Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Prolog


__ADS_3

Langit itu terlalu indah untuk dilewatkan begitu saja. cahaya oranye kemerahan dengan udara yang semakin lama semakin menghangat. angin berhembus menyapu setiap helai rambut yang terurai diatas bahuku. barisan burung tengah berlomba untuk bisa sampai pada rumah mereka. seharusnya aku juga sedang berlarian ke rumah.


jaket merah marun yang kukenakan tak bisa menyerap rasa dingin yang sudah merasuk ke dalam tulang rusukku. aku ingat jaket ini. tiba-tiba ia memberikannya padahal saat itu bukan hari spesial atau apapun. saat itu tubuhku masih terlalu kurus untuk mengenakan jaket ini.


bukan berarti aku masih mengingatnya, hanya saja aku tidak tega membuang barang-barang begitu saja. seandainya mereka bisa bicara, mungkin mereka akan berteriak bahkan sampai menangis ketika hendak dibuang. sudahlah itu hanya halusinasiku !!


lapangan bola itu masih tetap sama seperti 5 tahun lalu. aku pernah bersepeda dengannya mengitari lapangan itu. ya, itu tepat saat senja masih setengah nampak seperti saat ini. kesejukan angin kurasakan setiap kali kurentangkan lenganku. kita tertawa seolah tak pernah ada beban di hati kita. kita berteriak seolah akan selalu ada hari esok untuk kita.


ponsellku berdering. satu nama yang membuatku tersenyum simpul. aku segera mengangkat telepon. “kamu dimana? apa sudah selesai?”


“Aku akan sampai dalam 15 menit. kamu jangan jauh-jauh dari toko, ya?” ucapnya dengan nada manja. sangat jarang dia seperti ini.

__ADS_1


“Aku sedang berjalan-jalan ke lapangan. kau harus ikut juga. angin disini sangat sejuk. kau pasti suka.” ucapku sambil mengusap bulu kucing liar yang tiba-tiba datang padaku.


“aku akan segera sampai. sepertinya kau senang disana.”


“tentu. akhirnya aku bisa membuka toko buku sendiri. tapi tidak kusangka kau akan mendapat lahan di sekitar sini. terima kasih, sayang.”


“dengan senang hati. asalkan calon istriku bahagia, itu lebih dari cukup untukku. aku akan tutup teelpon ya. kamu baik-baik disana.”


aku menikmati setiap hembusan angin yang menghampiri. membiarkan rambutku disapu dengan lembut oleh angin sore. suara teriakan anak-anak yang masih berlarian di lapangan sayup-sayup terdengar di telingaku. bagaimana mereka bisa begitu menikmati setiap kesenangan yang ada tanpa beban? …..da….nada….


kenapa aku seolah mendengar namaku dipanggil? bukankah seharusnya perjalanannya masih 15 menit lagi seperti yang ia ucapkan di telepon? kenapa sampai secepat ini? aku bahkan belum kembali ke toko. apa dia mencariku sampai ke lapangan?

__ADS_1


“…..Nada…?”


aku tidak berhalusinasi. memang ada yang memanggilku. tapi ini bukan suaranya. aku pernah mendengar suara ini. tapi dimana? suara ini tidak terasa asing bagiku. seperti suara yang sangat familiar. di belakangku. ya….dia berdiri di belakangku. aku merasakannya. itu bukan dia. lalu siapa?


perlahan aku menggerakkan tubuhku ke belakang. berharap bukan orang jahat yang menghampiriku. semoga bukan orang asing yang ingin menculik dan membunuhku. sepertinya aku terlalu banyak membaca buku tentang detektif.


tubuhku sudah sepenuhnya menghadap ke belakang. lidahku serasa kelu. otakku berhenti berfikir sejenak. jantungku beristirahat dari kegiatan memompa udara. tiba-tiba serasa sesak. mataku mulai berkaca-kaca tidak mempercayai apa yang sudah kulihat.


“Apa kabarmu? lama tidak bertemu.” ucap seseorang di belakangku dengan senyum lembut yang selalu membuatku merasa kehilangan udara di sekitar.


“I miss you, Nada.”

__ADS_1


__ADS_2