
^^^[ a relationship becomes strong in a variety of sources of agreement ]^^^
^^^----------------^^^
"Apa itu, Bu?" tanya Rosa penasaran.
Bukannya menjawab, Ibunda Bara hanya bisa membuka mulutnya. Gagu.
"Itu sebagai ganti rugi untuk semua yang sudah mantan calon suami Crystall berikan. Aku rasa masih ada sisa ," ucap Daffa dengan raut tenang.
Rosa tidak bisa hanya diam saja. Dia akhirnya mendekati wanita separuh baya di depannya. Lalu menarik sopan kertas cek yang ada di tangan.
Reaksi Rosa hampir sama dengan Ibunda Bara.
"Ss-Sa-Satu Milyar?!" Mata Rosa membelalak menatap Daffa
Helen yang sedari tadi menguping pun langsung keluar setelah mendengar angka fantastis itu.
Jangankan satu milyar, uang seratus juta yang Bara berikan untuk keperluan pernikahan saja sudah membuat keluarga itu merasa memiliki calon menantu terkaya sedunia.
"Bara ... kamu yakin itu asli?" suara Ibunda Bara terdengar lemah menyentuh bahu sang anak.
Bara hanya bisa mengangguk kecil tanpa menoleh. Netranya tertuju pasti pada Crystall, wanita yang dia pikir akan menangis memohon. Tapi kini justru sebaliknya.
"Ya Tuhan...." Ibunda Bara tidak mampu lagi berdiri.
Dia terduduk lemas di sofa atas rasa malunya terhadap Crystall.
"Ini asli, Bu!" pekik Helen, seorang karyawan kantor satu perusahaan dengan Bara. Tentu dia paham cek asli dan palsu.
"Si-Siapa kamu, Nak? Mari duduk. Hehehe, Crystall. Kamu ini bagaimana. Ada calon suami dibiarkan berdiri." Rosa dengan tidak tau malunya mempersilahkan Daffa untuk duduk di sofa single.
Crystall menggeleng tanpa keraguan. "Tidak, aku tidak mau menikah dengan pria ini."
"Apa kita perlu bicara?" tawar Daffa dengan sorot tegasnya seperti biasa.
"Ya, sangat," jawab Crystall.
"Bu, apa boleh aku membawa Crystall lebih dulu. Kami perlu membicarakan sesuatu yang penting," ujar Daffa dengan sopan.
Rosa tentu mengijinkan dengan segala keramahan yang dia miliki.
__ADS_1
"Silahkan, bawa saja. Kalau dia masih tidak mau menikahimu, coba rayu."
Daffa pun lebih dulu keluar menunggu di mobil yang baru saja supir parkirkan di depan pagar pelataran rumah.
Sementara Crystall, dia masuk lebih dulu hanya sekedar mengambil cardigan karena udara di luar sangatlah dingin.
Tanpa disangka, Helen mengikuti Crystall hingga masuk ke kamar tanpa permisi.
"Heh! Kamu merayu konglomerat manalagi?" Helen mencengkeram lengan Crystall juga berucap lirih namun menusuk.
"Apa urusanmu?" Crystall melepas kasar tangan Helen dari lengannya membuat wanita itu semakin geram.
"Cih! Jangan-jangan uang satu milyar itu adalah hasil dari jual diri pada pria itu," cibir Helen memandang jijik Crystall.
"Ya, setidaknya ada uangnya. Daripada kamu, jual diri pada Bara tapi bayarannya hanya di traktir bakso di perempatan jalan!"
Crystall lebih baik mengarang indah. Dari pada berkata jujur tapi teris dimaki.
"Kurang ajar kamu!" Helen hendak memukul wajah Crystall. Tapi Bara tiba-tiba ikut masuk karena memang kamar tidak di tutup sempurna.
"Jangan kotori tanganmu dengan memukul wanita bermuka dua sepertinya, Helen," ucap Bara. Dia tadi berpura-pura ijin ke toilet. Tapi padahal ingin bertemu Crystall meminta penjelasan. Tapi rupanya dia mendengar kalau Crystall sudah menjual diri pada Daffa.
Mata Crystall memerah. Tapi dia menahan sekuat tenaga supaya tidak menangis di depan sepasang kekasih gila itu.
