Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Tak ingin kehilangan


__ADS_3

Waktu akan selalu berputar tanpa henti meski sebenarnya ingin sekali berhenti walau sesaat. Malam akan berganti pagi. Pagi akan segera berlalu menjadi siang hingga akhirnya malam kembali lagi. Meski sama-sama malam, namun terasa berbeda. Pada akhirnya malam tak akan pernah sama meski namanya sama. Seperti halnya masa lalu. Tidak akan pernah terulang kembali meski situasinya sama.


Nada pulang kembali ke dalam kos pagi-pagi sekali. Ia memutuskan untuk kembali agar tidak membuat kedua orangtuanya khawatir. Tentu saja ia belum menghubungi Dewanto sejak kejadian itu. Ia butuh waktu untuk benar-benar mencerna dan memutuskan dengan bijaksana.


Nada menekan tombol pada pengunci pintu kamar kosnya. Suara tombol itu membuat tetangganya keluar dari kamar kosnya.


“Nada? Akhirnya kau pulang juga.” Sahut Maria setelah buru-buru membuka pintu.


“Maaf ya, aku tidak memberitahumu kemarin. Aku pulang ke rumah. Tiba-tiba saja aku ingin pulang. Ternyata aku masih saja anak manja.” Jelas Nada sambil tertawa hambar.


Maria terdiam. Ia menyadari jika senyuman yang ditunjukkan Nada itu senyum palsu. “Semalam Dewanto kesini. Maaf aku sudah menceritakan semuanya pada Dewanto.”


Nada terdiam sesaat. Seandainya kemarin ia memilih pulang ke kos, mungkin saja yang ia temui adalah Dewanto bukan Pandu. “Semuanya?”


“Tentang kau dan Pandu.”


Nada memang tidak berniat menyembunyikan tentang Pandu tapi ia juga tidak berniat untuk menceritakan. Baginya, segala hal tentang Pandu sudah berakhir. Baginya, tidak ada lagi yang perlu dibahas berkaitan tentang Pandu. “Begitu ya.”

__ADS_1


“Sebaiknya kalian segera bicarakan masalah ini. Aku tahu Dewanto tidak akan cemburu karena Pandu hanya ada di masa lalumu dan kalian juga tidak akan bertemu lagi…..” Maria berbicara panjang lebar namun Nada buru-buru memotong kata-kata Maria.


“Kami bertemu.”


Nada berkedip beberapa kali. Merasa kebingungan dengan kata-kata Nada. “Apa?”


Nada menghela nafas. “Aku sudah bertemu Pandu saat akan makan malam di rumah Dewanto. Mereka sudah kembali dari luar negeri. Itulah alasanku tidak pulang kemarin.”


Maria melangkahkan kakinya perlahan. Khawatir sahabatnya akan terguncang lagi. Terakhir kali membicarakan tentang Pandu, Nada menangis sejadi-jadinya. “Kau harus membicarakan baik-baik dengan Dewanto. Apapun keputusanmu, aku pasti akan mendukungmu.”


Nada memaksakan seulas senyum pada Maria. “Aku harus bersiap untuk berangkat kerja. Kita akan bicarakan lagi nanti.” ucap Nada sambil memasuki kamarnya.


*******


Suasana pagi di PT. Metal Grey Inovation jauh lebih ramai dari biasanya. Para gadis heboh berkumpul di lobby kantor. Beberapa diantaranya berteriak histeris, ada juga yang tertawa dengan sangat bahagia, ada juga yang terkagum-kagum da nada juga yang hanyut dalam pikiran masing-masing. Bukan karena kesurupan atau sedang ada pertunjukan sulap. Para staf yang kebanyakan gadis itu histeris melihat seorang pria dengan mobil berwarna merah yang berhenti di halaman depan. Pria itu keluar dari mobil dengan memakai kacamata hitam.


Teriakan para gadis semakin kencang saat pria itu membuka kacamatanya. Dewanto memang sudah sangat terkenal di perusahaan itu. Selain kaya dan tampan, Dewanto juga ramah dan baik hati serta bijaksana. Tubuhnya yang tinggi dengan body yang cukup atletis membuatnya tampak maskulin meski kulitnya tergolong jenis sawo matang.

__ADS_1


Tidak sampai disitu, gadis-gadis berteriak semakin kencang ketika Dewanto mengambil sebuah boneka teddy bear besar berwarna putih bersih yang masih terbungkus rapi dengan plastik bening. Ukuran boneka itu hampir setengah dari tubuhnya. Teriakan semakin histeris saat Dewanto mengambil seikat bunga mawar yang terlihat masih segar dan merona.


