
Setelah ditinggalkan begitu saja di kafe, Dewanto memilih untuk kembali ke kantornya. Berharap dengan bekerja bisa mengembalikan semangatnya lagi. Ia mencoba mengerjakan beberapa proposal yang sudah menumpuk untuk diperiksa, tapi konsentrasi itu selalu terpecah karena teringat bagaimana Nada meninggalkannya sendiri di kafe. Mungkin itu salahnya karena tidak jujur jika memang ingin bertemu dengan gadis itu. Ia yakin jika gadis itu mempunyai insting yang tajam.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat muncul layar ponsel. Alisnya berkerut. Sebuah undangan makan malam yang dikirim oleh Ibunya. Entah sudah berapa kali ia menghadiri acara perjodohan berkedok undangan makan malam. Ia pun menghela nafas panjang dan menyandarkan punggungnya yang tidak lelah di kursi. Ia menyadari jika umurnya tak lagi muda untuk menunda pembicaraan tentang pernikahan. Tapi haruskah ia memilih wanita yang bahkan tidak menarik perhatiannya sama sekali?
“Halo, Ibu. Bisakah aku tidak datang pada undangan kali ini? Aku masih banyak pekerjaan yang haru diurus.” ucap Dewanto ketika sambungan telepon dengan ibunya mulai tersambung. Ia bahkan langsung pada inti pembicaraan.
“Kau ini hanya memikirkan kerja, kerja dan kerja. Apa kau tidak ingin menikah?” jawab Ibunya sambil terdengan sedikit mengomel.
“Aku sudah lelah dengan undangan perjodohan ini, Bu.”
“Kau sendiri yang langsung menolak dan tidak ingin mengenal lebih dekat dengan calon yang Ibu bawakan. Bagaimana kau mau menikah nantinya? Pokoknya kau harus datang. Kali ini anak perempuan dari bawahan Ayahmu di kantor. Kamu jangan membuat kami malu, ya.”
Dewanto menghela nafas sekali lagi dengan nafas berat. “Baiklah. Kemungkinan aku sedikit terlambat. Kita bertemu di restoran saja. Aku hanya perlu menemui saja, kemudian selanjutnya terserah padaku, bukan?”
“Dewanto….Kau ini !!!” Teriak Ibu yang sudah mulai lelah menghadapi anaknya yang keras kepala. Tentu saja sifat itu merupakan turunan dari Sang Ibu.
“Sudah ya, Bu. Aku harus menyelesaikan pekerjaan atau aku tidak akan bisa datang makan malam.” ucap Dewanto langsung menutup telepon tanpa mendengar persetujuan dari Ibunya. Ia bahkan tidak ingin melanjutkan pekerjaannya.
******
Hotel Marine sudah menjadi langganan keluarga Anggara saat menyelenggarakan acara makan malam penuh kejutan seperti saat ini. Dewant bahkan belum menginjakan kakinya di rumah. Untung saja ia masih meninggalkan kemeja dengan celana jeans yang baru saja di cuci oleh bagian laundry di kantornya. Sebuah kemeja sederhana seharusnya tidak masalah untuk menghadiri sebuah makan malam membosankan.
Ia segera menepikan mobilnya di area parkir yang cukup luas dari Hotel tersebut. Dewanto melirik jam tangannya. Seharusnya ia sampai lebih lama lagi agar tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan makan mala mini. Ponselnya tidak bergetar sama sekali. Bahkan Nada tidak mencoba untuk menghubungi meski hanya sekedar minta maaf karena telah meninggalkannya di kafe tadi siang. Sepertinya memang Nada menyadari kebohongan yang sudah Dewanto katakana tadi siang. Gadis itu sungguh keras kepala.
Kedatangan Dewanto langsung disambut oleh beberapa pelayan di depan pintu masuk. Restoran ini memang sudah jadi langganan keluarga Anggara terutama saat mengadakan makan malam penuh misteri seperti sekarang ini. Salah seorang kepala pelayan segera menyambut Dewanto dan mengantarkannya menuju meja yang sudah direservasi. Disana ia melihat Ibu dan Ayahnya sudah duduk berhadapan dengan calon besan –yang entah jadi atau tidak-.
