Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Karma


__ADS_3

Tangan Nada gemetar saat menatap layar ponselnya. Satu tetes air matanya mengalir membasahi layar ponsel. Otaknya seolah memutar kembali segala kejadian yang sudah terjadi. Alasan mengapa Pandu lupa memakai cincinnya, itu bukan lupa. Tapi karena wanita yang saat ini menjadi foto profil media sosialnya. Sikap dingin dan lama membalas pesan selama beberapa hari ternyata inilah alasannya.


Perlahan tapi pasti Nada mengkaitkan segala sesuatu yang dirasa mengganjal selama ini. Semua kejadian terasa sinkron dengan hadirnya wanita ini dalam hidup Pandu. Apa kata-kata cinta dan sayang yang selama ini diucapkan hanya sebatas kata-kata tanpa ada kebenaran? Apa salahnya? Apa Nada sudah berbuat salah selama ini?


Mengapa ia sama sekali tak menyadari kejanggalan ini dari Pandu? Mengapa ia begitu bodoh? Telapak tangannya menutupi wajah dan bibirnya. Berharap bisa menutupi rasa sakit hati sekaligus kecewa yang ia rasakan saat ini. Ia tertunduk seolah kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya. Tangisannya semakin keras dan terdengar menyesakkan. Apa arti hubungannya selama ini? Tak berarti apa-apakah untuk Pandu? Apa wanita itu jauh lebih baik darinya? Tentu saja begitu. Pasti Pandu memilih wanita itu karena jauh lebih baik darinya.


Sesaat kemudian muncul posting baru dari Pandu. Pria itu menyebutkan nama wanita yang kini menjadi kekasih hatinya. Sasti. Nama itu akan selalu tertanam dalam lubuk hati Nada yang paling dalam sebagai wanita perebut kekasih orang.


******


“Nada, tunggu !!!!” teriak Dewanto berusaha mengejar Nada yang berlari keluar rumah Dewanto sambil menangis. Tapi ia tertahan oleh tangan Sasti yang tidak ingin kakaknya mengejar Nada. “Kalian berdua harus menceritakan semua yang terjadi diantara kalian bertiga setelah aku kembali nanti.” ucap Dewanto sambil menatap tajam Pandu yang masih terdiam karena terkejut bertemu Nada di rumah kakak iparnya.


Dewanto melepaskan tangan Sasti dan berlari menyusul Nada. Gadis itu bahkan bisa berlari cukup kencang dengan menggunakan sepatu wedges. Sedangkan Pandu dan Sasti masih berdiam dengan pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


“Kau tidak seharusnya mengatakan seperti itu.” ucap Pandu mulai membuka suara setelah kembali dari rasa terkejutnya. Kau benar-benar tidak sopan.”


Sasti yang kesal karena kakaknya lebih memilih Nada daripada dirinya, kini memanas karena suaminya juga menyalahkan atas perbuatannya. “Apa?! Kau juga mau membela wanita itu? Kau sudah lupa jika dia sudah tidak mau berurusan denganmu lagi? Kau tidak mungkin kembali lagi padanya. Sadarlah akan hal itu.”


“Memangnya kenapa jika aku membelanya?! Itu karena memang yang kau lakukan tadi salah!! Kau masih terlalu jauh dari kata dewasa. Pikirkan saja kesalahanmu!! Aku mau pulang !!” Ucap Pandu sambil berjalan keluar rumah.


Sejak kembali dari Jepang satu minggu yang lalu, Pandu memang tidak pernah lagi berada satu atap dengan Sasti. Ia memilih pulang ke rumah orangtuanya sambil mengurus berkas-berkas perceraian yang diperlukan. Ia sudah tidak sanggup lagi dengan sikap Sasti yang kasar dan kekanak-kanakan. Sudah lama Pandu menyadari jika ia salah dalam memilih pasangan hidup. Tidak seharusnya ia meninggalkan Nada yang selama beberapa tahun menemani dan menerimanya apa adanya.


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Beberapa kali Pandu mencari media sosial Nada untuk mencoba menghubunginya kembali. Ia bermaksud meminta maaf atas apa yang sudah dilakukan selama ini pada Nada. Respon Nada saat Pandu menghubunginya kembali memang diluar dugaan. Pandu berfikir jika Nada akan memakinya habis-habisan. Tapi justru Nada bersikap baik pada Pandu. Rasa bersalah semakin menguasai dirinya.


