Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Time machine


__ADS_3

Karena rencana awal adalah berangkat kerja, maka Nada masih memakai pakaian seragam kerjanya. Ia lupa untuk ganti baju. Itu membuatnya merasa tidak tenang. Bahkan jaket juga tidak membawa. Bagaimana jika ada salah seorang marketing perusahaan yang melihatnya di jalan? Pandu beberapa kali melirik Nada yang terlihat tidak nyaman. Ia segera mengambil cardigan miliknya dan melingkarkan pada punggung Nada.


Nada terdiam. Apa yang sedang terjadi? Kenapa situasinya jadi seakan-akan mereka sedang berkencan? Benarkah yang sedang ia lakukan? Apa Pandu mendengar isi hatinya? Nada segera membetulkan posisi cardigan dengan membalutkan di tubuhnya. Setidaknya untuk menutupi seragamnya sebagian. Aroma bedak bayi meraih indera penciumannya. Aroma yang khas dari Pandu. Nada masih mengingatnya. Bahkan hal itu tidak berubah sama sekali.


“Kita mau kemana?” Tanya Nada saat mobil Pandu mulai melaju.


Pandu terdiam sesaat. “Ada film yang ingin kutonton. Tidak keberatan nonton film kan?”


Nada sudah terlanjur menyetujui permintaan terakhir Pandu yang bisa ia kabulkan. Jika itu agar ia tak lagi bertemu dengan pria ini, tidak masalah baginya jika harus sampai mengambil cuti. Nada juga merasa tak perlu untuk memberitahu Dewanto tentang acara hari ini. Ia hanya berharap semoga Dewanto tidak mendatangi kantornya.


Setelah itu kita kemana?”


Pandu kembali terdiam. Jujur. Ia sama sekali tidak punya persiapan apapun untuk acara ini. Semua terjadi begitu saja dan ia tidak menyangka Nada akan menyetujui permintaannya semudah ini. Sesungguhnya ia tak pernah menginginkan ini. Tapi ia harus melakukannya. Nada berhak bahagia tanpa dirinya. Kesempatan terakhir baginya untuk memperbaiki semuanya sebelum ia pergi.


“Entahlah. Aku belum sempat memikirkannya. kemanapun tak masalah asalkan itu bersamamu. Karena aku hanya punya waktu seharian ini.” ucap Pandu. Pandangannya lurus menerawang jalanan yang terasa lenggang.


Perasaan Nada tidak tenang. Kenapa kata-kata Pandu seolah seperti kata-kata perpisahan? Memangnya dia mau kemana? Tapi bukankah inilah yang diinginkan Nada? Tidak pernah lagi bertemu Pandu. Tapi kenapa….seolah ada yang hilang?


“Nanti kalau pulang, mampir toko buku, ya.” ucap Nada sambil menatap layar ponselnya. Tidak biasanya Dewanto tidak memberi kabar sama sekali. Apa mungkin sudah sampai kantor dan tidak sempat menghubungi?

__ADS_1


“Jika sampai malam tidak masalah, kan?”


Nada menatap pengemudi yang ada di sampingnya. Mereka berdua akan berpergian selama seharian penuh. Apa itu masih kurang? kenapa harus sampai malam? kecurigaan Nada mulai muncul. Ada sesuatu yang tidak beres. Apa pria ini berencana kembali ke luar negeri?


“Apa harus sampai malam? Apa sampai sore saja tidak cukup?”


Sesaat Pandu terdiam. Seolah seperti memikirkan sesuatu. Ia memaksakan seulas senyum pada Nada beberapa saat kemudian. “bagaimana jika kita ke puncak saja?”


Mata Nada membulat sempurna. Di satu sisi ia sangat senang jika pergi ke puncak. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia merasakan piknik. Tapi di sisi lain ia kembali berfikir apa tidak masalah jika berpergian sampai sejauh itu? Memang jika pergi ke puncak, kemungkinan ia tertangkap oleh karyawan marketing sangat tipis sekali jika dibandingkan dengan pergi ke mall.


“Sungguh kau akan membawaku ke puncak? Dengan baju setipis ini?” Tanya Nada mendekatkan wajahnya hanya untuk melihat ekspresi Pandu.


*******


Palu sudah diketuk. Sidang perceraian akan dilanjutkan kembali dua hari lagi. Keputusan akan diambil pada sidang terakhir. Pandu bangkit dari kursinya dan berjalan keluar ruang sidang. Ia berjalan tanpa peduli dengan Sasti maupun keluarganya. Keputusannya untuk bercerai sudah sangat bulat. Tentu saja kedua orangtuanya tidak menginginkan hal itu. Orangtua mana yang ingin melihat pernikahan anaknya hancur berantakan.