__ADS_1
Tapi sedetik kemudian ia terpaku melihat punggung seorang wanita yang berdiri hampir menghalangi jalannya. Ayahnya segera melambaikan tangan padanya dan memanggil nama Dewanto. Sedetik kemudian wanita itu menoleh ke belakang. Betapa darahnya berdesir ketika melihat gadis yang biasanya terlihat casual kini terlihat anggun dan feminin. Gadis itu bahkan lebih cantik dari biasanya. Kenapa Nada ada disini?
“Kau……” ucap Nada terkejut saat melihat Dewanto berjalan mendekatinya.
“Kenapa kau ada disini?” Tanya Dewanto tidak kalah terkejut dengan Nada.
“Wahh….apa kalian sudah saling mengenal? Namanya Grenada, kamu bisa memanggilnya Nada. Nah, Nada…..ehm…ini putraku namanya Dewanto. Apa kalian sudah saling kenal?” Ucap Ibu Dewanto langsung menghampiri saat keduanya mulai bertemu mata.
“Dia……..” Nada mulai kebingungan untuk menjelaskan hubungan apa yang sebenarnya terjadi antara Dewanto dan Nada. Jika dibilang teman, sepertinya hubungannya belum sedalam itu. Jika dibilang rekan bisnis, bukan Nada yang bekerjasama dengan Dewanto.
“Nada adalah manajer keuangan Perusahaan Almunium yang akan mengadakan perjanjian kontrak kerjasama denganku, Bu. Kami hanya bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan.” Jelas Dewanto dengan terlihat santai. Ia seperti sudah terbiasa dalam menghadapi situasi semacam ini.
Ibu segera tersenyum bahagia dan menyuruh keduanya untuk segera duduk memulai acara makan malam. Nada menghela nafas ketika harus duduk berhadapan dengan Dewanto. Jadi, ia mulai bisa mengambil kesimpulan dalam peristiwa singkat ini. Bahwa Nada dipaksa melakukan perjodohan dengan Dewanto. Nada kembali teringat dengan rencana awal. Kali ini ia yakin jika Dewanto pasti bisa berkerjasama untuk tidak melanjutkan perjodohan ini.
Nada hampir tidak mempedulikan apa yang sudah dibicarakan oleh para orangtua tersebut. Ia memilih menikmati makan malamnya yang luar biasa ini. Sangat jarang ia bisa makan mahal semacam ini meskipun ia sebenarnya bisa saja membelinya. Sedangkan Dewanto dari tadi hanya menatap Nada dengan tatapan yang penuh kelembutan. Tidak menyangka jika gadis itu bisa berpenampilan secantik ini ketika berada di luar kantor. Mungkin sebaiknya ia sering-sering mengajak Nada makan malam agar bisa menikmati keanggunan yang ada di depan matanya. Bahkan piring makanan itu terasa tidak seindah pemandangan di depannya.
Dewanto dan Nada saling bertatapan sesaat. Nada melotot seolah memberi kode untuk menolak perjodohan ini. Tapi Dewanto menunjukan senyum jahilnya dan saat itu juga Nada merasakan firasat buruk akan terjadi.
“Saya bersedia melanjutkan perjodohan ini, Tante. Nada juga menerima perjodohan ini dengan senang hati. Iya kan, Nada?” Jawab Dewanto sambil tersenyum pada Nada yang mulai mengeluarkan kemarahannya.
“Syukurlah jika keduanya sudah setuju. Berarti tidak ada masalah lagi ya, Bu. Lalu kapan akan mulai acara pertunangannya?” Ucap Ibu Dewanto sangat antusias dengan keputusan anak pertamanya yang sangat dinantikan.
“Apa harus dibicarakan saat ini juga? Apa tidak terlalu cepat?” Tanya Ayah Nada yang mulai merasa pembicaraan ini sudah terlalu jauh.
