
...Crystall Is Mine...
...----------------...
Gadis itu langsung menyambar tubuh tinggi kekar itu untuk dia peluk.
"Tak bisakah kamu bersuara merdu?" Respon Daffa selalu datar dan dingin. Berbanding terbalik dengan sifat dan kelakuan adiknya itu.
"Aku sangat merindukanmu." Safa tidak peduli protes Daffa. Suaranya tetap saja melengking.
"Sendiri?" tanya Daffa karena belum nampak siapapun di belakang Safa.
"No dengan Mama dan istri rahasiamu " Safa memilih masuk lebih dulu menuju dapur untuk mengambil minum. Dia sudah biasa merusuh di apartemen kakaknya.
Baru setelahnya Kania muncul membawa sebagian barang belanjaan. Wanita separuh baya itu sampai belanja kebutuhan dapur dan lain-lain untuk apartemen Daffa.
"Tidak usah bantu Mama. Itu Crystall membawa lebih berat. Buah-buahan dan seisi kulkas. Safa sama sekali tidak mau membantu," tolak Kania saat Daffa hendak mengambil barang bawaannya.
Daffa pun keluar dari pintu. Dilihatnya Crystall membawa beberapa kantong dan nampak kesulitan.
Tapi, bukannya menghampiri untuk membantu, Daffa justru mendadak terdiam memandang sosok yang sedang berjalan ke arahnya.
"Daffa, tolong bawakan yang kanan ini. Berat sekali," pinta Crystall yang hanya menyisakan beberapa langkah.
Namun sang suami sepertinya tidak mendengar. Netranya fokus memandang wajah yang kali ini nampak berbeda.
***
Selepas kepergian Kania dan Safa. Crystall baru merasakan lapar. Tadi ketika makan di resto bersama mertua dan ipar, dia tidak nafsu makan karena tatapan tidak suka dari Safa terus melayang ke arahnya.
So, Safa setelah mengganti pakaian menggunakan piama sutra, dia masuk ke dapur untuk memasak nasi goreng demi mengenyangkan perutnya. Karena Crystall tidak bisa tidur dalam keadaan lapar.
Setelah semua selesai dengan cepat, Crystall meletakkan nasi goreng yang dia masak terlalu banyak itu ke wadah lalu membawa ke meja makan.
"Aduh, kenapa jadi banyak begini," gumamnya.
"Daffa sudah makan belum, ya?"
Crystall melihat ke arah pintu kamar Daffa.
Ya, mereka pisah kamar. Tentu tanpa sepengetahuan Kania. Oleh sebab itu tadi Crystall pura-pura meletakkan tas dan barang belanjaan pribadinya di kamar Daffa.
Wanita itu menghela nafasnya. Dia yang tadinya berniat menawarkan Daffa makan, teringat betapa dinginnya suaminya itu. Membuatnya memutuskan makan sendiri. Menghabiskan setengah dari porsi yang dia buat.
Crystall beranjak menyelesaikan piring kotornya lalu kembali ke kamar. Tapi, tunggu! Dia harus mengambil pembalut yang ada di plastik belanjaannya tadi. Karena hari ini dia sedang datang bulan dan persediaan di kamarnya sudah habis.
"Aduh, kalau aku mengetuk kamarnya apa mengganggunya?" pikir Crystall yang bimbang. Tapi disisi lain dia butuh. Belum lagi harus membawa benda itu besok pagi ke lokasi bakti sosial luar kota.
__ADS_1
Dengan ragu, Crystall akhirnya mendekati pintu kamar Daffa. Dia mengetuk pintu dengan hati-hati.
"Daffa, apa kamu sudah tidur?" tanya Crystall cukup keras supaya Daffa mendengarnya.
Tidak ada jawaban. Lalu dia kembali mengetuk. Tapi pintu itu lebih dulu dibuka.
"Ada apa?" tanya Daffa dengan raut datar. Rambut pria itu pun nampak acak-acakan versi bangun tidur.
"Aku perlu mengambil barang-barangku," ucap Crystall merasa tidak enak sudah mengganggu suaminya.
Daffa mengangguk pelan lalu membuka pintu dengan lebar.
Kepalanya yang sedang sangat pusing membuatnya tidak bisa tidur sedari tadi. Padahal dia sudah meminum obat.
Tanpa peduli apa yang Crystall lakukan di dalam kamar. Daffa langsung merebahkan diri di sofa. Memejamkan matanya sembari memijit dahinya yang berdenyut.
"Aku hanya mengambil ini. Maaf sudah mengganggu." Crystall berpamitan. Tapi langkahnya terhenti saat melihat dua tas ransel tergeletak di depan walk in closet.
"Emh, Daffa," panggil Crystall dengan hati-hati.
"Apa kamu belum membereskan keperluan pribadi untuk pergi besok pagi?" tanyanya.
Hening. Tidak ada jawaban. Dipikir Daffa sudah tidur, tapi tangan pria itu masih bergerak.
"Ma-Maaf, aku pergi."
