Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
2.0 Watch out!


__ADS_3

...Crystall Is Mine...


...----------------...


"Daffa, selimut ini lebar."


Ucapan Crystall kali ini baru bisa membuat Daffa menoleh.


"Aku rasa muat untuk berdua," lanjut Crystall.


Daffa menaikkan satu alisnya. Melihat tubuh Crystall yang sudah sepenuhnya tertutupi selimut.


"Kamu sedang merayuku?"


Bibir Crystall seketika mencebik. Dia merubah posisi duduknya untuk tidak lagi menghadap Daffa.


"Tidak mau ya sudah. Kalau mati kedinginan jangan gentayangan di sekitarku."


***


Di Desa tepatnya rumah kontrakan yang akan digunakan tim medis selama beberapa hari ke depan. Bian dan kawan-kawan kebingungan karena sudah satu jam lamanya tapi Daffa dan Crystall belum juga muncul.


"Kita harus segera melewati jalan yang tadi," ujar El.


Pak Kades pun datang. Dia mendapat laporan kalau kepala rumah sakit justru belum juga sampai.


"Bagaimana bisa terpisah?" tanya Pak Kades bernama Jaka ketika mereka sudah duduk di ruang tamu bersama.


"Kami tidak tahu, Pak. Kami fokus dengan kendaraan masing-masing," jawab El.


"Tadi Dokter Daffa memang meminta kami yang di depan. Katanya takut ada yang tertinggal. Tidak kami sangka justru dokter yang tertinggal lalu tersesat." Adelia nampak bersedih. Selain Daffa, juga ada Crystall yang alergi dengan udara dingin. Semua teman-temannya tau itu.


Pak Jaka melihat ke jendela. Kabut sudah turun dan akan semakin tebal. Ditambah senja pun akan muncul. Semakin sulit melewati jalan itu.


"Sejujurnya kami tidak ada yang berani melewati jalan hutan saat sore sampai matahati terbit lagi. Tapi karena ada orang di dalam sana. Saya akan konfirmasi ke bagian humas untuk segera menyusuri hutan,” ujar Jaka.


"Apa sangat berbahaya, Pak? Ada binatang buasnya di dalam sana?" Bian semakin ngeri membayangkan.


"Jika masih area jalan utama, dipastikan tidak ada. Masalahnya kami takut kalau ternyata Dokter Daffa tersesat jauh ke area terlarang."


Perkataan Jaka semakin membuat mereka semua ketakutan. Bahkan Adelia sampai menangis membayangkan yang tidak-tidak.


"Kalau begitu saya akan urus semua. Kalian tenang saja. Dokter Daffa dan rekannya pasti akan selamat." Jaka pun langsung beranjak dari kursinya. Dia segera mengkonfirmasi kondisi ini pada bagian humas.


Di balai desa, beberapa orang sudah berkumpul setelah mendapat mandat dari Jaka.


"Bawa empat kuda. Disaat kabut seperti ini, kita hanya bisa mengandalkan kepekaan hewan itu," titah Jaka ketika sudah


"Baik, Pak."


"Jangan lupa bawa senapan. Aku takut hewan hutan mengetahui keberadaan manusia kala senja tenggelam."


Perintah kepala desa langsung dipatuhi. Mereka memang memiliki peternakan kuda. Hingga bisa digunakan di saat-saat tertentu.


***


Tidak bisa dibantah. Tubuh Crystall semakin kedinginan. Hawa dingin sangat menusuk tulang belulangnya. Padahal sebisa mungkin dia menutupi diri dengan selimut dari kepala hingga badannya. Hanya wajahnya saja yang terbuka.

__ADS_1


"Hachim! Hachim!"


Dada dan hidungnya sampai merasa sakit karena terus-terusan bersin.


Sedangkan Daffa. Dia tidak hanya duduk. Lokasi di tengah hutan membuatnya waspada kalau-kalau ada binatang buas yang muncul.


Setelah dari sudut kanan, Daffa berpindah ke sudut kiri. Dia terus bergerak. Selain demi keamanan, juga untuk menghalau rasa dingin.


"Akh!"


Terdengar rintihan kesakitan. Membuat Daffa menoleh ke arah Crystall. Dia melihat wanita itu menyembunyikan wajahnya diantara dua lutut.


Pria itu langsung mendekat. Memastikan kalau Crystall masih bisa mengendalikan diri.


"Kau sudah minum obat pusing?" tanya Daffa berjongkok menyentuh bahu Crystall.


Namun tidak ada jawaban.


Bagaimana bisa menjawab, Crystall sudah teramat pusing. Dadanya juga mulai sesak.


Daffa mau tidak mau membuka selimut yang Crystall pakai. Hanya untuk melihat kondisi wanita itu.


"Crystall. Angkat dulu kepalamu."


Crystall menurut. Wajah wanita itu sudah nampak semakin memerah karena alergi.


