
Dukungannya dong....😢
.
.
.
Tak ada yang pernah menduga jika Daffa yang selalu tampak dingin, cuek, dan sangat keras dari sisi luarnya, tapi kini berubah seratus delapan puluh derajat.
Di depan mata Crystall sendiri, Daffa benar-benar mengunci mulutnya. Tak banyak bicara, tapi anehnya tangan lelaki berwajah tampan itu gemetar seakan ada sesuatu yang buruk baru saja menyerangnya.
Crystall yang menyaksikan itu jelas dilanda kebingungan. Beberapa detik yang lalu, tubuh Daffa limbung seperti pucuk pohon yang tertiup hempasan angin. Lalu sekarang, Daffa terduduk di bibir ranjang dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tangan kanan Crystall menyentuh lengan kekar Daffa pelan, "Daffa, are you okey?"
Bukannya menjawab, Daffa justru menepis tangan Crystall dari lengannya. Sontak saja, tubuh Crystall tersentak kaget. Dia tidak menyangka kalau Daffa akan bersikap seperti ini. Padahal, Crystall yakin jika dia tidak melakukan kesalahan apa pun yang membuat Daffa marah.
"Kamu kenapa, Daffa? Ada apa? Kenapa kamu jadi seperti ini?" berondong Crystall dengan raut khawatir.
Dengan tangan gemetar dan bulir keringat yang mengucur dari dahinya, Daffa beranjak kilat menuju ke nakas. Lalu, Daffa membuka laci dengan tergesa-gesa. Tangannya merogoh isi laci dengan brutal seperti mencari sesuatu yang sangat mendesak.
"Di mana benda itu? Di mana?" erang Daffa sambil terus mengacak-acak isi laci.
Lelaki tampan itu terlihat sangat panik. Dari raut wajahnya, jelas menyiratkan kekhawatiran tak terbendung.
Crystall pun segera menghampiri Daffa dengan binar kekhawatiran di bola matanya, "Daffa, kamu cari apa? Kenapa buru-buru kayak gitu?"
__ADS_1
Daffa tak menyahut. Tangan kanan juga kirinya dengan cepat melempar barang-barang di dalam laci itu keluar dari tempatnya. Mulai dari gantungan kunci hingga beberapa kertas seketika berserakan di atas lantai.
Melihat gerakan impulsif Daffa yang kian cepat dan tak beraturan, Crystall mulai terserang panik. Dia bisa lihat jika Daffa yang saat ini ada di hadapannya bukan Daffa yang biasanya.
"Kamu cari apa sebenarnya, Daffa? Astaga! Kenapa kamu berantakan laci ini? Aduh!" ringis Crystall karena tak sengaja Daffa melempar box kardus kecil hingga mengenai kakinya.
Meski begitu, Daffa tak terpengaruh sedikit pun. Justru, atensi Daffa seakan tak mampu lepas dari laci yang sudah mulai sedikit barangnya. Hanya tersisa kertas-kertas dan benda kecil lainnya.
Daffa meraup wajahnya frustasi, "Argh! Di mana aku menyimpannya?"
"Menyimpan apa, Daffa? Kamu cari apa? Kenapa kamu nggak jawab pertanyaan ku?" desak Crystall yang sangat panik. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Daffa.
Lelaki tampan itu tak menggubris. Langkah kakinya yang besar membawa Daffa pergi ke sudut ruangan. Almari besar ada di sana. Daffa membuka almari kayu jati itu dengan tangan yang masih bergetar.
Dari manik mata Crystall, Daffa terlihat mengambil tas hitam milik lelaki itu sendiri. Dan kejadian yang sama terulang kembali, tangan Daffa merogoh isi tas itu dengan cepat. Melempar barang-barang yang tidak penting ke sembarang arah.
"Apa yang kamu lakukan, Daffa?!" tegur Crystall dengan intonasi yang sedikit meninggi. Dia berharap, Daffa bisa sadar.
"Udah, Daffa. Udah. Tolong jangan seperti ini," pinta Crystall sambil berusaha menghentikan gerakan tangan Daffa yang brutal.
Daffa menggelengkan kepalanya cepat, "Aku harus menemukan obatku. Aku tidak mungkin lupa membawanya."
