
Telapak kaki Nada mulai tak bisa diam. Rasanya panas karena mengenakan high heels. jari-jari tangannya mulai tak berhenti bergerak. Menunggu adalah hal yang paling membosankan dalam hidupnya. Meski begitu, secara tak sadar ia masih saja menunggu Pandu kembali. Padahal itu hal yang tidak mungkin akan terjadi.
Nada bangkit dari tempat duduknya dan kembali menghampiri meja reseptionis. Entah sudah ia lakukan berapa kali. Ia datang ke kantor Dewanto karena perintah Pak Direktur untuk menyerahkan sendiri laporan keuangan bulan ini. Ia memilih mendatangi kantor tersebut pada saat jam makan siang agar tidak mengganggu jam kerjanya. Tapi rupanya ia telah mengambil keputusan yang salah. Dewanto, sang direktur perusahaan batu bara itu sedang ada meeting di luar kantor.
Sebenarnya ia bisa saja meninggalkan kantor itu dan kembali lagi besok. Tapi ternyata Dewanto sudah meninggalkan pesan pada reseptionisnya untuk meminta Nada menunggu ia kembali. Perutnya sudah beberapa kali berkicau. Tahu akan jadi seperti ini, lebih baik ia datang setelah makan siang.
“maaf kak, apa Pak Dewanto masih lama? Saya bisa menitipkan berkas ini pada Anda saja? Saya harus kembali ke kantor.” ucap Nada mulai melakukan negosiasi dengan pegawai reseptionis di kantor Dewanto.
“maaf, Bu Nada. Ini perintah langsung dari Pak Dewanto karena ada beberapa hal yang perlu ditanyakan terkait investasi ke perusahaan tempat Anda bekerja.” jelas pegawai reseptionis itu tetap berusaha bersikap ramah menghadapi Nada yang mulai cerewet.
Nada menghela nafas lemas. Bertanya-tanya dalam hati akan menunggu berapa lama lagi? Lagipula kenapa Dewanto meminta agar Nada yang menyerahkan laporannya sendiri? Kenapa harus meminta hal semacam itu melalui direkturnya? Nada jadi tak bisa mengatakan “tidak” jika merupakan perintah langsung dari direkturnya.
Sekali lagi, ia melirik jam tangannya. Kali ini ia tidak mengenakan jam tangan yang menyebabkan ia bertemu secara tidak sengaja dengan Dewanto. Jika diingat lagi, betapa malunya saat itu ketika ia berniat membuang jam tangan tersebut dan malah berakhir dengan dikembalikan kembali jam tangan itu dengan kondisi sangat sehat.
“kau sudah menunggu lama?” ucap suara seseorang yang berdiri tepat di belakang Nada. Ia mulai terbiasa dengan suara itu. Meskipun baru beberapa hari bertemu.
Nada menoleh ke sumber suara. Ekspresinya berubah lega saat melihat orang yang dari tadi ia tunggu sudah datang. “Syukurlah Anda sudah kembali. Saya hanya ingin menyerahkan berkas laporan bulan ini.” ucap Nada sambil menyerahkan amplop berwarna cokelat kepada Dewanto. “Terima kasih. Saya harus kembali sekarang.”
“kau tidak ingin makan siang dulu?” Tanya Dewanto buru-buru ketika Nada hendak meinggalkannya. “Aku terpaksa buru-buru melewatkan makan siang dengan klien karena mendengar kamu sedang menungguku di kantor. jadi, bisakah kamu menemaniku makan siang?”
“Saya mohon maaf sebelumnya. tapi Saya harus segera kembali ke kantor. Lagipula Saya belum lapar.” ucap Nada dengan mantap.
Tiba-tiba saja perut Nada mengeluarkan bunyi yang sangat tidak menyenangkan. Bunyi yang menandakan bahwa perutnya sedang sangat kelaparan. Dewanto menahan tawanya demikian juga dengan reseptionis yang tidak sengaja mendengar suara perut Nada. Ingin rasanya ia segera menghilang dan pergi dari kantor itu. Rasa malunya kini membuat wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Ia kehilangan kata-kata secara mendadak.
“Anggap saja suara dari perutmu itu menjawab tawaran makan siang denganku. Kita akan pergi ke café sebelah. Biar aku yang traktir.” ucap Dewanto sambil berjalan dengan puas karena berhasil membuat Nada ikut makan siang dengannya.