Daffa lebih dulu mengecek denyut nadi di pergeralan tangan Crystall.


Lemah. Itu yang Daffa dapatkan. Dia lalu mengecek lainnya.


"Ya, ampun." Daffa mulai panik. Tapi dia tidak bisa bertindak apapun. Obat-obatan tidak ada. Peralatan penunjang pun tidak ada.


"Crystall, maaf," ucapnya.


Daffa langsung saja melepas kaos tipisenya. Lalu dia juga mulai melepas jaket yang Crystall gunakan sejak tadi.


"Daffa -" Crystall dengan lemah menahan tangan Daffa yang hendak melepas jaketnya.


"Aku tidak melepas semuanya." Daffa mengerti apa yang Crystall takutkan.


Crystall pasrah. Hingga tubuhnya menyisakan blouse tipis berwarna biru.


Kabut semakin membuat kesadarannya hampir sirna.


"Jangan tidur, Crystall," ucap Daffa sembari mengatur posisi.


Dia duduk di belakang Daffa. Hingga punggung wanita itu menempel di dada Daffa.


Hangat. Itu langsung Crystall terima. Tapi belum juga sepenuhnya mengurangi sakit di kepala.


Daffa memberi kode supaya Crystall relaks bersandar di dadanya. Sedangkan kedua kaki Daffa menjepit kaki Crystall. Dia sedang berperan menjadi selimut hidup untuk istrinya itu.


Terakhir, Daffa membalut selimut tebal untuk mereka berdua.


"Begini lebih baik?" tanya Daffa. Pria itu tidak memikirkan apapun. Apalagi memanfaatkan kondisi seperti ini untuk menikmati tubuh sang istri yang sama sekali belum dia sentuh.


Dia hanya fokus pada kesehatan Crystall.

__ADS_1


"Ya, tapi masih pusing - Hachim!"


Daffa semakin mengeratkan pelukannya dari belakang. Mengungkung istri mungilnya.


Sedangkan Crystall, hanya bisa mematung. Jantungnya berdetak sangat cepat. Baru pernah dia sedekat ini dengan pria.


'Apa Daffa biasa melakukan ini dengan kekasihnya? Sedekat ini dengan wanitanya?' pertanyaan itu mendadak terlintas di pikiran Crystall.


"Kamu perlu dihangatkan lagi?"


Pertanyaan Daffa membuat Crystall menoleh. Otaknya mendadak traveling ke hal-hal yang berbau panas.


"Ha-Ha-Hangat?" Crystall tergagap.


Daffa menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban.


Tanpa menunggu lama, karena posisi wajah Crystall yang sudah berada persis di depannya. Daffa kembali memberi kehangatan melalui bibir. Seperti pagi tadi.


Hangat - gerah! Argh! Daffa berteriak dalam hati. Kenapa posisi ini membuatnya mendadak panas.


Dia masih membeku. Tidak membalas tidak pula menerima. Namun karena Daffa tidak kunjung melepas. Mulai membuka mulutnya. Mengikuti insting.


Cukup lama, penyatuan itu terjadi. Entah karena murni mengobati, atau karena Daffa terlanjur candu dengan sentuhan halal itu.


Begitu pun Crystall. Dia sama sekali tidak berniat melepas. Matanya justru memejam. Dadanya bergemuruh hebat seperti ada kupu-kupu bertebaran.


Hingga sebuah bunyi menyeramkan mengagetkan keduanya.


Daffa melepas lalu menoleh ke sumber suara.


"Daffa apa itu!" Crystall langsung terkesiap melihat ada hewan hutan disana


"Diam -" Daffa memberi instruksi supaya Crystall tidak bergerak.


Posisi Daffa yang tadi melepas kaos, membuat bau manusia langsung begitu mudah terbawa angin. Rupanya hal itu mengundang babi hutan untuk mendekat.


Warna hitam dengan tubuh besar dan menakutkan. Hewan itu berdiri mengintai dari jarak 10 meter.


Lama kelamaan, babi hutan mulai bergerak mendekat.


Mata Daffa bergerak melihat sekitar. Sesuatu yang mungkin bisa untuk menyelamatkan diri.


Kayu besar dengan bara di ujung. Ya, Daffa melihat itu di api unggun.


"Kamu tetap diam Crys. Aku akan mengusir dia."


Dengan cepat Daffa menyingkap selimut supaya bisa keluar dari sana. Lalu meraih kayu.


Gerakan itu membuat babi hutan berlari ke arah Daffa.


"Minggir kau!" teriak Daffa mengarahkan kayu dengan api di ujung. Seperti sedang menghunuskan pedang.


Benar saja, babi itu menghentikan gerakannya. Dia takut api.


Tapi siapa sangka, babi hutan itu rupanya tidak sendiri. Perlawanan Daffa membuat babi lain mulai muncul.


"Awas Daffa!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2