Dewanto segera menyusul Pandu. Ia harus membicarakan sesuatu karena sejak Pandu kembali dari luar negeri, ia merasa tidak pernah tenang. Terutama saat mengetahui cerita masa lalu antara Pandu dan Nada. Sepertinya ia harus membicarakan ini dengan Pandu. Memikirkan solusi terbaik untuk semua pihak.


“Pandu, tunggu !” teriak Dewanto berusaha menyusul langkah Pandu yang berjalan lumayan cepat. “Ada yang ingin kubicarakan.”

__ADS_1


Pandu menghentikan langkahnya segera setelah mendengar namanya dipanggil. Baginya, sosok Dewanto adalah seorang kakak yang baik dan sangat peduli pada keluarga. Ia memang tidak terlalu akrab dengan Dewanto karena pertemuan keduanya bisa dibilang tidak mempunyai cukup banyak waktu.


“Katakan saja.” ucap Pandu dengan ekspresi datar. Ia terlihat sangat capek dan ingin segera meluruskan punggungnya setelah menghadiri persidangan sepanjang hari.


Dewanto menatap tajam kedua mata Pandu. Pria itu sampai detik ini masih menjadi adik iparnya. Pria yang menjadi pilihan adik kesayangannya. Tidak mungkin ia membenci Pandu yang telah menjaga Sasti selama ini. Tapi ia juga harus menjaga apa yang berharga baginya.


“Aku ingin bernegosiasi denganmu.” ucap Dewanto dengan mantap. “Setelah ini kau dan adikku akan resmi bercerai. Aku dan keluargaku tidak akan menuntut apapun darimu. Yang sudah kami berikan, takkan kami minta kembali. Tapi bisakah kau memenuhi satu persyaratan dariku?”


Pandu terdiam. Ia sadar jika persyaratan itu tentu saja bukan hal yang menyenangkan baginya. Ada harga yang harus ia bayar atas segala keputusan yang diambil. Negosiasi seperti apa yang ingin ditawarkan padanya? “Katakan saja.”


“Aku akan membiarkanmu pergi kemanapun asalkan kau meninggalkan Nada. Menjauhlah dari gadis itu. Maka, apapun yang ada pada keluargamu tidak akan kuambil kembali. Kau juga bebas pergi kemanapun. Akan kubantu untuk mencari pekerjaan yang layak sesuai tempat tinggalmu kelak. Tapi tinggalkan Nada.”


Sejak awal memang semua kesalahannya. Itu karena kebodohannya. Seandainya ada mesin waktu, mungkin saja ia akan memutar kembali waktu yang telah berlalu. Ingin ia perbaiki, ingin ia kembalikan seperti semula. Namun semuanya terlambat. Masa depan sudah bergulir terlalu jauh. Bahkan jika ia memperbaikinya sekarang, ia hanya akan menemukan jalan yang lain. Bukan bersama Nada.


Kedua tangan Pandu mengepal erat. Ia berusaha menahan segala emosinya. “Akan kupenuhi persyaratanmu. Asalkan kau memberiku waktu sehari penuh bersama Nada tanpa kau menghubungi Nada sekalipun.” ucap Pandu dengan tegas. “Kau juga tidak boleh membalas atau menjawab teleponnya selama satu hari penuh itu.”


Pria di hadapannya ini sungguh bisa bernegosiasi dengan baik. Ia sangat tahu bagaimana mendapatkan win-win solution. Sepertinya membiarkan mereka selama satu hari penuh tidak akan menimbulkan pengaruh yang banyak. Toh, setelah itu mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Begitulah pikir Dewanto hingga akhirnya ia menyetujui kesepakatan diantara mereka.


******

__ADS_1


Pandu dan Nada melaju menuju puncak dengan mobil sport milik Pandu. Setelah puas membeli jaket tebal, mereka menuju puncak dengan penuh semangat. Keduanya bahkan membeli jaket dengan warna yang sama. Bercanda dan bernyanyi bersama selama perjalanan menuju puncak. Melupakan segala hal yang pernah terjadi di masa lalu. Membuang sejenak beban di kehidupan nyata. Untuk hari ini saja, biarkan mereka mengulang segalanya. Untuk pertama kalinya, mesin waktu yang selama ini diinginkan Pandu akhirnya terkabulkan. Dan Nada kembali tersenyum lepas seperti dulu lagi.


__ADS_2