Nada hanya bisa menutupi wajahnya sambil berjalan mengekor di belakang Dewanto. Ia sudah kalah. Mau tidak mau ia harus mengikuti kemana Dewanto akan pergi membawanya. Meskipun tadi sudah jelas dikatakan jika akan pergi makan siang ke café yang terletak di sebelah kantor Dewanto. Beberapa pasang mata sedang disibukkan dengan pasangan yang keluar dari kantor pertambangan batu bara. Tentu saja Dewanto yang sangat berwibawa di hadapan karyawannya menjadi penyebab utama perhatian mereka.
Sebenarnya itu bukan café tapi lebih mirip warung makan serba ada yang bisa mengambil porsi makan sesuka hati. Nada sempat takjub sesaat. Seorang direktur perusahaan batu bara makan siang di warung pinggir jalan? Dewanto menyapa pemilik warung dengan sangat sopan dan tetap ramah. Ia juga saling menyapa dengan pelanggan lain. Sepertinya ia sudah menjadi langganan tetap warung itu.
__ADS_1
Nada segera berjalan acuh mencari tempat duduk yang tenang dan tetap bisa memandangi keadaan di sekitar. “kau sering datang kesini?”
“begitulah.” jawab Dewanto sambil membetulkan posisi tempat duduknya. Ia memilih duduk berhadapan dengan gadis itu karena baginya memandangi Nada adalah hal yang menyenangkan. “Mie ayam disini terkenal sangat enak. Aku sudah mencobanya. Kau ingin coba juga?”
Nada mengangguk dengan semangat. Kondisi perutnya memang sudah tak bisa dimaklumi lagi. Dewanto melambaikan tangan kepada pemilik warung makan tersebut. “Mie ayam 2 mangkuk, bu.” Ia melirik Nada hendak menanyakan minuman yang dipesan. Namun Nada yang peka langsung memberi isyarat dengan bahasa bibir. “Minumnya es teh 2 ya, bu.”
“Oke, Pak Bos.” jawab pemilik warung dengan sangat ramah. Pemilik warung itu bahkan tidak segan dengan jabatan Dewanto dan tetap memperlakukan seperti pelanggan lainnya.
Suasana canggung terjadi diantara keduanya. Tak banyak hal yang mereka ketahui satu sama lain. Dewanto melirik jam tangan yang dikenakan Nada. Sepertinya ia bisa membuka sebuah pembicaraan dengan gadis di depannya ini.
“Kau tidak memakai jam tangan yang terjatuh waktu itu?”
Nada sempat tertegun sejenak. Tidak menyangka akan membahas jam tangan itu lagi. Ia bahkan sudah bertekad untuk tidak menggunakan jam tangan itu lagi. Meski sebenarnya sayang juga jika dibiarkan begitu saja.
“Ahh, iya. ada di rumah. Hari ini aku pakai jam tangan yang lain.” jawab Nada singkat tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang jam tangan itu. Namun, rupanya harapan Nada harus musnah karena pembahasan terus berlanjut.
“Aku sempat kaget karena kau terdiam sejenak dan rasanya saat itu matamu menjadi berkaca-kaca. Kupikir kau akan menangis saat itu.”
“Apa ini benar-benar enak?” Tanya Nada sambil meraih sumpit di samping mangkok mie. Sebagai kebiasaan, Nada menyeruput minumannya terlebih dahulu sebelum menyantap makanan. Entah apa fungsinya.
“Tentu saja. Kau akan ketagihan setelah menyantap mie ayam ini sampai habis. Aku tidak akan tanggung jawab jika sampai lain hari kau ingin menyantap makanan ini lagi.”
“Jika ketagihan, aku tinggal datang kesini lagi, kan? Itu mudah.” jawab Nada santai.
“Tapi saat kau kesini, mampirlah ke kantorku dulu. Akan kutemani.” ucap Dewanto sambil menyantap mie ayam pesanannya dengan lahap.
Nada hanya tersenyum melihat Dewanto makan dengan lahapnya tanpa merasa jaim ataupun malu di depan Nada. “Aku tahu jika kau sangat sibuk. Jadi, aku takkan merepotkanmu.”