Bahkan ketika melewati dua orang tua angkatnya, Crystall tidak menyapa. Dia berlari keluar rumah sebelum air mata itu jatuh.
Tin! Tin!
Bunyi klakson saat Crystall sudah memijakkan kaki di pelataran rumah menandakan kalau pria di dalam sana sudah tidak sabaran.
"Begitu saja lama!" sentak Daffa saat Crystall sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
Mobil pun bergerak pergi dari rumah kecil di kawasan perkampungan.
Crystall masih belum berbicara apapun. Dia hanya memandangi jalanan dari jendela mobil dengan air mata terus menetes.
"Kalau kamu terus menangis seperti itu, lalu bagaimana aku bisa bicara?" Nada tegas yang Daffa keluarkan sudah khas Daffa Louise Effendi. Tidak penuh drama seperti di rumah tadi.
Crystall pun tersadar. Dia buru-buru meraih beberapa tisue yang ada di depannya. Lalu mengeringkan wajahnya lebih dulu.
Daffa melihat kelakuan Crystall hanya bisa mendengus kesal lalu menyandarkan kepala peningnya di joknya sembari memejamkan mata.
__ADS_1
Semua yang ada di diri Crystal jauh berbeda dengan kekasih Daffa. Tapi dia tidak mengerti kenapa keluarganya menolak jika dirinya menikahi kekasihnya itu.
"Dok, sebenarnya ada apa?" Meski nafasnya masih sesegukan, Crystall sudah memulai pembicaraan.
"Kamu sudah membuat hidupku sangat rumit." Daffa berucap masih dengan posisinya. Tanpa membuka mata apalagi menoleh memandang Crystall.
"Rumit? Apa hubungannya dengan saya, Dok?"
Crystall mengerutkan keningnya dalam-dalam. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Daffa katakan.
Daffa akhirnya membuka matanya. "Entah sebuah kutukan apa. Ibu memintaku segera menikah karena dia sangat menginginkan seorang cucu sebagai penerus keluarga."
"Ya, ke-kenapa harus saya? Saya tidak mencintai Pak Dokter," ucap Crystall jujur.
Daffa pun kali ini menoleh menatap Crystall. "Kamu pikir aku mencintaimu?"
Mulut Crystall sedikit terbuka,. Dia tidak tau harus bicara apa pada Daffa.
"Aku tadi mendengar kalau kamu bukan anak dari keluarga itu. Mereka juga nampak sekali tidak menginginkanmu. Asal kamu tau, mereka hampir saja bersenang-senang karena berhasil mempermalukanmu," ujar Daffa mengatakan apa yang dia lihat sendiri sejak Crystall turun dari taksi. Sedangkan Daffa mengikuti dari belakang dengan mobilnya.
"Kita tidak sedekat itu, Dok. Jadi apa yang terjadi dengan hidup saya sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anda." Crystall berucap dengan serius.
Daffa mengangkat punggungnya untuk duduk dengan benar supaya menunjukkan kesan tegasnya.
"Bukankah kita bisa melakukan simbiosis mutualisme?
Kamu butuh aku untuk lari dari situasi menyedihkan di rumahmu. Sedangkan aku, tentu bisa menyelamatkan ibuku dengan membawa seorang menantu padanya."
Sejenak, untuk pertama kali mereka saling memandang. Meski berbalut kacamata tebal, Daffa masih bisa melihat bulu mata lentik Crystall.
Tapi rupanya Crystall yang tidak tahan memandangi dokter tampan terlalu lama. Dia membuang wajah dan otomatis Daffa kembali dari lamunannya.
"Ayolah, jangan persulit kondisi ini," ujar Daffa berharap semua segera berakhir.
"Tapi kenapa dokter memilih saya, Dok. Wanita jelek dan - norak." Crystall berucap seraya memperhatikan ekspresi Daffa.
Tapi sama sekali tidak ada perubahan dari raut wajah Daffa. Tetap kaku dan dingin. Sampai akhirnya Daffa menjawab,
"Karena kamu tidak mungkin jatuh cinta padaku. Begitu pula aku." Terdengar ambigu. Tapi kenyataannya Daffa yakin 100% kalau dirinya tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita di depannya. Pun sebaliknya, Crystall tidak mungkin jatuh cinta.
"Tapi bagaimana kalau saya tetap tidak mau menikah dengan Anda, Dok?"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...