
“Heii…kau mau tidur sampai kapan? Hari ini tidak kerja?” teriak Nada sambil menarik selimut yang dipakai Maria. Gadis itu benar-benar menginap di kamar Nada.
Maria hanya mengerang dan menarik kembali selimutnya. “Jam berapa sekarang?”
“Hampir pukul 10. Apa kau masuk siang? Kau tidak ingin bangun? Akan kubuatkan sarapan.” ucap Nada sambil menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Keduanya memang bergantian ketika memasak makanan. Jika Nada membuatkan sarapan, berarti nanti malam giliran Maria yang membuatkan makan malam.
“kenapa kau belum berangkat? Apa seorang manajer berhak datang dan pergi jam berapapun?” Tanya Maria sambil mengangkat tubuhnya menjauh dari kasur. Biar bagaimanapun gaya gravitasi pada kasur jauh lebih menggoda.
“Aku ambil cuti.”
Maria menegakkan kepalanya. Sebenarnya hal yang biasa jika Nada mengambil cuti satu hari setiap bulan, tapi bulan ini ia sudah mengambil libur setelah laporan keuangan selesai. ia sedikit khawatir pada kondisi Nada terutama setelah kejadian kemarin. “Kau mau kemana?”
Nada meletakkan panci yang ia pegang. Ia harus mulai merebus sup atau akan selesai lebih siang lagi. “Aku akan pergi ke toko buku dengan Cecyl. Hari ini dia juga mengambil cuti kerja. Aku akan pulang sebelum kau sampai rumah. Akan kuhangatkan lagi supnya nanti malam.”
Maria tersenyum sambil mengambil handuk. “Kau sudah seperti ibuku saja.” ucapnya sambil memasuki kamar mandi. Lagi-lagi ia tidak menggunakan kamar mandi di kamarnya sendiri. Nada hanya menghela nafas singkat.
*******
Dewanto membenarkan posisi kemeja yang ia pakai. Rambutnya sengaja dibuat sedikit berantakan untuk menghilangkan kesan formal yang selama ini selalu ia jaga. Hari ini ia bermaksud mengunjungi Nada di kantornya. Alih-alih membuat janji temu dengan direktur, padahal niat sebenarnya ingin mengajak Nada makan siang bersama.
Padahal semalam mereka baru saja bertemu, tapi entah kenapa ada suatu perasaan aneh yang membuat Dewanto selalu merasa penasaran pada gadis itu. Dewanto melihat kembali ponselnya, meski punya nomor kontak Nada, ia masih ragu untuk menghubungi gadis itu. Mengingat sebelumnya Nada pernah bilang tidak akan mau menjawab telepon selain urusan pekerjaan. Sikap Nada yang seperti itu membuat Dewanto seakan tertantang untuk mengenal lebih dekat seperti apa gadis itu sebenarnya.
Ia menyambar tas ransel yang berisi beberapa dokumen sebagai alibi kedatangannya ke kantor Nada. Wajahnya tidak berhenti tersenyum. Ia membuka pintu mobil dan mulai menyalakan mesin. Hati kecilnya seolah menyuruh untuk menghubungi gadis itu terlebih dahulu, tapi egonya berkata lain. Ia tetap melaju dengan mobilnya menuju kantor Nada.
__ADS_1
Ia sengaja membatalkan beberapa janji temu dengan klien hanya demi untuk bisa bertemu dengan Nada. Jalanan lebih sepi dari biasanya. Bukankah hari senin biasanya ramai para pekerja? Dewanto tak peduli dan tetap melaju dengan kencang di jalanan yang sepi.
Tidak butuh waktu terlalu lama untuk sampai di kantor tempat Nada bekerja. Ia segera memasuki area kantor dan mengkonfirmasi kedatangannya pada resepsionis. Ia melihat-lihat sekeliling. Tak lama kemudian Pak Direktur muncul dan mulai mengajak Dewanto untuk berkeliling ke area produksi. Hubungan keduanya sudah seolah seperti sahabat lama yang saling bertemu melepas rindu. Dewanto memang tipe yang tidak suka hubungan yang terlalu formal dengan klien. Tentu saja rasa hormat masih tetap Ia junjung tinggi. Tapi ia lebih suka hubungan yang serius tapi santai terutama saat membahas rencana kerjasama.
Setelah puas berkeliling, Dewanto diajak untuk bersantai sejenak di ruangan Direktur. Sebenarnya Pak Direktur ingin mengajak makan siang, tapi Dewanto kembali teringat niat awalnya mendatangi kantor ini. Dewanto segera berpamitan dan meninggalkan ruangan Direktur. Ia berjalan perlahan menuju ruangan bagian keuangan. Tentu saja tanpa sepengetahuan Direktur itu. Beberapa kali ia mengintip ke dalam ruangan tersebut tapi orang yang dicari tidak ketemu sama sekali. Tingkah Dewanto sama sekali tidak keren seperti penampilannya saat ini.
