jadi, cepat katakan sebelum semuanya terlambat."
"a-apa maksudmu?" cicit crystall gugup.
__ADS_1
kedua tangan el mengungkung tubuh mungil crystall. seringai miring yang terlukis di wajah el membuat nyali crystall seketika ciut. jujur saja, el terlihat sangat mengerikan sekarang. jauh berbeda dengan el yang selama ini crystall kenal.
"aku yakin kamu tahu maksudku, crystall. dan aku lebih yakin, kamu pasti punya hubungan khusus dengan dokter daffa. jadi sebaiknya jujur atau kamu akan terima akibatnya," ancam el menajamkan pandangan.
demi tuhan, crystall merasa takut bukan main. dia bahkan tak berani menatap balik el yang semakin menunjukkan sisi gelapnya. crystall bahkan harus membuang pandangan ke arah lain agar terhindar dari sorot el yang mematikan.
"sudah aku katakan, aku tidak punya hubungan lebih daripada kepala dokter dan bawahan," elak crystall dengan nada rendah.
tangan kanan el menarik dagu crystall agar tatapan mereka bertemu, "apa kamu pikir aku buta? kamu kira aku pria bodoh yang tidak bisa menangkap interaksi spesial antara kamu dan dokter daffa?"
"el-"
"cukup, crystall! sudahi kebohonganmu itu. aku tahu kamu pasti memiliki ikatan khusus dengan dokter daffa. tapi aku tidak peduli. persetan dengan semua itu. aku hanya ingin kamu melihatku untuk sekali saja. aku cinta kamu! aku ingin kamu menjadi milikku, crystall! sampai kapanpun, kamu hanya milikku seorang!"
"elajar?" mata crystall membelalak atas pengakuan el.
selama ini dia menganggap el teman akrab. sepertinya halnya crystall bersikap pada adelia.
"kamu bercanda, kan?" crystall berharap ini hanya prank.
tapi justru tanpa aba-aba, el mencengkram dagu crystall. menarik paksa wajah crystall mendekat. berusaha menyentuh bibir merah muda yang menggiurkan itu.
crystall pun refleks berontak, tapi tenaga lelaki memang tak bisa dibohongi. el benar-benar menakutkan.
"l-lepaskan aku, el! t-tolong!" teriak crystall yang menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
el sedang pada dititik akhir kesabarannya untuk menggapai cinta crystall. ditambah kecemburuannya atas asumsi hubungan crystall dengan daffa. semakin menjadi emosinya. pelampiasannya adalah sekarang, dia ingin memiliki crystall.
"el, please jangan seperti ini -"crystall menjauhkan wajahnya sedang kedua tanganna menahan dada el untuk tidak mendekat. dia tidak mau el mengambil sentuhan di bibirnya. tidak. crystall tidak bisa membiarkan hal rendahan itu terjadi padanya.
satu tangan el akhirnya mencekal tangan crystall. sedang satunya menjepit pipi wanita itu untuk diam di depannya, "katakan kamu mau menjadi kekasihku. katakan maka aku akan melepasmu, crystall!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gimana nih? Lanjut ga yah? 😅
__ADS_1