“Lebih cepat lebih baik. Tiga bulan lagi adik Dewanto yang ada di luar negeri akan pulang. Bagaimana jika pernikahannya dilakukan setelah itu?” Ibu Dewanto mulai memberikan usul yang hampir membuat Nada ingin segera pergi dari meja itu.
__ADS_1
Nada bangkit dari duduknya dan segera berlari keluar restoran. Kejadian ini membuat kedua orangtua sempat terdiam dan bertanya-tanya. DEwanto segera berlari menyusul Nada. Gadis itu memang sedikit keras. Tapi bukan berarti tidak bis ditaklukan, bukan?
Dewanto menarik lengan Nada dan berhasil mencegah Nada pergi dari restoran itu. Nafasnya terengah-engah karena kesulitan berlari menggunakan high heels. “Kau mau kemana?”
“Apa ini yang kau rencanakan? Kau mendekatiku karena tahu tentang perjodohan ini, kan? Kau merencanakan sedemikian rupa dan membuatku serasa dipermalukan, kan?”
“Apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak tahu tentang acara ini. Aku juga terkejut saat tahu itu dirimu. Aku tidak bermaksud mempermalukanmu.” Jelas Dewanto dengan suara yang hampir sama dengan Nada.
“Lalu tadi apa? Kau membuat keputusan seakan kita berdua menyetujui acara bodoh ini!! kau bahkan tidak peduli dengan keputusanku.” Nada mulai mengeluarkan emosi dalam dirinya.
“Lalu bagaimana? Kau menolaknya? Kau ingin membuat Ayah dan Ibumu malu di hadapan orangtuaku? Berhentilah memikirkan dirimu sendiri, pikirkan juga orang tuamu !”
Kata-kata Dewanto seperti cambuk tajam bagi Nada. Ia paling tahu apa yang terjadi sebelum akhirnya bersedia datang menghadiri makan malam ini. Betapa mereka sangat mengharapkan Nada dalam acara perjodohan ini. Nada kembali menatap meja makan yang sudah terlihat cukup jauh. Ia sudah berlari hampir keluar restoran.
“Situasinya akan berbeda jika kau juga menolak perjodohan ini.” ucap Nada masih berusaha bersikeras untuk membatalkan perjodohan.
“Tapi aku tidak ingin menolaknya. Bukan karena orang tuaku, tapi juga demi diriku sendiri.” Ucap Dewanto sangat yakin. Ia bahkan tidak perlu berfikir terlebih dahulu ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ibunya Nada. “Aku minta maaf karena tidak jujur tadi siang. Aku mendatangi kantormu untuk mengajak makan siang, tapi rekan kerjamu mengatakan jika kau mengambil cuti dan biasanya berada di toko buku.”
Nada mendengarkan semua penjelasan Dewanto dengan baik. Ia tidak menyangka jika pria itu akan mengaku disaat seperti ini. Sebenarnya Nada juga tidak melihat adanya kebohongan dalam ucapan Dewanto.
“Aku mencari ke semua toko buku di kota ini dan kemudian menemukanmu disana. Maaf jika aku mengaku hanya kebetulan bertemu. Aku tidak bermaksud menguntit atau apapun yang kau pikirkan tentangku.”
Nada menghela nafas lega. Ia merasa tenang karena Dewanto sudah menjelaskan semuanya. Ia bahkan bisa pergi dari sana dengan tenang.
“Lalu, bagaimana dengan perjodohan ini?” Tanya Dewanto menghentikan kembali langkah Nada yang hendak meninggalkan restoran ini.
__ADS_1
“Kau bisa menolaknya. Bukankah kau tidak benar-benar menginginkan perjodohan ini?”
Dewanto kembali terdiam. Mengambil sebuah keputusan yang mungkin saja akan membawanya pada sebuah keadaan yang lebih baik atau bahkan justru lebih buruk dari ini. “Tapi aku menerimanya. Tidak bisakah kita belajar untuk saling memahami satu sama lain?”