
^^^[The secret of being a reference as a heart pump]^^^
^^^----------------^^^
Mata Bara menyipit melihat siapa yang ada di trotoar dekat perempatan jalan.
"Crystall?" tebaknya. Dia pun langsung meminggirkan mobilnya lalu menekan klakson supaya Crystall menghentikan langkahnya.
"Hai, sendiri?" Bara melihat sekitar, tidak ada Daffa disana.
"Bukan urusanmu," jawab Crystall ketus lalu kembali berjalan.
Tapi Bara mana mungkin membiarkan. Dia segera memotong jalan dan berhenti di depan Crystall.
"Apa kamu hanya seorang Cinderella yang dicampakkan oleh suamimu? Lalu sekarang sudah kembali menjadi upik abu?" Bara tersenyum penuh ejekan. Dia kemarin sudah mendengar kabar pernikahan Crystall dari Helen. Cukup membuat sakit di hatinya semakin bertambah.
"Ah -"Bara mengulurkan tangannya. "Selamat sudah menjadi menantu keluarga Effendi."
Crystall hanya memandangi tangan Bara tanpa ada niat membalas. Membuat pria itu tersenyum lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Kenapa? Tidak mau diucapkan selamat? Apa karena kamu sebenarnya hanya ingin menikah denganku?"
"Hentikan omong kosong mu, Bara. Aku sama sekali tidak mengharapkan seorang Bara Harison sejak memergoki kelakuan menjijikkan mu bersama Helen." Crystall menatap tajam pria di depannya. Setiap ingat penghianatan yang dilakukan Bara, hatinya masih tercubit sakit.
"Jangan seperti itu, Crystall. Aku yakin kamu pun melakukan hal yang sama dengan Daffa." Lagi-lagi Bara tersenyum meremehkan. Dia menyusuri tubuh Crystall dari ujung kepala hingga kaki.
"Kamu buru-buru menikah supaya bisa menutupi kehamilanmu, kah? Karena biasanya orang cepat-cepat menikah karena hamil duluan," ejek Bara. Membuat darah Crystall seketika mendidih.
"Jangan samakan aku dengan tingkahmu dan Helen!" geram Crystall sampai menggertakkan giginya.
"Aku bukan wanita seperti itu!"
Netra Bara beralih melihat sekitar. Salah satu jarinya pun memainkan lubang telinganya. Seakan apa yang baru Crystall ucapkan sama sekali tidak Bara dengar.
"Tapi sepertinya meski kamu menikah dengan Daffa, tetap saja dicampakkan, Crystall. Kasihan sekali. Ah, harusnya kamu bisa merubah diri. Karena Daffa pasti malas memandang wajahmu yang - ah! Lupakan. Sekarang aku antar kamu saja ke rumah sakit. Aku baik, kan?" Bara kembali tersenyum tanpa dosa.
"Cih! Kamu pikir aku sudi satu mobil denganmu!" Crystall kembali jalan melewati Bara. Namun pria itu benar-benar seperti lalat yang tidak kunjung mau pergi.
"Mau kemana? Ayo, aku antar." Bara tanpa permisi menarik tangan Crystall.
"Apa-apaan kamu! Lepas!" Crystall memberontak tapi genggaman tangan Bara sangat erat menariknya.
__ADS_1
Bara benar-benar tidak peduli tatapan orang-orang yang berlalu lalang. Mungkin saja semua mengira apa yang terjadi hanyalah sepenggal kisah sepasang kekasih yang sedang marahan.
Hingga, tanpa diduga ada hal yang membuat gerakan Bara terhenti.
"Lepaskan tangan istriku!" Daffa tiba-tiba muncul mencengeram balik pergelangan tangan Bara yang sedang memaksa Crystall.
"Kau -"
Belum juga Bara sepenuhnya sadar siapa yang ada di dekatnya, Daffa sudah mencengeram krah bajunya.
"Jangan pernah ganggu istriku lagi." Sorot Daffa tidak main-main. Begitu tajam dan dingin. Tangannya pun dengan erat masih mencengkeram krah Bara hingga lawan tidak bisa berkutik.
Aura penuh kemenangan dari Bara seketika berubah menjadi gelap.
"Dia sudah bukan kekasihmu, bukan pula temanmu. Sudah aku bayar pula seluruh materi yang kamu beri untuknya. Bahkan lebih! Jadi jangan ganggu dia. Jika aku melihatmu menyentuhnya lagi. Aku tidak segan-segan mematahkan tanganmu."
Daffa melepas kasar cengkeramannya hingga Bara terhempas ke sisi mobil. Baru setelahnya pria itu merangkul pinggang Crystall untuk digiring masuk ke mobilnya yang parkir di belakang mobil Bara.