“Anda mencari siapa, Pak?” sapa seorang karyawan yang memergoki Dewanto mencari-cari sosok Nada.
Buru-buru Dewanto bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia masih saja mempertahankan sikap cool bahkan ketika sudah tertangkap basah. “Ah, maaf. Aku belum melihat Ibu Nada. Kira-kira beliau kemana ya?”
“Ahh,,,bu Nada hari ini mengambil cuti.”
“cuti?” Tanya Dewanto meyakinkan apa yang ia dengar. Pertama kalinya ia mengabaikan suara hati dan kini ia menyesalinya. Seharusnya tadi sebelum berangkat ia menelepon gadis itu lebih dulu. Gengsi telah merugikannya. “Ada apa ya? Kira-kira saat cuti biasanya ia kemana?”
“baiklah, terima kasih infonya.” ucap Dewanto kemudian segera pergi. Kemana lagi? Tentu saja menyusul Nada ke toko buku.
********
Toko buku pusat yang cukup sering dikunjungi oleh Nada ketika ia merasa ada yang aneh pada perasaannya. Baginya, buku seperti obat penghilang gundah semacam candu yang akan membuatnya ketagihan. Di dalam toko buku, ia bisa melupakan waktu yang bergerak di luar dan tanpa sadar sudah gelap. Kali ini Cecyl menemani Nada berburu novel seperti kebiasaannya.
Ia membaca novel dengan tenang dan konsentrasi. Impian Nada adalah membuka toko buku sendiri. Entah itu berupa perpustakaan dalam bentuk café atau toko yang menjual bermacam-macam buku. Ia terus berjalan menyusuri rak berisi novel-novel keluaran terbaru. Ia bingung kali ini harus membeli berapa buku novel. Ia teringat jika harus membeli rak baru karena rak yang ada di kamarnya sudah sangat penuh.
Tangannya meraih sebuah buku novel terjemahan. Tapi jari-jarinya bersinggungan dengan jari seseorang yang juga ingin mengambil buku itu. Ia buru-buru mengucapkan maaf pada seseorang di sampingnya.
__ADS_1
“Nada?” sapa seseorang yang ada di sampingnya.
“Pak Dewanto? kenapa ada disini? Ada apa?” Tanya Nada langsung gugup dan salah tingkah karena terkejut jika Dewanto ada disini.
“Kebetulan, ya. Aku sedang mampir untuk membeli sesuatu. Beberapa hari ini sulit tidur jika tidak membaca buku terlebih dahulu.” Ucap Dewanto menjelaskan apa yang sebenarnya tidak ditanyakan oleh Nada. Ia harus bersikap seolah pertemuan mereka hanya kebetulan. “Kau tidak masuk kerja? kenapa disini?”
“Ahh, itu. saya mengambil cuti untuk istirahat.” ucap Nada merasa masih tidak enak dengan kejadian kemarin malam. Ia harus segera mencari momen untuk pergi meninggalkan Dewanto. Matanya mulai mencari-cari keberadaan Cecyl.
“Bagaimana kalau kita makan siang bersama? Kau belum makan, kan?” Tanya Dewanto sambil mengalihkan pandangan Nada yang sedang berkeliaran mencari sesuatu.
Nada tidak berhenti mengedipkan mata. Ia harus memutar otaknya mencari alasan yang tepat untuk menolak ajakan Dewanto. Bahkan Cecyl tidak muncul ketika dibutuhkan seperti sekarang ini. “ehh,,anu….”
“Tunggu ya, aku akan membayar buku ini dulu. Setelah itu kita akan pergi makan siang.” Dewanto segera berjalan menuju kasir. Wajahnya tampak sangat bersemangat.
Memberikan waktu bagi Nada untuk menarik nafas sejenak. Ia mencari keberadaan Cecyl. Nada mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Cecyl. Namun, sebuah panggilan masuk dari salah satu rekan kerjanya.
“Ada apa? Apa semua aman?” Tanya Nada saat menjawab panggilan telepon tersebut. Matanya masih berkeliaran mencari keberadaan Cecyl.
“Semua aman terkendali. Oh iya, tadi Pak Dewanto ke kantor dan mencarimu. Aku hanya mengatakan jika kau mungkin saja ada di toko buku. Tapi sepertinya dia percaya. Apa kau benar-benar ada di toko buku?”
“Dewanto?” Tanya Nada tertegun dan melihat ke arah Dewanto yang sedang mengantri di kasir untuk membeli buku. Pria itu tampak bahagia padahal antriannya terbilang sangat banyak. Nada mulai merinding.
“Iya. Apa kalian bertemu di toko buku? Mungkin ada sesuatu yang penting.”
__ADS_1
“Tidak. Mungkin kami bersimpangan jalan. Terima kasih sudah menelepon. Jika ada sesuatu segera kabari aku.” Nada segera menutup telepon dan kembali melirik Dewanto di kejauhan. “Kebetulan, ya?”