
Waktu yang singkat untuk mencoba semua menu yang tersedia pada kafe ini. Rasanya waktu sehari tidak akan cukup untuk mencicipi semua makanan lezat disini. Dewanto menyilangkan sendok dan garpunya di atas piring. Memberikan tanda jika ia sudah menyelesaikan makanannya. Ia melirik gadis di hadapannya. Betapa ia menikmati makanannya tanpa peduli orang-orang yang melintas di sekitarnya. Tingkah sederhana itu sudah membuat Dewanto tersenyum tanpa sadar.
Nada menyeruput es milk shake yang ia pesan. Ice cream yang menjadi topping seolah lumer dalam mulut Nada. Betapa hatinya menjadi bahagia hanya dengan makan ice cream? Ia mulai mengambil dessert sebagai makanan penutup. Entah bagaimana perutnya yang kecil mampu menampung banyak stok makanan dalam sehari.
“Kau suka makanan disini?” Tanya Dewanto yang sudah tidak sabar karena gemas melihat ekspresi bahagia yang ditunjukan Nada.
Nada hanya mengangguk mantap sambil tersenyum manja. Rasanya sudah lama ia tidak menjalani sebuah kencan manis semacam ini. Entah kapan terakhir kali ia berkencan. Rasanya ia sudah sangat merindukan saat-saat itu. Mungkin dengan membuka hati pada Dewanto membuatnya merasa lebih baik dan bangkit dari keterpurukan masa lalu.
“Aku mau ke toilet dulu.” ucap Nada sambil berdiri dan berjalan menuju belakang meja kasir. Ia menanyakan letak toilet pada pegawai kasir.
Sebuah pintu dengan cat berwarna krem yang dihiasi tulisan “toilet” berada di sebelah dapur. Ia cukup penasaran dengan proses pembuatan makanan enak disini. Betapa itu sangat memanjakan lida dan perutnya di kala kelaparan melanda. Tiba-tiba seorang gadis keluar dari dalam toilet. Ternyata itu Siska yang sudah berganti pakaian. Kali ini penampilannya berubah drastis. Terlihat lebih feminin dan seksi. Jauh berbeda dari penampilan saat Nada dan Siska bertemu beberapa menit yang lalu.
“Oh, kau disini. Kebetulan. Aku ingin bicara denganmu.” ucap Siska berusaha menahan Nada agar tak masuk toilet dulu.
“Apa? Ada yang ingin kau katakan?”
“Jauhi Dewanto.” ucap Siska dengan sangat mantap. Bahkan ekspresi wajahnya yang awalnya terlihat lembut sesaat berubah menjadi jahat.
__ADS_1
Nada belum sepenuhnya mendengar dengan baik apa yang sudah dikatakan Siska. Ataukah ia hanya tidak percaya pada apa yang barusan ia dengar? Bukankah Siska adalah sepupu Dewanto? Kenapa mengatakan semacam itu. Satu kalimat itu sudah berhasil membuat Nada merasa tidak nyaman dengan situasi diantara mereka berdua. Alasan apa yang bisa menjelaskan segala kemungkinan yang muncul tiba-tiba dari pikiran Nada. “Kenapa?”
Siska menyibakkan rambutnya yang panjang berwarna merah kehitaman. Sepertinya gadis itu sangat rajin melakukan perawatan pada rambutnya yang panjang. Wajahnya mendekat ke wajah Nada. membuat Nada hampir tak bisa menemukan adanya kerutan halus di wajahnya. “Karena dia milikku.”
Mata Nada berkedip beberapa kali. Ingin rasanya menertawakan apa yang baru saja ia dengar. Tapi setidaknya ia masih punya etika. Ia adalah gadis yang berpendidikan. Tidak seharusnya ia melakukan hal yang akan membuatnya dianggap rendah. “Bukankah kalian sepupu? Mana mungkin……”
“Tidak ada hukum yang melarang saudara sepupu tidak boleh saling mencintai.”
Nada terdiam. memang benar tidak ada aturan yang melarang saudara sepupu untuk saling mencintai. Tapi bukankah secara adat istiadat hal itu sangatlah tabu? Tapi bukankah saat ini Nada adalah calon tunangan Dewanto? Kenapa harus takut? Bukankah ia seharusnya membungkam mulut gadis ini? “Tapi Dewanto tidak mencintaimu.”
“Kita lihat saja apa yang bisa dilakukan seorang sepupu untuk mendapatkan yang ia inginkan.” ucap Siska kemudian meninggalkan Nada yang masih terdiam membisu di depan pintu toilet. Nada harus mendinginkan kepala sekarang juga.
Dewanto mengecek ponselnya. Padahal baru ditinggal untuk beristirahat, tapi sudah banyak pekerjaan yang menantinya. Pekerjaan sebagai direktur memang tak seindah yang dibayangkan orang-orang awam. Bukan berarti direktur hanya bisa menyuruh bawahan. Bahkan Dewanto merasa tidak enak jika harus menyuruh orang lain mengerjakan jika ia sendiri bisa mengerjakannya.