"****!" umpat Bara merapikan kembali kemejanya. Egonya baru saja diinjak-injak oleh Daffa. Dia pikir Daffa sudah pergi. Tapi entah sejak kapan pria itu muncul dan mengganggu rencananya.
Di dalam mobil, Crystall masih menegang. Dia melirik tipis ke arah Daffa. Baru pernah Crystall melihat sorot pria itu setajam tadi. Bahkan aura yang terpancar cukup mengerikan.
"Turun di basement," titah Daffa.
"Baik, Tuan," sahut sang supir tidak jadi berhenti di lokasi biasa. Dia masuk ke dalam parkiran bawah tanah. Karena disana, tidak banyak staff yang melihat jika Daffa dan Crystall turun bersama.
"Terimakasih," ucap Crystall pada akhirnya.
"Hem." Hanya itu yang Daffa jawab sebelum akhirnya mereka turun bergantian.
Tadi setelah menurunkan Crystall di perempatan jalan, Daffa meminta pak supir untuk memutar rute. Supaya bisa melewati lokasi dimana Crystall berada. Dia hanya ingin memastikan wanita itu tidak berulah.
Prasangkanya tidak salah. Daffa melihat Bara sedang mengganggu Crystall. Bahkan menarik paksa istrinya itu. Egonya sebagai pria pun langsung muncul.
***
Crystall dan Daffa mulai membaur dengan suasana rumah sakit. Menyingkirkan status siami istri. Yang ada hanyalah dokter penanggung jawab dan bawahannya.
"Crys!" teriak teman-teman koas ketika wanita itu baru masuk ke ruangan.
Crystall tersenyum lebar menyambut pelukan dari tiga teman seperjuangan. Sedangkan dua pria lain hanya menepuk bahu Crystall.
__ADS_1
"Sini duduk." Salah satu teman menarik Crystall untuk duduk di salah satu kursi. Lalu yang lain ikut mengambil alih kursi lain hingga mereka melingkar di meja kotak.
"Bagaimana bisa kamu berangkat?"
"Apa Dokter tampan itu tidak jadi menghukummu?"
"Apa kamu baru saja memohon padanya supaya hukuman mu diringankan?"
"Mungkin Dokter Daffa merasa kasihan kali, ya?"
Rentetan pertanyaan langsung mereka keluarkan bersamaan membuat Crystall hanya bisa menggaruk pelipisnya dan tersenyum hambar.
"Eh, jawab. Malah senyum-senyum!" salah satu teman menyenggol bahu Crystall.
Untung saja Crystall sudah menyiapkan jawaban. Karena dia tau, pasti teman-temannya yang tidak lain adalah para penggemar ketampanan Dokter Daffa akan bertanya-tanya mengenai dirinya.
"Jadi, kemarin aku menemui Dokter Daffa di rumahnya. Aku bawakan oleh-oleh untuknya. Lalu aku bicara baik-baik mengenai alasan keterlambatanku waktu itu. Memang sulit, tapi akhirnya Dokter Daffa mau memberiku kesempatan lagi. Asal aku tidak mengulanginya. Jadilah hari ini aku berangkat," jawab Crystall memandang temannya satu per satu.
Tapi yang ada justru mereka semua hanya diam memandangi Crystall.
"Eh, kenapa jadi kalian diam?"
"Kamu datang ke rumah Dokter Daffa?" tanya Adelia. Crystall pun mengangguk ragu. Mulai merasa ada yang tidak beres dengan jawabannya.
"Dia rumahnya dimana? Oleh-oleh apa yang kamu bawa?? Kamu jahat kenapa tidak mengajakku!" Suasana kembali heboh karena tidak menyangka Crystall memiliki kesempatan datang ke rumah Daffa. Dokter idola mereka.
Saat seperti itu, pintu ruangan terbuka. Ada kabar menghebohkan lagi kali ini.
"Hai, El!" sapa Crystall pada teman seperjuangan yang selama ini lumayan dekat dengannya.
"Aku senang kamu sudah berangkat," sahut El tersenyum hangat lalu mengambil alih kursi di samping Crystall.
"Eh, aku barusan mendapat kiriman screenshot artikel dari asisten papaku." El merogoh saku celananya untuk meraih benda pipih miliknya.
"Artikel apa?" tanya Adelia, wanita paling kepo diantar gerombolan itu.
"Artikel pernikahan Dokter Daffa," jawab El mulai menyalakan ponsel.
Seketika seluruh saraf aktif di diri Crystall menegang!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1