Dahsyatnya kata "I Miss You"

Dahsyatnya kata "I Miss You"
Rumah Kita, Rumah Impian


__ADS_3

“Adikmu sudah kembali? Kapan?” Tanya Nada sambil menaruh piring berisi nasi dan lauk untuk jatah makan siang Dewanto.


Dewanto yang datang dengan tiba-tiba akhirnya memutuskan untuk ikut makan siang bersama Nada dan Maria. Bahkan ia belum sempat pulang ke rumah terlebih dahulu, karena saking kangennya dengan Nada. Bagaikan seorang raja yang sedang dilayani oleh kedua pelayannya di meja makan. Dewanto hanya duduk diam sambil melihat Maria dan Nada sibuk dengan persiapan makan siang mereka.


“Sejak aku berangkat ke Palembang. Dia sudah ada di Indonesia selama satu minggu. Katanya ingin menyelesaikan sesuatu disini.” Dewanto terdiam sesaat. Seperti memikirkan sebuah kejadian. “Aku punya firasat buruk tentang ini.”


Nada duduk di sebelah Dewanto. Tangannya meraih lengan pria yang saat ini mulai menempati hatinya. Mencoba menenangkan perasaan Dewanto yang sedang kacau. Nada sangat menyadari betapa Dewanto sangat menyayangi adik kesayangannya. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada adiknya, Dewanto tidak segan-segan untuk maju demi melindungi sang adik.


“Tidak apa. Pasti bukan sesuatu yang buruk. Pasti adikmu bisa mengatasinya. Bukankah ia punya suami yang sangat dicintainya?” ucap Nada mencoba membujuk Dewanto agar tidak terlalu memikirkan hal yang belum pasti.


Dewanto mencoba untuk tersenyum setelah menatap wajah Nada beberapa detik. Gadis itu bisa meredamkan sedikit rasa khawatir yang baru saja terjadi dalam diri Dewanto.


“Ehem…jangan lupa kalau aku masih ada disini ya.” ucap Maria sambil membawa teko berisi sirup markisa yang baru saja ia buat. Maria kemudian duduk di kursinya dan menatap pasangan kekasih yang sedang dirundung asmara.


Karena merasa tidak enak bermesraan di depan Maria, Dewanto berusaha menutupi salah tingkahnya. Ia mengalihkan sedikit pembicaraan. “Setelah ini kau ada waktu? Aku ingin menunjukan suatu tempat padamu.”


Nada mencoba mengingat kegiatan hari ini. Ia menggeleng perlahan karena masih ragu. “Kurasa tidak ada. Kau mau membawaku kemana?”


“Ayo, makan dulu. Setelah itu ikut aku.”


“Hei, kalian tidak ingin mengajakku pergi juga? Aku tidak ada acara nih!!” gerutu Maria mencoba merengek ingin diajak juga.


Nada dan Dewanto hanya tertawa jahil menanggapi Maria yang sibuk merengek.


******

__ADS_1


Keduanya melaju dengan mobil Dewanto setelah menyelesaikan makan siang mereka dan meninggalkan Maria di kamar kosnya. Nada menahan tawanya jika ingat ekspresi melas yang muncul di wajah Maria. Lain kali ia harus mentraktir sahabatnya itu sebagai permintaan maaf karena tidak diajak pergi. Mau bagaimana lagi? Ia ingin menghabiskan sisa waktu hari ini berdua dengan Dewanto saja. Melepas rasa kangen diantara keduanya.


“Kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Dewanto sedikit melirik Nada yang duduk manis di kursi penumpang mendampinginya berkendara.


“Lain kali kita ajak Maria jalan-jalan, ya? Aku merasa bersalah padanya.” Nada tidak henti-hentinya menampakan ekspresi bahagia terutama setelah Dewanto kembali dari perjalanan dinas. Raut wajah bahagianya seakan tidak bisa lagi disembunyikan.


“Baiklah. Aku juga harus berterima kasih padanya karena sudah bersedia menjagamu selama ini untukku.” ucap Dewanto sambil mengedipkan sebelah matanya dengan ekspresi jahil.