“Kau terlihat semakin luar biasa.” ucap Siska tiba-tiba datang dan langsung duduk di bangku Nada, sementara yang punya kursi baru ke toilet.
Siska merupakan sepupu jauh dari Dewanto. Persaudaraan antara keduanya juga tidak sedarah. Keberadaan Siska tidak ada dalam silsilah langsung keluarga Dewanto. Sudah sejak lama Siska mempunyai perasaan pada Dewanto. Hal itu sangat didukun oleh adik kandung Dewanto yang beberapa kali mengajaknya untuk datang ke kafe itu. Tentu saja maksud dan tujuannya adalah untuk mendekatkan sang kakak dengan sepupunya itu.
__ADS_1
“Beginilah. Tidak ada yang bilang jika pekerjaan direktur itu mudah.” ucap Dewanto sambil meletakkan ponselnya ke meja. “Apa kabar? Lama tidak mengunjungimu. Akhir-akhir ini disibukkan urusan perusahaan.”
“Tentu aku merindukanmu. Kau sering kesini sebelumnya. Sejak kau sibuk aku jadi kesepian. Kudengar adikmu akan pulang? Apa itu betul?”
“Ya…sekitar 3 bulan atau mungkin sebelum 3 bulan dia akan pulang. Kontrak kerja suaminya di luar negeri sudah habis.”
Dulu, ketiganya hampir setiap hari selalu mampir ke kafe. Tapi semenjak adik Dewanto menikah, Dewanto hanya sesekali mampir untuk sarapan atau makan siang. Tentu saja Siska selalu menyambut Dewanto dengan sangat hangat. Bagi Siska bisa mendapat perhatian Dewanto merupakan jackpot baginya. Berkali-kali ia berusaha menarik perhatian Dewanto, tapi tidak sedikitpun pria itu bisa luluh. Tapi ada apa dengan gadis konyol tadi? Dengan cara kotor apa gadis itu mendapat perhatian lebih dari Dewanto?
“Aku sangat menantikan adikmu kembali. Kita harus sering-sering kumpul bertiga lagi seperti dulu.” ucap Siska sambil tersenyum. “Aku ingat dulu saat kau memesan pudding yang berisi caramel, lalu isinya berhamburan keluar sampai terkena bajumu. wajahmu saat itu langsung diam tak berdaya. Aku tak berhenti tertawa jika ingat itu.” ucap Siska sambil tertawa terbahak-bahak.
“Berhenti menertawakanku. Saat itu aku masih sangat polos. Kau bahkan bisa membohongiku dengan pudding caramel itu. Benar-benar menyebalkan.” Dewanto melipat sikunya diatas meja sambil cemberut.
Nada keluar dari toilet dan melihat bangkunya sudah diisi oleh Siska. Keduanya benar-benar bisa saling menghidupkan suasana. Sangat berlawanan ketika saat Nada bersama Dewanto. Keduanya terasa canggung. Mungkin akan jauh lebih baik jika tunangan Dewanto adalah Siska, bukan Nada.
Siska meraba kepala Dewanto dan membelainya perlahan. “Duh, jangan ngambek gitu donk. Nanti gantengnya hilang hlo. Besok kita beli pudding caramel lagi deh.” ucap Siska masih tetap menggoda Dewanto.
Nada tertegun melihat adegan itu. Bahkan Dewanto sama sekali tidak merasa terganggu ketika diperlakukan semacam itu oleh Siska. Bahkan hubungan mereka terasa lebih serasi. Apa yang harus ia lakukan? Muncul disaat semacam ini hanya akan mengganggu acara nostalgia diantara keduanya. Nada kembali melirik mereka. Bahkan sekarang Dewanto justru tersenyum dengan sangat lembut pada Siska.
__ADS_1
Nada mencoba untuk mundur selangkah agar tidak terlihat langsung oleh Dewanto. Ia memilih untuk duduk di meja terdekat dan melihat situasi. Ia akan kembali ketika situasi mendukungnya untuk kembali. Mungkinkah ini yang dimaksud Siska tadi saat di toilet? Ia ingin merebut Dewanto? Nada kembali terdiam. Perjodohan keduanya hanya berlangsung karena persetujuan salah satu pihak. Nada dan Dewanto juga sudah sepakat untuk mengambil keputusan dalam satu bulan kedepan. Tapi melihat adegan itu membuat Nada merasakan suatu perasaan aneh. Seolah tidak ingin ada orang lain yang merebut miliknya.
Nada menggelengkan kepalanya. Membuang segala pikiran buruk dan tidak masuk akal. Dewanto terlihat lebih bahagia saat bersama Siska daripada saat bersama Nada. Haruskah ia mengambil keputusan lebih cepat sebelum perjanjian berakhir?