
Aku terbungkus oleh tembok besar dan kokoh
Gelap serta suram menjadi teman bagiku
Tembok yang terbuat dari rasa takut dan benci
Akibat pengkhianatan dan kebencian
Aku hanya terus menatap ke depan
Dan melewatkan hal baik dalam hidupku
(Felysia Grenada Vizka)
Nada hanya mengaduk-aduk kopi yang ada di hadapannya sambil menatap kosong jam tangan yang diletakkan di meja. Bukan karena memikirkan laporan keuangan yang sedang ia kerjakan, tapi memikirkan bagaimana menyingkirkan jam tangan ini tanpa harus membuangnya. Kini ia bahkan merasa jika jam tangan itu menggambarkan dirinya yang dibuang begitu saja. sungguh menyedihkan.
“Kau benar-benar tidak mengenali laki-laki tadi?” Tanya Cecyl yang mulai khawatir melihat kondisi sahabatnya ini. Bukankah beberapa menit yang lalu Nada bersemangat ingin makan malam? Kenapa sampai di restoran justru hanya memesan secangkir kopi?
Nada hanya menggeleng asal. Baginya tidak peduli siapa laki-laki itu, yang jelas laki-laki itu malah mengembalikan sesuatu yang ia buang. Hal itu membuatnya frustasi. Ponsel Nada tiba-tiba berdering. Satu nama yang muncul di layar ponsel membuatnya bergegas untuk menerima panggilan tersebut.
“Ya, Pak Direktur?” jawab Nada seketika setelah ponsel tersambung. Khawatir terjadi sesuatu di kantor yang membuat direktur harus menelepon seperti ini.
“Bisa ke ruangan saya sebentar? Ada tamu yang ingin bertemu.” ucap Direktur dalam telepon. Sepertinya sangat mendesak karena menelepon setelah jam kerja selesai.
__ADS_1
“Baik, Pak. saya segera kesana.”
Nada mematikan sambungan telepon dan menghela nafas panjang. Bahkan ia harus dipanggil direktur ketika sudah lewat jam pulang kerja. Inilah beban yang harus dipikul seorang pemimpin. Nada berkemas hendak meninggalkan restoran. “Maaf, lain kali biar aku yang traktir. Aku harus kembali ke kantor sekarang.”
“Apa sangat darurat? Kau bisa habiskan kopimu dulu.” bujuk Cecyl yang terlihat cemas melihat sahabatnya panik setelah mendapat telepon dari Direktur tempatnya bekerja. Ini bukan pertama kalinya Nada mendapat telepon darurat. Bahkan disaat hari minggu terkadang mendapat panggilan darurat yang sebenarnya masih bisa dikerjakan saat hari kerja.
“Aku akan menghubungimu lagi nanti. Sampai jumpa.” Nada segera pergi meninggalkan Cecyl sendirian bersama makanan di hadapannya.
*******
Nada tercengang saat pertama kali membuka pintu ruangan direktur. Laki-laki yang mengembalikan jam tangannya sedang berbincang akrab dengan direktur. Apa yang terjadi? Siapa laki-laki ini? Mengapa ia dipanggil saat jam pulang bahkan sudah lewat? Kedua mata Nada kini saling bertatapan dengan kedua mata laki-laki itu. Sedikit banyak terlihat jika laki-laki itu terkejut saat melihat Nada masuk ruangan.
“Oh, perkenalkan ini Bu Grenada, manajer keuangan disini.” ucap Pak Direktur berjalan menuju Nada yang masih berdiri di ambang pintu. “Ini Pak Dewanto, investor yang akan memberikan dana kepada kita sebagai tambahan operasional dalam perluasan eksport import.”
“Salam kenal juga, Bu Nada.”’ balas Dewanto dengan sangat sopan. Matanya tak berhenti memperhatikan pesona Nada. Dalam hatinya dipenuhi pertanyaan tentang Nada.
“Pak Dewanto bilang, ia terkesan dengan pelaporan keuangan yang disajikan dalam proposal. Itu sebabnya beliau ingin bertemu denganmu. Kau belum pulang, bukan?”
Nada buru-buru melempar senyum manisnya ke arah Direktur. “Tentu saja, Pak. Tidak masalah. Untung saja saya belum pulang.”
