Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
2.2 Bastard Coquettish


__ADS_3

...Crystall Is Mine...


...----------------...


Suasana bernuansa Jawa yang sangat kental seketika ramai dipenuhi oleh seluruh warga lokal dari Desa Melati dalam rangka sosialisasi kesehatan atas kasus demam berdarah di sini.


Para team medis yang bertugas pun turut hadir di Balai Desa Melati ini. Tak lupa, Pak Jaka sebagai kepala desa juga telah siap berdiri di panggung kecil untuk membuka acara secara resmi.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," sapa Pak Jaka dengan microphone yang telah terpasang di tiang penyangga.


"Waalaikumussalam," sahut para warga serempak.


Pak Jaka mulai membuka topik utama, "Sesuai janji saya beberapa waktu yang lalu, saya sudah mendatangkan para ahli medis untuk menangani kasus demam berdarah di desa kita tercinta ini."


"Kepada Dokter Daffa, saya persilakan," lanjutnya memberi jalan pada pria berjas putih itu.


Langkah kaki Daffa menuju panggung kecil di sana. Dengan wibawa yang melekat, Daffa menjelaskan secara singkat bagaimana agendanya bersama team untuk mengatasi permasalahan yang ada.


Tak lupa, Daffa memperkenalkan satu per satu rekannya. Mulai dari perawat hingga koas pun dijabarkan satu per satu di hadapan warga.


Setelah sesi pembukaan resmi di balai desa selesai, para petugas medis mulai membangun posko kesehatan. Lima tenda berukuran jumbo ditegakkan untuk tempat para warga mendapatkan perawatan khusus.


Selagi para petugas sibuk mempersiapkan alat kedokteran juga obat-obatan, Daffa dihampiri Pak Jaka yang selalu tampak sopan dengan setelan batik juga kopiahnya.


"Dokter Daffa," panggil Pak Jaka dengan senyum ramah.


Kontan saja, tubuh tegap Daffa berbalik arah. Tatapan matanya pun seketika tertuju pada pria paruh baya yang sangat ia hormati.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Daffa yang langsung berinisiatif dan siap sedia.


Pak Jaka tersenyum sungkan, "Tidak ada, Dok."


"Hanya saja, saya datang khusus ke Dokter Daffa karena saya ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas kelalaian saya juga warga Desa Melati atas kejadian tak diinginkan semalam," ungkapnya jujur.


Belum sempat Daffa menyahut, Pak Jaka kembali melanjutkan ucapannya, "Seharusnya, saya tidak bersikap demikian dengan membiarkan Dokter Daffa dan yang lain sendirian."


"Akibat kelalaian saya dalam bertugas, Dokter Daffa dan Dokter Crystall tersesat di tengah hutan yang lebat ini. Saya minta maaf, Dok," sesal Pak Jaka dengan raut sedih.

__ADS_1


Daffa tersenyum simpul, "Tidak masalah, Pak Jaka. Kami baik-baik saja."


"Justru saya ingin mengucapkan terima kasih karena Pak Jaka telah menyambut kami dengan sangat baik. Terkait salah satu dokter saya, tidak perlu khawatir. Dia sudah sehat dan akan segera menyusul."


Helaan napas lega menguar, "Alhamdulillah kalau begitu, saya ikut senang mendengar kabar baik ini, Dok."


"Oh iya, apakah kegiatan fogging akan kita mulai sebentar lagi, Dok?"


Lelaki berjas putih itu mengangguk, "Tentu saja, Pak Jaka."


"Jika semua warga sudah dialihkan dari rumah mereka masing-masing, kami bisa segera berpatroli fogging ke rumah warga."


***


Selama pengasapan fogging akan berlangsung sekitar dua jam ke depan, para warga sengaja dipindahkan tempat ke pelataran balai desa yang semula telah dibangun lima tenda posko khusus.


Saking tingginya angka penderita demam berdarah di Desa Melati ini, lima tenda tersebut sayangnya tak cukup untuk menyerap seluruh warga yang terkena demam berdarah.


Alhasil, sebagian warga diminta untuk tetap di rumah masing-masing dengan rutin mengonsumsi obat juga akan mendapatkan kunjungan para team sehari sekali untuk kontrol rutin.