“Kau tidak ingin menyapa orangtuaku lebih dulu? Sungguh tidak sopan sekali. Baru saja datang langsung pergi begitu saja?! Apa kau mau mengejar Nada?”


Pandu melirik ke balik punggungnya dimana Sasti berdiri. “Apa yang akan kulakukan sudah bukan lagi urusanmu. Sebentar lagi surat perceraian akan datang dan sebaiknya kau menghadiri sidang atau semua akan berjalan dengan sangat lancar.” ucap Pandu sambil berjalan meninggalkan istrinya sendiri.

__ADS_1


Air mata sasti mengalir dengan deras. Ini bukan pertama kalinya Pandu pergi dari rumah. Selama berada di Jepang, sudah beberapa kali Pandu meninggalkan rumah setelah bertengkar hebat dengan Sasti. Hingga pada suatu hari ia mendengar jika suaminya menyukai salah seorang gadis Jepang di tempat kerjanya. Saat itulah ia merasakan sakit hati yang sangat dalam. Di satu sisi ia menyadari seperti apa rasa sakit yang dirasakan Nada saat ia mengambil Pandu darinya. Bagaikan sebuah karma yang sedang menghampiri. Namun, ia menolak untuk menyadari hal itu.


*******


Nada menatap jalanan malam melalui jendela mobil. Air matanya baru saja kering. Ia menaiki taksi menuju rumah orangtuanya. Ia tidak ingin kembali ke kos untuk sementara waktu atau Dewanto akan menemukannya. Bagaimana harus menghadapinya? Perasaan itu sudah terlanjur ia sadari. Sedangkan Dewanto ternyata kakak ipar Pandu. Kakak dari wanita yang sudah menghancurkan hubungannya dengan Pandu.


Bukan berarti jika Nada menyimpan dendam pada Sasti. Hanya saja berurusan dengan segala hal yang berkaitan dengan Pandu membuat hatinya tidak sehat. Ia sudah berjanji tidak akan mengingat lagi tentang Pandu. Tapi hari ini ia melanggar janjinya sendiri.


Nada melirik jam tangannya. Semoga orangtuanya belum tidur atau ia harus mencari penginapan terdekat untuk malam ini. Kepalanya seperti ingin pecah. Terlalu banyak yang sudah terjadi hari ini dan semoga besok sudah lebih baik atau ia akan kesulitan dalam bekerja.


Taksi yang ditumpangi Nada sudah sepenuhnya berhenti. Ia memberikan uang pada sopir sebagai ongkos perjalanan dan segera keluar dari taksi. Syukurlah jika lampu ruang tengah rumahnya masih menyala. Ia bisa merebahkan punggungnya sembari meredakan sakit di kepalanya. Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok pria yang berdiri di halaman rumahnya. Sejak kapan pria itu berdiri disana. Perasaan Nada menjadi buruk melihat sosok pria yang masih dalam wujud bayangan.


Ragu-ragu Nada melangkahkan kakinya. Untuk apa ada pria yang berdiri di halaman rumahnya semalam ini? Lampu halaman rumah Nada memang sedikit remang-remang. Cahaya lampu mulai terang ketika menapakkan kaki di teras rumah. Nada tetap melangkah dengan penuh hati-hati. Sorot lampu teras mulai menunjukan sosok pria itu. Lidahnya kelu ketika tahu jika pria itu adalah Pandu. Untuk apa dia mendatangi rumah Nada selarut ini?

__ADS_1


“Syukurlah kau baru pulang. Aku ragu untuk mengetuk pintu rumahmu. Tidak mungkin jika aku masih diterima setelah apa yang kulakukan padamu dulu.” ucap Pandu dengan tatapan kosong yang terlihat sangat mengenaskan. “Maafkan kejadian tadi. Dia hanya belum dewasa dalam menyikapi suatu masalah. Aku hanya memastikan kau sampai rumah dengan selamat.”


Kemudian Pandu pergi begitu saja meninggalkan Nada yang belum sempat berkata satu kata pun. Tatapan matanya sangat sendu. Nada menguatkan hatinya sendiri. Jangan sampai ia luluh kembali hanya karena sorot mata Pandu yang terasa sangat menyedihkan. Seolah semua beban di muka bumi dipikul pria itu seorang diri.


__ADS_2