"Crys," panggil Daffa sebelum wanita itu pergi.
"Duduk sebentar." Daffa menepuk ruang kosong di sisinya dengan tatapan sedikit buram.
"A-Ada apa?" tanya Crystall sedikit takut kalau Daffa akan memarahinya mungkin.
Daffa hanya menggeleng dan tetap memberi gestur supaya Crystall menurut.
Wanita itu pun akhirnya menurut. Daffa tidak banyak bicara. Pria itu jarang memerintah untuk yang kedua kalinya.
Crystall meletakkan barangnya di dekat sofa lalu duduk di tempat yang Daffa mau.
"Seperti ini?" tanya Crystall.
"Geser sedikit." Daffa menunjuk dengan dagunya supaya Crystall bergeser ke sisi sofa.
Crystall melakukannya. Bergeser sampai menyentuh pegangan sofa.
"Tolong pijit kepalaku."
Daffa langsung menjatuhkan kepalanya di pangkuan Crystall dan memejamkan mata. Membuat wanita itu menegang dengan pupil mata melebar.
__ADS_1
Karena tak kunjung mendapat sentuhan, Daffa membuka matanya. "Kau tidak mau?"
"Tidak - eh, iya ma-mau."
Daffa kembali memejamkan mata. Dia tidak melihat betapa gugupnya Crystall. Wanita itu sampai menggigit bibirnya sendiri untuk menetralkan detak jantungnya. Lalu tangannya dengan ragu mulai memijit.
"Sakit kepala biasa atau migrain?" tanya Crystall memastikan bagian mana yang harus dia tekan nantinya.
Daffa tidak menjawab. Pria itu entah sudah tidur atau belum. Dengan mata terpejam dan tak bergerak.
***
Esok hari, Daffa terbangun. Dia mendapati dirinya terbaring di sofa, kepalanya berada di atas bantal dan selimut juga membalut tubuhnya.
Bukan hanya itu, ada bantal pula berada di bawah kakinya. Hingga posisi kaki terasa lebih tinggi sedikit dari posisi kepala. Posisi itu memang cocok untuk orang yang sedang merasa pusing.
Tunggu! Satu lagi. Daffa melihat botol minyak hangat di atas meja. Lalu dia mulai menghidu bau yang ada di tangan.
"Ya, tidak buruk," gumamnya dengan senyum tipis di bibir.
Semalam, Crystall merasa Daffa sangat lelap. Sampai tidak sadar ketika dia mengganti pangkuannya dengan bantal yang ada di sofa single sebelahnya.
Crystall juga sempat memijit tangan beserta kaki Daffa yang dingin dengan minyak hangat andalannya ketika masuk angin.
Daffa mengulet. Dia merasa sudah membaik pagi ini. Dilihatnya sudah jam lima pagi. Dia pun menjalani kegiatan paginya termasuk masuk ke ruang gym mini di apartemennya. Mengabaikan Crystall yang sudah berkutat di dapur.
Crystall hanya menggunakan celana olah raga khusus dan membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka. Sudah biasa baginya. Dengan rutin setiap pagi jika tidak sedang bekerja lembur, dia selalu berolah raga.
Pemanasan hingga treadmill sudah dia lakukan selama 15 menit. Hal itu cukup membuat tubuh penuh otot kekar berkeringat.
"Haaaah!" dibuangnya dengan kasar nafas panjangnya.
Baru dia meraih botol botol air mineral yang berada di dekatnya lalu meminumnya. Membiarkan tetesan air yang meluap dari mulut berjatuhan di dada bidangnya hingga turun ke perut sixpact yang begitu menggoda menyatu dengan buliran keringat disana. Satu botol air mineral habis tak tersisa.
Daffa lanjut menggunakan push-up bar yang menggantung. Lebih dulu menaik turunkan nafasnya kemudian melompat untuk meraih salah satu alat gym itu.
Seketika otot-otot menyembul di permukaan lengan, saat Daffa mulai menarik dirinya ke atas dengan kedua tangannya. Tubuhnya dibuat melayang hanya dengan kekuatan tangannya. Memicu keringat yang kembali bermunculan dan menetes hingga ke lantai.
Daffa terus mengatur nafas di atas sana supaya detak jantungnya tetap seimbang meski dia sedang melakukan olah raga berat. Sesekali dia menarik tubuhnya lebih tinggi kemudian menurunkan kembali dengan kaki tetap mengambang. Begitu seterusnya dengan gerakan lambat.
Dirasa cukup, hanya butuh waktu 30 menit melakukan kegiatan menyehatkan itu. Daffa menarik handuk kecil lalu mengusap wajahnya yang basah karena keringat sembari membuka pintu.
Baru saja Daffa keluar satu langkah.
"Aaaaa!" jeritan Crystall membuat pria itu terkesiap.
"Kenapa kamu tidak memakai baju di depanku!" teriak Crystall menutup wajah dengan kelima jari.
__ADS_1
Akh! Daffa lupa kalau di rumah ini sudah ada penghuni lain selain dirinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...