Lagi. Nada hanya menahan tertawanya dengan senyuman malu-malu. Ia selalu merasa kalah dengan godaan Dewanto yang menampilkan wajah jahilnya.


“Sebenarnya….nanti malam adikku ingin mengajak kita makan malam di rumah. Kalian juga belum pernah bertemu sama sekali, kan? Kau tidak keberatan, kan? Tapi tentu saja jika kau mau kita akan ke rumahku setelah menunjukan suatu tempat padamu.” ucap Dewanto sangat antusias ketika akan mempertemukan kedua wanita kesayangannya. Tentu saja selain ibunya.


Nada terdiam. Ia memang belum pernah bertemu dengan adik Dewanto sedikitpun. Bukankah itu suatu perkembangan yang baik? Tapi kenapa hatinya gelisah? “Tidak masalah. Aku juga sudah lama tidak menyapa orangtuamu.”


Dewanto tersenyum dan kembali melemparkan pandangannya ke jalan. Ia harus menambah laju kecepatan mobilnya atau ia tidak akan sampai tepat waktu. Nada mengalihkan pandangannya ke jendela mobil. Mengingat sesuatu yang terasa tidak asing baginya. Jalanan ini….ia tidak mungkin bisa melupakannya. Dulu ia sering melewati jalanan ini. Bahkan ketika matahari menyengat dengan sangat kejam, ia tetap mengendarai motor melewati jalan ini. Menyusuri setiap jengkal dari jalanan ini. Ada kenangan tersendiri baginya.


Pandanga Nada semakin mengarah ke jalanan ketika ia mengenali daerah yang baru saja dilewati mobil Dewanto. Kemana pria itu akan membawanya pergi? Mengapa harus melewati daerah ini? Ini daerah rumah Pandu. Nada tak mungkin melupakannya. Meski sudah banyak yang berubah. Tentu saja. Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk membuat perubahan. Nada berharap tidak ada satu orang pun di daerah itu yang mengingatnya. Akan jauh lebih mudah baginya untuk terus melupakan segala hal tentang Pandu.


Mobil Dewanto berhenti di depan sebuah rumah dengan desain minimalis berwarna orange dengan sedikit paduan warna peach di beberapa sisi. Nada bersyukur jika itu bukan rumah Pandu meski sebenarnya ia cukup khawatir jika masih ada tetangga yang mengenalinya.


“kau tidak ingin masuk?” Tanya Dewanto sambil melepas seatbelt.


“Rumah siapa ini?”


“Rumah kita.” ucap Dewanto sambil keluar dari mobilnya. Ia berjalan menghampiri Nada yang masih terdiam di dalam mobil. “Kau tidak ingin melihat-lihat ke dalam?”

__ADS_1


Nada hanya mengedipkan mata beberapa kali. “Kau tadi bilang apa? Rumah kita?”


Dewanto membuka pintu mobil. Dengan perasaan yang masih ragu-ragu, Nada melepas seatbelt dan menyampar tasnya. Ia keluar dari mobil dengan penuh tanda tanya. Nada melihat-lihat penampakan luar dari rumah yang ada di hadapannya. Rumah kita? Maksudnya Rumah Nada dan Dewanto? Semoga ia salah mendengarnya. Ia bahkan merasa belum pantas mendapatkan semua itu sekarang. Tidak sekarang. Terlalu cepat.


“Lihat-lihatlah dulu. Jika cocok, kita bisa menempati rumah ini setelah menikah nanti. Jika tidak, kau bisa menggunakannya sebagai perpustakaan atau sebuah café. Kau bisa tetap bekerja sambil mengelola usaha sendiri.” ucap Dewanto sambil menggandeng tangan Nada. Mengajaknya berkeliling ke dalam rumah.


