Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Bisnis Cinta


__ADS_3

Nada masih sibuk dengan persiapan makan malam yang akan mereka bertiga lakukan dengan Maria. Jika hanya makan malam berdua seperti biasanya, ia tak mungkin melakukan hal yang merepotkan seperti ini. Padahal hanya seorang Dewanto, tapi kenapa ia menjadi repot begini? Nada melemparkan pandangannya pada pria yang masih berkeliling melihat-lihat isi kamarnya. Mengapa ia bisa repot-repot begini hanya karena pria itu ikut bergabung makan malam?


Dewanto kembali ke meja makan yang terletak diantara dapur mini itu dan sofa kecil untuk bersantai sambil menonton televisi. Ruangan kamar itu terlihat sempit tapi Nada mengaturnya sedemikian rupa hingga terlihat menyenangkan untuk ditempati. Nada membawa beberapa mangkuk dan piring untuk diletakkan di meja makan. Dewanto hanya menatapnya tanpa henti sejak tadi.


“Boleh aku bertanya sesuatu?”


“Apapun.” ucap Nada terlihat acuh karena masih sibuk menyiapkan makan malam. Sebaiknya semua sudah siap sebelum Maria pulang.


“Tadi siang saat di kafe milik Siska, kenapa kau menggandeng tanganku?”


Tiba-tiba Nada meletakkan gelas yang ia bawa. Ia teringat hal bodoh yang ia sesali setelah keluar dari kafe itu. Alasan apa yang harus ia katakan pada Dewanto? Tidak mungkin jika ia melakukannya karena ingin membuat Siska cemburu. Nada mulai mengalihkan pandangannya. Berharap Dewanto tak bisa membaca pikirannya saat ini.


“Tadi juga kenapa aku tak boleh menjemput ke dalam kantor? Kenapa harus di seberang jalan? Adakah yang kau sembunyikan dariku?” Dewanto mendekatkan wajahnya pada Nada yang kini sudah duduk di sebelahnya. Mencoba membaca ekspresi wajah gadis itu.


Nada mencoba menghindari wajah Dewanto yang semakin mendekat pada wajahnya. Ini benar-benar tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Tak sedikitpun Nada berani menatap mata Dewanto. Ia memilih untuk menghindar sebisa mungkin daripada harus mengatakan hal yang sebenarnya terjadi.


“Nada, aku pulang !!!” Teriak Maria langsung masuk begitu saja karena pintu utama tidak dikunci. Ia terkejut melihat Dewanto dan Nada yang saling berdekatan seperti itu.


Nada segera berdiri dari kursinya dan menghampiri Maria yang masih terkejut di dekat pintu. Ia bersyukur Maria segera pulang dan menyelamatkan dari pertanyaan mematikan itu. “Kau sudah datang? Kita sudah menunggu.”


“Kenapa dia ada disini?” bisik Maria pada Nada. “Apa yang tadi kalian lakukan?”

__ADS_1


“Nanti aku ceritakan semuanya.” balas Nada dengan berbisik juga. Keduanya segera berjalan menuju meja makan yang sudah lengkap berisi menu makan malam hari ini.


“Hai, Maria. Lama tidak bertemu. Boleh aku bergabung kan?” Sapa Dewanto saat keduanya sampai di meja makan.


“Ada acara apa ini? Kenapa tiba-tiba ikut bergabung?”


“Hanya mampir saja.” ucap Dewanto dengan sangat percaya diri.


******


Jika Nada yang membuatkan makanan, maka Maria yang harus membereskan serta mencuci piring-piring setelah makan. Begitulah hukum yang berlaku diantara keduanya. Selama ini hal tersebut selalu berjalan sebagaimana mestinya. Dewanto sudah pulang beberapa menit yang lalu setelah menghabiskan dua piring masakan Nada. Ia benar-benar menikmati masakan buatan Nada.


Nada hanya mengangguk pasrah. Semua terjadi begitu saja. “Aku dan Dewanto sepakat dalam waktu satu bulan akan mengambil keputusan apakah akan lanjut bertunangan atau tidak.”


Maria meletakkan beberapa piring yang selesai dicuci. Ia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan tangannya. “Kurasa tidak buruk jika kalian menjalin hubungan.” ucap Maria sambil mendekat pada Nada. “Bukankah memang sudah seharusnya kau membuang Pandu dari hidupmu dan menggantikannya dengan orang lain?”