Dewanto meletakkan sumpitnya di dalam mangkuk dan meneguk es teh pesanannya. Mencoba menelan makanannya dengan cepat dan tergesa-gesa. “Apanya yang sibuk? Kalau urusan makan siang, sesibuk apapun tetap harus makan. Kau bisa menghubungiku kapan saja jika ingin kesini walaupun tidak mampir kantorku.”
__ADS_1
Nada tidak ingin memperpanjang pembahasan ini. Rupanya ia menyadari arah pembicaraan dan memilih untuk diam tidak melanjutkan. Ia melanjutkan melahap makanannya. Ingin rasanya segera pulang dan mengakhiri pertemuan ini.
“Apa kau kesini dengan mobil? Aku tidak lihat mobil tamu diluar.” Tanya Dewanto sambil menghabiskan suapan terakhir. Ia mengambil tisu dan membersihkan sisa kuah yang ada di bibirnya.
“Aku pakai transportasi umum.” jawab Nada singkat sambil meneguk tetesan es teh terakhinya. Ia melihat ponselnya. Sudah waktunya kembali atau Pak Direktur akan mencarinya di ruangan dan membuat semua rekannya gempar.
Dewanto tersedak dan Nada buru-buru memberikan air mineral yang ada di sebelahnya. Setiap meja disediakan air mineral sebagai tambahan jika minuman yang dipesan sudah habis. Dewanto segera meneguk air mineral itu dan mengatur kembali nafasnya. Ia menatap Nada dengan heran.
“kau kesini naik ojek online? Kenapa tidak pakai mobil kantor atau mobil pribadi?”
“Jalanan ramai, macet, sedangkan aku tidak mau menghabiskan waktu di jalanan. Aku tidak terlalu suka dengan kemacetan.” Jelas Nada sambil membereskan barang-barangnya.
“Akan kuantar. Aku ada urusan dengan klien di sekitar tempat kantormu.” Jawab dewanto sambil berdiri dan segera meninggalkan meja menuju kasir. Ia membayar makan siangnya sekaligus milik Nada. Memang sudah begitu seharusnya seorang laki-laki.
Nada menyusul dengan gerakan paling cepat. Namun terlambat. Makan siangnya sudah ditraktir oleh Dewanto. “Bisa aku minta nomor ponselmu?”
Nada terdiam sejenak. “Kupikir kita hanya akan saling berkomunikasi via line kantor.” Ia mengambil nafas dalam dan panjang tanpa membuat pergerakan yang terlalu banyak. “Terima kasih untuk makan siangnya. Anda tidak perlu repot-repot mengantar saya.”
“Apa aku perlu meminta nomor ponselmu dari Pak Direktur?” Pertanyaan Dewanto membuat langkah Nada berhenti seketika. Rasanya menyebalkan jika sampai Dewanto melibatkan Direktur sebagai alasan.
Nada menoleh dengan ekspresi wajah kesal. Sedangkan Dewanto hanya tersenyum puas. Nada mengambil ponsel dari sakunya dan menyerahkan pada Dewanto. Laki-laki itu mengetik beberapa nomor dan terlihat seperti sedang menelpon. Ponselnya berdering dan ia berhasil mendapatkan nomor ponsel Nada.
“Saya hanya akan menjawab jika itu panggilan yang membahas tentang pekerjaan.” Jawab Nada sambil menerima kembali ponselnya.
“Tidak masalah selama kau menjawab teleponnya. Tunggu disini. Aku akan mengambil mobil.” ucap Dewanto segera meninggalkan Nada dan berjalan kembali ke kantor.
Di satu sisi ia merasa terselamatkan karena tak perlu membahas tentang jam tangan itu. Tapi di sisi lain ia harus membayar konsekuensi itu dengan memberikan nomor ponselnya pada Dewanto. Lagi-lagi ia menghela nafas panjang dan sedikit mengeluh.
Ponselnya berbunyi. Ia melihat nomor asing tertera di layar. Tanpa pikir panjang ia segera menerima panggilan telepon itu. “Halo?”
__ADS_1
“Syukurlah kau bersedia menerima telepon dariku. Jangan kemana-mana karena aku segera datang.” sambungan telepon terputus.
Ya, itu dari Dewanto. Sepertinya ia harus sedikit menambahkan bumbu kesabaran setiap harinya. Apa memang semua Direktur suka seenaknya sendiri?