Mendengar kata obat, Crystall seketika tersadar akan suatu hal. Dia menatap lekat sosok Daffa yang terlihat sangat gelisah. Tangannya bergemetar, raut wajah gusar, dan keringat dingin yang tak henti mnengalir di dahinya.
"Aku tidak mungkin lupa. Aku tidak mungkin lupa. Pasti ada di sini," gumam Daffa yang terus saja merogoh sisi tasnya di samping kanan dan kiri.
Sayang, nihil hasilnya. Obat penenang yang Daffa cari benar-benar tak ada di tempatnya. Padahal, Daffa selalu membawa kotak kecil khusus untuk itu.
__ADS_1
Memori kelam beberapa tahun lalu benar-benar membuat alam bawah sadar Daffa merasa takut teramat sangat. Hingga membuatnya frustasi.
Daffa meraup wajahnya kasar. Meski tak banyak bicara, tapi Daffa terlihat semakin gelisah dan kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Daffa bahkan sampai meluapkan rasa frustasinya dengan cara memukul kepala berulang kali.
Sontak saja, Crystall melebarkan kelopak matanya. Dia pun segera mencekal tangan Daffa yang berusaha melukai dirinya sendiri.
"Daffa, stop! Jangan seperti ini. Kamu hanya akan memperparah keadaan. Aku mohon, berhenti melukai dirimu, Daffa," pekik Crystall yang bersusah payah menjauhkan tangan Daffa dari wajah pria itu sendiri.
Dalam sekali tarikan, kedua tangan Crystall membingkai wajah tampan Daffa, "Cukup, Daffa. Cukup. Tolong dengarkan aku, Daffa. Aku mohon, jangan seperti ini. Aku tidak mau kamu kenapa-napa. Aku ada di sini. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Bagaikan sebuah mantra ajaib, Daffa seketika diam. Tatapan kedua insan itu saling mengunci satu sama lain. Raut wajah Daffa yang semula memerah karena kegelisahan perlahan surut.
Meski dadanya masih naik turun dan tangannya sedikit gemetar. Tapi Daffa merasa sedikit lebih baik. Entah mengapa Crystall seperti obat penenang baginya.
Crystall mengelus kedua pipi Daffa yang ditangkupnya, " Jangan lukai diri kamu sendiri dengan cara seperti ini, Daffa. Kamu hanya akan membuat orang-orang yang menyayangi terluka. Masih banyak orang yang menyayangimu tanpa tapi."
Crystall yang merasa cemas pun spontan memeluk tubuh kekar Daffa. Dekapan hangat itu membuat Crystall tanpa sadar menitihkan air mata.
"Aku takut kamu kenapa-napa, Daffa. Sungguh, aku tidak berbohong. Jadi tolong, jangan lakukan hal itu lagi. Kamu tidak sendiri. Ada aku di sampingmu," lirih Crystall di sela-sela pelukannya.
Tubuh Daffa mematung di rengkuhan gadis cantik ini. Dia tak protes atau bahkan menolak perlakuan manis Crystall malam ini.
Justru, ada desiran hangat yang perlahan menerpa lubuk hati Daffa. Meski sebenarnya, Daffa tak yakin apa makna perasaan aneh itu.
Daffa pun mengurai diri dari pelukannya. Tatapan manik mata Crystall tertuju pada Daffa. Dari jarak sedekat ini, Crystall harus mengakui jika lelaki di hadapannya ini memang titisan seorang dewa. Wajah tampan dengan rahang tegas yang dihiasi jambang halus di sekitarnya pun semakin membuat Crystall tak berkedip.
Serupa dengan lamunan Crystall, Daffa pun harus memberi validasi atas pernyataan rekan-rekannya tentang kecantikan Crystall. Meski tidak pernah tampil menggunakan make up tebal, Crystall tetap terlihat natural dengan senyum yang memikat.
__ADS_1
Karena terhanyut akan suasana, Daffa pun tanpa sadar mendekatkan wajah ke arah Crystall. Semakin tipis jarak yang tersisa, hembusan napas pun semakin terasa menerpa permukaan wajah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...