
“Tidak ada yang tertinggal, kan?” Dewanto membawa koper kecil yang Nada bawa. Koper pinjaman dari Direkturnya untuk membawa beberapa perlengkapan yang dibeli Nada secara mendadak. Itu bukan fasilitas, tapi pinjaman.
Nada terlihat seperti mengingat-ingat apa saja yang ia bawa. Bukankah ia tidak membawa apapun selain dirinya sendiri? Semua perlengkapan ia beli saat sampai di Palembang. Ia menggeleng lemah untuk menjawab pertanyaan Dewanto. Keduanya hanya sempat tidur selama 2 jam. Itupun akhirnya mereka memutuskan untuk bermalam di aula karena takut akan terlambat bangun pagi. Mereka memutuskan untuk pergi ke bandara setelah subuh.
Dewanto meminta izin untuk datang terlambat pada acara hari ini. Ia ingin mengantarkan Nada ke bandara. Memastikan gadis itu benar-benar menaiki pesawat yang tepat. Sebenarnya bukan itu juga alasan utamanya. Semalam bersama ternyata justru menimbulkan rasa rindu yang semakin dalam. Semakin sering intensitas bertemu, maka akan semakin mudah memunculkan rasa rindu. Begitulah pelajaran yang berhasil Dewanto peroleh setelah kejadian semalam.
Nada meraba ke dalam tas jinjingnya. Mengambil boarding pass dan memeriksa kembali jam terbang pesawat yang akan mengantarnya pulang. Masih ada sekitar satu jam 30 menit sebelum pesawat lepas landas. Ia masih punya sedikit waktu untuk bersantai setidaknya sebelum kembali bekerja.
“Maaf ya, kau harus pulang sendiri. Aku tak bisa menemanimu pulang sekarang.” ucap Dewanto menampakan wajah kecewa yang terlihat sangat sendu. Seolah tak rela melepas sesuatu.
“kau masih punya tanggung jawab besar menyelesaikan acara itu, bukan? Jadi…selesaikanlah. Aku akan menunggumu pulang.” ucap Nada sambil menarik tas kopernya.
Dewanto segera memeluk Nada dengan erat. Perasaan tidak ingin jauh dari Nada mulai muncul perlahan namun pasti. Ia sangat menyadarinya. Betapa kehadiran Nada membuat hidupnya jauh lebih berwarna. Perasaan semacam ini belum pernah dirasakan Dewanto sebelumnya. Ia hanya bergerak berdasarkan intuisinya sebagai lelaki.
“Kabari aku jika sudah sampai.” ucap Dewanto sambil mencium ujung kepala Nada.
Kali ini Nada terdiam dengan tindakan Dewanto yang tiba-tiba. Pria itu selalu membuat kejutan baginya. Bukannya tidak suka, ia hanya belum terbiasa mengekspresikan perasaannya saat ini. Jika diingat kembali, ia sudah cukup lama tidak diperlakukan seperti ini oleh seorang pria. Terakhir kali adalah saat masih bersama Pandu. Itu artinya sudah hampir empat tahun berlalu. Waktu benar-benar berjalan sangat cepat. Terus bergulir tanpa peduli bagaimana orang-orang akan menyesuaikan pergerakannya.
__ADS_1
Hari ini, untuk hari ini, Nada membiarkan dirinya bergerak sesuai naluri. Membiarkan perasaan yang menguasai dirinya, menuntun untuk bergerak secara alami. Tangannya bergerak untuk membalas pelukan Dewanto. Pelukan pertama yang terasa hangat bahkan ketika udara diluar masih sangat dingin.
*******
Lima hari sudah berlalu sejak Nada kembali dari Palembang. Meski tidak bertemu, Dewanto selalu menyempatkan diri untuk tetap menghubungi Nada. Sesibuk apapun, Dewanto tetap berusaha menjaga komunikasi yang baik antara keduanya. Memang benar pepatah yang beredar bahwa seseorang tidak akan menyadari sebuah kerinduan ketika dua hati terpisahkan jarak dan waktu.
Nada membaca beberapa novel yang baru saja ia beli dua hari kemarin. Meski cukup sering membaca novel romantis, namun kenyataannya ia tidak pandai dalam bersikap romantis. Nada menutup kembali novelnya setelah berusaha membaca selama 30 menit. Ia melirik lagi ponselnya yang tak bernyawa sejak tadi pagi. Ini hari sabtu tapi ponselnya tidak berbunyi sama sekali? Apa dulu saat masih jomblo ia selalu seperti ini? Gelisah saat tidak ada yang menghubungi? Sepertinya dulu ia jauh lebih tenang dan fokus pada impiannya.