Nada berjalan perlahan dan bertanya-tanya dengan kerumunan yang ada di hadapannya. Apa mereka semua sedang melakukan demonstrasi? Tapi kenapa ia tidak mendengar kabar apapun tentang ini? Mungkinkah mereka mogok kerja? Tapi kenapa? Ada masalah apa yang tidak ia ketahui? Tidak ada alasan baginya untuk bergabung dengan mereka tanpa sebab. Ia memutuskan untuk menerobos kerumunan dengan sangat hati-hati. Ia tidak ingin merusak penampilan yang sudah ia tata dengan sangat baik pagi ini.


Semua mata tertuju padanya ketika sudah berhasil keluar dari kerumunan wanita. Nada tak berkutik saat kedua mata mereka bertemu. Mengalirkan sebuah energi aneh namun menenangkan baginya. Seperti sengatan listrik dengan tegangan yang rendah. Mengejutkan namun menyenangkan. Nada merapikan sedikit bajunya yang berantakan karena menerobos kerumunan. Ia terus berjalan tanpa mempedulikan Dewanto yang masih menatap mengikuti arah Nada berjalan. Dewanto menarik lengan Nada dengan sekali tarikan. Hal ini membuat Nada terkejut sesaat.


Lengan Dewanto melingkar melewati leher bagian belakang dan terjatuh tepat pada pundak Nada. Dewanto menyerahkan boneka teddy bear itu pada Nada. Ia menerima boneka itu dengan ekpresi terkejut yang luar biasa. Apa ini salah satu bentuk pemaksaan? Kenapa ia harus menerima boneka itu? Memangnya ini percintaan anak SMA?


“Perkenalkan semuanya. Wanita ini, Felycia Grenada Vizka adalah tunanganku. Jadi tolong perlakukan dengan baik. Jika ia tergores sedikit saja, maka hatiku juga akan tergores sangat dalam.” ucap Dewanto sambil menyerahkan mawar merah. Kemana perginya Dewanto yang terkenal sangat cool dan bijaksana? Justru semakin mirip dengan anak SMA.


“Kau ingin membuatku menjadi bulan-bulanan di kantor? Apa-apaan ini? Memangnya kita masih remaja?” bisik Nada sambil melotot pada Dewanto. Ini benar-benar sudah membuatnya malu di hadapan seluruh kantor.


“Aku sudah mendengar semuanya tentang kau dan Pandu. Tapi itu hanya masa lalu. Aku tidak peduli. Aku memilih untuk mempercayaimu. Jadi, kau juga harus mempercayaiku, ya” Jawab Dewanto sambil berbisik juga. Namun ia tetap menebarkan senyuman kepada para penggemarnya di kantor orang lain.


“Apa kau tidak kerja? Apa karena seorang direktur jadi bebas untuk datang ke kantor kapan saja?” Tanya Nada untuk mengubah topik pembicaraan. Ia berjalan menjauh dari Dewanto tanpa menoleh lagi ke belakang. Nada tidak ingin membuat pertunjukan menjadi lebih rumit lagi.


Dewanto hanya menatap punggung gadis itu sampai benar-benar menghilang ke dalam kantor. Ia sudah berfikir banyak hal dalam semalam. Mungkin memang benar jika pandu dan Sasti benar-benar bercerai, maka aka nada kemungkinan Pandu mendekati Nada lagi. Tapi akan berbeda cerita jika Nada dan Dewanto sudah menikah. Tapi itu adalah cara paling licik yang terlintas dalam benak Dewanto untuk mempertahankan Nada tetap disampingnya.

__ADS_1


Dewanto segera pamit dari kerumunan gadis yang masih terkejut dengan pengumuman pernikahan yang dikatakannya. Ia segera masuk ke dalam mobil dan menyandarkan punggungnya sejenak. Bisakah mempercepat pernikahan secara sepihak? Dewanto dan Nada sudah sepakat untuk memberi keputusan akhir bulan ini. Itu masih sekitar sepuluh hari lagi. Harus mencari alasan apa agar bisa mempercepat pernikahan sebelum perceraian Pandu selesai? Ahh,,,,dia mendadak sudah gila. Dewanto melajukan mobilnya dan kembali bekerja ke kantornya sendiri. Bukan kantor tempat Nada bekerja.


__ADS_2