"Dokter Daffa, boleh nggak mundur sedikit?" tanya Ibu Marshanda yang hendak Daffa periksa.


Hal tersebut spontan membuat Daffa menaikkan sebelah alisnya, "Tapi kenapa, Bu?"


"Saya harus segera memeriksa kondisi Anda sebelum imunnya semakin menurun."


Bukannya panik karena mendengar kata-kata Daffa, tawa Bu Marshanda justru meluncur bebas, "Ya habisnya Dokter gantengnya kelewatan sih."


"Jadi saya suruh mundur sedikit biar saya nggak diabetes," kekehnya tergelak puas.


Bahkan, wanita paruh baya berdaster cokelat yang berada di antrian kedua setalah Bu Marshanda itu pun ikut terbahak-bahak.


"Iya nih, Dokter Daffa emang paling cakep pisan euy! Nikah sama anak saya yang bontot mau ya, Dok?" bujuk Ibu itu sambil mengelus lengan kekar Daffa.


Mendengar gombalan wanita paruh baya itu, Daffa hanya bisa memijit pelipisnya. Lebih memusingkan menangani celotehan aneh itu daripada menganalisa penyakit keras sekalipun.


Sungguh, Daffa tidak habis pikir dengan ibu-ibu di Desa Melati ini!

__ADS_1


***


Sepulang dari aktivitas yang melelahkan tadi, para team langsung kembali ke rumah kontrakan yang telah disediakan. Namun, Daffa masih tinggal di posko untuk menyelesaikan beberapa pasien lagi.


Begitu El membuka pintu kontrakan, pandangan mereka dikejutkan dengan sosok Crystall yang tampak naik ke atas meja dapur yang cukup kokoh.


"Aaaaaaa! Tolong aku! Siapapun!" teriak Crystall ketakutan.


"Ada apa, Crystall?" tanya El berlari menuju dapur.


"Tolong, ada ular!" jerit Crystall sambil menunjuk bawah meja.


Refleks, seluruh pasang mata tertuju pada arah yang Crystall tunjuk. Dan di saat itulah, mereka semua tersadar jika Crystall dalam bahaya yang serius. Ada ular sawah. Mungkin sebagian menganggap ular itu tidak berbahaya. Tapi bagi mereka yang tidak mengetahui jenis ular, tetap saja hewan melata itu sangat menakutkan.


"Cepat tangkap ular itu!" teriak El yang dengan sigap melayangkan perintah pada team lelaki.


Selagi Bian dan yang lain mengevakuasi hewan melata itu, Elajar harus menyelamatkan Crystall yang ketakutan. Tubuhnya gemetar dengan bola mata berkaca-kaca.


"Tenang, Crys. Tenang. Aku di sini," ujar El sambil membantu gadis cantik itu turun dari atas meja.


"Aku mau ke belakang rumah, ta-tapi ada ulang, El," lirih Crystall saat El meraih pinggangnya supaya bisa mendarat dengan sempurna ke atas lantai.


Di saat yang bersamaan, Daffa melangkah masuk ke rumah kontrakan itu. Dia langsung menuju ke dapur, pusat keributan.


Tapi belum juga dia bertanya ada apa, netra Daffa dan Crystall saling bertemu di satu poros yang sama, tapi dengan cepat Daffa memutus kontak mata mereka.


Daffa menghampiri El yang dengan telaten juga hati-hati mendudukkan Crystall ke salah satu kursi. Dari cara El memperlakukan Crystall, semua sudah jelas di matanya.


Sementara yang lain sedang keluar ke kebun belakang, entah apa yang mereka lakukan. Daffa enggan bertanya.


"Kamu tunggu sebentar. Akan aku ambilkan minum," ucap El yang langsung beranjak mengambil gelas.


Senyum sinis terukir di wajah Daffa, "Wanita sepertimu tidak mungkin bisa tidak membuat ulah sehari saja. Dasar kecentilan," cibirnya yang masih dapat didengar Crystall.


Ingin rasanya Crystall membela diri. Tapi Daffa sudah lebih dulu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2