Rumah itu sudah cukup lama dibeli Dewanto karena salah satu saudara iparnya sedang membutuhkan uang darurat. Ia memperbaiki beberapa sisi dan merenovasi ulang agar terlihat seperti rumah jaman millennial. Rumah minimalis. Tentu saja Dewanto mempunyai rumah cadangan yang jauh lebih besar daripada itu. Rencananya jika Nada tidak menginginkan rumah itu, mereka bisa menempati rumah lain yang memang sudah disiapkan oleh Dewanto.


Nada mengelilingi rumah itu dengan tatapan kagum. Ini bukan lagi menyukai, tapi Nada sangat mengagumi desain yang ada di setiap sudut rumah ini. Rumah yang sebenarnya terlihat biasa saja, disulap dengan gaya minimalis yang membuat tidak akan merasa bosan berada di rumah. Setiap furnitur yang disediakan mengusung konsep smart house. Sudah seperti rumah impian bagi Nada. Ia benar-benar menyukai ini.


“Kau suka?”


Dewanto menggenggam kedua tangan Nada yang mungil. Ia menatap Nada dengan penuh kelembutan. Nada melemparkan seulas senyum manis penuh kebahagiaan yang tidak pernah bisa lagi ia sembunyikan. “Aku suka. Sangat suka.”


Dewanto meraih pipi kiri Nada dengan telapak tangannya yang bahkan sedikit lebih besar dari wajah Nada. Kedua mata mereka saling beradu seolah tak bisa melepaskan satu sama lain. Terjebak dan terjerat oleh daya tarik masing-masing. Cukup kuat Dewanto menahan semua ini. Ia masih tetap teguh mempertahankan prinsipnya tidak menyentuh Nada sampai ia mengucap ikrar pernikahan secara sah. Tapi hari ini, saat ini, ia tidak lagi bisa mengontrol dirinya sendiri.


Jantung Nada beradu dengan sangat cepat. Ia bahkan tidak sadar jika nafasnya mulai memburu. Ia terlalu gugup dengan apa yang ada di hadapannya. Wajah Dewanto terlihat sangat serius. Pandangannya tak bisa sedetikpun lepas dari pandangan Dewanto. Ibu jari tangan Dewanto sudah mulai membelai ujung bibir Nada. Bergerak perlahan hingga sampai pada tengah bibir. Bahkan Nada tak bisa menggerakkan tubuhnya. Entah karena menahan debaran jantung yang tak beraturan ataukah karena terlalu menikmati sensasi belaian tangan Dewanto.


Bibir Dewanto perlahan mendekat ke wajah Nada. Ia tak lagi bisa mengontrol emosi yang sudah lama sekali ia tahan. Ingin sekali ia merasakan bibir mungil berwarna pink magenta yang dimiliki Nada. Entah karena naluri atau bisikan setan, perlahan Nada menutup kedua matanya. Seolah mempersilakan Dewanto melakukan apa yang ia inginkan. Debaran jantung itu semakin terasa ketika Nada sudah bisa merasakan hembusan nafas Dewanto yang mulai memburu. Apakah ia juga sedang berdebar-debar? Satu centimeter lagi sampai kedua bibir itu bertemu.


Ponsel Dewanto tiba-tiba berdering. Keduanya spontan melangkah mundur. Mereka kembali pada kesadaran mereka setelah hilang kendali sesaat. Dewanto segera menerima panggilan telepon itu. Terlihat cukup serius. Pasti masalah pekerjaan. Beberapa saat kemudian ia mengakhiri panggilan telepon tersebut.


“Aku akan pergi sebentar untuk mengambil berkas yang tertinggal. Apa kau mau ikut?”


Nada menggeleng. “Aku masih ingin melihat-lihat rumah ini. Mungkin aku akan menyapa beberapa tetangga di sekitar. Pergilah dan jangan lupa jemput aku lagi.”

__ADS_1


Dewanto tersenyum. Ia sedikit malu dengan kejadian tak terduga tadi. Bagaimana mungkin ia bisa lepas kendali? “Tentu. Aku akan kabari jika sudah perjalanan kemari.”


Nada hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada Dewanto. Seperti seorang istri yang mengantar suaminya berangkat kerja. Keduanya pun kembali tersipu malu


__ADS_2