Nada menatap Maria dengan lembut. Ia tidak menyangka jika sahabatnya bisa berfikiran terbuka tentang hal ini. Mungkin memang tidak ada salahnya untuk membuka hati pada orang lain. Siapa tahu itu memang yang terbaik. Nada memeluk Maria dengan sangat erat. Ia bahagia masih ada sahabatnya disisinya saat ini.


*******


“Perjalanan bisnis?” Teriak Nada saat menghadap direkturnya.

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, bahkan Nada belum memasuki ruang kerjanya, ia harus menghadap Pak Direktur untuk membicarakan sesuatu. Nada melihat satu koper dan tas ransel berisi laptop dan beberapa dokumen yang sepertinya sudah siap diangkut oleh Pak Direktur. Nada cukup kesal dengan keputusan mendadak yang dikatakan oleh direkturnya.


“Seharusnya sekretarisku yang menemani untuk perjalanan bisnis ini, tapi baru saja ia memberi kabar jika anaknya tiba-tiba demam tinggi dan memutuskan untuk tidak ikut perjalanan bisnis. Jujur, aku akan kewalahan jika berangkat seorang diri.” ucap Pak Direktur sambil memegang kepalanya. Tiket pesawat sudah dibeli, undangan sudah diverifikasi, kamar hotel juga sudah dipersiapkan. Tidak mungkin membatalkan perjalanan bisnis ini.


Nada tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ini begitu mendadak, bahkan ia sama sekali belum mempersiapkan pakaian yang harus dibawa. Ia benar-benar kesal dengan keputusan sepihak semacam ini. Bisakah ia menolak? Tapi dengan alasan apa?


“Kau tidak harus menginap beberapa hari, cukup satu hari saja. Kau bisa kembali besok pagi dengan penerbangan pertama. Aku hanya membutuhkan sekretaris pada saat acara pembukaan saja. Banyak investor besar yang bergabung dalam acara itu. Siapa tahu ada investor lain yang bersedia menyumbangkan dana pada proyek kita. Kau sendiri yang bilang jika proyek ini membutuhkan banyak sekali dana operasional yang cukup besar.”


“Baiklah. Aku akan ikut, tapi beri aku waktu untuk pulang mengemas barang-barang. Aku tidak mungkin berangkat tanpa membawa apapun.” ucap Nada mencoba bernegosiasi padahal sebenarnya ia hanya ingin mengulur waktu agar tidak jadi berangkat.


“Masalah itu kau tenang saja. Kau bisa membeli semua perlengkapan yang kau butuhkan disana. Ini sebagai kompensasi atas pemberitahuan yang mendadak. Tentu saja tidak akan mengurangi gaji ataupun tunjangan. Ini hanya wujud permohonan maaf dariku.” ucap Pak Direktur masih bersikeras untuk membuat Nada mengikuti perjalanan bisnis ini.


Nada bergeming, Ia tak punya lagi alasan untuk menolak perintah ini. Memang hanya satu hari saja, tapi pasti akan terasa sangat lama. Ia bahkan tidak mempunyai pengalaman apapun dalam mengikuti pertemuan bisnis semacam ini. Bukankah itu hanya akan mempermalukan dirinya sendiri? Bagaimana ia bisa membantu Pak Direktur jika ia tidak mempunyai pengalaman sedikitpun sebagai sekretaris.


“Banyak investor yang akan hadir dalam acara itu. Semua berkumpul untuk menilai proyek dari masing-masing perusahaan. Jika presentasi perusahaan berhasil dan menarik minat para investor, kita tidak perlu pusing soal dana operasional.” Jelas Pak Direktur sambil memasukkan berkas dokumen dan flashdisk ke dalam tas ranselnya.


Nada memejamkan matanya sesaat. Berharap ia menemukan alasan lain untuk menolak perintah ini. Ia merasa tidak nyaman saat harus melakukan perjalanan dengan Pak Direktur. Ia tidak cukup akrab untuk mengobrol banyak hal.


“oh, iya. Kudengar Pak Dewanto juga menghadiri perjalanan bisnis ini.”


Mata Nada seketika membulat sempurna dan seribu alasan untuk menolak perintah yang baru saja ia pikirkan, tiba-tiba lenyap entah kemana saat mendengar nama Dewanto disebut. Ia langsung menyetujui untuk melakukan perjalanan bisnis ke luar kota.

__ADS_1


__ADS_2