Semua berjalan sangat cepat dan singkat. Dimulai dari pertemuannya dengan Dewanto secara tak sengaja karena jam tangan yang ingin ia buang. Tapi Dewanto dengan polosnya mengambil jam tangan itu dan mengembalikan pada Nada. Nada kembali menatap jam tangan itu. Masih bertengger santai di meja kamarnya. Ia tidak tega membuangnya dengan sengaja.
Sejak saat itu, Dewanto dan Nada beberapa kali bertemu dengan alasan pekerjaan. Namun, entah sejak kapan alasan itu bukan lagi menjadi alasan utama pertemuan mereka. Sesuai jadwal, Dewanto akan kembali besok sore. Tentu saja ia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu sebagai ketua panitia.
Dari arah pintu masuk terdengar seseorang menekan kunci otomatis kemudian membukanya. Hanya beberapa orang yang bisa dengan mudah keluar-masuk kamarnya yaitu Maria dan Cecyl. Nada sudah sangat mempercayai mereka berdua seperti saudara sendiri.
“kau ingin makan apa hari ini?” Tanya Maria saat sudah memasuki area tengah kamar. Ia baru saja kembali dari belanja sayur dan buah untuk menu makan hari ini. Hari ini giliran Maria yang memasak untuk mereka.
“Apa saja. Sini aku bantu bawa.” ucap Nada sambil dengan lesu. Ia mengambil satu kantong plastik yang dibawa Maria dan meletakkan diatas meja dapur. Ia benar-benar kurang bersemangat.
__ADS_1
“Ada apa? Kau terlihat tidak bersemangat. Padahal setelah pulang dari dinas kau terlihat sangat ceria. Jarang-jarang aku melihatmu bahagia setelah pulang kerja.”Tanya Maria sambil mengambil beberapa pisau dan perlengkapan untuk memasak.
“Apa aku terlihat seperti itu?”
Maria hanya mengangguk. Ia mulai mengambil beras dan mencucinya. Hari sabtu terkadang mereka bisa libur secara bersamaan. Tapi itu sangat jarang sekali. Nada mengupas beberapa bumbu yang akan digunakan. Ia sendiri tidak begitu mengerti kenapa ia merasa murung seja bangun tidur. Sejak pagi tadi tidak ada kabar sedikitpun tentang Dewanto. Apa yang dilakukan pria itu? Kenapa Nada begitu uring-uringan?
“Aku bertemu Dewanto di lokasi dinas tempo hari. Dia merupakan ketua panitia dari acara itu. Tapi aku hanya sehari berada disana, dia bilang akan kembali besok sore. Tapi sampai siang ini belum memberi kabar apapun. Suasana hatiku jadi berantakan.”
Maria tersenyum tipis. Rasanya sudah lama ia tidak melihat sahabatnya bersikap seperti ini. Terakhir kali saat masih bersama Pandu. Tapi bedanya, ia selalu merasa suasana hatinya berantakan setelah bertengkar atau berdebat dengan Pandu. Tapi kali ini Nada uring-uringan karena menahan rindu untuk bertemu Dewanto. Sungguh manis sahabatnya ini.
“tapi dia akan pulang besok, kan? Mungkin saja ini hari terakhir, jadi ia super sibuk menyiapkan yang terbaik agar acaranya sukses. Bukan begitu, kan?”
Harus diakui jika terkadang kata-kata Maria selalu sukses membuat Nada tercengang. Terkadang ia terlihat kekanak-kanakan, tapi terkadang juga bisa bersikap dewasa dan menenangkan seperti sekarang ini. Jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Nada selalu berdoa agar sahabatnya Maria tidak pernah mengalami pahitnya cinta seperti yang ia rasakan.
Bel pintu berbunyi. Nada dan Maria saling bertatapan. Bertanya-tanya apakah ada tamu yang mereka undang? Tentu saja Nada sebagai tuan rumah segera bergegas untuk membuka pintu. Matanya terbelalak ketika melihat sosok yang sudah berdiri dibalik pintu. Bagaikan mimpi karena baru saja ia dibicarakan, tapi tiba-tiba sudah ada disini.
“Dewanto?”
__ADS_1
“Acaranya selesai lebih cepat dan aku segera terbang begitu semua dibereskan. Syukurlah tidak sampai terlalu sore. Aku langsung kesini karena ingat belum memberi kabar apapun sejak pagi. Maaf ya, tadi benar-benar repot sekali.” jelas Dewanto panjang kali lebar.
Nada melangkah maju dan segera memeluk pria di hadapannya dengan erat. Seolah rasa rindu itu melebur lenyap dengan hanya sekali manatap wajahnya. Kini ia menyadari perasaan apa yang sedang menguasai dirinya. Itulah cinta. Ya, rasa itu sama seperti saat bersama Pandu dulu. Nada menyadarinya dan tidak ingin kehilangan lagi.