Dewanto memiringkan kepalanya seolah menemukan sebuah penemuan aneh yang terjadi. Jelas saja ia menyadari bahwa Nada baru saja keluar kantor saat Dewanto hendak menemui Direktur. Apa ini salah satu bentuk sikap patuh terhadap atasan? Nada terlihat tidak ingin terlalu memikirkan apa pendapat Dewanto tentang dirinya. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah pulang lalu istirahat.
“Baiklah, Bu Nada. Sepertinya hanya itu yang bisa saya bicarakan dengan Anda. Maaf mengganggu waktu Anda. Terima kasih.” ucap Pak Direktur begitu saja lalu melanjutkan mengobrol dengan Dewanto.
__ADS_1
Dewanto hanya melirik sekilas kepergian Nada. Banyak hal yang ingin ia ketahui tentang wanita itu. Banyak pertanyaan yang terlintas di pikirannya. Kapan bisa menemui wanita itu lagi?
Nada menghela nafas panjang saat keluar dari ruangan Direktur. Seolah di dalam sana tidak ada sedikitpun udara. Ia berjalan menuju ruangannya dan membereskan meja yang tadi ia tinggalkan sebentar. Mood untuk bekerja kembali sudah menghilang. Ia hanya ingin pulang dan tidur. Rekan kerjanya sudah pulang lebih dulu. Nada segera mengunci ruang kantornya.
“Kau sudah benar-benar mau pulang?” sapa Dewanto yang sepertinya sudah selesai dengan Pak Direktur. Jika diperhatikan baik-baik Dewanto masih belum pantas dipanggil sebutan “Pak” karena kulit wajahnya bahkan masih terlihat cukup halus.
“Ya. Aku hanya kembali sebentar untuk membereskan sisa dokumen yang tertinggal.” ucap Nada tanpa menoleh. Rasanya ia masih malu karena kejadian jam tangan yang tidak pernah ia duga sama sekali.
“Apa makan malam dengan temanmu sudah selesai? Maaf mengenai hal ini. Aku tidak tahu jika tadinya kau sudah mau pulang. Jika berkenan, bolehkah aku mentraktir makan malam sebagai ganti makan malammu yang terganggu tadi?”
Nada tersenyum sinis. “Kupikir Anda terlalu sibuk untuk mengajak makan malam seorang karyawan seperti saya. Tapi terima kasih untuk tawarannya. Saya akan melanjutkan makan malam di rumah.” ucap Nada sambil berlalu. Ia tak lagi peduli tentang investor atau apalah itu. Ia cukup merasa tidak enak saat jam tangan itu kembali padanya.
“Apa Anda sudah menikah?” Tanya Dewanto yang kemudian menghentikan langkah Nada. “Anda tidak terlihat cukup pantas menjabat sebagai manajer. Saya rasa Anda terlalu muda untuk posisi manajer.”
Nada berbalik dan menghela nafas. “Jadi maksud Anda, jabatan manajer hanya pantas untuk seorang wanita yang sudah menikah? Sedangkan untuk wanita lajang sepertiku hanya pantas sebagai staf biasa?”
“Tidak juga. Aku tidak mengatakan itu.” Ucap Dewanto mulai sedikit berkelit. “Aku hanya ingin mengatakan jika di usia Anda saat ini, sudah menjabat sebagai manajer, bukankah itu menakjubkan?”
“Kurasa yang ingin Anda sampaikan bukan itu.” Nada mulai frustasi dengan Dewanto. Laki-laki itu membuat darahnya mulai mengalir.
Dewanto mulai berkacak pinggang. “Tidak masalah apa inti yang ingin kusampaikan. Yang jelas informasi itu sudah menjawab sebagian pertanyaan tentangmu, Nada.”
Kemudian Dewanto pergi begitu saja meninggalkan Nada yang masih berdiri dengan sejuta pertanyaan baru di kepalanya. Mimpi apa Nada semalam sampai bertemu dengan laki-laki menyebalkan seperti itu. Apakah ke depannya ia harus sering berurusan dengan laki-laki itu? Nada menarik nafas panjang. Tentu saja ia harus sering berurusan dengan laki-laki itu. Dia adalah investor utama dalam proyek besar yang sedang dijalankan perusahaan tempatnya bekerja. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Nada menyesal menjadi seorang manajer keuangan.
__ADS_1