Crystall Is Mine

Crystall Is Mine
2.3 Ideal Man


__ADS_3

...Crystall Is Mine ...


...----------------...


Sementara yang lain sedang keluar ke kebun belakang, entah apa yang mereka lakukan. Daffa enggan bertanya.


"Kamu tunggu sebentar. Akan aku ambilkan minum," ucap El yang langsung beranjak mengambil gelas.


Senyum sinis terukir di wajah Daffa, "Wanita sepertimu tidak mungkin bisa tidak membuat ulah sehari saja. Dasar kecentilan," cibirnya yang masih dapat didengar Crystall.


Ingin rasanya Crystall membela diri. Tapi Daffa sudah lebih dulu pergi.


***


Suasana rumah kontrakan yang didominasi oleh perabot lawas ini terasa begitu ramai dengan colotehan para wanita yang sedang bergerombol di dekat dapur.


Karena jam telah menunjukkan angka enam, maka mereka harus mulai memikirkan menu makan malam yang sejujurnya masih kekurangan bahan pokok ini.


Adelia sebagai gadis yang paling cerewet di sini hanya bisa mendengus meski dia tahu kalau kekesalannya itu tak akan mengubah empat butir telur di sana berubah menjadi steak lezat dengan saus black paper.


"Miris sekali! Kita cuma punya empat telur ayam. Itupun ada dua yang ukurannya kecil. Bagaimana kita bertujuh bisa makan hanya dengan lauk ini saja?" keluh Adelia.


Tatapan Dini pun ikut tertuju pada telur yang ditunjuk Adelia, "Menyedihkan."


"Kita semua adalah tenaga medis, tapi kita tidak bisa makan empat sehat lima sempurna di sini. Bekal persedian yang kita bawa nggak banyak. Cuma ada singkong yang dikasih Pak Jaka," imbuhnya dengan raut sedih.


Bukan hanya Haura ataupun Dini yang menyuarakan isi hati mereka, Ani pun mulai satu kubu dengan keduanya, "Kalian benar sekali."


"Tujuh orang dengan tiga laki-laki dewasa yang porsi makannya sangat besar sangat nggak disarankan untuk memakan empat butir telur."


Ani menekuk wajahnya, "Bisa-bisa, kita nggak kebagian lauk."


"Masih untung nggak kebagian lauk, gimana kalau kita nggak kebagian nasi juga? Masa harus masak lagi dan nunggu sampai kayu bakar ini mematangkan singkongnya ?"


Itu jelas suara Adelia. Dia paling kesal kalau ada masalah dapur yang membuat mereka semua dilanda delima dan terancam kelaparan.

__ADS_1


Crystall yang berdiri di samping Adelia hanya bisa menatap ketiga perempuan di sana dengan raut sedih. Sejujurnya, dia sendiri juga merasakan gundah gulana yang sama.


Hanya saja, Crystall memilih diam dan mencari solusi agar malam ini ketujuh orang termasuk dirinya bisa makan dan perutnya tidak keroncongan.


Di tengah pergulatan pikiran keempat wanita di meja dapur itu, tiba-tiba saja, suara ketukan pintu yang bertubi-tubi terdengar, memecah lamunan mereka.


Tok Tok Tok!


"Dokter!"


Baik Crystall, Adelia, Ani, maupun Dini saling melempar pandangan. Mereka semua mengira jika ada pasien dadakan yang butuh bantuan.


"Sepertinya ada warga yang terkena demam berdarah lagi. Biar aku yang mengeceknya dulu," pamit Dini yang bergegas beranjak dari dapur.


Crystall pun tak bisa tinggal diam juga. Meski masih diminta banyak istirahat, tapi kesehatan warga di Desa Melati jauh lebih penting dari apa pun itu.


"Ayo kita susul Dini," ajaknya pada Adelia dan perawat Ani.


Mereka pun menghampiri Dini yang sudah lebih dahulu membuka pintu. Dari kejauhan, Crystall bisa melihat banyaknya para wanita paruh baya berdaster yang berkerumun di teras rumah kontrakan mereka.


Dini yang berada di depan Ani pun menoleh dengan raut yang kebingungan pula, "Aku juga nggak tahu, Ani."


"Tapi katanya, ibu-ibu ini ingin bertemu dengan Dokter Daffa," ungkapnya membuat kelopak mata Crystall melebar sempurna.


Belum sempat Crystall meluapkan keterkejutannya, Adelia yang sejak awal menganggumi Daffa pun ambil satu langkah ke depan. Dia langsung menghadapi kerumunan wanita paruh baya yang membawa rantang mereka masing-masing.


Kedua tangan Adelia terangkat, "Maaf, Ibu-ibu. Sebelumnya, ada apa ingin bertemu Dokter Daffa?"


"Maksud saya, jika ada yang butuh konsultasi, kami sebagai team medis juga bisa kok membantu," ralatnya Adelia yang terdengar sedikit sewot.


Salah satu ibu-ibu tadi pun berceletuk blak-blakan," Maaf juga ya, Dokter Centil. Kami datang ke sini bukan mau ngomong soal penyakit."


"Kami berkumpul di sini karena mau ketemu dan kasih makanan istimewa buat Pak Dokter yang cakep pisan. Iya nggak, Ibu-ibu?"


"lya betul!" jawab para wanita paruh baya berdaster sederhana itu dengan sangat kompak.

__ADS_1


Seketika, Crystall dan teman-temannya dibuat melongo tak percaya mendengar perkataan jujur para Ibu ini. Entah apa yang mereka pikirkan dengan memberikan rantang makanan itu, tapi satu hal yang pasti, Adelia sangat terlihat tak suka.


"Aduh, Ibu-ibu. Bukannya saya gimana-gimana, cuma Dokter Daffa lagi sibuk di dalam buat urus data pasien di Desa Melati ini. Dokter Daffa lagi nggak bisa digang-Awhh !"


Adelia melotot ke arah Crystall yang baru saja menyenggol lengannya cukup keras. Ucapannya belum selesai, tapi Crystall sudah mengambil alih keadaan.


Crystall tersenyum ramah, "Kami mengerti betul kalau Ibu-ibu sekalian ingin bertemu Dokter Daffa. Namun, yang dikatakan Dokter Adelia sangatlah benar. Beliau sedang mengerjakan data-data penting."


"Oleh karena itu, apabila Ibu-ibu ingin menemui Dokter Daffa untuk saat ini, kami mohon maaf, beliau tidak bisa." Crystall mengatupkan kedua tangan di depan dada.


Melihat rekannya bersikap sangat sopan pada Ibu-ibu ini, Adelia mencebikkan bibirnya kesal. Kalau saja tidak ditahan Crystall, bisa dipastikan Adelia akan mengusir Ibu-ibu yang sangat gatal pada Dokter Daffa-nya itu.


Belum lagi, Adelia semakin dibuat dongkol dengan senyum mengejek Ibu tadi yang mengatainya 'Dokter Centil'.


Sangat menyebalkan!


Salah seorang Ibu berdaster hijau maju mengulurkan rantang pada Crystall, "Kalau memang seperti itu, saya titip sampaikan makanan ini buat Dokter Daffa ya, Dok?"


"Ah saya juga, Dok!" timpal Ibu berbaju kuning yang menaruh rantang di tangan kiri Crystall.


Bahkan, masih banyak Ibu-ibu lain yang ikut meletakkan rantang bawaan mereka di lantai teras kontrakan team medis. Tak sedikit dari mereka yang menitipkan pesan spesial untuk Dokter Daffa meski sudah tahu dokter tampan itu tak akan menemui mereka.


"Kalau dokter yang satu ini aku suka. Kenapa tadi dokter tidak kelihatan di posko?" tanya salah satu Ibu pada Crystall.


Dilihat dari wajahnya saja, Crystall nampak lembut dan hangat.


"Apa ini dokter yang kemarin naik kuda dengan Dokter Daffa, ya?" sela salah seorang lagi.


"Ah, iya. Ya ampun! Kamu beruntung sekali. Siapa namamu? Sepertinya aku akan tanya tips darimu supaya anakku yang bontot bisa mendekati Dokter Daffa."


"Lihatlah, dokter ini sangat cantik. Lebih mirip anakku, bukan anakmu."


Sungguh pun mulut Crystall hanya terbuka, lalu tertutup lagi. Dia hendak menjawab tapi sudah di sambar oleh ocehan ibu yang lain.


Sedangkan Daffa? Dia hanya mengintip dari dalam. Tanpa ada niatan keluar dari sana. Dia justru memilih pergi dari sana lewat pintu belakang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2